Di Kota Ini Ada Portal

Faizal Bochari

5 min read

Dari desas-desus yang beredar, di kota ini ada sebuah portal yang bisa memindahkanmu ke dunia lain. Tidak ada yang tahu di mana potral itu berada atau bagaimana bentuknya tapi kabarnya potongan-potongan tubuh yang ditemukan di dalam tempat sampah di pinggi jalan tol itu adalah bagian tubuh dari mereka yang terseret ke dunia itu namun karena satu dan lain hal gagal dalam proses perpindahannya dan berakhir dalam kondisi bukan lagi manusia. Ada juga berita orang-orang hilang yang tercetak di koran dan muncul di televisi. Kabarnya, mereka adalah orang-orang yang berhasil “pindah” dan tidak ingin lagi kembali, mungkin mereka berpikir dunia itu jauh lebih baik daripada dunia brengsek yang ditinggali tokoh utama kita.

Kegagalan Pertama

Tokoh utama kita baru saja menghadiri tes wawancara kerja yang untuk kesekian kalinya berakhir dengan kegagalan. Dia tidak ingin langsung pulang ke rumahnya dan membawa kabar tidak menyenangkan ini kepada ibunya. Pagi ini ibunya melepasnya pergi mencari kerja dengan doa dan sedikit binar di kedua matanya.

“Barangkali hari ini akan berbeda” mungkin ini yang ibunya pikirkan dan dia salah.

Dia melihat sudut kiri atas gawainya lalu tanpa berpikir panjang memutuskan tiga hal. Pertama, jam 02.31 adalah memang waktu yang terlalu cepat untuk pulang ke rumah. Kedua, motor yang sudah dia miliki sejak berkuliah ini perlu mengunjungi tempat-tempat lain yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Ketiga “Portal”.

Berbekal pengetahuannya tentang dunia lain dari tujuh buku seri petualangan Narnia ,tiga buku IQ84, bensin motornya yang masih ada lima batang, dan headset di kiri dan kanan kupingnya, dia berangkat dengan maksud kehilangan arah.

Dari kantor pembiayaan yang baru saja menggagalkannya itu, dia memacu motornya menyisir ke utara kota tempat bengkel-bengkel, toko alat-alat motor, dan toko-toko bangunan berjajar atau saling berhadap-hadapan. Jalur dua arah yang panjang membelah toko-toko ini seperti laut merah dalam kisah lama.

Bagian kota ini bisa dikenali dengan mudah dari bagian depan ruko yang tetutupi seng berkarat dengan cat yang telah pudar. Beberapa ruko juga tertutup dengan besi teralis jendela yang barangkali sudah lelah karena berulang kali dicat ulang. Namun tempat ini beraroma aktivitas manusia. Ada bau keringat di udara terbakar panas matahari. Gerobak-gerobak makanan dan parkiran kendaran mengambil satu lajur pada masing-masing jalur dua arah ini.

Bahkan ketika malam tiba dan orang-orang meninggalkan tempat untuk pulang dan bersiap untuk mengulang rutinitas mereka besok hari, kehidupan tidak serta mati di tempat ini, jalanan akan dipenuhi riuh muda-mudi dan segera berubah fungsi menjadi jalur balap.

Dia berbelok ke arah kanan menuju daerah pelabuhan meninggalkan tempat itu. Jalan ini nantinya akan membawanya ke lorong penyeberangan yang berada di bawah jalan tol tempat kegagalan terakhir tokoh utama kita bermula.

“Kota ini sudah banyak berubah dibanding dulu” pikirnya.

Sebuah masjid berukuran besar dengan kubahnya yang khas telah dibangun di daerah sebelum pelabuhan ini yang juga adalah pusat kota. Di sampingnya ada istana negara, kampus, dan banyak bangunan lainnya yang baru menjadi berupa rencana. Tujuan pembangunan ini sudah jelas adalah untuk menutup akses penduduk kota ini dari matahari terbit dan tenggelam. (Namun hal ini bukan menjadi sesuatu yang ada di pikiran tokoh utama kita, dia sudah cukup memiliki banyak masalah hidup tanpa perlu memikirkan hidup manusia lainnya.)

Walaupun telah berkali-kali melewati jalan yang mengawal jalur pantai itu baik saat mencari pekerjaan yang tidak kunjung ditemukan atau saat mengantar mantan pacarnya yang berkantor di daerah itu, bagian kota itu telah berubah terlalu banyak menjadikannya begitu dia kenali sekaligus asing.

Kegagalan Kedua

Suara azan selalu bisa menjadi penanda waktu yang baik. Alunan lagu I don’t love you dari My Chemical Romance dengan volume yang lumayan keras di kiri kanan telinga tokoh utama kita tidak bisa mengalahkan suara azan yang mengepung dari segalah arah. Dia tidak pernah begitu peduli dengan fakta bahwa kota ini berpenduduk mayoritas muslim sampai saat dia sadar bahwa mesjid bisa dengan mudah ditemukan di setiap bagian kota. Seperti dalam perjalanan ini pun, baru saja dia melewati sebuah masjid hanya untuk menemukan bahwa tampak tidak jauh di depannya, menara masjid lain telah berdiri menantinya.

“Sepertinya ada terlalu banyak masjid di kota ini.” Dengan tidak menambah laju motornya, dia mengencangkan suara gawainya dan mengingat mantan pacarnya.

“Bikin pusing saja kalau lewat lorong-lorong begini,” kata mantan pacar tokoh utama kita ini. Mantan pacarnya itu benci melewati jalan-jalan kecil atau gang-gang sempit.

“Lewat sini bisa tidak kena macet jadi lebih cepat sampai,” kilah tokoh utama kita.

“Sama saja lamanya sampai biar lewat mana, malah lewat sini bikin mual karena kayak berputar-putar jalanan, baru tidak tahu ini nanti tembus di mana.”

“Begitu memang sensasinya kalau kain pembatas dimensi ruang dan waktu itu dirobek dan kita berjalan melintasi ruang dan waktu, tapi nanti jadi lebih cepat sampai,” balas tokoh utama kita sambil mempercepat laju motornya untuk membuktikan kebenaran teori “lewat jalan-jalan kecil bisa lebih cepat sampai” nya itu.

“when you go
and would you even turn to say
i don’t love you
like i did yesterday”

“Lebih baik hubungan ini tidak tidak usah dilanjutkan lagi.” Begitu tertulis dalam pesan yang masuk di gawai tokoh utama kita beberapa minggu sebelum kegagalan pertama terjadi.

Selama bertahun-tahun bersama, mereka berdua telah sama-sama sadar bahwa mereka berjalan menuju kegagalan. Mereka tidak mau mengakui itu dan seperti dalam permainan kekanak-kanakan “siapa yang mengaku duluan dia yang kalah” mereka sama-sama bertahan. Akhirnya pesan itu tiba. Tapi tokoh utama kita tidak merasa menang,

Dia berkata ingin pergi ke rumah temannya untuk menginap karena tidak ingin membuat ibunya khawatir. Dia mengendarai motornya tanpa arah dengan air mata bercucuran sampai harus menurunkan kaca helmnya ke bawah agar tidak dilihat orang lain (sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelum-sebelumya). Perpisahan memang akan selalu pahit.

Tiba di masa sekarang. Perjalanan tokoh utama kita kemudian berlanjut melewati sawah-sawah, semak-semak, empang yang kekeringan, jembatan kecil yang hanya bisa dilewati motor, toko-toko serba ada yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, dan terowongan penyeberangan di bawah jalan tol. Perutnya yang telah lebih nyaring dari toa masjid memanggilnya untuk segera berhenti dan gerobak batagor di depan toko serba ada berwarna dominan biru menjadi persinggahan berikutnya.

Penjual batagor berbaju hitam dengan tulisan yang nyaris tidak terbaca (yang saya duga adalah nama band metal kesukaanya) dan tato bertuliskan “dewi” di lengan kirinya itu (yang saya duga adalah nama kekasihnya) dengan sigap memotong-motong segala bahan-bahan yang ada untuk membuat seporsi batagor. Dia hanya mengambil tahu dan gorengan atas permintaan tokoh utama kita dan dengan bantuan garpu yang telah dipatahkan salah dua gerigi bagian tengahnya dan sebilah pisau, dia memotong-motong tahu dan gorengan itu menjadi lebih kecil. Demonstrasi masak ini diakhiri dengan siraman saus kacang dan pertanyaan “pedas, mas?” yang dijawab tokoh utama kita dengan lambaian tangan pertanda tidak perlu.

Sepiring batagor dan diri sendiri nampaknya adalah kombinasi berbahaya. Pikirannya tidak bisa tidak kembali pada kegagalan di masa lalu yang yang juga berarti kekhawatiran tentang masa depan. Pasti ada versi lain dari realitas tokoh utama kita ini sebagai karakter di mana keadaan berpihak padanya. Dia dan mantan pacarnya baik-baik saja dan ibunya bahagia melihatnya bekerja. Tapi bukan pada realitas ini sepertinya.

“Jalan satu-satunya adalah melompat keluar dari realitas seperti yang pernah dilakukan Sophie dan Pevensie bersaudara,” pikirnya.

Kegagalan Ketiga

Seperti anak-anak yang bermain bola di lapangan, azan maghrib menjadi penanda waktu bagi tokoh utama kita untuk segera pulang ke rumah. Walaupun gawainya sudah kehabisan tenaga untuk terus memutar lagu tapi kesunyian dan bensin motornya masih cukup bisa menemaninya pulang.

Dia menyusuri jalan samping tol melewati perumahan yang selalu ada genangan air di depan gerbang masuknya. Padahal dalam ingatan tokoh utama kita hujan belum pernah turun dalam bulan ini, namun tempat ini selalu saja digenangi air. Pasti akan sulit menjual rumah di tempat yang ketika baru datang saja sudah disambut air luapan dari selokan yang berbau busuk pikirnya.

Setelah melewati perumahan ini tidak jauh di depannya ada tangga penyeberangan yang biasa juga dilalui motor. Dia bermaksud menyeberang menggunakan jembatan yang melintas di atas jalan tol ini untuk sampai lebih cepat di jalan utama. (Pada akhirnya dia mencari jalan besar juga dan menerima fakta bahwa mantan pacarnya memang benar, tapi barangakali baginya satu lagi kegagalan hari ini tidak akan ada bedanya).

Walaupun sebenarnya untuk pejalan kaki, jembatan penyebearangan ini memiliki jalur lurus mendaki yang diapit oleh tangga di sisi kanan dan kirinya. Jalur tengah ini hanya bisa dilalui oleh satu motor saja untuk sekali menyeberang. Jadi setelah membunyikan klakson beberapa kali dan tidak terdengar balasan apa pun, dia menaiki jalur penyeberangan ini.

Belum sampai setengah jalur mendaki, ban motor tokoh utama kita yang sudah cukup aus dan dalam kondisi basah itu menyerah pada gravitasi. Karena tidak cukup kuat menahan berat motor tuanya, dia melepaskan motor itu dan ikut terseret ke anak tangga paling bawah. Dia berdiri dan segera memeriksa motornya dan beruntung motornya masih bisa dihidupkan, standar gandanya masih berfungsi, stand kakinya agak miring namun mungkin hanya butuh sedikit tendangan saja untuk bisa lurus kembali.

Efek pacu adrenaline yang telah hilang membuatnya mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Celana kain hitamnya yang walaupun tidak robek itu menunjukkan tanda bekas gesekan. Dia tahu dari pengalaman kecelakaan sebelummnya tanda seperti itu tidak akan hilang dicuci berapakalipun. Di tangan kananya ada lecet yang melintang dari pergelangan tangan ke arah sikunya. Pinganggnya pun terasa sakit dan barangkali ada memar. Ia merasa masih bisa mengendarai mtornya setidaknya sampai rumah sakit terdekat. Dia lalu duduk disamping motornya dengan susah payah.

“Sialan.” Tokoh utama kita memandang langit di depannya dan mengumpat dalam hati mengingat kata-kata ibunya dulu tentang bagaimana maghrib adalah waktu yang amat keramat. Ada alasan-alasan tertentu mengapa orang-orang harus berada di rumah saat maghrib tiba.

Di hadapannya telah nampak dua bulan, satu buah bulan dengan dengan sinar putih pucat dan di belakangnya ada bulan berukuran lebih kecil berwarna putih kehijauan. Dia telah gagal untuk pulang.

Faizal Bochari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.