cerpen
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saya meninggalkan desa Kalayangan. Tetapi masih jelas dalam ingatan, hari-hari bersahaja yang saya alami di sana. Barangkali...
Ia memegang anggur di tangannya. Menyeruputnya secara perlahan sambil melihat toples di depan wajahnya. Menarik senyum di bibirnya. Kemudian menyeruput anggur...
Pak Tua sudah lupa apa cerita terakhir yang ia sampaikan kepada anaknya di meja makan. Mungkin cerita tentang kura-kura yang selalu...
Dapur depan menghadap jalan. Jendelanya selalu terbuka, menangkap suara becak dan tawar-menawar pedagang sayur setiap pagi. Di dinding dekat pintunya tergantung...
Pagi itu merupakan pagi sial bagiku, pagi yang akan merusak hari-hariku berikutnya. Pagi ketika aku menemukan dompet di pinggir jalan. Seperti...
Alarm berdering dari tiga arah yang saling tak bersepakat: dari masjid lewat pengeras suara yang diseret angin, dari ponsel yang menjerit...
Sudah sejak pagi ia menekuri laman pencari kerja yang rutin ia sambangi tiga bulan belakangan. Segelas kopi pahit dan remahan biskuit...
Seseorang pernah bertanya, tidakkah aku merasa risih oleh gelambir di perut? Aku menjawab tidak. Malah biasanya, aku justru mengelus-elus gelambirku, berbicara...
Aku tak tahu sejak kapan aku mulai menunggu. Mungkin sejak senja, mungkin sejak bulan lalu, atau barangkali sejak aku dilahirkan. Yang...
Hubunganku dan Ibu seperti bait-bait puisi yang tak pernah usai. Aku menyusun kata demi kata dalam rima, sedang Ibu membiarkannya tak...