Menjelang subuh. Amirin baru saja membuka matanya, tubuhnya masih tenggelam dalam sisa malam yang berantakan. Rambutnya kusut, belek mengering di sudut matanya, dan kaus serta celana denimnya ternoda muntah.
Semalam, ia pulang pukul tiga pagi setelah menenggak botol demi botol di klub malam terkenal di kota, bersama teman-temannya. Tapi pagi itu terasa berbeda. Bukan karena azan yang terdengar samar dari masjid di ujung gang—panggilan yang biasa ia abaikan. Melainkan karena mimpi melihat ibunya menangis, memandikan mayat seseorang yang mirip dengannya. Dalam mimpi itu, ibunya berkata, “Kamu tidak akan bisa lepas dari dosa jika terus lari.”
Kata-kata itu melekat di benaknya. Ia duduk di tepi ranjang, diam, seolah menunggu sesuatu yang tak akan datang.
Amirin melangkah lunglai ke kamar mandi yang berukuran kecil. Ia berhenti dan menatap wajahnya di cermin kecil yang buram—mata merah, kulit kusam, dan sisa muntahan di sudut bibir. Ia menarik kaus kotor ke atas, melepas celana denim dan celana dalam yang telah lengket oleh keringat dan muntahan. Tubuhnya telanjang, kurus, gelap, dan tampak asing. Ia merasa tubuhnya seperti jasad hidup, yang tak melakukan apa-apa.
Jemarinya mengelus pelan perut bagian bawah, lalu berhenti. Ia menggerakkan tangannya—lambat, malas, seperti ritual untuk mengusir kesepian. Ia ingin cepat selesai dengan dirinya, dari sisa-sisa malam yang berisik, dari hidup yang terus bersisa.
Beberapa saat kemudian, ia memejamkan mata dan merintih pelan. Ia merasa jijik terhadap dirinya sendiri. Ia merasa dirinya ibarat bangkai yang dikuburkan namun tak diterima oleh tanah, dan Tuhan atau malaikat pun enggan menyentuhnya.
“Jika Tuhan pernah berdosa,” pikirnya tiba-tiba, “apakah Dia juga akan jijik dengan tubuh-Nya sendiri?”
Amirin menarik napas dalam-dalam dan berjalan menuju keran. Ia memutarnya, mengambil air wudu. Air mengalir dari keran, dingin dan jernih, memantulkan cahaya lampu samar dari ventilasi kamar mandi. Ia menangkupkan telapak tangannya, menampung air itu seperti menyimpan sisa-sisa dirinya yang tercecer di sepanjang malam. Ia membasuh wajahnya—bekas kotoran, bau alkohol, dan kenangan malam yang tak ingin diingat.
Setiap gerakan wudu terasa seperti upaya mengumpulkan kembali bagian-bagian dirinya yang hilang. Saat ia mencuci tangan, ia teringat malam-malam penuh pelukan kosong dan kasih sayang yang tak berarti. Tangan yang pernah menggenggam botol, menyentuh tubuh orang asing, meninju dinding kamar saat kesepian tak tertahankan.
Ketika ia mengusap kepala, ia membayangkan pikirannya yang berantakan, penuh suara-suara yang tak pernah henti: suara ayah yang tak pernah pulang, suara ibu yang menangis diam-diam, suara dirinya sendiri yang bertanya, “Mengapa Tuhan hanya diam?”
Saat membasuh kaki, ia merasa seolah sedang membersihkan jejak langkah yang membawanya ke tempat-tempat gelap: klub malam, kamar hotel, ruang remang dengan musik memekakkan dan tawa palsu. Ia teringat malam ketika pulang dalam keadaan mabuk—langkah limbung, mata kehilangan fokus. Di ruang tamu yang remang, ibunya duduk di kursi rotan, masih mengenakan mukena yang belum dilepas. Mata ibunya sembap dan tatapannya nanar, lurus ke lantai kayu.
“Kamu sudah terlalu jauh, Amir,” ucap ibunya bergetar. Jemarinya meremas ujung mukena. “Ibu tidak tahu harus bagaimana. Kadang, Ibu merasa kamu bukan anak yang Ibu kenal.”
Kata-kata itu masih menggema di telinganya. Ia sadar bahwa ibunya bukan berhenti mencintainya, melainkan tidak lagi tahu bagaimana cara untuk merengkuhnya kembali.
Kenangan masa kecil muncul seperti gambaran yang tak sepenuhnya lenyap. Amirin pernah bertanya kepada ibunya, “Siapa ayahku, Bu? Kok enggak pernah pulang-pulang, ya? Apa Ayah mirip seperti aku, Bu?” Ibunya terdiam sejenak mendengar rentetan pertanyaan dari Amirin kecil, lalu menjawab, “Nak, kamu adalah takdir yang tidak pernah Ibu minta, tapi Ibu terima.”
Di kampung, Amirin dicap “anak zina”. Ia tak tahu arti kata itu ketika masih kecil. Yang ia tahu, teman-teman sebayanya menjauhinya. Mata kirinya agak kecil, corak lebar berbulu halus di bahu, dan tatapan jijik dari orang-orang membuatnya merasa seperti manusia dari jenis yang berbeda. Ia pernah dipukul dan ditendang, ditatap seperti makhluk hina, dan dijauhi seolah kehadirannya membawa kutukan. Tetapi ibunya selalu ada dan membentak siapa pun yang menghina dirinya.
Setelah selesai berwudu, ia berdiri sejenak. Tubuhnya masih telanjang, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Seperti ada ruang kecil yang terbuka. Ia mengambil sarung dan kaus merah yang tergantung di belakang pintu, mengenakannya perlahan. Sarung itu sudah pudar warnanya, tetapi terasa hangat di kulitnya.
Sarung itu disimpan sebelumnya di lemari oleh ibunya, dan diberikan kepada Amirin saat ia mulai beranjak remaja. “Kalau kamu pakai ini, ingat bahwa kamu masih punya arah,” kata ibunya. Setiap kali Amirin mengenakannya, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—seperti mengenakan harapan yang nihil.
Ia membentangkan sajadah di sudut kamar, menghadap kiblat yang selama ini hanya menjadi arah. Ketika mengangkat tangan untuk takbir, tubuhnya bergetar. “Allahu Akbar.” Dan suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.
Tapi ia teruskan. Rukuk. Sujud. Duduk di antara dua sujud. Setiap gerakan bukan lagi sekadar ibadah, tapi seperti percakapan diam antara dirinya dan sesuatu yang lebih besar dari kehampaan. Ia tidak hafal banyak ayat dan doa. Ia hanya mengucapkan apa yang diingatnya, dan sisanya diisi dengan bisikan serta air mata yang ia tahan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
Di akhir doa, Amirin menangis pelan. Ia tidak tahu apakah telah diampuni, atau apakah ia pantas berharap. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak sepenuhnya kosong. Ada sesuatu yang mengisi rongga dadanya, meski hanya sedikit.
Ia duduk lama di atas sajadah, memandangi lantai kamar yang penuh bercak. Ia ingat pernah bertanya kepada ibunya, “Kenapa, sih, kita harus salat?” Dan ibunya menjawab, “Agar kita ingat bahwa kita tidak ada artinya tanpa kehadiran Tuhan.” Dulu, jawaban itu terdengar sederhana. Tapi kini, di usia dua puluh tujuh, setelah melewati malam-malam penuh kehampaan, makna jawaban itu terasa seperti kunci yang sempat hilang.
Amirin menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa perubahan dalam hidupnya tidak akan terjadi dengan mudah. Ia juga sadar bahwa godaan untuk kembali ke kehidupan kelam masih mengintai. Namun, ia yakin bahwa ia telah cukup lama berdiri di tepi jurang kehidupan. Upaya untuk mengakhiri hidup pun bukanlah hal yang asing baginya—ia pernah menenggak semua pil tidur dalam dosis berlebihan. Ia berharap hidupnya akan selesai. Tetapi ia terbangun di ruangan serba putih, indra penciumannya ditusuk aroma tajam yang menusuk, dan ibunya duduk di samping ranjang, menangis tanpa suara. Sejak itu, Amirin tidak pernah membicarakan malam itu. Namun, ia juga tidak pernah berhenti memikirkannya.
Amirin melipat sajadah dan menggantungnya kembali pada paku di dinding. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai yang selama ini selalu tertutup. Di luar, bulan menggantung rendah di langit timur. Cahayanya terasa dekat, dilihat dari jendela.
Amirin mengambil pisau yang tergeletak di samping apel yang telah mengering ujungnya di atas bufet. Ia menatap lama benda yang mengilap itu. Ia menahan napas dan mengarahkan benda tajam itu ke lehernya.
“Kalau Tuhan memang Maha Mengetahui,” bisiknya, “mungkin Dia juga tahu caranya menjadi gagal, seperti aku.”
Ia menekan perlahan-lahan. Darah mulai mengalir, membasahi jendela dan bayangan tubuhnya yang kesakitan—atau mungkin merasa bebas—di kaca jendela. Seperti dosa yang akhirnya mencari jalan keluar. Di dalam kamar itu, tinggal sunyi, darah, dan tubuh.
