Redaksi Omong-Omong

Pencuri Makam (Bagian 2)

Ghufroni An'ars

7 min read

Baca Dulu: Pencuri Makam (Bagian 1)

Orang-Orang yang Bersedih

Rahmat Saleh terus berjalan menyusuri setapak di padang rumput yang kering. Ia hanya melihat pohon-pohon mati dan batu-batu besar di sekelilingnya. Daun dan bunga kering menyelimuti tanah. Puluhan matahari terus bergerak timbul tenggelam bergantian. Hari tak juga berubah gelap.

Jauh di ujung pandangannya, Rahmat Saleh melihat beberapa orang sedang duduk. Ada yang bersandar di batu, ada yang tergeletak di atas tanah. Semakin ia melangkah mendekat, semakin jelas ia melihat bahwa bukan hanya ada beberapa orang di sekitarnya. Ia melihat puluhan, ratusan, ribuan, atau mungkin lebih banyak orang dibanding jumlah yang bisa ia hitung dengan seluruh kemampuan berhitungnya. Orang-orang itu tersebar di sekitarnya, pelan-pelan sesenggukan menangis dan tampak tenggelam dalam kesedihan masing-masing. Tak satu pun di antara mereka berbicara satu sama lain.

Rahmat Saleh lantas datang menghampiri seorang bocah lelaki yang duduk di dekat batu. Bocah itu juga menangis seperti yang lainnya. Ia lalu bertanya mengapa bocah itu menangis. Namun, tak ada jawaban. Bocah itu hanya menatap Rahmat Saleh sebentar, sebelum kembali dalam kesedihannya sendiri. Bocah itu kemudian berdiri, meninggalkan Rahmat Saleh, lalu ia duduk di tempat lain yang agak jauh, seperti tak ingin diganggu. Namun, ada yang aneh dari bocah itu. Rahmat Saleh tak melihat ada bayangan yang tercipta selama si bocah duduk, lalu berjalan, lalu duduk lagi. Rahmat Saleh lalu melihat orang lain yang juga berdiri dan berjalan. Tak ada satu pun di antara mereka yang memiliki bayangan. Aneh, cuaca sangat terik, matahari seakan terus bertambah seiring waktu, tetapi mereka tak memiliki bayang-bayang.

Rahmat Saleh kemudian melihat dirinya sendiri, dan mencoba menggerakkan tangannya di udara. Ia dapat melihat bayangannya bergerak lambat. Namun, bayangannya juga tampak tak biasa. Bayangan itu tampak tak mau lagi menuruti kehendak tuannya. Rahmat Saleh merasakan hawa ngeri yang amat dahsyat menjalar di sekujur tubuhnya. Bayangannya… bayangan itu perlahan memisahkan diri dari tubuh Rahmat Saleh, kemudian menguap seperti asap hitam yang pekat, dan membentuk sesosok makhluk  yang tampak seperti kuda, tapi seukuran gajah, tapi berkaki enam, dan wujudnya seperti asap yang amat gelap.

Siang bolong di tengah hamparan luas itu, di antara suara tangis orang-orang yang tak ingin diajak bicara, Rahmat Saleh menyaksikan bayangannya sendiri berubah menjadi makhluk asing. Dalam pikirannya, ia hanya ingin kembali ke mana pun asal bukan tempat aneh ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak akan pernah berniat mencuri lagi jika terbebas dari tempat ini. Semalam adalah kali pertamanya memutuskan untuk menjadi seorang pencuri.

Rahmat Saleh merasa tindakannya salah, tetapi di sisi lain ia juga merasa tindakannya ia lakukan karena terdesak dan tak ada pilihan lain. Rahmat Saleh hanyalah gelandangan yang kelaparan, terbuang dari masyarakat karena terlahir entah dari rahim siapa. Setidaknya, itulah cerita yang dikatakan orang-orang kepadanya. Ia mulai kelaparan, sebab kepala loper koran tak bisa lagi membayar para pengasong. Koran tak lagi dibutuhkan sejak setiap orang mulai membuat beritanya masing-masing. Sudah beberapa waktu ia mencoba menawarkan diri sebagai pelayan di kedai-kedai makanan, sebagai tukang cabut sampah, dan buruh pabrik. Tak satu pun dapat menerima seorang gelandangan tanpa asal yang jelas. Ia hanya tak ingin kelaparan. Dan untuk tidak kelaparan, ia harus bekerja. Untuk bekerja, ia harus memiliki tempat tinggal tetap dan keluarga, atau setidaknya muasal yang jelas. Ia tak punya tempat tinggal maupun keluarga, atau muasal yang jelas. Untuk memiliki tempat tinggal, ia harus mencari uang. Untuk mencari uang, ia harus mendapat pekerjaan. Untuk memiliki pekerjaan, ia harus punya keluarga. Untuk memiliki keluarga, ia tak tahu harus bagaimana. Untuk memikirkan itu semua ia akan mati kelaparan dan kehabisan akal karena segala yang ia pikirkan menjadi seperti lingkaran kesengsaraan yang tak bisa ia patahkan.

Dalam pikirannya yang kalut, Rahmat Saleh bertekad tak ingin terus merasakan kesengsaraannya lagi. Semua orang hidup juga punya kesengsaraannya masing-masing, begitu pikirnya. Lalu dalam lamunan yang panjang itu ia terpikir untuk mencuri. Tapi mencuri apa? Ia sama sekali tak punya keterampilan dalam mencuri. Orang-orang akan mudah menangkap seorang pencuri tanpa keahlian, pikirnya. Lagipula, semua orang yang kecurian pasti akan menyimpan dendam seumur hidupnya. Ia tak ingin hidup dalam perasaan bersalah karena telah merugikan orang lain. Kemudian ia berpikir lagi, apakah sebaiknya ia membiarkan dirinya mati kelaparan di tenda ini? Ia berpikir ulang. Meskipun ia kelaparan, setidaknya ia masih cukup kuat untuk berpikir. Tenaga ini tak boleh disia-siakan, pikirnya. Ia berpikir lagi, andai saja ada orang-orang yang tidak merasa keberatan jika barangnya dicuri. Kemudian ia teringat satu kisah lama dari seorang perempuan tua yang tak sengaja ia temui di dekat halte. Kata perempuan itu, sebagian orang juga turut mengubur hartanya saat mereka meninggal. Carilah makam dengan ukuran yang paling besar, dengan ornamen bangunan yang mengesankan dipandang mata. Di sanalah harta itu terkubur bersama pemiliknya. Mereka tentu saja tak akan membawa semua harta itu ke alam baka. Mereka tentu tak merasa keberatan bila hartanya dicuri, sebab mereka bahkan sudah tidak bisa merasa. Bagaimana dengan keluarga si orang meninggal itu? Ah, bagaimana mungkin mereka lebih peduli pada orang meninggal yang kehilangan hartanya, dibanding orang hidup yang menderita kelaparan. Rahmat Saleh pun akhirnya membulatkan tekad. Ide itu muncul begitu tertata dan menjadi gairah yang mampu melenyapkan rasa lapar yang ia hadapi. Maka ia mulai berjalan bermodal hasrat yang kuat dan ide cemerlang yang jarang sekali menghampiri kepalanya. Sekali ide itu datang, tak boleh disia-siakan, pikir Rahmat Saleh sedikit kagum terhadap dirinya sendiri.

***

Penunggang Bayangan

Rahmat Saleh mengemas kembali lamunannya. Di hadapannya sudah berdiri makhluk asing yang tercipta dari bayangannya sendiri. Namun, ia tak lagi merasa ngeri. Aku bahkan telah hampir mati karena lapar, bagaimana mungkin aku takut mati menghadapi bayanganku sendiri, begitu pikirnya. Ia melangkah maju, bayangannya pun mendekat.

“Saya adalah bagian dari diri Saudara,” kata bayangan itu, sambil mendekati Rahmat Saleh.

Rahmat Saleh bingung. Pertama, karena ia sekali lagi mendengar makhluk aneh yang bicaranya formal dan agak cempreng. Kedua, karena ia sama sekali tak menyangka makhluk besar itu tampaknya tidaklah jahat. Bagaimana pun bayangan itu mengaku sebagai bagian dari diri Rahmat Saleh, dan caranya bicara sama sekali tak menunjukkan seperti dia makhluk yang jahat, begitu pikir Rahmat Saleh.

“Mengapa Tuan Bayangan memisahkan diri dari saya?” tanya Rahmat Saleh, setelah beberapa saat memberanikan diri.

“Bukan saya yang menentukan,” jawab bayangan itu, “jadi saya juga tidak tahu jawabannya. Yang jelas kita hanyalah makhluk-makhluk kerdil yang tak mengetahui banyak rahasia yang besar-besar. Kebetulan kita hidup dalam satu wadah realita fisik yang sama sehingga mampu mengalami rasa yang kurang lebih sama, dan pada waktunya kita akan terurai dan berjalan masing-masing. Mungkin kita akan mengalami hal lain, seperti memasuki jalanan baru yang sama sekali asing, atau malahan tak ada lagi pengalaman lain, selain kenangan dan kehampaan yang abadi. Setiap yang bertemu akan berpisah, setiap yang bernapas akan mati, setiap yang berjalan akan berhenti, pada waktunya. Bukankah begitu cara kehidupan ini bekerja? Kita adalah makhluk dengan kehendak, tapi sama sekali bukan penentu.”

Bayangan itu menatap langit yang memancarkan cahaya kemerahan dari ribuan titik mirip matahari. Rahmat Saleh menarik napas panjang, dan mulai memahami arah perjalan yang dilaluinya ini. Namun, dalam sisa kewarasan yang ia miliki, tak ingin hatinya menegaskan dengan kata-kata, sampai ia saksikan sendiri, jawaban-jawaban terbentang satu persatu, atau malahan menjadi rahasia selamanya. Hanya keberanian dan harapan, yang membuatnya tetap terjaga sampai di sini.

“Apakah yang menentukan nasib kita adalah pemilik tempat ini?” Rahmat Saleh tetap ingin memastikan, meskipun ia sudah agak paham dengan aturan ‘tak ada yang lebih punya kuasa dibanding sang pemilik tempat’ yang berkali-kali disinggung si Dapur di sabana.

“Iya. Seperti yang sudah Saudara ketahui,” kata bayangan itu.

“Lalu apakah Tuan Bayangan tahu, di mana saya bisa bertemu seseorang yang menjaga jembatan?” kata Rahmat Saleh. “Seekor kucing memberitahu saya untuk menemui seseorang yang menjaga jembatan saat petir datang.”

“Bagaimana pun saya adalah bagian dari diri Saudara. Saya tentu mengetahui hanya hal-hal yang Saudara ketahui, dan tidak mengetahui hal-hal yang tidak Saudara ketahui,” kata bayangan itu, “tapi saya bisa ingat apa kata kucing itu. Mungkin saya bisa mengantar Saudara. Naiklah ke pundak saya.”

“Sebentar, Tuan Bayangan, apakah saya bisa bertanya satu hal lagi,” kata Rahmat Saleh.

“Silakan. Saya akan jawab semampu saya.”

Rahmat Saleh pun melihat sekitar, menatap satu persatu wajah orang-orang yang tak ia kenali, tengah sibuk dengan kesedihannya masing-masing. “Mengapa orang-orang ini bersedih?” tanya Rahmat Saleh.

“Sejauh yang sama-sama bisa kita lihat, mereka tak lagi memiliki bayangan, seperti Saudara memiliki saya. Saudara bisa merasakan kesedihan yang sama bila mengalaminya sendiri. Tanpa bayang-bayang, tak ada masa lalu untuk diingat, tak ada harapan yang menjadikan kita terus bergerak. Waktu bergerak, tetapi mereka tidak mampu merasakannya lagi. Mereka hanya tidak lagi bisa merasa hidup, seperti yang masih bisa Saudara rasakan untuk saat ini.”

“Lalu, mengapa saya masih bisa merasa hidup di antara mereka yang tidak?”

“Sekali lagi, bukan saya yang menentukan siapa berhak merasa apa. Jadi saya tidak tahu jawabannya.”

Rahmat Saleh melihat sekitar. Ada seorang lelaki yang tergeletak di antara emas dan berlian. Tak seorang pun mendekatinya. Mereka sibuk dengan kesedihan masing-masing. Ia melangkah  mendekati lelaki itu. Setelah memeriksa keadaannya, Rahmat Saleh menyadari bahwa lelaki itu telah meninggal. Tak seorang pun peduli. Lalu Rahmat Saleh pun mengambil cangkul yang ia bawa, kemudian mulai menggali lubang dan mengubur lelaki tua itu. Setelahnya, Rahmat Saleh naik ke punggung bayangan itu, lalu melihat orang-orang di sana mulai mengambil emas dan berlian yang tertinggal, tapi mereka tetap bersedih. Mereka berebut dan masih terus bersedih. Rahmat Saleh tak mampu memahami keadaan itu. Ia pergi menjauh, menunggangi bayangannya sendiri.

 

***

Antrean Panjang

Udara semakin tandus. Rerumputan dan pohon mati tak lagi terlihat. Hamparan pasir memperlambat langkah bayangan yang ditunggangi Rahmat Saleh. Rahmat Saleh dapat merasakan lelah yang dirasakan bayangannya. Mereka pun memutuskan berhenti berjalan.

“Sepertinya,” kata bayangan itu, napasnya tersenggal kelelahan, “sampai di sini saja saya bisa mengantar Saudara.”

“Maafkan saya Tuan Bayangan,” jawab Rahmat Saleh. “Saya sudah merepotkan Tuan. Saya bisa temani Tuan beristirahat dulu. Nanti biarlah kita berjalan dengan kaki masing-masing. Supaya saya tak membebani.”

“Bukan. Saya bukan mau istirahat,” kata bayangan itu. “Saya hanya bisa mengantar Saudara sampai di sini. Lihatlah di kejauhan sana. Ikuti antrean orang-orang itu. Kita harus berpisah sampai di sini.”

Rahmat Saleh hanya bisa menatap bayangan yang sekarat di hadapannya, dan ia tak punya apa pun untuk diberikan. Perasaan aneh mulai tumbuh dalam diri Rahmat Saleh. Perasaan kehilangan, takut ditinggalkan, atau mungkin perasaan bersalah. Apakah aku sedang merasa sedih? Tanya Rahmat Saleh kepada dirinya sendiri. Ia melihat bayangan itu yang semakin lemah. Tubuhnya yang serupa awan gelap, kini perlahan pudar, mengecil seperti ditiup angin. Pelan-pelan, bayangan itu menghilang diembus udara yang kian kering.

***

Rahmat Saleh mengambil cangkulnya. Ia melihat kerumuman orang, jauh di ujung horizon. Ia bahkan tak sempat berterima kasih kepada bayangannya karena sudah mengantar sejauh ini. Kesedihan seperti ini tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia seperti merasakan sebagian dari dirinya lenyap, tetapi menyisakan bekas yang tak bisa hilang. Ia memejamkan matanya sejenak, memanjatkan keinginannya agar bayangan itu baik-baik saja ke mana pun angin membawanya. Rahmat Saleh terus berharap, meski tak yakin pada apa ia sampaikan harapan itu. Ia pun menyeka matanya yang berair. Ia harus melanjutkan perjalanan. Hanya itu yang ia tahu, harus ia lakukan.

***

Antrean orang-orang itu lebih banyak dari kelihatannya. Semakin didekati, antrean itu tampak seperti jutaan manusia membentuk formasi menyerupai tubuh seekor ular naga yang amat panjang. Rahmat Saleh bahkan tak mampu melihat apa yang ada di ujung paling depan. Apa yang hendak dituju orang-orang ini? Rahmat Saleh menyusul mengikuti antrean. Ia melihat orang-orang berjalan gontai dengan barang-barang yang tak asing baginya. Ada seorang lelaki tua, keberatan membawa sekarung uang. Ada seorang perempuan dengan kalung emas membebani lehernya. Seorang lainnya mengangkat kursi di atas kepalanya. Sebagian yang lain tampak tak membawa apa pun di tangan, tetapi langkah mereka tampak begitu berat seakan gravitasi bekerja beberapa kali lipat.

Rahmat Saleh melihat semua orang itu dari baris paling belakang. Ia mencoba memanggil mereka, hendak bertanya apa pun yang bisa memberikannya petunjuk: ke mana mereka hendak pergi, bagaimana caranya pulang, mengapa mereka tak meninggalkan barang-barang yang membebani itu. Namun, Rahmat Saleh tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia melangkahkan kakinya, sedikit berlari, mencoba menepuk pundak salah seorang yang tak membawa apa-apa di tangannya. Orang itu menoleh, dan betapa kaget Rahmat Saleh ketika melihat orang itu tak memiliki mulut di wajahnya. Rahmat Saleh melihat ke sekitar, mereka semua tak memiliki mulut di wajahnya. Ia mencoba meraba wajahnya sendiri, dan mendapati hal yang sama. Tak ada mulut di wajahnya. Rahmat Saleh terus berlari menerobos antrean itu. Ia berlari dengan perasaan takut yang seketika menggerayangi tubuhnya dari pangkal kaki sampai ujung kepala. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan rasa takut yang lain, yang tak henti-henti membuatnya lelah dan ingin menyerah.

Rahmat Saleh berlari semakin kencang mendahului orang-orang. Meski tubuhnya semakin ringkih dan perutnya terasa sangat lapar, ia terus berlari karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Tak seorang pun memedulikannya. Ia terus berlari, sampai tubuhnya terjatuh, terbaring kelelahan di antara antrean jutaan umat manusia yang mengular mahapanjang. Hanya ada hamparan langit merah di matanya saat ini. Hanya merah yang berkobar, sebelum gelap menyambar sepasang matanya yang pengar.

***

Bersambung ke Bagian 3

 

Baca Juga: Pencuri Makam (Bagian 1)

Ghufroni An'ars
Ghufroni An'ars Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.