Saya memandang lamat ke arah pelanggan warung soto kami. Ada seorang ibu muda dan anak laki-lakinya yang balita.
“Anak lanang itu harus kuat. Gak boleh nangis. Wes meneng….” Ibu muda itu berkata dengan tegas kepada anaknya yang terjatuh dan menangis. Tangan perempuan itu sigap membersihkan sisa kotoran yang menempel di lutut anaknya.
Lamunan saya pecah ketika suara Ibu merambat cepat ke telinga. “Kuahe wes umup, Le,” kuahnya sudah mendidih. “Ndang dituang,” lekas dituang, katanya. Segera saya ambil mangkuk berisi sayuran, saya tambahkan mie jagung, daging babat, daun bawang, tauge, dan tak lupa bawang goreng. Saya hapal betul resep racikan soto Ibu. Saya sudah membantunya sejak lulus SMA hingga sekarang saya menginjak usia 35.
Ibu bilang, Wati, adik saya, lebih punya bakat untuk bekerja dengan orang lain, karena nilai ilmu hitungnya selalu bagus saat sekolah. Sementara saya yang sama sekali tolol dalam hitung-hitungan memang tak mungkin bisa kerja di PT, bank, atau apa pun profesi yang punya kantor untuk dituju setiap hari. Mungkin itulah alasan mengapa Ibu sangat ingin Wati lanjut sekolah, sementara saya dimintanya melanjutkan warung soto ini.
Setelah lulus kuliah akuntansi, Wati bekerja sebagai pegawai di salah satu bank syariah di kota Bandar Lampung. Tak lama setelahnya dia dilamar seorang pria, yang belakangan baru saya tahu kalau dia adalah atasan Wati di kantornya. Saya tak paham betul apa yang dikerjakan orang-orang di bank. Yang jelas suami Wati selalu klimis dari ujung rambut sampai sepatu, dan senyumnya bisa menawan hati Ibu yang selalu ingin punya anak lanang yang bisa diandalkan setiap waktu. Ibu kerap membanggakan suami Wati yang rajin ibadah kepada ibu-ibu lainnya, di depan gerobak sayur Mang Usman yang ngetem saban pagi di depan warung kami.
Sejak menikah, Wati sudah tak tinggal lagi dengan kami. Dia dan suaminya mencicil rumah di daerah Lampung Selatan, pinggiran kota, tak jauh dari tempat kerja mereka. Lalu saat mereka mampir ke sini, saya mencuri dengar sedikit obrolan Wati dan Ibu. Wati semringah menceritakan kehamilannya, begitu juga Ibu ketika mendengarnya. Sembari mencuci piring-piring berminyak di grojokan belakang warung, saya juga tersenyum membayangkan akan punya keponakan.
Tapi pada hari lain apa yang dikatakan Wati sungguh tak bisa membuat Ibu berkata-kata lagi. Ibu sampai meriang seminggu ketika Wati bilang suaminya ingin poligami. Hal itu membuat tugas saya jadi tambah berat, karena harus mengurusi warung sendirian. Tapi yang lebih mengagetkan saya malahan bukan apa yang keluar dari mulut Wati atau suaminya.
“Mungkin itu yang terbaik buat mereka,” kata Ibu. “Kalau Wati bersedia, Ibu juga ikhlas. Agama juga gak melarang. Kekarepan wong lanang memang gak iso dilarang-larang. Memang lebih baik terus terang.”
Keinginan seorang laki-laki memang tak mungkin dilarang? Saya yang anaknya saja masih tak percaya kalimat itu keluar dari mulut Ibu, perempuan yang pernah mengusir suaminya yang ketahuan selingkuh. Pikiran orangtua memang tak selalu dapat dipahami, bahkan oleh anak kandungnya sendiri. Saya sendiri tak punya suara dalam keluarga ini. Mulut saya hanya berguna untuk makan dan merokok, sisanya tinggal tangan yang dipaksa bekerja meracik soto sepanjang waktu. Sementara sikap Ibu yang seperti itu, saya pikir lebih menunjukkan bahwa dia sedang mengenang kepergian Bapak, dibanding mempertimbangkan nasib Wati, putrinya yang akan dimadu.
Tak lama setelah itu suami Wati meminang seorang perempuan muda bercadar yang baru lulus madrasah aliyah. Saya tak pernah tahu betul alasan laki-laki ingin poligami. Juga kenapa agama memperbolehkan ketidaksetiaan semacam itu. Saya memang laki-laki tolol. Kalau dibedah dengan pisau dapur, mungkin kamu bisa lihat mie jagung, sayuran, dan babat di dalam kepala saya. Tapi perasaan saya berkata ada yang salah dengan orang-orang itu. Wati jadi jarang mampir setelah suaminya menikah lagi, dan Ibu jadi jarang bicara dan keluar barang sekadar membeli sayur di gerobak Mang Usman. Dan lagi-lagi, setiap ada masalah di keluarga ini, imbasnya adalah saya yang harus mengurusi warung ini sendiri.
Padahal warung soto ini juga tidak benar-benar bisa dibilang berkembang sejak dulu. Bisa dibilang saya sebagai bawahan Ibu tidak selalu sependapat dengan keputusannya. Misalnya saat ada seorang laki-laki pemilik ruko yang mampir makan di warung kami. Selesai makan, dia memuji rasa soto babat buatan Ibu, dan mulai bicara tentang kemungkinan memindahkan warung ini ke tempat yang lebih ramai. Pemilik ruko itu bahkan mau meminjamkan rukonya selama setengah tahun secara cuma-cuma, untuk meyakinkan Ibu bahwa di lokasi yang lebih ramai, soto seenak buatan Ibu akan mendapat lebih banyak pelanggan. Jika sudah terlihat peningkatan setelah enam bulan, Ibu boleh membayar uang ruko untuk enam bulan berikutnya. Firasat saya, pemilik ruko itu datang bukan untuk berbisnis. Dari cara dia menjelaskan rasa soto buatan Ibu, saya pikir dia hanya ingin menolong kami. Lagipula harga yang dia tawarkan untuk rukonya terbilang murah untuk ukuran kota Bandar Lampung. Tapi Ibu memang selalu berhasil mengejutkan semua orang dengan pemikirannya.
“Kami sudah lama jualan di sini. Warung kami ya rumah kami. Lagipula orang-orang sudah pada hafal warung soto kami lokasinya di sini,” kata Ibu. “Kami sudah nyaman jualan di sini. Tidak perlu yang lebih ramai lagi. Nanti jadi serakah.”
Serakah? Jelas saya mengernyitkan dahi. Saya putar keran air sampai tertutup. Sepertinya telinga saya belum berkurang fungsinya. Saya bukannya ingin meninggalkan rumah kami. Tapi peluang untuk membuka usaha di tempat yang lebih ramai menurut saya merupakan sebuah tawaran yang baik. Lihatlah lubang-lubang di jalanan depan warung kami. Ukurannya terus bertambah setiap hari. Jalanan itu tak pernah diperbaiki sejak saya lahir ke bumi. Jika penghujan datang, kami juga harus libur beberapa hari, karena warung hampir pasti tergenang banjir di atas mata kaki. Bagaimana pelanggan mau mampir ke tempat yang susah diakses seperti ini? Toh, selama ini Ibu juga masih butuh kiriman dari Wati dan suaminya untuk kebutuhan sehari-hari. Sepertinya Ibu memang tidak pernah menganggap warung ini sebagai usaha yang serius.
Ibu memang telah mengusir Bapak dari rumah, tetapi dia tidak pernah membuang satu pun barang yang ditinggalkan Bapak, termasuk warung ini dan segala ingatan yang tertinggal di dalamnya. Saya masih bisa melihat kerinduan di mata Ibu, setiap kali ada pelanggan bertanya tentang muasal berdirinya warung ini.
Pemilik ruko itu meninggalkan kertas berisi nomor ponselnya di meja. Dia pergi dengan perut kenyang dan sisa-sisa harapan kami akan mempertimbangkan tawarannya. Setelah Ibu kembali ke dapur, diam-diam saya salin nomor itu di ponsel saya. Berharap suatu hari saya punya cukup keberanian untuk membuat keputusan penting untuk keluarga ini. Saya juga seorang laki-laki di keluarga ini. Kenapa keinginan saya tak pernah jadi pertimbangan Ibu?
Pernah suatu kali saya katakan pada Ibu bahwa saya ingin menikah. Tapi Ibu malah menangis hanya karena perempuan yang saya kenalkan padanya bersuku Lampung. Kata Ibu saya boleh menikah dengan siapa saja asal jangan dengan perempuan Lampung. Ibu melempar ribuan alasan yang tak dapat saya terima.
“Adewe ki wong Jowo, perantau nang tanah iki.” Kita ini orang Jawa, perantau di tanah ini, kata Ibu. “Rabi karo wong Lampung iku ora mudah lan ora murah. Kabeh wong Lampung nganggep adewe iki gur numpang. Ora bakal iso akur seumur umur.” Semua orang Lampung menganggap kami hanya menumpang, kata Ibu. Tidak mungkin bisa hidup rukun.
Sejak kali itu saya tak pernah lagi bicara tentang pernikahan dan semacamnya pada Ibu. Semua pernikahan di keluarga kami memang berakhir ganjil, tetapi bukan berarti Ibu berhak mengatur keinginan saya untuk menikah, untuk menjalani hidup saya sendiri tanpa dibanding-bandingkan dengan pengalaman pahit yang Ibu dan Wati pernah alami.
Sejujurnya semakin dewasa saya semakin ragu bahwa saya orang Jawa. Simbah dari Ibu memang seorang transmigran dari Jawa. Tapi berdasarkan cerita beberapa kerabat, saya dengar Bapak adalah orang Banten. Sementara saya sendiri lahir di tanah Lampung, besar dengan kawan-kawan orang Lampung. Kebanyakan mereka orang Lampung yang saya kenal memang malu-malu mengakui mereka orang Lampung. Orang-orang Lampung itu berbahasa Jawa karena mereka kerap dianggap kasar jika bicara dengan bahasa mereka sendiri. Siapa yang menganggap mereka kasar? Tentu saja para pendatang seperti Simbah dan juga Ibu. Orang-orang yang tuturnya lembut, tapi suka menghakimi dan menuntut.
Semakin dewasa, saya semakin bingung saya ini apa. Saya tak pernah mendapat pelajaran apa pun tentang Jawa selain harus terus mengalah demi keinginan Ibu. Sementara saya pun tak bisa belajar apa pun dari orang-orang Lampung yang bersikeras melupakan jati diri mereka sendiri. Maka, perlahan saya mulai tidak mendengarkan nasihat Ibu. Saya merasa saya tak lebih dari mangkuk kosong yang pelan-pelan terisi dengan berbagai sayuran, daging babat, tauge, mie jagung, daun bawang, disiram dengan kuah kuning kental yang menjadikan saya soto. Kalau ada pelanggan bertanya pada saya, ini soto khas mana? Saya akan menjawab bahwa kami menjual soto saja. Soto ini sudah tidak mengenal muasalnya. Sebab jika saya bilang ini soto khas Jawa, mungkin dirasa terlalu pedas. Jika saya bilang ini soto khas Lampung, mungkin dibilang terlalu manis. Semua yang dianggap khas, pada akhirnya jadi tidak pernah terasa pas.
“Kuahe wes umup, Le,” kuahnya sudah mendidih, kata Ibu, sembari melihat seorang pelanggan perempuan yang membawa anaknya yang balita sedang menangis karena terjatuh. “Ndang dituang.”
Saya tuangkan kuah kuning mendidih itu ke dua mangkuk berisi penuh isian soto. Saya antarkan salah satu mangkuk tersebut kepada ibu muda yang anaknya masih balita itu.
“Iki sijine ngge sopo, Le?” kata Ibu, menunjuk satu mangkuk soto lagi yang saya tinggalkan di dapur. Suaranya terdengar sampai ke meja pelanggan.
“Anak lanang itu harus kuat, gak boleh nangis. Wes meneng….” Ibu muda itu berkata dengan tegas kepada anaknya yang masih menangis. Tangan perempuan itu masih sigap membersihkan sisa kotoran yang menempel di lutut anaknya.
Saya kembali ke dapur dan meraih satu mangkuk soto yang tersisa. Sambil melangkah ke arah tempat cucian piring saya katakan pada Ibu, “ngge aku dewe.” Buat saya sendiri. Kalimat itu menggema dalam kepala, sampai membuat mata saya panas. Lalu saya putar keran sampai terbuka sempurna. Airnya deras, suaranya semakin tegas, menyamarkan alir air lain yang menciptakan sungai di pipi saya.
*****
Editor: Moch Aldy MA
