Fiksi & Puisi
Menyebrangi Sungai Perahu itu mewarisi buaya-buaya putih. Kau akan menemukan keganjilan dari warna sungai, juga dari wajah penuh peluh di dekatmu....
Kelim Ibu meminta celananya dipendekkan dua jari. Di atas bangku kecil ia berdiri menghadap cermin. Aku memegang sikunya. “Dulu tidak sepanjang...
Tepat usai melakukan ciuman panjang yang ke-7.499 kali, Tokoh Perempuan Kita mengatakan sesuatu yang membuat Tokoh Lelaki Kita tersentak. Tokoh Perempuan...
Tujuh yang Tertidur “mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (al-kahfi: 3) guritan huruf-huruf di papan rakim telah serupa abuk musim merapuh...
Langit Jakarta sore ini mengingatkanku pada warna lipstik Ibu. Merah. Merona. Warna yang membuat wajah Ibu semakin cantik, tapi aku membencinya....
“Ayo, ajojing dulu,” seru Kucing Putih di tengah dentuman cepat techno music. Kucing itu berdiri di dua kaki belakangnya. Ia mengulurkan...
Di ujung jalan, perempuan itu menghitung bintang. Selalu tiap malam, di waktu yang sama, dan di tempat yang sama pula. Kadang...
“Kae, klambine seng dienggo mung kuwi-kuwi wae, sampe mambu kecut kringet e tekan kene,” kata Ke pada Pa dan Rat. Ke...
Pukul tiga lewat empat puluh tujuh menit pagi. Di layar ponsel yang temaram, nama Renan menyala bersama tujuh belas deret pemberitahuan...
Saya suka menerima surat elektronik atau sur-el. Saya sering menyegarkan lamannya, mengecek kotak masuk hingga kotak spam berkali-kali, sekadar memastikan tidak...