cerpen
“Bagi kami, hutan adalah hidup dan hidup adalah hutan,” kata Wa Sahdi sambil melinting sebuah cerutu. “Dan sekarang, kami sedang berjuang...
“Paket…” Masih tak ada balasan apapun dari dalam rumah tersebut. Ini adalah seruan ketujuh kalinya. Ia mengamati lagi gerbang rumah. Pandangannya...
Seperti pada umumnya mahasiswa, saya pun ada teman. Dia namanya Joyo. Bukan dari Kuntowijoyo. Joyo saja, titik. Dia punya banyak panggilan:...
Tiga puluh menit selepas azan Isya, di pos ronda, Abang tukang bakso ikan mengetuk pinggiran mangkuk sebanyak tiga kali. Suaranya terbang...
Ketika tiba waktunya, Oey Djien akhirnya datang menjemputku dengan mobil kijang tua peninggalan orang tuanya. Seperti kuda yang kehabisan napas, En...
Sedari kecil, aku sangat ingin melihat laut. Aku ingin memandangi laut yang di atasnya mengambang perahu dengan layar yang terkembang. Laut...
Aku menemukannya di antara tumpukan naskah lama yang disimpan di rak dalam folder plastik berdebu. Judulnya hanya satu kata. “Kembali”. Kertasnya...
Saya memandang lamat ke arah pelanggan warung soto kami. Ada seorang ibu muda dan anak laki-lakinya yang balita. “Anak lanang itu...
I Aku sudah lupa bagaimana rasanya menjadi manusia. Bukan. Bukan dalam artian biologis, sebab aku masih bernapas, darahku masih mengalir dari...
Pemberitahuan itu muncul tanpa suara. Tidak ada sirene. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kemarahan. Hanya selembar kertas yang tertempel di...