Membaca dan menulis cerpen. Tertarik dengan teri campur pete.

Parang dan Jeritan Orang Utan

Gielangbina .

6 min read

Pada mulanya adalah sebuah tawaran pekerjaan yang mengantarkannya ke dalam sini. Tawaran itu berasal dari Amat, kawannya yang bekerja di perusahaan sawit sebagai seorang petugas keamanan.

“Kau tahu? Belakangan ini, kera besar itu sering mampir ke perkebunan sawit dan menggangu para pekerja di sana.”

“Bukankah dulu mereka tinggal di sana? Tentu mereka akan kembali ke sana untuk mencari makan.”

“Kau salah, kera itu bukan mencari makan, mereka merusak tanaman sawit milik perusahaan.”

“Apa boleh buat kalau habitat mereka dirampas, tentu mereka akan melawan.”

“Sudahlah, kedatanganku kemari bukan untuk berdebat denganmu.”

“Lalu?”

“Begini, bosku menyuruhku untuk memburu kera itu. Tiap satu kepala akan dihargai olehnya dengan uang sejumlah satu juta rupiah. Tetapi aku kekurangan satu orang anggota, apa kau berminat untuk ikut, Mir?”

Amir yang mendengar tawaran itu tidak langsung menanggapinya. Dan tanpa menunggu tanggapan dari Amir, Amat kembali berkata.

“Sebenarnya aku kasihan kepadamu, Mir. Sebagai seorang kawan, dari dulu aku selalu memperhatikanmu. Kau selalu menyambung hidupmu dengan menjual kayu bakar, tapi sekarang orang-orang sudah jarang yang membeli kayu bakar milikmu. Sehingga kau harus meminjam uang ke sana-sini untuk menghidupi keluargamu. Sampai suatu hari, istrimu akhirnya pergi membawa anakmu karena ia sudah tidak sanggup lagi hidup melarat denganmu.”

Karena Amir hanya menatap kosong ke arah meja di depannya tanpa berkata sedikit pun, akhirnya Amat beranjak hendak pamit. Namun sebelum pamit, sekilas Amat sempat menengok ke belakang seraya berkata.

“Aku pamit dulu, Mir. Jika kau berminat, nanti malam datanglah ke posku, kita akan berburu kera itu bersama-sama.”

Malamnya, ketika tengah berbaring di ranjang. Ia mulai memikirkan tawaran pekerjaan itu, seraya membenarkan beberapa omongan yang disampaikan oleh kawannya itu. Istrinya pergi membawa anaknya yang baru berusia 2 tahun karena ia sudah tidak sanggup hidup bersamanya. Kayu bakarnya sudah jarang yang membeli, karena sekarang orang-orang sudah beralih ke kompor gas. Dan kini utangnya kepada beberapa orang di kampung telah lama menumpuk. Namun, berburu orang utan juga bukan suatu jalan keluar. Tetapi mau bagaimana lagi. Kemarin, salah seorang penduduk kampung telah datang untuk menagih utang kepadanya, dan ia berjanji akan melunasinya minggu depan. Tidak ingin hanyut dalam pikirannya, akhirnya ia bangkit dan memutuskan untuk pergi ke pos dengan membawa sebilah parang yang ditenteng di tangan kanannya.

Sesampainya di pos tempat Amat berjaga, ia tidak menemui barang seorang pun seperti yang dikatakan oleh Amat. Namun, ia melihat pintu gerbang perkebunan telah terbuka dengan lebar. Pikirnya, mungkin mereka sudah berangkat lebih dulu sebelum ia tiba. Dengan langkah yang ragu, ia mulai memasuki area perkebunan itu. Tetapi baru beberapa langkah, ia mulai tersadar kalau tempat itu bukanlah perkebunan sawit, tempat Amat bekerja. Tempat itu adalah hutan belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon raksasa, dan dihuni oleh suara lirih hewan-hewan di malam hari.

Ia sempat termangu, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sebuah nyala yang teramat terang. Nyala itu mulai merambat dan membakar habis seluruh pohon dengan sekejap. Suara hutan yang lirih, kini diisi dengan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Ia melihat kawanan owa siamang berloncatan dari dahan ke dahan, belasan harimau berlarian, burung-burung terbang dengan satu tujuan lurus ke depan, semua berusaha menghindari kobaran api. Lalu, seekor orang utan dengan tubuh yang diselimuti kobaran api mulai berlari menghampirinya. Ia sedikit pun tidak dapat bergerak dan hanya terpaku sampai orang utan itu tepat berada di hadapannya. Orang utan itu mendekap bahunya, dan menjerit dengan teriakan yang luar biasa. Setelah puas memekik, orang utan itu menelungkup jatuh dan lenyap menjadi serpihan abu.

Seketika Amir tersentak. Ia terbangun dengan bermandikan peluh di sekujur tubuh. Dan tak lama, suara ketukan yang keras mulai terdengar dari arah pintu depan rumahnya.

Dengan setengah tersadar, ia mulai beranjak ke arah pintu depan. Sayup-sayup dari luar ia mendengar suara yang memanggilnya.

“Mir, bangun, Mir. Jadi ikut kau?”

Ketika ia membukakan pintu, dilihatnya Amat telah membawa senapan angin miliknya yang dikalungkan dengan seutas tali di bahunya. Dia datang bersama dengan tiga orang pemuda yang tidak dikenalnya. Pikirnya, mungkin para pemuda itu berasal dari kampung sebelah, masing-masing dari mereka menenteng sebilah parang.

Sebenarnya, ia sempat berpikir untuk menolak tawaran itu karena teringat dengan mimpinya barusan. Tetapi karena teringat dengan utang yang mesti dilunasinya minggu depan, tanpa banyak cakap, ia mengambil parangnya dan ikut  berburu dengan kelompok Amat.

 

***

 

Sebelum memasuki perkebunan, Amat membagi mereka menjadi dua tim. Ia dan Amir akan menyisir sisi Timur perkebunan, sedang ketiga pemuda itu akan menyisir sisi Barat perkebunan. Ketika Amir memasuki area perkebunan, ia mulai terkenang dengan mimpinya barusan, seakan ia merasa tidak asing dengan mimpi itu. Seraya berjalan terus menyusuri area perkebunan, ia berusaha keras untuk mengingatnya. Setelah lama berpikir, akhirnya ia ingat dengan kejadian yang ada di dalam mimpinya itu. Kejadian itu terjadi puluhan tahun yang silam, persis di perkebunan ini.

Dulu, sebelum perkebunan ini dibuka. Tempat ini termasuk dalam area hutan yang cukup lebat. Hingga suatu hari, api membakar habis semua yang ada di tempat ini, pohon-pohon ulin raksasa yang menjulang tinggi ke angkasa, hewan-hewannya yang mencoba menyelamatkan diri. Tapi, kebanyakan dari mereka hangus oleh kobaran api. Dan selama hampir sebulan, kepulan asap mengerubungi seluruh kampung yang berada di dekatnya, termasuk kampung tempat tinggalnya.

Suatu kebetulan yang tak terduga adalah tak lama setelah kejadian itu, perusahaan sawit akhirnya membuka lahan di bekas area kebakaran ini. Perlahan mereka mulai membersihkan lahan, membangun pabrik, dan mulai menanam benih sawit. Desas-desus yang berkembang di penjuru kampung menduga kalau perusahaan sawit berada di balik tragedi kebakaran itu. Tetapi kejadian itu dengan cepat terlupakan, semenjak banyak orang yang mendapatkan pekerjaan di perkebunan sawit yang mulai beroperasi.

Amir tersentak dari lamunannya ketika Amat menepuk bahunya, karena ia mendengar bunyi daun yang terinjak di salah satu sudut tanaman sawit. Setelah memberikan aba-aba dengan merapatkan jari telunjuknya ke arah bibirnya, Amat lantas menyorot senternya ke arah sumber suara. Dalam keremangan cahaya senter, mereka berdua melihat seekor orang utan tengah memakan biji-bijian yang ditemukannya di tanah, di sekitarnya terlihat dahan tumbuhan sawit yang patah.

Seketika Amat yang melihat kejadian itu menjadi berang. Ia memberikan senter kepada Amir, agar ia bisa menembak orang utan itu dengan senapan anginnya. Namun, karena mengetahui keberadaan mereka berdua, sebelum Amat selesai mengokang senapannya, orang utan itu sudah keburu lari tunggang-langgang dengan kedua tangan dan kakinya.

Amat berlari paling depan mengejar orang utan itu, sedang Amir mengikuti dari belakang seraya mengarahkan senternya ke arah depan agar tidak kehilangan jejaknya. Mereka berlari dengan susah payah sampai orang utan itu terpojok di salah satu sudut pagar kawat yang membatasi area perkebunan. Ketika orang utan itu hendak memanjat pagar, Amat dengan sigap membidik senapannya dan langsung melontarkan seluruh isinya. Walaupun lesatan peluru itu mengenai kaki kirinya. Namun yang tak disangka-sangka, dengan kaki berlumuran darah, orang utan itu berhasil memanjat dan menceburkan dirinya ke sungai yang ada di balik pagar.

Melihat tangkapannya lolos, Amat memaki seraya membanting senapannya ke tanah.

Dengan tangan hampa, Amat dan Amir akhirnya kembali ke pos.

Di sana, masing-masing dari mereka beristirahat dan menyalakan rokok. Seakan kecewa dengan hasil tangkapannya barusan, mereka berdua hanyut dalam kebisuan masing-masing, seraya menunggu ketiga pemuda lain yang belum juga muncul di pos.

Tak berselang lama, dari jarak yang agak jauh terlihat salah seorang pemuda datang dengan tergopoh-gopoh. Ketika sampai di pos, tanpa mencoba mengatur napasnya yang masih terengah-engah, ia lantas berkata.

“Bang, kita dapat satu.”

Amat yang sedari tadi telah terbakar amarah, lantas bangkit dan membuang puntung rokoknya yang masih setengah. Ia bergegas mengalungkan senapannya dan berjalan mengikuti arahan pemuda itu, disusul oleh Amir di belakangnya.

 

***

 

Sesampainya mereka di sana, mereka mendapati seekor orang utan yang sebelah kakinya sudah diikat dengan tambang di pagar kawat pembatas kebun. Entah bagaimana ketiga pemuda itu dapat menangkapnya. Mungkin karena ukurannya yang tidak terlalu besar, sehingga mereka dapat mengikatnya di sana. Orang utan itu menjerit seraya mencoba untuk memanjat pagar kawat, namun ikatan itu terus membelenggunya.

Amat segera melepaskan senapan yang dikalungkan di bahunya, dan mengambil sebuah tongkat besi yang ditemukannya di dekat salah satu tumbuhan sawit. Lalu, dengan langkah yang terburu-buru, ia mulai menghampiri orang utan itu. Dan dengan sekali sabetan, orang utan yang tengah memanjat itu tertelungkup ke tanah dan menjerit kesakitan.

“Bangsat!!! Gara-gara kau, aku dimarahi bosku karena disangka tidak becus menjaga kebun sawit!”

“Gara-gara kau, upahku harus dipotong karena mengganti tanaman sawit yang rusak!!”

Seraya memaki, Amat terus memukuli kera itu dengan tongkat besi yang biasa digunakan para pekerja untuk memetik buah sawit, yang ujungnya mirip sebuah sekop. Namun, ia sempat tertegun ketika orang utan itu menangkap tongkat besi miliknya, dan menghempaskannya, membuat dirinya tersungkur ke tanah.

Bukannya menyurutkan amarahnya, pembelaan itu malah membuatnya semakin berang. Ia lantas bangkit dan merenggut parang yang ada di tangan Amir.

Seketika ia berlari dan mengayunkan parang itu ke arah kepala orang utan. Orang utan itu menjerit-jerit kesakitan karena ayunan parang itu malah mengenai bagian lengan kirinya. Terlihat lengannya bergelantungan seakan ingin putus dari tubuhnya.

Amir hanya bisa terpaku menyaksikan kejadian itu dengan perasaan yang teraduk-aduk. Ketika orang utan itu menjerit kesakitan, ia langsung teringat dengan orang utan yang ada di dalam mimpinya, yang menjerit dan menelungkup tewas tepat di hadapannya. Ia sempat berpikir untuk menghentikan perilaku kejam kawannya yang telah melebih-lebihi binatang. Namun semuanya sudah terlambat, ayunan parang yang kedua membuat orang utan itu berhenti menjerit, karena kini kepalanya telah terpisah dengan badannya.

Seketika suasana menjadi hening. Seakan lega telah melampiaskan seluruh nafsunya, Amat menjatuhkan parangnya ke tanah dan berkata.

“Sekarang, cepat bersihkan mayat kera itu!” perintahnya kepada ketiga pemuda.

Ketiga pemuda itu membereskan jasad orang utan, dan memasukkannya ke dalam sebuah karung. Namun, sebelum mereka membersihkan semuanya, Amat telah mengambil kepala orang utan itu dan memasukkannya ke dalam karung yang terpisah. Ia menghampiri Amir yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

“Kau simpanlah kepala ini di rumahmu, Mir. Besok malam aku akan mengambilnya dan akan kutunjukkan kepada bosku sebagai bukti, supaya kita dapat menerima imbalan,” katanya seraya menyodorkan karung itu.

Dengan tangan gemetar, Amir membawa pulang karung yang berisi kepala orang utan itu ke rumahnya.

 

***

 

Seperti yang telah dikatakannya semalam. Esoknya, Amat datang ke rumah Amir dengan niat mengambil kembali kepala orang utan itu. Namun, ketika ia sampai di depan rumah Amir, Amir tidak pernah membukakan pintu rumahnya, walaupun ia sudah mengetuknya berkali-kali. Berulang kali Amat datang, namun Amir tidak pernah membukakan pintu rumahnya.

Hingga seminggu berselang, seorang warga di kampung sebelah menemukan bangkai orang utan tanpa kepala dengan lengan kiri yang hampir putus tersangkut di pinggir jembatan. Warga kampung yang awalnya menduga kalau bangkai itu adalah mayat manusia karena seluruh bulu di badannya telah tanggal, segera melaporkan penemuannya itu kepada pihak kepolisian.

Berita itu akhirnya menyebar hingga ke kampung tempat tinggal Amir. Amat yang tidak mau tersangkut akhirnya mengadukan Amir kepada pihak polisi kehutanan. Ia bersumpah pernah melihat Amir membawa sebuah karung yang berlumuran darah pada malam hari. Dengan pengaduannya ini, Amat akhirnya diganjar dengan sejumlah imbalan, sedang Amir akhirnya digelandang dari dalam rumahnya dengan barang bukti sebilah parang dan sebuah tengkorak kepala orang utan yang telah dikubur di belakang rumahnya. Kepada pihak kepolisian, ia mengaku mengubur kepala itu karena kepala itu terus menjerit-jerit kepadanya.

 

(Cibubur, 24 Desember 2021)

Gielangbina .
Gielangbina . Membaca dan menulis cerpen. Tertarik dengan teri campur pete.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email