Orang-Orang Tegalurug

Aflaz Maosul Kamilah

4 min read

Melihat kedatangan seorang anak laki-laki berseragam putih-merah yang warnanya tidak lagi putih-merah dan hanya beralaskan sandal jepit, saya jadi teringat masa-masa awal saya bertugas di Desa Tegalurug ini.

Angin membuat ilalang setinggi lutut yang merumpun di tepi jalan miring ke depan, juga menyapu daun-daun tua dari ranting-ranting pohon dan menjatuhkannya ke jalan becek yang akan kami lalui. Itulah jalan satu-satunya yang akan membawa kami menuju SDN Tegalurug 02.

Dengan kondisi jalan yang rusak, menggunakan sepeda motor jelas merupakan ide buruk—tidak ada jaminan pakaian akan selamat dari cipratan lumpur. Karena itu, kami sudah mengambil keputusan tepat. Meski karenanya kami harus melipat celana, lengan kemeja, serta menjinjing sepatu—melompat dari satu batu pipih ke batu pipih lain untuk menghindari kubangan lumpur. Jika tidak hati-hati, telapak kaki bisa tergores permukaan batu yang tiba-tiba menyerupai mata pisau—seperti yang Rik alami. Percaya atau tidak, cipratan lumpur dari batu pipih yang tertekan tiba-tiba itu bisa membuat teman saya, Agatha, tantrum seperti kesambet setan. Setelah lebih kurang setengah jam berkutat dengan jalan rusak tersebut, kami akhirnya sampai di sekolah.

“Selamat datang,” sambut Kepala Sekolah.

“Maaf jika kami tidak bisa menjamu dengan layak.”

“Ini sudah lebih dari cukup, Bapak,” jawab saya.

“Seperti yang sudah kami sampaikan, kami bermaksud mengadakan kegiatan di sini selama dua bulan ke depan.”

Setelah Kepala Sekolah memukul lonceng yang terbuat dari bekas pelek mobil—bunyi seperti pukulan kemong gamelan terdengar merambat di udara—para murid yang sebelumnya tampak keluyuran di halaman segera beranjak ke kelas masing-masing. Kami diajak mendatangi kelas itu satu per satu.

SDN Tegalurug 02 memiliki dua bangunan berbentuk huruf L. Gedung pertama, yang lebih panjang, disekat menjadi empat kelas, sementara gedung lain yang lebih pendek dibagi menjadi dua kelas dan satu ruang kantor. Selain gedung, fasilitas lain adalah lapangan upacara berbentuk persegi panjang yang mengisi kekosongan kedua bangunan berbentuk huruf L tersebut. Setiap kali saya masuk kelas, saya selalu lekas menghitung—tidak ada satu kelas pun yang mencapai sepuluh murid.

Sama dengan jumlah siswa yang menyedihkan, bangunannya pun sama mengkhawatirkannya: langit-langit yang jebol—meruapi seluruh kelas dengan bau kayu busuk yang menyebalkan; bangku dan kursi yang reyot—di telinga saya, benda-benda itu sering menjelma seekor hantu yang menjerit setiap saat; dinding tripleks yang koyak di beberapa tempat; serta ubin yang hanya menyisakan jejak-jejaknya. Bangunan itu tampak sudah lama dikalahkan cuaca dan dilupakan pemerintah.

“Banyak anak-anak yang putus sekolah dan bahkan tidak pernah sekolah sama sekali,” terang Kepala Sekolah saat kami kembali ke ruang guru. “Itu PR yang belum terselesaikan hingga sekarang.”

Kami hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.

“Kapan kalian akan mulai mengajar?”

“Besok,” jawab saya. Setelah itu, kami pun segera pulang ke Gedung Posyandu yang kami pakai sebagai posko bersama.

***

Sebelum ke SDN Tegalurug 02, kami sudah lebih dulu pergi ke Balai Desa Tegalurug yang hanya terletak seratus meter dari posko. Kepada kami, Kepala Desa mengeluh tentang persoalan ekonomi dan pendidikan—tentang tuntutan agar mereka segera meningkatkan nilai IPM.

“Intinya sederhana, semua warga harus sekolah dan pendapatan mereka harus naik.”

“Kami mungkin tidak bisa membantu banyak. Kami hanya dua bulan di sini,” balas saya.

“Itu informasi yang sangat penting,” timpal Marifah segera. “Terima kasih.”

“Sebagai pendatang yang baru menetap sepuluh tahun, saya sebenarnya bingung dengan mereka yang tidak mau sekolah,” Kepala Desa mengawali pembicaraan kembali. “Mereka sering berpikir sawah dan kebun akan tetap mencukupi segalanya. Padahal tuntutan zaman sudah jauh berbeda dari sebelumnya.”

Kami mendengarkan pemaparan tersebut dengan kekhidmatan sebuah khutbah Jumat.

“Program apa yang akan kita lakukan?” tanya saya kepada yang lain setelah kami pulang dari Balai Desa. “Ada baiknya jika kita mempertimbangkan penjelasan Kepala Desa tadi.”

“Setahuku, masyarakat mengadakan pengajian dua kali seminggu. Jumat siang untuk ibu-ibu dan Selasa malam untuk umum. Mungkin kita bisa masuk di situ,” ujar Marifah.

“Dan apa yang akan kita lakukan di sana?” saya memastikan.

“Banyak. Tapi utamanya sosialisasi tentang pentingnya pendidikan tadi,” balas Rik. “Peran orang tua sangat penting dalam konteks ini.”

Agatha tidak menimpali sedikit pun. Wajahnya sebosan koala.

***

Ada empat anak kelas lima yang tidak masuk sekolah.

“Mereka memang jarang masuk kelas, Bapak,” jelas Sinta. “Mereka lebih suka pergi ke kebun atau sawah.”

“Bapak-ibu mereka tidak mengingatkan?”

“Mengingatkan untuk apa, Bapak?” balas Darti.

“Kami pun sebenarnya lebih suka pergi ke kebun atau sawah,” katanya lagi.

Saya tidak meneruskan pembicaraan itu dan langsung masuk ke materi yang sudah tercatat dalam silabus.

“Baik, hari ini kita akan membahas tentang makanan empat sehat lima sempurna,” jelas saya sambil memperhatikan murid saya satu per satu: ada enam orang di sana, tiga perempuan dan tiga laki-laki; dua bersepatu dan empat tidak; satu menggunakan seragam pramuka dan lima merah-putih, semuanya sudah tampak lusuh dan luntur.

“Makanan empat sehat lima sempurna setidaknya terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, dan susu,” lanjut saya. “Kalian ada bayangan tentang contoh makanan pokok?”

“Nasi, Bapak,” jawab Darti nyaring.

“Ya, betul. Nasi adalah sumber karbohidrat yang baik.”

“Kalau singkong atau ubi bagaimana, Bapak?”

Budi menimpali. “Saya sering makan singkong dan ubi, tapi kata Bu Mantri, kami harus menggantinya dengan nasi.”

Mendengar pertanyaan itu, saya mendadak merasa gamang untuk menjawab. “Singkong dan ubi sama-sama sumber karbohidrat, tapi kandungan gizinya tidak sebaik nasi,” jelas saya akhirnya.

Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.
“Untuk contoh lauk-pauk sendiri yaitu daging, ikan, dan tempe,” lanjut saya.

“Saya suka tempe, Bapak,” sergah Budi. “Tapi lebih suka lagi mi sedap rasa kari ayam dan ayam bawang,” lanjutnya sambil cengengesan.
“Saya juga,” balas yang lain, bersahut-sahutan.

Saya mengacuhkan balasan mereka dan berusaha tetap fokus pada materi. Silabus mengatakan bahwa makanan empat sehat lima sempurna wajib dikonsumsi semua anak. Itu faktor penting agar mereka tumbuh sehat dan pintar. Membacanya, saya pun mulai tercenung panjang, “Bagaimana cara saya menyampaikannya?”

***

Setelah membeli Ale-Ale dingin, anak laki-laki berseragam putih-merah yang warnanya tidak lagi putih-merah dan hanya beralaskan sandal jepit itu pun pergi. Kemudian, dari arah si anak muncul tadi, datanglah seorang lelaki paruh baya memanggul dua tandan pisang, beberapa ikat kangkung dan terubuk, serta dua buah labu seukuran kepala anak-anak.

“Wilujeng siang, Jang Iman,” sapa lelaki paruh baya itu sambil memasuki halaman warung.

“Wilujeng siang, Mang,” jawab saya sambil berusaha mengingat-ingat nama lelaki itu, tapi gagal sama sekali.

“Pisangnya besar-besar dan mulus-mulus ya, Mang.” Saya berbasa-basi.

“Padahal ini termasuk kecil, Jang Iman. Dulu buahnya lebih besar lagi,” balasnya sambil melepas ikatan pada bawaannya itu. “Sudah lama pupuk langka dan mahal.”

“Coba seperti Bapakmu dulu, Mun. Pakai pupuk kandang dan kompos,” timpal Mang Asep dari dalam warung. “Itu lebih hemat dan bagus.”
Mendengar balasan Mang Asep itu, saya pun akhirnya ingat nama lelaki itu: Mumun Turubuk.

“Aduh, Sep. Tidak praktis,” jawab Mang Mumun sambil tersenyum kecil. “Dari dulu, keluarga saya memang petani dan pekebun, Jang Iman. Dulu hasil sawah dan kebun sudah bisa mencukupi semuanya,” lanjutnya sambil memindahkan satu per satu hasil kebunnya ke warung Mang Asep.

“Dulu semuanya tersedia di kebun dan sawah,” lanjut Mang Mumun. Tangan kanannya tampak sibuk mengusap wajahnya yang kuyup oleh keringat. “Tapi sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Mi sedap dan ale-ale dingin tidak bisa ditemukan di kebun atau sawah, apalagi di dalam hutan,” ujar Mang Mumun, lalu tertawa ngakak.

Setelah Mang Asep dan Mang Mumun menyepakati harga dua tandan pisang, beberapa ikat kangkung dan terubuk, serta dua buah labu seukuran kepala anak-anak itu, Mang Mumun pun segera pergi. Di bambu rancatannya, kini tergantung dua keresek hitam yang saya tahu persis isinya: tujuh bungkus mi sedap, lima ale-ale, empat kopi kapal api, sebungkus biskuit roma melapa, serta setengah liter minyak goreng. Tapi sayangnya, saya tidak tahu apakah pertukaran itu sepadan atau tidak.

*****

Aflaz Maosul Kamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email