Redaksi Omong-Omong

Dongeng Sebelum Tidur

Moch Aldy MA

4 min read

Kau tidak pernah benar-benar menyukai cerita yang berakhir. Itu yang kau katakan berkali: akhir adalah musuh sekaligus lawan tangguh dari imajinasi. Kau lebih menyukai sesuatu yang dibiarkan tergantung, menggoda, tidak selesai, separuh matang. Katamu, cerita yang lengkap itu umpama makanan instan—terlalu gesit membikin kenyang, tapi tidak meninggalkan apa-apa selain garam.

Sejak itu, aku mulai mendongeng tanpa kesimpulan. Setiap malam. Entah sudah berapa lama.

Mendongeng menjadi semacam, katakanlah, kebiasaan menyakitkan yang tidak pernah kuakhiri. Dan entah mengapa, aku merasa itulah yang akan membikinmu bahagia. Aku tidak tahu apakah kau benar-benar mendengarku sekarang, tapi aku membayangkan kau akan tetap menghela napas, napas tipis yang menandakan bahwa kau ingin satu cerita lagi sebelum benar-benar tidur.

Aku masih duduk di sini, dengan posisi yang sama seperti malam-malam sebelumnya—sedikit membungkuk. Masih dengan mata sayu dan suara parau.

Aku terus mendongeng seolah tanpanya aku bakal remuk, dijebloskan ke neraka paling muram. Dan sebab alasan tidak rasional itu, malam ini, aku ingin menceritakan tentang seorang lelaki yang berusaha keras menjadi orang biasa, tapi gagal total. Ia berusaha mengikuti standar normalitas dengan kafah. Ia membeli kalender meja, mencoreti tanggal yang terlewati, mencoba bersorak-sorai menonton pertandingan sepak bola meski tak mengerti bagaimana peraturannya, hingga mengangguk sopan pada tetangga walau tidak tahu menahu siapa namanya. Ia bahkan belajar mengatakan “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf” nyaris setiap saat.

Tapi tetap saja, orang-orang menganggapnya aneh. Sampai akhirnya ia berhenti mencoba. Ia hanya melakukan segala sesuatu tanpa peduli nampak wajar atau tidak. Anehnya, justru ketika itulah orang-orang menganggapnya normal.

Aku rasa kau akan menyukai cerita ini. Kau selalu berujar bahwa kata “normal” hanyalah senjata sosial yang dipakai orang-orang bosan. Katamu, tidak ada yang benar-benar normal. Semua hanya berpura-pura agar tidak dicap aneh. Dan aku setuju. Aku juga ingin cerita ini tetap aneh, seperti kebiasaan kita dulu.

Kau ingat? Kita pernah duduk berjam-jam tanpa membuka mulut, hanya untuk membuktikan bahwa kita tidak butuh siapa pun selain kebosanan itu sendiri. “Orang mati tidak pernah bosan,” katamu waktu itu. Aku tidak tahu apakah itu humor, sinisme, ramalan, atau sabda ujug-ujug dari Tuhan yang secara statistik cenderung turun selagi jarum jam menyentuh dini hari.

Sekarang aku sedikit mengerti maksudmu. Mungkin memang, di tempatmu sekarang, kebosanan sudah tak ada. Hanya kehampaan. Sejujurnya, aku tidak mengerti apakah sebenernya kehampaan. Lagipula meditasiku kurang lama, sehingga aku tidak punya cukup keberanian prematur untuk mendefinisikan kehampaan.

Tapi perlu kau tahu: aku tidak lagi bercerita sebab yakin kau mendengar. Aku bercerita sebab keheningan terlalu tengil untuk dibiarkan menang tanpa perlawanan. Kau pun tidak pernah menyukai keheningan yang dipuja-puja. Dipahat jadi altar oleh para penyair dan pemikir yang selalu kelebihan waktu. Selain itu, kalau tidak salah ingat, kau bahkan muak pada cara orang-orang memandang ketewasan sebagai sesuatu yang akbar dan sakral.

“Orang mati tidak butuh pengagungan,” katamu. “Mereka hanya butuh dilupakan dengan santai.”

Dan lihat aku sekarang—masih mendongeng untuk seseorang yang mungkin tak ingin didongengi. Tapi kebiasaan ini umpama peluit rusak di kepala, tak bisa kuhentikan. Seolah-olah kehendak bebas, besar kemungkinan, cuma mimpi basah primata bernama manusia yang diberi nama dan dipoles jadi teori agar para motivator punya bahan legitimasi untuk menyalahkan orang-orang gagal.

Aku pernah menceritakan padamu tentang seseorang yang mencoba menghitung semua keputusannya dalam sehari. Memilih sarapan roti atau bubur. Membunuh seseorang dengan pisau cukur atau menulis puisi. Mengabaikan berita buruk atau membuang ponsel ke selokan terdekat. Tidak mengangkat telepon ibunya atau bilang anjing. Menahan murka ketika terjebak macet total atau menabrak mereka satu per satu. Merencanakan untuk merampok bank seperti dalam film-film laga atau menipu orang asing. Tidak memasukkan ucapan atasannya di kantor ke dalam hati atau menelpon temannya di pelosok lalu meminta menyantet atasannya dan pura-pura memercayai sihir di dunia yang ia pahami terikat hukum fisika sehingga tidaklah mungkin bin ilmiah untuk memindahkan paku atau beling ke dalam perut seseorang bermodalkan beberapa mantra dengan sisipan bahasa Sanskerta, dupa-dupa, bunga melati, dan tumbal berupa ayam cemani. Malam harinya, ia menghitung semuanya: 172 keputusan. Tapi tidak satu pun terasa penting.

Akhirnya, ia menyerah. Ia tak lagi memilih. Ia hidup seperti daun jatuh. Mengalir. Menyisakan ruang untuk kebetulan. Dan orang-orang bilang hidupnya damai.

Kau tertawa waktu itu. Katamu, damai bukanlah hilangnya masalah, tapi hilangnya ilusi bahwa kita bisa mengendalikannya.

Aku catat kalimatmu di buku kecilku, mirip nabi-nabi mencatat notula langit dari mulut malaikat. Buku itu penuh coretan dan kusimpan di bawah bantalku. Lebih dari seratus kisah tersimpan di sana. Termasuk tentang kisah pangeran tampan yang menyelamatkan putri cantik dari cengkeraman naga jelek yang menyembur-nyemburkan api atau tentang kura-kura yang mengalahkan kelinci dalam lomba lari. Dua kisah yang kau hafal di luar kepala.

Tapi sebagian besar cerita di buku itu belum sempat kubacakan padamu. Misalnya, kisah tentang seseorang yang membangun museum dari kesalahan-kesalahan kecil: tiket konser band yang tidak enak didengar, bukti transfer salah angka, pesan yang dikirim ke orang yang keliru. Museum itu selalu sepi. Tapi ia tetap membuka pintu tiap hari. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: “Sebab kesalahan adalah satu-satunya bukti bahwa aku pernah mencoba.”

Kau pasti akan mengolok-olok cerita itu. Sayangnya, kini kau tak lagi mengolok-olok dongengku.

Atau cerita tentang ilmuwan yang menciptakan jam yang berputar mundur, berharap bisa melupakan kematian ayahnya. Tapi semakin jam itu mundur, kenangan justru menggerogoti dada. Akhirnya ia melempar jam itu ke laut. Tapi waktu, seperti biasa, berenang ke daratan dan mengecup pipinya.

Aku tahu kau akan mengedipkan mata dan berkata, “Jamnya terlalu surealis. Ilmuwannya terlalu sentimentil.”

Atau tentang kutu buku yang jatuh cinta pada robot. Satu-satunya makhluk yang tak pernah menghakiminya. Ia menciumi, menyetubuhi, bahkan menikahi mesin itu. Ketika robotnya rusak, dukanya lebih dalam daripada kehilangan manusia.

Kau akan tertawa kecil. “Kita makin manusiawi pada mesin, makin mekanis pada manusia.”

Aku suka berpura-pura kau mendengarkan. Sebab tanpa itu, aku hanya seperti orang tolol yang bermonolog di depan tanah basah. Dan mungkin memang itu aku sekarang: orang tolol yang mencoba melawan dunia agar tak terasa terlalu bungkam.

Kau selalu bilang, cerita yang menggantung adalah yang paling jujur. Maka aku membiarkan semuanya tak selesai. Aku tak peduli apakah tokoh-tokohku akan bahagia, tewas, atau menua dalam kebosanan yang lebih keras dari vodka. Aku hanya ingin kau tahu, ketidakselesaian adalah satu-satunya kekekalan yang bisa kita miliki.

Sesekali aku berpikir kau sengaja membikinku terbiasa pada jeda, agar sewaktu kau benar-benar pergi, aku tak runtuh seketika. Sebelas-duabelas dengan pianis yang berlatih dalam diam agar tak terkejut ketika lampu panggung padam.

Pagi itu, di hari kematianmu, aku bahkan tidak menangis. Aku hanya duduk di kamar dan membuka buku kecilku, membaca salah satu ceritaku sendiri, dan tertawa kecil. Lucu, betapa banyak hal terasa fiktif setelah kematian.

Dan entah bagaimana, setiap kali aku mendongeng, aku merasa kau masih di sini. Mungkin itu hanya ilusi. Tapi aku butuh ilusi itu. Kalau tidak, punggungku tidak punya sesuatu untuk bersandar selain desau angin yang dengan tajamnya bisa memenggal tulang-tulangku.

Kau bilang sekali, “Kalau aku berkalang tanah lebih dulu, teruslah mendongeng. Sebab hanya cerita yang bisa menipu waktu.” Aku kira itu kelakar. Tapi ternyata tidak.

Dan kini, setiap malam, aku datang ke sini, duduk di atas rumput yang mulai tumbuh liar menutupi makammu, dan mendongeng. Tidak jarang aku membayangkan kau akan bangun barang sebentar hanya untuk bilang, “Cerita yang barusan agak klise.” Dan aku akan betul-betul berkelit, walau tahu itu tidak akan terjadi.

Aku mendongeng bukan untuk mengenangmu. Aku benci kata mengenang. Terlalu birokratis. Terlalu seremonial. Terlalu berat. Aku mendongeng sebab aku tidak tahu cara berhenti. Mendongeng untuk seseorang yang sudah binasa bukanlah cinta, bukan rindu, bukan kesedihan. Ini hanya kebiasaan autopandu yang terlalu spontan untuk disebut ritual. Kebiasaan yang mengisi kekosongan dengan ocehan yang bahkan tidak yakin kepada siapa ia ditujukan.

Aku pernah berpikir, barangkali inilah bentuk baru dari agama: berbicara pada yang tiada, berharap sesuatu yang tak ternetra akan mendengar—juga mengarang makna dari overdosis nikotin, defisiensi vitamin D, dan suara jangkrik. Atau justru memang begitu bentuknya. Aku tidak tahu.

Malam ini pun begitu. Aku mendongeng di atas batu dengan ukiran namamu. Sebuah batu yang lebih dingin dari batu yang pernah menjadi saksi bisu pembunuhan pertama manusia. Gagak-gagak di atas ranting dan bisu bunga kamboja itu mungkin akan bersepakat denganku. Mungkin juga tidak. Aku tidak tahu.

*****

Editor: Ghufroni An’ars

Moch Aldy MA
Moch Aldy MA Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email