Redaksi Omong-Omong

Pencuri Makam (Bagian Akhir)

Ghufroni An'ars

9 min read

Baca dulu:

Pencuri Makam (Bagian 1)

Pencuri Makam (Bagian 2)

Matanya terbuka dan samar-samar Rahmat Saleh melihat orang-orang melewatinya seperti tak menyadari, bahwa ada seseorang sedang terbaring di tanah. Ia tergeletak di tengah antrean. Orang-orang yang lain terus berjalan entah menuju apa. Dengan tenaganya yang tersisa, Rahmat Saleh mencoba menegakkan tubuhnya. Ia berdiri, kembali berjalan dengan hati-hati, bertopang pada batang cangkul yang ia bawa.

Apakah aku sudah gila? Atau ini adalah mimpi? Atau inikah kematian? Namun, semuanya tampak begitu nyata di mata Rahmat Saleh. Wajahnya menengadah ke langit, puluhan matahari terus timbul tenggelam silih berganti. Entah sudah berapa lama ia berjalan. Ia mulai bisa merasakan rambut di wajahnya tumbuh sampai ke lutut. Namun, Rahmat Saleh tak lagi punya tenaga untuk merasa takut. Ia terus berjalan, sampai udara panas berubah menjadi cuaca gelap, mendung dan berangin. Dukacita mulai menyelimuti tubuhnya yang semakin kurus. Ia tak tahu mengapa kehilangan perasaan takut bisa semengerikan ini. Selama ini ia selalu ketakutan. Namun, rupanya tak memiliki rasa takut jauh lebih mengerikan. Seperti berjalan tanpa arah, tanpa kendali. Seperti rasa hambar ketika sesekali ia mencoba menelan sisa ludah yang tersisa, di batang tenggorokannya.

***

Burung Raksasa Penjaga Jembatan

Rahmat Saleh menengadahkan wajahnya ke langit. Pemandangan itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Puluhan matahari bergulir dalam rotasinya masing-masing, cahaya terang bercampur gelap dari awan yang tiba-tiba berembus datang. Tak lama setelah itu, petir datang menyambar seperti kembang api yang merambat di dinding langit. Gelegarnya sangat kencang dan asing. Suara yang memekakan setiap telinga. Seperti amarah yang tak terbendung lagi. Tanpa sadar, Rahmat Saleh telah sampai di batas gurun. Hanya tampak ujung tebing yang terjal sementara dasarnya tak dapat dilihat mata. Orang-orang berhenti. Rahmat Saleh juga berhenti.

Awan hitam yang pekat turun seperti ombak yang hendak menggulung semua orang di tepi tebing. Awan itu perlahan menjelma sesosok burung hitam yang amat besar. Burung itu hanya tampak bentuknya saat ia terbang jauh di langit. Saat ia perlahan mendarat, yang tampak hanyalah cakar-cakar kakinya yang besar, melebihi sebuah bus tingkat. Bahkan kakinya lebih tinggi dibanding gedung paling tinggi yang pernah Rahmat Saleh lihat di kotanya. Burung itu mendarat dan menciptakan terpaan angin yang begitu dahsyat. Sebagian orang terjatuh dan tergulung karenanya.

Dari ekor burung raksasa itu sebuah jembatan terbentang, tampaknya menghubungkan ujung tebing pada ujung lain yang entah ke mana. Jembatan itu tak seperti yang dikatakan oleh Dapur si kucing hitam bermata kuning. Jembatan itu berukuran amat besar. Bahkan tepi pegangannya kira-kira berukuran lebih dari sepuluh kali tinggi Rahmat Saleh.

Tak lama, beberapa orang berdesakkan. Mereka berjalan di atas jembatan. Sebagian orang perlahan berubah menjadi begitu besar sehingga jembatan itu tak mampu menopang orang-orang berukuran raksasa itu. Mereka yang berubah menjadi besar akhirnya jatuh. Semua yang kecil terus berjalan dan tak memedulikan yang lain.

Melihat orang-orang mulai menyeberangi jembatan, tiba-tiba Rahmat Saleh kembali merasakan ketakutan tumbuh dalam dirinya. Tangan dan kakinya tak bisa berhenti gemetar. Ia tak tahu harus merasa senang atau sedih atas kembalinya rasa takut itu. Rasa takut yang membuat dirinya merasa lebih hidup, tetapi di sisi lain terasa seperti jantungnya sedang diremas sekencang-kencangnya. Pandangannya terlempar jauh ke ujung jembatan yang berkabut. Sebelum menyeberangi jembatan, setiap orang tampak memberikan barang-barang yang mereka bawa kepada si burung raksasa. Rahmat Saleh tak dapat mendengar percakapan mereka. Ia hanya mendengar petir menyambar-nyambar, orang-orang menyerahkan barang-barangnya, lalu mereka pergi menyebrang.

Tubuh Rahmat Saleh terdorong oleh antren, dan melemparkannya tepat ke hadapan kaki burung raksasa. Rahmat Saleh ingin sekali bicara dan bertanya, tapi ia tak punya mulut. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Mungkin aku hanya perlu memberikan cangkul ini, pikirnya. Maka ia meletakkan cangkulnya tepat di depan cakar besar milik burung raksasa itu. Rahmat Saleh mendogakkan kepala, dan ia dapat melihat cahaya kuning terang menembus awan yang gelap. Cahaya itu turun mendekat, sampai ia sadar bahwa cahaya itu adalah mata si burung raksasa.

“Siapa yang hendak kau cari?” suara itu terdengar begitu jelas seperti petir menyambar telinga Rahmat Saleh.

Rahmat Saleh mundur ketakutan. Ia melambai-lambaikan tangannya, memberi tanda bahwa ia tak bisa bicara. Jangan mendekat! jangan mendekat! Ia berteriak dalam pikirannya sendiri.

“Aku tidak bicara padamu. Aku bicara padanya,” kata si burung raksasa sambil mengarahkan cakarnya ke samping tubuh Rahmat Saleh.

Rahmat Saleh menoleh. Cangkul di sampingnya tiba-tiba bergerak. Batangnya meleleh seperti lilin, sebelum perlahan memunculkan mulut dan ia mulai bicara.

“Kami mencari pemilik tempat ini. Kami mencari Beliau,” ucap cangkul itu.

Rahmat Saleh hanya bisa berdiri menyaksikan cangkul miliknya mulai bicara. Ia bahkan tak punya kata-kata lagi untuk dipikirkan. Ia melihat sekitar, barang-barang yang diberikan setiap orang juga tiba-tiba memiliki mulut untuk bicara.

“Apa yang sudah kau lakukan selama ini?” tanya si burung raksasa kepada cangkul milik Rahmat Saleh.

“Tidak banyak,” jawab si cangkul, “hanya menopang tubuh untuk berjalan, mengais sampah di selokan, memotong rumput, dan… mematahkan gembok di makam.”

Terdengar suara petir sekali lagi menggelegar begitu kencang. Kilatan cahayanya membuat seisi daratan seolah memohon ampun atas setiap dosa yang pernah mereka lakukan. Rumput-rumput, bukit, juga gunung yang menjulang tinggi, seakan tak berdaya di hadapan petir yang menggelegar itu..

Rahmat Saleh merasa lemas mendengar ucapan cangkulnya. Kenapa cangkulku begitu jujur? Keluh Rahmat Saleh pada cangkulnya. Ia tak bisa memotong pembicaraan juga, karena sudah tak punya mulut.

“Untuk apa kau mematahkan gembok di makam?” tanya si burung raksasa sambil mendekatkan kepalanya pada si cangkul.

“Aku berniat mencuri harta di makam itu,” jawab si cangkul.

Burung raksasa pun membuka lebar sayapnya. Rahmat Saleh dapat merasakan amarah menyelimuti tiap helai bulu di tubuh burung itu.

“Oh, ya,” sambung si cangkul, “aku hampir lupa. Aku juga belum lama ini menguburkan seseorang yang meninggal.”

Rahmat Saleh hanya bisa pasrah. Jika pun ia merasa pernah berbuat baik, mungkin itu takkan cukup untuk mengimbangi kejahatan yang sudah ia rencanakan. Saat itu juga ia tersadar… apa aku sudah mati? Apakah aku sedang menuju neraka?

“Baiklah,” kata si burung raksasa, “tugasku adalah mencatat semua pengakuanmu. Biar Beliau yang menentukan.” Burung itu lekas membuka jalan ke arah jembatan, mempersilakan Rahmat Saleh untuk berjalan menyebrang dan meninggalkan cangkulnya di tepi jurang.

***

Dengan langkah gontai, Rahmat Saleh menapaki jembatan mahabesar itu sambil melihat sekelilingnya. Kabut tebal menyelimuti jembatan sehingga tak tampak apa yang ada di antaranya. Saat angin berembus, kabut mulai pecah. Rahmat Saleh terus berjalan, tapi ia merasa jembatan itu bergerak maju. Ia melihat sekitar dari celah-celah kabut yang memudar. Jembatan itu adalah pedati. Rahmat Saleh dan orang-orang yang lain rupanya sedang naik di atas punggung seekor paus yang amat besar. Paus berwarna biru yang terbang lambat di atas awan-awan.

Di punggung paus, tumbuh pepohonan yang tampak aneh. Pohon-pohon itu berbuah serupa apel, tetapi tumbuh terbalik. Akarnya menjuntai ke atas seakan tak ada gravitasi yang membebani, sedangkan reranting dan daun-daunnya menjalar ke bawah dan terus bergerak, menghampiri setiap orang untuk memberikan buah-buah apel itu kepada mereka.

Seutas ranting pun menghampiri Rahmat Saleh. Ranting itu memberikannya sebuah apel. Orang-orang meraba mulut mereka yang mulai tumbuh kembali. Sementara orang-orang mulai memakan apel mereka dengan lahap, Rahmat Saleh malah kehilangan selera makan meski tubuhnya terasa sangat lemas. Pikirannya masih tertuju pada bayangannya yang lenyap, dan juga seorang tua yang ia kuburkan. Perjalanan apa yang telah kulalui ini? Aku menemui orang-orang dan satu persatu kehilangan mereka. Mengapa aku kesepian?

Rahmat Saleh hanya menggenggam apel itu di tangannya, sambil melihat paus yang ia tunggangi terus terbang melewati awan-awan.

Stasiun

Paus-paus terbang tinggi memecah awan, dan terbentang hamparan padang rumput yang hijau di ujung pandangan orang-orang. Satu persatu, paus-paus besar itu mulai menurunkan orang-orang di sebuah tempat mirip stasiun. Ada peron, tempat para paus menurunkan para penumpang. Ada loket-loket besar tempat orang-orang mengantre. Pilar-pilar berwarna putih kebiruan, dan atap yang tinggi menjulang seakan bangunan itu sengaja dirancang untuk para raksasa.

Rahmat Saleh turun dari punggung paus dan seseorang berseragam seperti kondektur memberikannya selembar tiket bernomor A-114. Rahmat Saleh mengangkat jenggotnya yang terjuntai panjang dan menyampirkannya ke pundak. Ia berjalan di antara orang-orang yang lain. Satu persatu kondektur mengarahkan para penumpang-punggung-paus ke tempat yang berbeda-beda, sesuai dengan nomor yang telah diberikan. Seorang kondektur menghampiri Rahmat Saleh dan melihat tiket di tangannya. Kondektur itu memberi senyum sebelum berkata, “mari saya antar.”

Mereka sampai di sebuah ruangan yang temboknya berwarna hijau muda. Di atas pintunya terpasang plat kayu dengan tulisan A-114. Kondektur memberi isyarat dengan tangannya, mengarahkan Rahmat Saleh untuk membuka pintu ruangan tersebut.

Hanya ruangan seperti kantor, dengan meja kayu tanpa taplak, kursi kayu, jendela yang mengarah ke laut, dan sebuah jam dinding. Ia melihat jam itu, tak bergerak. Jamnya mati, pikir Rahmat Saleh.

“Silakan.” Seorang bocah lelaki berambut poni muncul dari balik meja. Ia merapikan kemejanya yang berwarna merah muda. Celananya pendek berwarna biru. Tampak bocah itu sedang mencari sesuatu di sana. “Tunggu sebentar, ya,” kata bocah itu sambil terus sibuk menyibak sana-sini.

Rahmat Saleh hanya mengangguk. Ia mengamati bocah itu. Ada sketsa di atas meja. Sepertinya digambar dengan krayon. Apa itu gambar pulau? Rahmat Saleh mencoba menebak bentuk dari gambar yang dilihatnya. Yah, meskipun ia juga tidak tahu mengapa ia mencoba menebak gambar itu. Ah, itu kepompong. Ia menyimpulkan dalam pikirannya sendiri, meski masih juga tak tahu mengapa ia melakukan itu.

“Ah, ketemu,” kata si bocah tiba-tiba, sambil mengangkat sekotak krayon di tangannya. Ia melihat Rahmat Saleh, lalu memasang senyum lebar di wajah seraya berkata, “silakan duduk.”

“Kita tampaknya baru pertama kali bertemu, ya?” kata si bocah itu lagi.

Rahmat Saleh tak yakin harus menjawab apa. Tapi sepertinya memang ia belum pernah melihat bocah itu sebelumnya. Jadi ia mengangguk saja.

“Jadi, ada apa Saudara mencari saya?” kata si bocah seraya mengambil krayon warna merah di dalam kotak.

Apa aku sedang mencari seorang bocah? Rasanya tidak. Mengapa dia bicara seperti orang dewasa? Rahmat Saleh tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya terus berceloteh dalam batinnya sendiri.

Bocah itu tersenyum, lalu sambil mewarnai, ia melihat ke arah Rahmat Saleh, lalu mengulangi semua yang dipikirkan Rahmat Saleh dengan kata-kata yang lantang dan mengejek. Rahmat Saleh tentu saja kaget dan heran.

“Apakah kau adalah…” kata Rahmat Saleh, “sang pemilik tempat yang selalu mereka bicarakan itu?”

Si bocah mengerutkan alisnya sambil berpikir.

“Kadang,” kata bocah itu, “kadang mereka memanggil saya begitu. Kadang dengan nama yang lain. Mereka memanggil saya dengan macam-macam nama. Tapi, apalah arti sebuah nama? Bukankah Saudara setuju dengan itu.” Bocah itu berdiri. Ia berjinjit, lalu memberikan gambarnya pada Rahmat Saleh. “Lihatlah. Sudah selesai,” kata bocah itu.

“Seorang…,” kata Rahmat Saleh. “Um, maksud saya, seekor kucing memberitahu saya untuk menemui Anda agar saya bisa pulang,” tambahnya, sambil tak terlalu peduli pada gambar kepompong itu.

“Ya, ya…, saya tahu. Saudara orang yang jujur rupanya,” kata si bocah. “Nah, sekarang coba saudara nilai gambar saya ini. Tolong beri penilaian yang jujur juga, ya.”

“Saya tersesat di makam,” jawab Rahmat Saleh. “Bisakah Anda memulangkan saya? Saya mohon. Saya sudah melalui waktu-waktu yang berat. Saya tidak tahu di mana saya berada, tapi saya yakin tempat ini bukan dunia saya. Saya tidak seharusnya berada di sini.”

“Saudara tidak tertarik pada gambar ini, ya, rupanya.” Si bocah menarik kembali gambarnya, lalu melihat lagi gambar itu untuk menilai bagian mana yang harus ia tambahi warna. “Padahal ini saya gambar khusus untuk Saudara. Baiklah, saya akan coba tambahkan warna yang lain. Mungkin Saudara akan suka.”

“Maaf,” jawab Rahmat Saleh, “itu gambar yang bagus. Ini mungkin terdengar gila, tapi saya sudah melalui waktu-waktu yang melelahkan. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk saat ini. Saya hanya terus berjalan berbekal petunjuk dari orang-orang asing yang saya temui, lalu saya terus berjalan tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang hendak saya tuju. Saya hanya terus berjalan dan sampai di stasiun ini.”

“Bukankah itu yang kita sebut kehidupan?” Bocah itu tertawa. “Baiklah… baiklah. Maafkan saya, ya, sudah membuat tempat yang cukup luas sehingga orang-orang jadi kelelahan di perjalanan. Tapi Saudara tentu tidak gila. Saya jamin seratus persen waras,” kata bocah itu. “Ngomong-ngomong, mengapa tak Saudara makan apel itu? Bukankah Saudara kelaparan selama ini?”

Rahmat Saleh melihat apel di tangan kanannya. Ia sama sekali tidak berniat makan untuk sekarang. Rasa lapar di perutnya pun seperti telah berubah menjadi hambar. “Saya tidak lapar lagi,” kata Rahmat Saleh.

Si bocah lantas tersenyum. “Baiklah. Taruh saja apelnya di meja,” katanya. Lalu sambil berjinjit ia mencoba menyusun apel itu di samping gambar kepompong miliknya. Bocah itu merapikan kembali krayon ke dalam kotak. “Apa Saudara benar ingin pulang?”

Rahmat Saleh tak menjawab. Ia memang merindukan tendanya yang kumuh, ia merindukan kehidupannya yang sulit dan normal. Namun, ia juga tak bisa berbuat banyak dalam hidupnya. Tak ada bedanya, jika aku ada, atau aku tak ada, pikirnya. Tak seorang pun merindukanku. Tak satu tempat pun kehilangan, jika aku tak ada.

“Apakah saya ini orang yang jahat?” tanya Rahmat Saleh tiba-tiba.

Bocah itu tersenyum. “Apa yang membuat Saudara merasa begitu?”

“Saya telah melakukan hal buruk.”

“Seperti mencuri?”

“Ya. Saya adalah pencuri.”

“Pencuri yang bahkan tak berhasil mendapatkan barang curiannya,” si bocah terkekeh.

“Saya telah melihat orang-orang yang bersedih selama perjalanan,” kata Rahmat Saleh. “Saya pikir itu adalah tempat paling menyedihkan yang pernah saya kunjungi. Apakah di sana seharusnya saya berada?”

“Menurut hemat saya,” kata si bocah. “Saudara memang melakukan hal buruk. Tapi saudara melakukannya karena tak punya pilihan, saya kira. Saya menggambar tempat-tempat yang subur dan nyaman setiap hari, tetapi bahkan Saudara tak pernah merasakan hal-hal tersebut selama ini, karena hak-hak saudara juga dicuri orang lain. Saya penuhi dunia dengan manusia, tetapi Saudara hidup sengsara dan kesepian. Tempat yang pernah saudara lalui itu, hanya untuk mereka yang melakukan hal buruk, padahal punya pilihan untuk berbuat baik. Saudara tak punya pilihan. Saya kira Saudara tidak layak berada di sana.”

Si bocah menaruh tangannya yang pendek di atas meja, lalu bertopang dagu sambil melihat jam dinding yang mati.

“Lalu di mana seharusnya saya berada?” tanya Rahmat Saleh.

Si bocah kembali meraih gambarnya. Ia mengambil apel di meja, lalu menaruhnya di atas gambar itu. “Berikan tiket di tangan Saudara,” kata si bocah. Rahmat Saleh meletakkan tiket itu di atas meja. Si bocah menaruh tiketnya di samping gambar yang ditindih apel.

“Nah, sakarang pilihlah,” kata si bocah. “Makanlah apel itu agar Saudara dapat hidup lebih baik.  Hiduplah sebagai seekor kupu-kupu yang bebas terbang ke mana pun Saudara mau. Tak ada lagi lapar. Setiap bunga adalah rumah bagi Saudara. Tak perlu lagi mencuri. Atau, Saudara ambil tiket itu untuk melihat perjalanan lain yang belum pernah Saudara lalui, menuju tempat di mana Saudara bisa beristirahat dengan damai.”

Rahmat Saleh memejamkan kedua matanya, lalu membukanya dan melihat ke arah jendela. Laut biru, padang rumput hijau, awan-awan beragam bentuk, dan paus-paus yang mengantar orang-orang. Angin berembus dari fentilasi, meniup bulu-bulu mata Rahmat Saleh yang kusam tak terawat. Tubuh lelah dan pakaian kumuh itu telah melalui perjalanan yang panjang. Ia masih merindukan tendanya, tapi ia tak pernah benar-benar ingin kembali. Di mana pun Rahmat Saleh berada selama ini, ia belum pernah merasa pulang. Lelahnya tak tertanggung, bahkan oleh makanan atau kehidupan seekor kupu-kupu. Kehidupan sungguh melelahkan, pikirnya.

“Saya sudah tidak merasa lapar,” kata Rahmat Saleh. Lalu ia pun meraih tiket itu dengan tangannya.

***

Bocah itu mengantar Rahmat Saleh menuju peron yang lain. Paus-paus silih berganti mengantar orang lain. Bocah-bocah lain juga tampak mengantar orang yang lain. Semua bocah itu berwajah sama. Sebelum mangkat, Rahmat Saleh menyalami tangan bocah yang ia temui di ruangan A-114.

“Apakah ini tiket menuju surga?” tanya Rahmat Saleh pada bocah itu.

Bocah itu pun tertawa. “Jangan bercanda,” katanya. “Tak ada tempat bernama surga. Surga bukanlah tempat.” Dengan tangannya, bocah itu menunjuk dada kirinya sebelum berkata, “surga adalah perasaan mengasihi dan dikasihi. Saudara bisa menciptakannya di mana pun Saudara berada. Jangan konyol dengan mengatakan bahwa surga harus diperjuangkan dengan macam-macam hal yang justru kejam. Kedamaian di dalam diri, adalah surga yang paling dekat yang bisa kita ciptakan sendiri.”

Sulit bagi Rahmat Saleh memahami perkataan bocah yang bicara seperti orang tua itu. Rahmat Saleh pun melanjutkan langkahnya. Paus mengudara meninggalkan peron, menembus awan-awan lalu menghilang di langit biru.

***

Tenda

Orang-orang berkerumun di dekat sebuah tenda kumuh di bawah jembatan. Petugas keamanan dan medis memberi pembatas agar masyarakat tak mendekat. Tak lama, beberapa petugas membawa kantung jenazah dari dalam tenda. Pagi itu, seorang gelandangan yang dikenal warga sekitar dengan panggilan Rahmat Saleh itu ditemukan meninggal dalam tendanya. Seorang wanita tua berdiri di belakang kerumunan. Ia datang untuk meninggalkan sebatang cangkul di dekat tenda. Lalu, seekor kucing hitam bermata kuning terang menghampiri perempuan itu. Ia menggendong kucing itu, lantas pergi meninggalkan kerumunan yang masih saling bertanya dan bergosip tentang musabab kematian Rahmat Saleh dan kejahatan yang pernah gelandangan itu lakukan selama hidupnya.

***

TAMAT

 

Penulis: Ghufroni An’ars
Ide Cerita: Belly Rismona Putri (@bellyrsmn)

Ghufroni An'ars
Ghufroni An'ars Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email