Tak seperti yang sudah-sudah, orang kedelapan yang mengaku sebagai kerabat buaya itu datang tanpa marah-marah atau menunjukkan gejala kesurupan. Mereka muncul malam hari di rumah Kompol Heru Setiadi, bukan di kantor Polsek X tempatnya menjabat sebagai kapolsek baru dalam dua bulan ini. Lelaki itu datang dengan mengendarai Honda Supra tua, membonceng istrinya yang diam membisu di balik mantel hujan, bersama seekor ayam Bangkok yang menggigil dan satu bundelan kain sarung berisi pisang serta jagung.
Hujan belum berhenti sejak sore. Jalanan kota tergenang, dan suara air yang menetes dari jas hujan mereka mengisi keheningan teras rumah.
“Pulanglah,” kata Kompol Heru dari balik pintu. “Kalian harus berhenti bertingkah konyol seperti ini.”
“Dengar dulu, sebentar saja, Komandan,” lelaki itu mengatupkan kedua tangannya, seolah memohon kepada patung dewa.
Kompol Heru mendesah. Kepalanya sudah penuh. Kasus buaya itu tak masuk akal sejak awal, dan makin lama makin tak bisa dijelaskan dengan logika prosedural kepolisian.
Dengan terpaksa, ia mempersilakan mereka masuk. Namun si istri tetap di teras, menggelar tikar, lalu dengan gerakan prosedural ia mengatur ayam, setandan pisang, dan jagung. Sesuatu yang nampaknya ditujukan sebagai sogokan.
“Komandan hanya perlu mengumumkan bahwa istri saya ini adalah saudara sah Datok’,” kata si lelaki. “Semua akan selesai.”
Kompol Heru menatap mereka, lalu berpaling ke ayam yang meringkuk di lantai. Rasanya seperti masuk ke dunia lain atau mitologi rakyat yang entah kenapa bocor ke kenyataan.
***
Kejadian membingungkan ini bermula beberapa hari sebelumnya saat banjir besar melanda kota Makassar dan wilayah-wilayah sekitarnya. Hujan yang turun selama empat hari berturut-turut membuat sungai Jeneberang meluap. Pada hari ke tiga, air mulai naik ke pemukiman selagi warga tertidur, menimbulkan kepanikan. Penduduk yang tinggal di wilayah-wilayah rendah terpaksa mengungsi dengan tergesa-gesa. Beberapa orang bahkan meninggalkan rumah tanpa sempat menyelamatkan ternak atau perabot mereka.
Ketika air surut tiga hari kemudian, warga menemukan seekor buaya putih raksasa tengah berkeliaran di jalan-jalan pemukiman. Panjangnya hampir tiga setengah meter, beratnya ratusan kilo. Sirip-sirip putih susu berbaris di punggungnya, dan matanya bulat dan terlihat malas, seperti binatang yang bangun terlalu cepat dari tidur panjang.
Buaya itu berlenggak-lenggok santai di bawah matahari pukul dua belas siang—pertama kalinya muncul dalam minggu itu, membawa bangkai ayam di mulutnya. Seorang kurir paket yang melihatnya pertama kali terpeleset lumpur bersama sepeda motornya karena panik. Yang kedua, seorang perempuan lansia berusia tujuh puluh empat tahun, memaki-maki sambil mengayun balok. Selanjutnya dan seterusnya, sekelompok anak muda memergokinya, mengabadikannya dengan kamera ponsel, berjalan mundur sambil tertawa-tawa dan mulai memanggilnya “Datok’”.
Meski bingung dengan penamaan itu, si buaya sendiri tidak tampak terganggu. Ia berbelok ke lorong berikutnya untuk menghindari manusia, lalu berbelok ke lorong berikutnya lagi. Ia tidak agresif. Si buaya hanya tersesat.
Bagaimanapun, selepas Maghrib, berita dan foto-foto si buaya telah memenuhi internet, menjangkau orang yang paling tidak peduli sekalipun. Mereka berduyun-duyun mendatangi lokasi kejadian dan mulai membuat kerumunan. Beberapa pria terlihat membawa jala, yang lain memegang bambu. Histeria tumbuh cepat di kota yang baru saja surut airnya itu.
Kompol Heru tiba di lokasi ketika buaya itu telah tergeletak tak berdaya, tubuhnya diikat tali tambang, rahangnya diplester hitam. Di sekelilingnya, hampir ratusan orang berkumpul, memotret, merekam, dan berdoa. Ia menerobos kerumunan dan mengusir paksa beberapa anak kecil yang mencoba menyentuh ekornya diam-diam.
“Kenapa dengan orang itu?” tanya Kompol Heru kepada anak buahnya, menunjuk seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun, berambut acak-acakan yang berteriak tak karuan di teras sebuah rumah.
“Dia… katanya kerasukan, Ndan. Dia yang dalam laporan warga ini yang mengaku sebagai kerabat si buaya.”
Kompol Heru mendekat. Seorang kerabat anak itu datang dan berlutut di kaki Kompol Heru.
“Komandan, ini semua salah paham. Datok’ datang bukan untuk menyakiti. Dia hanya ingin bertemu keluarganya.”
“Datok’ siapa?”
“Buaya itu, Ndan.”
Kompol Heru nyaris tergelak, tapi ia menahan diri. Ia lalu berpaling ke remaja laki-laki itu, yang kini melototinya dengan tatapan kebencian. Mulutnya tak berhenti mengucapkan monolog sekitar semenit dalam bahasa Makassar sebelum jatuh pingsan.
Beberapa warga di sekitar situ mengerubungi Kompol Heru, menuduh tim pemadam kebakaran yang datang dua puluh menit sebelumnya telah menyakiti si makhluk tak bersalah itu.
“Kami memberikan suntikan bius agar buaya itu tidak melukai warga,” bela kepala tim pemadam kebakaran.
“Oh kodong, kasihan… tak ada ceritanya keluarga makan kerabat sendiri,” kata seorang warga di barisan belakang.
“Benar!” sahut seorang lainnya. “Datok’ hanya muncul seratus tahun sekali untuk menemui kerabatnya. Kenapa kalian begitu tega…”
Sahut-menyahut manusia memenuhi udara. Beberapa orang berdesak-desakan nekat untuk mengelus si buaya. Dua petugas polisi ditambah personel pemadam kebakaran tak mampu menahan histeria warga. Mobil-mobil berhenti di sembarang tempat, membuat kemacetan yang mengular di jalan provinsi. Orang-orang turun dari motor dan mengambil beberapa foto si buaya.
Kompol Heru tahu, gelagat keos sudah ia sadari ketika pertama kali melihat berita ini beredar di media sosial dengan narasi magis yang ditambah-tambahkan. Ia harus segera membuat keputusan. Bukan hanya untuk buaya itu, tapi untuk mencegah histeria berubah menjadi sesuatu yang lebih kacau.
***
Dengan persetujuan terburu-buru dari dinas terkait (dalam hal ini kepala Dinas Pelestarian Lingkungan Hidup yang sedang tidak berada di kota malam itu), si buaya dipindahkan ke Shimory Land, sebuah taman edukasi keluarga di pinggiran kota. Tempat itu memiliki kebun binatang kecil dengan kolam, pagar kawat yang tinggi, dan cukup jauh dari pemukiman padat.
Untuk sementara, gerimis yang turun sepanjang malam dan evakuasi si buaya ke tempat yang lumayan jauh dari pemukiman penduduk membuat Kompol Heru berpikir masalah telah selesai.
Namun ternyata tidak.
Keesokan harinya, orang-orang sejak jam tujuh pagi telah mengantre di depan pintu gerbang taman Shimory, dua jam sebelum tempat itu buka. Bukan untuk berekreasi, tapi untuk melakukan ritual-ritual tertentu. Mereka datang dengan dupa, sesajen, koin dalam stoples plastik, dan foto-foto yang dilaminating seadanya. Ada seorang ibu yang menangis sambil menyebut nama leluhurnya, seolah buaya itu mendengar. Seorang pria paruh baya menempelkan foto anaknya yang hilang dua belas tahun lalu ke pagar kawat, berharap Datok’ bisa membantu menemukannya. Seorang remaja dengan rambut dicat ungu menyiram air bunga ke kolam dan berdoa dalam bahasa Korea yang fasih, katanya, dia mendapat wangsit lewat mimpi campur aduk antara K-pop dan si buaya.
“Hei, apa doamu?” Kompol Heru mengguncang pundak pria itu.
Sedikit kaget dan malu, pria itu menjawab terbata-bata. “Aaa… anu, Ndan. Ini adalah tahun terakhir saya mendaftar CPNS. Usia saya akan masuk tiga puluh lima bulan Oktober ini. Jika saya gagal lagi, maka saya tak tahu dengan cara apa lagi saya mewujudkan wasiat almarhum bapak saya.”
Kali ini kepala Kompol Heru benar-benar serasa mau meledak. Ia memanggil pengelola Shimory Land dan membicarakan kemungkinan untuk membatasi pengunjung. Kepala pengelola menggeleng, mengatakan itu adalah hal yang mustahil. Meski senang dengan membudaknya pengunjung di era resesi ekonomi seperti ini, tapi kepala taman sendiri lebih khawatir dengan citra binisnya yang akan berubah menjadi museum mistis. Ia juga sudah mendengar bahwa buaya yang mulai siuman itu terlihat beberapa kali bereaksi agresif ke pengunjung yang mencoba bermain-main dengan kayu, tapi justru disalahpahami warga sebagai gestur keakraban.
Maka diputuskan bahwa tiket masuk akan dinaikkan dua kali lipat. Namun, sekali lagi tak ada yang peduli. Pengunjung tetap mengantre pagi-pagi buta dengan makanan dan ratapan yang semakin keras.
Kompol Heru menonton semuanya dari dalam mobil dinasnya. Ia bahkan sudah kehilangan gairah untuk turun menemui orang-orang ini. Rasanya seperti melihat film dokumenter dari sebuah negeri primitif yang tak ia kenal.
Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah warga yang mengaku sebagai “kerabat” buaya itu malah bertambah. Jika sebelumnya hanya empat orang yang muncul, sekarang hampir selusin nama masuk ke daftar aduan Polsek.
Salah satunya adalah Daeng Kulle, mantan kepala RT yang sudah lama dicurigai tidak waras, tapi dikenal suka menulis puisi. Ia datang membawa map lusuh berisi silsilah keluarganya yang digambar tangan. Dalam diagram itu, antara nenek buyut dan kakek buyut, ada satu simpul yang diberi label “Makhluk Air Tak Bernama.” Ia menunjuk itu sambil berbisik, “Itu Datok’, saya yakin. Saya ingat dulu nenek saya sering mimpi berenang dengan ekornya.”
Yang kedua, Bu Enni, pedagang jamu yang terkenal murah senyum, mengaku punya tanda lahir di pinggang berbentuk tapak buaya. Ia membawa serta saksi: tiga pelanggan tetap yang bersumpah pernah melihat tanda itu ketika Bu Enni membungkuk mengambil kencur di pasar.
“Kau ini orang Jawa,” sergah Kompol Heru. “Aku juga orang Jawa. Aku tahu di Jawa tidak omong kosong buaya semacam ini.”
“Komandan, bukan cuma orang Jawa yang dagang jamu,” jawab Bu Emi yang ternyata seorang warga lokal. Ia mempelajari resep jamu itu dari perantau Jawa yang pernah ngontrak dua tahun di rumahnya.
“Maafkan saya,” kata Kompol Heru dengan ekspresi letih.
Lalu ada pasangan muda yang baru menikah, memperkenalkan diri sebagai “anak spiritual dari air yang sama.” Mereka bahkan membawa bayi laki-lakinya yang baru lahir, ketiganya mengenakan pakaian putih-putih dan menamai anak mereka dengan nama: Ananda Datok.
Yang paling mengganggu adalah seorang pemuda gondrong berjaket kulit yang hanya memperkenalkan diri sebagai “Ketua Ikatan Perjuangan Reptil Nusantara.” Ia berdiri di depan gerbang Shimory Land, membagi-bagikan selebaran dan orasi tentang hak-hak fauna sebagai entitas metafisik yang tertindas sejak zaman kolonial.
Kompol Heru benar-benar tidak percaya. Dalam tiga hari, kasus yang semula hanya soal buaya yang kesasar berubah menjadi drama kolektif, kultus, sampai deklarasi politik.
“Apa mereka benar-benar percaya ini?” tanya Kompol Heru kepada anak buahnya.
“Sebagian besar, tampaknya tidak,” jawab si anak buah, “tapi… semua seperti ingin ambil bagian dari kisah ini.”
Tapi yang membuat Kompol Heru benar-benar merasa sedang menghadapi skenario kiamat mini adalah ketika para pengklaim itu mulai saling tuding satu sama lain.
Awalnya hanya lirikan sinis antar antrean. Lalu berubah menjadi sindiran pasif yang terucap pelan namun cukup keras untuk memancing adu mulut.
“Kalau memang Datok’ itu leluhurmu,” kata Bu Enni dengan suara yang dibuat manis tapi menusuk, “kenapa kau tidak bawa sesajen dari rumah sendiri? Malah minta dupa dariku.”
“Karena sesajenmu baunya kayak obat nyamuk bakar,” balas Daeng Kulle, si penyair yang kini berdiri dengan sorban merah menyala yang entah dari mana datangnya. “Leluhurku alergi kamboja palsu.”
“Leluhurmu itu cuma simpul fiktif di silsilah buatan sendiri!” Kata si pemuda gondrong, ketua Ikatan Perjuangan Reptil Nusantara. Ia mengangkat tangannya ke udara. “Kita semua sedang tertipu oleh ego masing-masing. Buaya ini bukan simbol personal. ia adalah entitas revolusioner! Sewaktu VOC datang ke Tanah Daeng, buaya ini…”
“Revolusioner dari mana?” Potong pasangan muda yang menyebut diri sebagai “anak spiritual dari air yang sama.” Sang suami mengguncang-guncang stroller anaknya sambil menunjuk ke arah Shimory Land. “Kami telah menyerahkan nama anak kami padanya! Itu pengorbanan, bukan masalah politik!”
Kericuhan pun pecah. Saling caci. Saling dorong. Beberapa sempat saling lempar botol air minum dan roti bekal. Satu dari mereka dikeroyok setelah berusaha menyeret poster bergambar buaya dari pagar kandang dan dikira hendak merusaknya, padahal ia cuma ingin memeluknya.
Kompol Heru yang berdiri di pinggir kerumunan seperti patung tak terawat di tengah taman. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Setiap pilihan tampak bodoh. Setiap keputusan terasa seperti memecahkan telur busuk di kepala sendiri.
Kompol Heru tak bertindak, tidak juga menyuruh anak buahnya melerai mereka. Ia tahu anak buahnya benar. Mitos adalah ruang di mana yang tak penting bisa merasa penting. Ia lalu membuka ponselnya, seseorang telah memberinya sebuah nomor telepon untuk menanyakan cerita itu.
***
Pukul sebelas malam, Kompol Heru menelepon seseorang yang selama ini hanya ia dengar namanya dalam liputan acara budaya atau daftar rujukan buku sejarah lokal: Dr. Marisa Malebbi, seorang sejarawan senior di Universitas Hasanuddin Makassar yang dikenal menyimpan lebih banyak buku daripada perabot di rumahnya. Nomor itu diperoleh dari seorang dosen muda yang dulu pernah dibantunya ketika sepeda motornya ditilang. Kompol Heru tidak berharap dijawab, tapi sambungan telepon langsung diangkat pada dering kedua.
“Kompol Heru?” Suara perempuan itu terdengar tenang dan hangat, seperti suara guru TK yang berbicara kepada anak murid yang kebingungan.
“Saya harap tidak mengganggu, Bu Marisa…”
“Tidak sama sekali. Kalau Anda menelepon jam sebelas siang, barulah saya marah. Tapi jam sebelas malam itu waktu yang pas untuk ngobrolin hal-hal aneh.”
Kompol Heru terdiam sejenak, sedikit lega. Ia penasaran karena mendapat kesan jika Bu doktor seperti telah lama menunggu pembicaraan ini. Tapi ia tidak mau memikirkan itu sekarang. Langsung saja Kompol Heru menjelaskan maksudnya, cukup singkat, tentang buaya putih raksasa, orang-orang yang mengaku kerabat, sesajen, histeria massal, dan akhirnya dipindahkannya si buaya ke taman edukasi.
Di seberang, Dr. Marisa hanya tertawa kecil. “Tentu saja. Saya sudah mendengar soal itu. Tapi kejadian seperti ini bukan hal baru, Ndan. Itu bukan cuma soal buaya. Itu soal ikatan lama antara manusia dan dunia air. Dalam banyak narasi Bugis-Makassar kuno, tiap manusia memiliki saudara atau kembaran di lautan atau sungai. Sebagian berupa ikan. Sebagian berupa buaya.”
“Dan mereka menyebutnya… Datok’?”
“Itu istilah kehormatan,” jelasnya. “Bisa berarti leluhur, pelindung, atau saudara tua. Tergantung siapa yang bicara.”
Kompol Heru menghela napas. “Tapi bagaimana bisa? Empat orang pada awalnya, sekarang dua belas. Hampir semua orang berpikir jika buaya itu adalah saudaranya.”
Dr. Marisa tertawa kecil. “Manusia butuh sesuatu untuk diikat. Kita ini makhluk kehilangan. Ketika hidup terlalu kacau, kita menancapkan harapan pada hal-hal ganjil.”
“Tapi apakah Ibu percaya bahwa buaya itu betul-betul… apa ya, bagian dari manusia?”
“Apa pentingnya apakah saya percaya atau tidak?” katanya, nadanya tidak sinis, tapi sungguh-sungguh. “Yang penting, mereka percaya. Dan lebih penting lagi: mereka ingin percaya.”
Kompol Heru terdiam. Ada sesuatu dalam kalimat terakhir itu yang mengganjal di hatinya, tapi ia belum tahu apa.
Mungkin karena semuanya terdengar terlalu lancar, terlalu sejuk, seperti jawaban yang sudah disiapkan jauh sebelum pertanyaan dilontarkan. Seperti cara orang beragama dengan naskah yang terlalu mapan. Selalu tahu jawaban, bahkan saat belum tahu rasa.
“Mereka ingin percaya,” ulang Kompol Heru pelan.
Dan saat itu juga, ia menyadari ganjalan itu: semua orang dalam kasus ini berbicara seperti mereka tahu sesuatu yang tidak diketahuinya, tapi mereka sama sekali tidak terganggu oleh ketidaktahuan itu. Justru seolah-olah mereka menikmati segala macam kebingungan dan keos yang ditimbulkannya.
Ia teringat sepasang suami istri yang baru saja meninggalkan rumahnya pukul sepuluh tadi, setelah ia usir dengan paksa. Ia berjanji akan memberi jawaban dalam dua hari ke depan, memutuskan siapa yang paling berhak menjadi kerabat si Datok’. Ia tak menjanjikan apa-apa pada pasangan tersebut karena ia telah merasa tersinggung dengan sogokan yang diberikan. Tapi dengan semua yang terjadi beberapa hari belakangan, juga teori yang baru saja didengarnya dari Dr. Marisa, persoalan buaya itu kini menjadi semakin rumit.
Kompol Heru merasakan kelelahan menjalar di sekujur tubuhnya, kepalanya berat. Matanya buram. Ponsel jatuh dari tangan dan terhempas di lantai. Kompol Heru ingin membungkuk mengambilnya, tapi dunia di sekitarnya berubah menjadi gelap. Istrinya muncul dari dapur berusaha menenangkan si suami dengan menuntunnya ke ranjang. Kompol Heru merebahkan badan segera terseret oleh gelombang lembut ke tengah lautan luas mimpi.
***
Kompol Heru mendapati dirinya tengah berada di ruang apel Polsek. Tapi kali ini, tempat itu terasa lebih luas, dan terlalu sunyi. Dari sela lantai, asap putih berat seperti efek konser televisi menggulung perlahan, membalut sepasang sepatu dinas Kompol Heru, lalu naik ke bahunya. Lampu neon menyala redup dengan dengung halus, seperti seseorang sedang bersiul dari kejauhan. Tak ada anak buah. Tak ada berkas. Hanya kursi-kursi kosong dan udara yang mengandung aroma logam basah.
Lalu pintu terbuka.
Datok’ masuk. Ia mengenakan seragam polisi, lengkap dengan nama bordiran dan sepatu PDL, tapi seragam itu tampak sedikit menggantung, seperti milik seorang petugas junior yang diambil diam-diam ketika ia tertidur. Si buaya berjalan tegak, dengan kaki manusianya, sambil membawa map lusuh di tangan.
“Selamat malam, Komandan,” katanya, dan duduk persis di hadapan Kompol Heru.
Kompol Heru mencengkeram sandaran kursi. “Apa ini… mimpi?”
“Tentu saja mimpi. Tapi bukan berarti ini tidak nyata,” jawab si buaya. Suaranya berat, seperti gema dari dalam gua. “Ada banyak hal nyata yang hanya bisa dibicarakan dalam mimpi.”
“Tidak masuk akal,” gumam Heru. “Kau ini cuma buaya. Bagaimana kau bisa… bicara begini?”
“Dalam dunia manusia, aku memang binatang. Dalam dunia mimpi… aku…” Si buaya berhenti bicara, matanya melirik kiri dan kanan, mencoba membuktikan jika inilah realitas mereka berdua saat ini.
“Maksudmu,” kata Kompol Heru. “Kau ingin bilang kalau keberadaanmu nyata, bukan?”
“Ah, lebih dari itu. Akulah satu-satunya yang Anda butuhkan untuk memahami masalah ini.”
“Apa maksudmu?” Kompol Heru setengah bangkit dari kursinya. Nada bersahabat dalam suara buaya itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa si kepala polisi terasa terintimidasi. Ia ingin berlari meninggalkan tempat itu. Tapi tak ada pintu. Hanya ruangan putih, dan meja. Dan seekor buaya yang berbicara kepadanya dengan santai.
“Tenang saja. Duduklah dulu, Ndan,” ujar si buaya sambil membuka mapnya, seperti seorang dosen yang hendak memulai kuliah. “Anda kebingungan. Itu normal. Tapi terlalu lama kalian berharap realitas bekerja seperti sistem tilang. Dan aku akan menunjukkan Anda jalan yang benar.”
“Ini konyol,” kata Kompol Heru. “Aku polisi. Aku tidak bisa memutuskan sesuatu berdasarkan mimpi gila seperti ini.”
“Tapi Anda tak bisa juga memutuskan berdasarkan logika yang tidak bekerja di lapangan,” sahut si buaya lembut.
Hening sejenak. Lalu si buaya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan kembali melirik kiri dan kanannya. “Apakah Anda tahu apa itu kepercayaan?”
“Kepercayaan?”
“Kepercayaan adalah ketika kamu berhenti bertanya apakah ini mimpi atau nyata. Dan mulai bertanya: apa yang harus kulakukan sekarang?”
Kompol Heru menunduk. Ia ingin melawan. Tapi setiap kali ia membuka mulut, tidak ada argumen yang keluar.
“Aku bukan saudara atau nenek siapa pun,” lanjut si buaya yang seperti tahu jika lawan bicaranya ini kurang menangkap maksudnya. Ia bertanya-tanya sendiri apa semua polisi kualitasnya seperti ini.
“Tapi aku bisa jadi milik semua orang, kalau kamu mau,” lanjut si buaya.
“Mereka akan terus datang. Terus bertengkar,” balas Kompol Heru.
“Karena kamu membiarkan pertanyaan itu tetap terbuka. Dan kamu takut mengambil alih cerita.”
“Tapi aku tak tahu apa-apa soal ini,” kata Kompol Heru tak punya pilihan selain mengatakan apa yang selama ini membebani pikirannya.
“Aku baru dua bulan menjabat sebagai kapolsek di wilayah ini. Mereka mengirimku ke sini karena percaya aku bisa menyelesaikan semua masalah masyarakat yang ada. Kalau boleh jujur, aku dengan segala kepercayaan diriku tak pernah berpikir akan menangani sesuatu tak masuk akal seperti ini. Belasan tahun lalu, aku hanyalah petugas berpangkat Kopral yang berdiri di simpang empat sebuah jalan di kampung halamanku, Lamongan, untuk mengatur lalu lintas. Mereka menghargai baktiku dan mengirimku ke Sumatera Selatan, tempatku menjadi Bripka dan menangkap komplotan bajing loncat yang menghadang truk-truk di jalan lintas provinsi. Karena prestasiku itu, komandan merekomendasikanku untuk datang ke sini. Ke sebuah kota yang terkenal dengan demonstrasi pelajar dan peperangan antar kelompok pemudanya. Dua bulan pertama, aku bisa menyelesaikan semua patologi masyarakat peninggalan kapolsek lama; dari sindikat sabung ayam sampai remaja begal putus sekolah. Aku melakukan semua yang aku bisa untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat kepada polisi, dan mereka mulai menyuka…”
Datok’ mengangkat satu tangannya dan menguap, cerita Kompol Heru tidak begitu menarik baginya, tetapi ia sendiri tak berkata apa-apa untuk menanggapi.
Kompol Heru mendesah. “Maaf kalau ceritaku membosankan.”
Si buaya memandangi Kompol Heru lama, yang kini nampak semakin bodoh di matanya. Ia mengangguk pelan lalu berdiri dari kursi, bersiap untuk pergi.
“Tunggu dulu… Kalau aku percaya padamu, apakah ada jaminan masalah ini bisa selesai tanpa melahirkan kekacauan dan pertumpahan darah antar warga?”
“Bukan soal kamu percaya padaku. Tapi siapa yang kamu pilih untuk tidak kamu kecewakan.” Buaya itu berbalik dan berjalan menuju bayangan tempatnya muncul semula. Sebelum menghilang, ia berhenti sambil menoleh ke samping, memperlihatkan moncongnya yang panjang. Sudut matanya melirik ke Kompol Heru dan berkata:
“Aku sudah hidup ratusan tahun, Komandan… dan satu hal yang kupelajari tentang kalian adalah: manusia itu lebih takut salah memilih saudara daripada salah memilih pemimpin.”
Dan keheningan turun seperti embun.
Lalu lampu padam perlahan. Si buaya menghilang, dunia berubah jadi hitam.
***
Keesokan harinya, kandang di Shimory Land kosong.
Pagar kawat terbuka sebagian. Rantai tergantung longgar, tak tampak bekas paksa. Lumpur becek menyebar tak beraturan. Ada jejak samar yang menuju ke barat, tapi menghilang beberapa meter kemudian, memudar bersama embun dini hari. Seekor burung hantu menjerit tiga kali, begitu kata petugas kebersihan yang pertama kali melihat kandang itu.
Kabar itu menyebar seperti tumpahan minyak di laut. Dalam hitungan jam, Shimory Land dipenuhi warga dan wartawan. Seorang jurnalis dari koran harian Makassar Tribun menulis artikel dengan judul besar:
“Datok’ Tiba-Tiba Menghilang: Tanda Zaman atau Sabotase?”
Foto kandang yang telah kosong terpajang di halaman depan, disandingkan dengan potret buaya itu saat pertama kali tertangkap kamera warga, berlenggak-lenggok di jalanan berlumpur dengan bangkai ayam di rahangnya.
Warga datang berbondong-bondong, bukan untuk menonton tapi untuk menyelidik. Orang-orang yang dulu hanya berdiam di pinggir pagar kini berebut bicara, menyampaikan tafsir mereka masing-masing.
“Datok’ sudah kembali ke alam asalnya,” kata Bu’ Jumriah, pemilik warung nasi kuning di dekat gerbang Shimory. “Malam tadi saya dengar suara air mengalir deras, seperti sungai pindah tempat.”
Namun tak semua orang sepakat. Pemuda gondrong yang dikenal sebagai “Ketua Ikatan Perjuangan Reptil Nusantara” menggelar konferensi kecil di trotoar, kali ini dikelilingi para simpatisannya yang berasal dari mahasiswa pecinta alam. “Kita tidak boleh tertipu. Ini bukan pengangkatan ke dimensi leluhur, ini konspirasi! Saya yakin pihak berwenang menyembunyikan Datok’ karena mereka takut pada kekuatan spiritualnya.”
Mudah ditebak, semua telunjuk di arahkan kepada Kompol Heru.
Beberapa menyebar teori bahwa Kompol Heru hendak menjual buaya itu ke kolektor satwa eksotik di luar negeri. Yang lain menuduh bahwa buaya itu telah dibunuh secara diam-diam dan dijadikan sate di pesta rahasia seorang pejabat yang percaya dengan memakannya bisa memperpanjang usia jabatannya.
“Ada warga yang sempat melihat truk putih besar malam itu,” kata seorang pria paruh baya kepada wartawan. “Tak ada suara, tapi truk itu keluar dari belakang Shimory. Mereka pikir kita bodoh!”
Kompol Heru tetap tenang. Saat diwawancarai media, ia menolak tuduhan telah menyembunyikan Datok’ dan berkata: “Kami sedang melakukan investigasi atas hal ini. Sabar saja. Tapi satu hal yang mesti dipahami oleh warga sekalian, kalau Datok’ datang tanpa pemberitahuan, kenapa pula kita mengharapkan ia pamit saat pergi?”
Jawaban itu langsung menjadi kutipan viral. Para pendukung teori spiritual menggunakannya untuk menegaskan kepercayaan bahwa buaya itu memang jelmaan leluhur. Tapi mereka butuh sosok otoritatif untuk menjaring kepercayaan publik. Di saat itu Dr. Marisa Malebbi muncul sebagai penerang.
“Dia hanya mampir sebentar untuk mengingatkan kita,” ujar Dr. Marisa dalam wawancara yang segera dipotong-potong dan viral di berbagai platform. “Makhluk seperti Datok’ tidak datang untuk tinggal. Ia hadir seperti cahaya petir dalam gelap; sekejap, tapi mengubah cara kita memandang malam. Kita sering lupa, dalam tradisi leluhur kita, buaya bukan hanya penjaga sungai, tapi juga utusan. Ia datang ketika keseimbangan terganggu, dan pergi ketika pesannya telah disampaikan. Jangan bertanya ke mana ia pergi. Karena jika kamu benar-benar percaya, kamu tahu: yang datang dari alam tak pernah benar-benar hilang. Ia kembali ke tempat asalnya, membawa serta sebagian dari kita yang sudah cukup siap untuk mengerti.”
Pernyataan ini, meski cukup membingungkan, bagi sementara orang sudah cukup untuk menutup polemik dan kehebohan yang ditimbulkan oleh si buaya selama beberapa hari. Namun tidak bagi sebagian lain yang lebih keras kepala. Mereka tetap ingin mempertahankan klaim meski si buaya pergi dan tak menunjuk siapa-siapa sebagai kerabatnya
Daeng Kulle, mantan RT sekaligus penyair lokal yang membawa silsilah buatan tangan, menuduh Bu Enni telah mencuri perhatian warga dengan memamerkan tanda lahirnya yang berbentuk tapak buaya.
“Dia hanya mau terkenal,” kata Daeng Kulle. “Silsilahku lebih sahih. Saya punya bukti spiritual, nenek saya menikah dalam mimpi dengan pengawal Kerajaan Air!”
Bu Enni membalas dengan tenang di video Tik-Toknya. “Saya tidak butuh pengakuan. Tapi malam sebelum Datok’ menghilang, saya merasa tapak itu berdenyut. Itu bukan hal yang bisa dibuat-buat.”
Pasangan muda, yang menamai anak mereka “Ananda Datok’,” mulai mempertanyakan keyakinannya sendiri. Dalam unggahan media sosial yang ditonton ribuan orang, mereka menangis di depan kandang kosong. “Kami pikir ini panggilan suci,” kata sang suami, “tapi sekarang kami seperti orang bego. Mungkin kami terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang tak kami mengerti.”
Yang paling keras kepala, tentu saja, Ketua Ikatan Perjuangan Reptil yang sampai mengajukan somasi ke pihak Shimory. Ia menuduh pengelola lalai dan Kompol Heru tidak transparan. Mereka bahkan membuat petisi daring dengan ribuan tanda tangan. Tapi tidak ada seorang pun yang memedulikannya.
Perlahan, semua kegaduhan itu mereda.
Setelah tiga hari penuh keributan, warga mulai kembali ke rutinitas mereka. Masyarakat yang awalnya menyalahkan polisi kini mulai melihat kasus ini sebagai peristiwa tak terjangkau logika manusia. Para tokoh adat dan dukun desa ikut bicara, menyarankan agar masyarakat menerima kenyataan ini sebagai bagian dari siklus hidup.
“Datok’ datang untuk menguji siapa di antara kita yang masih bisa percaya,” ujar seorang dukun tua.
Kompol Heru tak pernah mau menyinggung hal itu lagi. Ia tidak bisa menghabiskan waktunya sebulan hanya untuk mengurusi masalah buaya ini. Seperti kebanyakan kasus yang menguap di tangan polisi kita, tak ada konferensi pers seperti janjinya. Tak ada klarifikasi. Ia tahu bahwa kebenaran tidak selalu bisa mengalahkan keyakinan, dan dalam hal ini, keyakinanlah yang justru menyelamatkannya dari kekacauan lebih lanjut.
***
Malam keempat setelah “hilangnya” buaya itu, Kompol Heru bermimpi lagi. Tapi kali ini ia tidak berada di ruang briefing Polsek yang lembap dan berkabut. Ia duduk di sebuah warung kopi tua di tepi bendungan Bili-Bili, dengan bangku kayu reyot dan meja berminyak. Di kejauhan, aliran air jatuh dari bendungan seperti suara ratusan napas panjang yang dilepaskan bersamaan. Asap tipis dari cangkir kopi hitam naik perlahan, bercampur dengan kabut malam yang entah muncul dari danau atau dari kepalanya sendiri. Di depannya, si buaya duduk diam. Masih putih, masih besar, tapi kali ini mengenakan mantel hujan biru kehijauan dan sepatu bot karet. Ia tidak lagi tampil dalam seragam polisi seperti di mimpi sebelumnya, dan itu membuat si polisi sedikit lebih rileks.
“Selamat malam, Komandan,” kata si buaya datar. Suaranya berat, seperti air sungai mengalir dalam drum besi tua.
Kompol Heru meluruskan punggungnya, mencoba menenangkan napas. “Kamu muncul lagi…”
“Aku tahu kamu yang melakukannya,” lanjut si buaya. “Dan aku tidak marah.”
Kompol Heru menyentuh cangkirnya yang terasa hangat tapi tidak benar-benar menghangatkan. “Kenapa kamu datang lagi?”
“Aku tidak menyangka Anda akan membuangku ke laut.”
“Karena kamu tak cocok tinggal di kota.”
“Benar. Tapi Anda tahu apa yang lebih buruk dari tinggal di kota?”
Kompol Heru menggeleng pelan.
“Tinggal di laut. Aku ini buaya air tawar. Di laut, aku seperti logam yang dicelupkan ke dalam asam. Lambat, menyakitkan.”
Kompol Heru meminta maaf sambil menggigit bibirnya. “Aku cuma ingin menghentikan kegilaan ini secepatnya, sebelum satu kota ini datang dan mengaku sebagai cucumu.”
“Anda memilih solusi yang menyakitkan, tapi efektif,” ujar si buaya sambil mengaduk kopi dengan garpu plastik. “Aku menghargai itu. Tapi jujur saja, aku sempat berharap Anda akan mengumumkan siapa ‘saudara sahku’. Konferensi pers, mungkin. Dengan latar spanduk bertuliskan: ‘Penetapan Resmi Garis Kekerabatan Buaya’.” Ia tersenyum kecil. “Pasti lucu sekali melihatmu melakukannya.”
Kompol Heru mengangkat alis, ingin tertawa tapi tak jadi. “Aku sebenarnya sempat mempertimbangkannya…”
“Tentu saja. Tapi Anda tahu ini bukan soal siapa yang benar. Ini soal siapa yang bisa membuat orang lain merasa benar.”
Si buaya bersandar pada tiang bambu warung yang setengah lapuk. Matanya lebih sayu dari sebelumnya. “Tapi manusia selalu ingin masalah cepat selesai. Mereka jarang bertanya apakah masalah itu seharusnya selesai.”
“Lalu kenapa kamu datang lagi?”
“Aku hanya ingin bilang… terima kasih sudah membebaskanku. Meskipun dengan cara yang aneh.”
Datok’ lalu berdiri perlahan. Badannya tampak lebih ramping dari terakhir kali Heru melihatnya. “Dalam seratus tahun hidupku,” lanjutnya, “aku belum pernah melihat manusia mengangkut buaya ke muara dengan truk balok es tengah malam. Itu… unik. Aneh. Tapi juga… puitis.”
Kompol Heru berkata bahwa ia tidak punya pilihan lain.
“Ya, tapi kau juga harus memperhatikan rasa takut dalam mata sekuriti yang kau ancam itu,” si buaya tergelak pendek. “Juga si supir mobil boks cebol yang kau cegat di jalan itu, dan perasaan anak-anak buahmu, mereka tak henti-hentinya menyumpahimu. Aku bisa merasakan betapa tersiksanya mereka mengangkat tubuhku yang besar ini. Ngomong-ngomong, kalau aku melawan malam itu, mungkin seseorang di antara mereka sudah jadi santapanku. Mungkin supir cebol itu…” Buaya itu tertawa lagi dan berbalik pergi.
Kompol Heru hanya bisa memandangi sosoknya yang besar, berjalan memunggunginya sambil mengibaskan ekornya ke kiri dan kanan.
Seperti kemunculannya yang pertama, tepat ketika ia akan lenyap ke dalam kabut, buaya itu berhenti sejenak, lalu menoleh.
“Kalau suatu saat nanti aku muncul lagi, pastikan Anda sudah pensiun. Aku tak sanggup berurusan dengan Anda dua kali. Satu saja sudah cukup untuk bahan cerita seratus tahun ke depan.”
Dan seperti embun yang ditelan cahaya pagi, siluetnya memudar begitu saja.
Kompol Heru masih duduk sendirian di depan meja kayu yang lengket karena tumpahan kopi. Kursi di seberangnya kosong, seperti sedang menunggu seseorang yang tak akan pernah kembali. Ia menatap permukaan meja dengan ekspresi orang yang baru saja kehilangan akal sehatnya sedikit demi sedikit. Apa aku baru saja bicara dengan buaya yang memakai mantel hujan? pikirnya. Lalu, kenapa ia meninggalkanku sendirian di dalam mimpi ini?
Dan seperti ada tombol ditekan di kepalanya, ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah ini waktu yang tepat untuk mengajukan mutasi dan pulang saja ke Lamongan? Untuk alasan ia bisa memikirkannya belakangan. Kalau dipikir-pikir selama hidupnya, ia selalu berjuang tanpa kenal lelah untuk membuktikan diri. Sejumlah prestasi diraihnya, promosi ini itu. Kompol Heru si polisi teladan. Tapi peristiwa ini telah menciptakan sebuah perasaan ganjil dalam dirinya.
Mungkin ini hanya sebuah tekanan psikologis sementara, tapi Kompol Heru bukan pribadi yang bisa menyimpulkan sesuatu dalam keadaan tertekan, apalagi berpikir untuk meninggalkan tempatnya bertugas. Apalagi jika sampai ia mempertimbangkan untuk berhenti saja dari pekerjaan yang dipaksakan kedua orang tuanya selama ini. Pikiran-pikiran ini terlalu jauh dan Kompol Heru tidak senaif itu. Namun, mengapa gagasan tentang melamar sebagai guru di sebuah kursusan Tata Boga (mimpinya sejak SMA) kini kembali muncul di kepalanya? Atau kerinduannya untuk menjalani slow living bersama istrinya dan membesarkan anak-anaknya sambil jualan bensin eceran di depan rumah peninggalan kedua orang tuanya? Hidup sederhana dan tenang, di sebuah tempat ia bisa mewujudkan semua mimpi-mimpinya yang tertunda?
Gagasan-gagasan tersebut kini berputar-putar di kepala Kompol Heru. Mungkin setelah ini hidupnya tak lagi sama. Meninggalkan semua kenyamanan dan priviles sebagai seorang polisi pastinya sebuah keputusan paling buruk yang diambilnya dalam kehidupannya ini. Tapi setidaknya di jenis kehidupan yang lain nanti, absurditas datang dalam bentuk yang lebih jujur, dan tidak pernah muncul dalam mimpi melalui seekor buaya yang mengenakan sepatu bot dan mantel hujan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
