cerpen
Lelaki itu menarik kakiku seperti menyeret. Setengah memaksa, dia memintaku untuk bangun dan berdiri. Tetapi tentu saja dengan separuh bercanda. Dia...
Subuh sudah lama berlalu. Kau juga sudah bangun sedari tadi meski tak melakukan sesuatu yang berarti. Istrimu sudah menyediakan kopi yang...
Siang kali ini sangat terik. Di jalanan, matahari menjadi satu-satunya musuh yang perlu kaupercayai, sedang bayang-bayang gedung perkotaan adalah teman yang...
Ayahku menolak hadir pada aqiqahan putri pertama kami. Alasannya sepele. Ia tidak sepakat dengan rencanaku dan istri untuk menamai si bayi...
Seharusnya memang benar, Ujang Rohidin masih kudu disiksa selama ribuan tahun lamanya di neraka. Namun hari itu, entah di hari apa,...
Aku akan menikah dengan Babi, sebulan dari sekarang. Empat buah pesawat televisi pada tiang tengah warung, menayangkan pertandingan sepakbola, lima tahun...
Kuintip saja ia dari celah papan jendela kamar. Kukancing napas kuat-kuat biar debu papan lapuk itu tak terhirup. Suara sret-sret sandal...
Pagi itu, hujan deras menyambut Penjual Senyum. Penjual Senyum bangun dengan malas. Membuka gawai sambil menguap malas. Penjual Senyum melalui malam...
Seluruh orang di kampungku memang sudah tidak waras. Jauh-jauh aku pulang dari perantauan, malah dicaci maki dan dilempari perabotan dapur. Dikata...
Tiga tahun menganggur, tak hanya menjadikan orangtua Buru sumpek dan bosan melihat anaknya klumbrak-klumbruk seperti jemuran setengah kering, tapi mereka juga...