cerpen
“Kamu pasti akan segera melupakanku.” “Enggak mungkin.” “Biar itu jadi urusanmu. Urusanku menebak apa yang akan terjadi padamu di sana.” Setelah...
Setelah lima tahun aku pergi dari rumah, kakak perempuanku mengirimkan sebuah bingkisan ke tempat tinggalku kini, di Kota S. Jika saja...
Melihat kedatangan seorang anak laki-laki berseragam putih-merah yang warnanya tidak lagi putih-merah dan hanya beralaskan sandal jepit, saya jadi teringat masa-masa...
Sengaja aku memilih wagon perak dan seekor kucing liar yang kupungut di jalan sebagai teman perjalanan. Walaupun ekor kucing itu tidak...
Mama baru saja mengabarkan bahwa sahabat masa kecilku, Kotta, sakit keras. Aku bergidik. Dalam sekali lirik, sudah bisa kutebak kalimat yang...
Menjelang subuh. Amirin baru saja membuka matanya, tubuhnya masih tenggelam dalam sisa malam yang berantakan. Rambutnya kusut, belek mengering di sudut...
Setiap sore, menjelang magrib, warung pecel lele Mas Bagus mulai menguarkan aroma sambal dan minyak panas yang akrab. Kios semipermanen itu...
Kau tidak pernah benar-benar menyukai cerita yang berakhir. Itu yang kau katakan berkali: akhir adalah musuh sekaligus lawan tangguh dari imajinasi....
Nyaris sepanjang hidupnya, Kai’ selalu menyirami air pohon Ulin yang menjulang tinggi di pekarangan rumahnya itu. Pohon Ulin itu barangkali sudah...
Tak seperti yang sudah-sudah, orang kedelapan yang mengaku sebagai kerabat buaya itu datang tanpa marah-marah atau menunjukkan gejala kesurupan. Mereka muncul...