Sri Tak Berjualan Pecel Lele Lagi

Hasan Aspahani

7 min read

Setiap sore, menjelang magrib, warung pecel lele Mas Bagus mulai menguarkan aroma sambal dan minyak panas yang akrab. Kios semipermanen itu berdiri di deretan warung lain di depan gerbang perumahan Griya Jaya Sentosa. Tak jauh dari sana, sekolah dasar dan pangkalan taksi membuat daerah itu selalu hidup. Anak-anak pulang sekolah, para bapak nongkrong menunggu orderan, dan ibu-ibu yang tak sempat masak singgah membeli makan malam.

Warung itu kecil, dindingnya dari seng dan tripleks, tapi bersih dan teratur. Di depan warung terbentang kain spanduk “Pecel Lele Mas Bagus – Sambal Asli, Lele Juara” dengan ilustrasi dan font yang khas itu. Nama warung diambil dari anak sulung Sri, Bagus, yang kini duduk di kelas lima. Ia sering membantu ibunya di sore hari, membersihkan meja atau membungkus pesanan, sambil sesekali mencuri pandang ke arah ponsel murahnya.

Sri sendiri selalu berada di belakang penggorengan, tangan lincah mencelupkan lele ke dalam adonan, menggoreng hingga kulitnya kecokelatan, lalu menatanya bersama sambal, kol goreng, dan nasi panas. Tak banyak bicara, tapi senyumnya hangat ketika pelanggan memuji, “Sambelnya bikin nagih, Mba Sri.”

Suaminya, Agung, dulu sopir taksi. Sekarang lebih sering duduk di bangku plastik di samping warung, merokok dan menatap jalanan. Kadang membantu ambilkan pesanan, kadang tidak. Selebihnya, dia tidur di dalam kios kecil yang sempit itu, tubuhnya yang tinggi menjulur melewati kasur tipis yang dilapisi sarung kusam. “Setoran nombok terus,” keluhnya suatu malam, “bensin naik, penumpang sepi.” Sri tak menjawab. Ia tahu betul kalau alasan Agung bukan cuma soal bensin atau penumpang, tapi juga malas. Dulu, saat warung belum ramai, Sri masih berharap Agung akan berubah. Tapi waktu berjalan, dan sambal buatannya lebih bisa diandalkan ketimbang suaminya sendiri.

Deret warung semipermanen itu berdiri di atas tanah kosong milik perumahan. Setiap malam, lampu-lampu neon menggantung dari tiang-tiang bambu, menyinari asap gorengan dan dengung lalat yang tak sempat diusir. Aroma sambal, lele goreng, dan nasi panas beradu dengan suara mesin taksi yang keluar-masuk pangkalan sebelah.

Warung Sri, Pecel Lele Mas Bagus, adalah yang paling ramai. Meja-mejanya bersih. Sambalnya segar. Lele-nya digoreng tepat waktu—tak terlalu garing, tak terlalu amis. Ada pelanggan tetap dari pangkalan. Ada juga anak sekolah yang beli sambal doang bawa nasi dari rumah. Semua diterima Sri, semua dilayani dengan senyum yang diam-diam lelah.

Di ujung warung, seperti patung hidup, Toni duduk di kursi plastik biru. Kaos oblongnya berlubang di punggung, dan celananya dilipat tinggi. Di depannya papan catur. Di seberangnya, Agung.

Kalau sedang tak menyetir—yang berarti hampir setiap hari—Agung duduk di situ, mengisap rokok, terkekeh sambil menyebut Sri “bos warung”. Toni tertawa, menyambung, kadang menyindir, kadang sekadar memuntahkan asap ganja tipis-tipis ke udara.

Toni bukan pelanggan. Ia bukan tetangga. Ia penguasa bayangan kawasan itu. Setiap warung, dan seluruh tukang parkir baru, tahu namanya. Setiap minggu, Sri harus menyisihkan lima puluh ribu. “Uang keamanan,” katanya. Pernah Sri menolak, dan sewadah sambalnya pun tumpah. Sejak itu, Sri diam. Ia tahu bahasa tak tertulis yang dipakai lelaki seperti Toni, apalagi suaminya pun sama sekali tak membelanya, malah bersekutu dengan preman itu.

“Toni, tambahin daunnya dikit,” kata Agung, terkekeh. Yang ia maksud adalah ganja.

“Bayar dulu lah,” jawab Toni, menyeringai.

“Tinggal bilang ke Bos Warung. Dia kan yang pegang dompet.”

Sri mendengar itu dari balik penggorengan. Dan seperti biasa, ia diam. Matanya tak beralih dari minyak panas. Kadang ia mendengar ucapan Toni bernada melecehkan dirinya. Agung marah sebagai suami. Itu yang bikin Sri makin benci pada suaminya.

Warung itu semakin banyak langganan. Makin banyak mahasiswa, sopir taksi, bahkan kadang petugas keamanan perumahan. Mereka semua tahu, warung Sri buka sampai larut malam. Bahkan saat hujan turun, Sri tetap buka, dengan terpal hijau yang ditarik menutupi teras bagian depan warung.

Yang mereka tidak tahu: Sri sering menangis saat meracik sambal. Bukan karena bawang atau cabai, tapi karena lelah. Lelah berdiri dari pagi sampai tengah malam. Lelah mengurus anak, warung, dan suami yang lebih seperti beban daripada pasangan.

Kadang, sambil menatap lele yang digoreng, Sri membayangkan hidup lain. Bukan yang mewah, tapi yang sederhana dan tenang. Mungkin membuka warung kecil di kampung, dekat sawah, bersama anak-anaknya. Tanpa Agung. Tapi hidup bukan mimpi. Setidaknya belum. Jadi ia terus mengulek sambal, mencuci piring, menghitung penghasilan, dan menyuapi anak-anaknya dengan harapan.

Kalau kalian bertanya kenapa Sri tak mengambil saja seorang pembantu? Jawabannya, karena tak ada perempuan yang bertahan lebih dari tiga minggu di warung Sri. Dulu, saat warung mulai ramai dan Sri mulai merasa lututnya kerap nyeri karena terlalu lama berdiri, ia memutuskan untuk mencari bantuan. Seorang janda muda dari kampung sebelah datang pertama. Pandai membungkus, cepat tangan, dan sopan pula. Tapi baru dua minggu, ia pamit mendadak. Katanya ibunya sakit. Lalu datang gadis lulusan SMP, semangat bekerja, tapi matanya selalu bengkak saat pagi datang.  Sri tahu. Ia selalu tahu. Tapi menelan saja amarahnya. Karena mengusir suami sendiri terasa lebih sulit daripada kehilangan pembantu.

“Cuma salah paham,” kata Agung, dengan nada seperti tak terjadi apa-apa. “Namanya juga laki-laki, iseng dikit…”

Sri diam. Tapi hatinya tidak.

Yang terakhir paling parah. Seorang gadis manis, baru sembuh dari patah hati, datang karena butuh uang untuk bantu orang tuanya. Ia tak genit. Tak bicara lebih dari yang perlu. Tapi Sri mulai curiga saat mendapati bungkus pembalut dalam tempat sampah kamar belakang, padahal gadis itu belum waktunya haid. Seminggu kemudian, ia tak masuk. Kabar terakhir: ia keguguran. Kandungan yang bahkan tak sempat tahu akan jadi anak siapa.

Sejak itu, Sri tak mau ada perempuan lain di warungnya. Ia kerjakan semuanya sendiri, dari belanja di pasar subuh hingga menutup terpal saat hujan malam. Ia tak mau menanggung luka yang bukan miliknya lagi.

“Ngapain repot-repot? Suruh aja Bagus bantu,” kata Agung.

Tapi Bagus masih kecil. Dan Agung—ia bukan bagian dari solusi.

Anehnya, warung itu tetap jalan. Entah dari mana datangnya tenaga dan ketabahan, tapi Sri terus berdiri di balik penggorengan, menyambut malam-malam dengan lele goreng dan sambal pedas, seperti tak ada yang pecah di dalam hidupnya.

Tetapi luka tak bisa ditutupi sambal.

Hari itu, Agung pulang membawa seorang perempuan muda. Langkahnya ringan, geraknya lincah, wajahnya semringah, seolah dunia sedang baik-baik saja. Perempuan itu ikut di belakangnya, memakai kaus oblong ketat dan celana yang juga ketat, ransel kecil di punggung. Umurnya barangkali belum genap dua puluh.

“Ini Wiwi,” kata Agung, meletakkan kantong kresek berisi rokok dan kopi instan di meja warung. “Keponakan dari keluarga Ibu. Mau cari kerja di kota. Sementara numpang dulu di sini.”

Sri menatap perempuan itu tanpa berkata apa-apa. Wiwi hanya menunduk, menyapa sekilas lalu langsung masuk ke bagian belakang kios—kamar sempit tempat mereka tidur bertiga selama ini. Tapi sejak hari itu, Sri tidur berdua dengan Bagus di tikar dekat etalase.

“Biar dia bantu-bantu, ya,” ujar Agung santai. “Lagian kamu kan sering kecapekan.”

Tapi Sri tahu. Tak ada yang perlu ditebak lagi.

Wiwi tak pernah memegang piring kotor, tak tahu di mana tempat cuka atau cabai disimpan. Tak ikut belanja. Tak berdiri di belakang penggorengan. Ia lebih sering mengunci diri di kamar sempit itu bersama Agung, pintu diganjal sandal, suara bisik-bisik terkadang terdengar ketika Sri hendak mengambil bumbu malam hari.

Beberapa tetangga warung mulai bertanya, pelan-pelan, dengan senyum yang menggigit.

“Adiknya, ya, Bu Sri?”

“Pembantu baru itu, Mbak siapa, manis juga.”

Sri hanya menjawab dengan anggukan. Mulutnya kelu, seperti menyimpan sambal yang terlalu banyak garam.

Malam itu, saat hujan turun deras, pelanggan warung tinggal satu dua. Bagus sudah tertidur, tubuh kecilnya dibalut sarung dan jaket tipis. Sri mencuci piring di ember plastik, air dingin membuat jari-jarinya kaku. Dan dari kamar belakang, terdengar tawa kecil. Tawa yang ia kenal. Tawa suaminya. Tak ada lagi air mata malam itu. Tak ada lagi tanya kenapa.  Hanya diam yang mengeras di dalam dada.

Mobil itu awalnya tampak seperti harapan.  Agung datang suatu pagi dengan brosur lusuh dan senyum yang tak Sri lihat sejak lama. “Cuma DP lima juta, cicilan bisa dibayar dari narik online. Kalau ada mobil sendiri, aku bisa bantu lebih banyak, Sri. Nggak terus kamu yang kerja.”

Sri diam. Lima juta bukan jumlah kecil, tapi ia ingin percaya bahwa mungkin kali ini Agung sungguh-sungguh. Mungkin laki-laki itu benar-benar ingin berubah, bukan sekadar tidur di siang bolong dan menyalahkan dunia saat malam tiba. Maka dari uang warung yang mulai stabil, ia sisihkan. DP dibayar, mobil datang—putih, bekas, tapi masih mulus.

Agung tampak bersemangat seminggu pertama. Ia cuci mobil tiap pagi, daftar aplikasi, sempat sekali-dua kali dapat orderan ke bandara. Tapi setelah itu, mobil lebih sering diparkir di depan kios hingga berdebu. Atau dibawa pergi sejak pagi, dan pulang malam dengan Wiwi di jok depan.

“Wawancara kerja,” katanya setiap ditanya.

Sri tidak menjawab. Ia hanya memerhatikan: Wiwi pulang dengan rambut tertata lebih rapi, kuku dicat warna baru, dan tas kecil yang tak pernah Sri lihat sebelumnya.

Bulan demi bulan, cicilan mobil selalu datang seperti tamu tak diundang. Dan yang membayar selalu uang warung. Bukan dari narik, bukan dari janji.

Kadang Sri duduk lama di bangku warung saat malam mulai sepi, menatap mobil itu seperti benda asing. Kendaraan yang katanya akan jadi alat bantu, tapi kini seperti hantu yang menyedot tenaganya sedikit demi sedikit. Mobil itu membuat Agung merasa penting. Dan memberi Wiwi ruang untuk berpelesir dalam kebohongan.

“Kalau kamu capek, istirahat aja,” kata Agung, sok perhatian. “Wiwi bisa bantu. Masak dia cuma numpang.” Sri mengangguk. Tapi sejak hari itu, ia mulai menghitung sesuatu dalam diam. Menghitung uang yang tak kembali. Menghitung hari sejak terakhir kali ia merasa dihargai. Menghitung berapa banyak luka yang bisa ditampung oleh tubuh manusia sebelum akhirnya retak.

Sri tahu: ia tak bisa pergi begitu saja. Tak bisa menyeret dua anak kecil keluar dari rumah yang selama ini disebut keluarga, sambil memikul luka yang bahkan belum selesai dibahas. Itu bukan pelarian—itu perang. Dan perang butuh rencana.

Maka langkah pertama adalah menyelamatkan anak-anak.

Ia mulai dari Bagus. Anak sulungnya, yang tak banyak bertanya tapi terlalu banyak mengerti. Yang pernah melihat Sri menangis diam-diam di dekat penggorengan, dan pura-pura tak melihat. Yang tahu kalau suara ketawa Wiwi dari balik kamar adalah sesuatu yang tak ingin ia dengar.

“Sekolah di pesantren ya, Gus. Dekat rumah nenek di kampung. Biar tenang belajar, dekat masjid,” ujar Sri suatu malam, saat Agung tak pulang karena katanya mobil mogok.  Bagus hanya menatap ibunya, lalu mengangguk. Tak tanya, tak protes. Hanya memeluk ibunya lebih erat dari biasanya saat hari keberangkatan tiba.

Agung tahu seminggu kemudian, ketika mendapati kamar depan kosong dan lemari kecil tak lagi berisi baju seragam.

“Bagus di mana?” tanyanya.

“Di pondok. Aku yang urus. Kamu sibuk, kan?”

Agung hanya mendengus. Entah karena marah atau lega tak lagi harus membayar ongkos sekolah. Ia tak pernah benar-benar ingin tahu.

Langkah kedua: Rara.

Anak bungsu itu akan masuk SD. Sri tahu ia tak bisa menanggung banyak hal sekaligus—warung, rencana kabur, dua anak. Maka ia putuskan: Rara harus di tempat yang aman dulu. Ia titipkan ke orang tuanya di kampung, beberapa hari setelah mengantar Bagus.

Kepada kedua orangtuanya, Sri tak banyak bicara soal rumah tangganya. Hanya bilang Agung sedang sibuk kerja, mobil baru belum lunas, warung kadang sepi.  Ia tahu, mereka menyimpan tanya. Tapi Sri tak beri jawaban. Ia tak ingin mereka tahu bahwa menantu pilihan keluarga itu—kerabat jauh dari kampung seberang yang dulu disodorkan dengan dalih “anak laki-laki baik-baik”—telah berubah menjadi beban yang harus ia tinggalkan.

“Sri, kamu baik-baik saja?” tanya ibunya suatu sore. Sri mengangguk. “Baik, Bu. Cuma capek.” Dan di situlah letak kebenaran yang paling jujur. Ia memang capek. Tapi kini, ia juga sedang siap.

***

Toni menolak pembayaran terakhir itu. “Kurang, Sri,” katanya seraya mengulum rokok. “Harga luka nggak segini.”

Ia menunduk, mendekat ke wajah Sri. Matanya tak hanya menagih uang—ada yang lain di sana. Gatal yang menyaru kuasa. “Kalau kamu mau, ada cara lain. Cuma satu malam.”

Sri menatap Toni. Lama. Matanya tenang, wajahnya tak bergeser.

Malam itu, tubuh Toni kaku di lantai belakang warung. Matanya membelalak. Uang tambahan tergeletak di dekat jasadnya—uang yang tak sempat ia nikmati. Di bawah laci, Sri menyimpan botol bensin sisa dari masanya mengantar anak-anak sekolah naik motor. Ia percikkan ke dinding, ke tikar, ke kompor gas. Lalu ia pergi, meninggalkan api yang perlahan melahap nama Pecel Lele Mas Bagus dari dunia.

Berita pagi berikutnya mengabarkan kecelakaan di lintas tol arah barat. Mobil putih terguling menabrak pembatas lalu memicu tabrakan beruntun. Mobil putih itu tak berbentuk lagi digilas truk kontainer.  Dua korban tewas di tempat. Wiwi dan Agung. Polisi bilang keduanya diduga mabuk. Tak ada yang tahu bahwa mobil itu remnya rusak bukan karena usia, tapi karena tangan bayaran Toni seminggu sebelumnya.

Mayat hangus di kios Sri tak bisa dikenali. Ada yang bilang itu mayat Sri sendiri. Ada yang bilang Toni. Tak ada yang tahu pasti. Polisi hanya menemukan wajah hangus yang tak lagi bisa ditanya.

Pekan berikutnya, di kampung, seorang perempuan sederhana dengan kerudung lusuh dan tangan kasar datang menjemput dua anak dari rumah orangtuanya. Ia tak banyak bicara, hanya bilang, “Ibu pulang.” Anak bungsunya berlari, memeluknya erat.  Bagus hanya menatap, lalu bertanya pelan, “Ayah?” Sri menunduk. Senyumnya pelan tapi mantap. “Sudah tak perlu ditunggu.”

(Jakarta, 5 Juni 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hasan Aspahani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email