Sengaja aku memilih wagon perak dan seekor kucing liar yang kupungut di jalan sebagai teman perjalanan. Walaupun ekor kucing itu tidak berbentuk angka tujuh tetapi lurus panjang seperti tangkai bunga ilalang. Aku ingin terlihat seperti Satoru dan Nana dalam kisah The Cat Chronicles karya Arikawa Hiro. Jangan salah menyangka, aku bukan pemuda sekarat yang menderita tumor otak, yang sedang mencari tempat tinggal baru untuk kucingnya. Aku hanya pemuda yang ingin bertualang. Walaupun aku juga mungkin sedang sekarat dalam bentuk yang lain.
Bukan yatim piatu yang dirawat oleh bibi sejak kecil, aku masih memiliki orang tua yang profesinya mentereng. Ayahku seorang politikus dari sebuah partai raksasa, dan saat ini menjabat sebagai ketua Majelis Dewan Rakyat. Ibuku seorang aktris senior yang namanya diperhitungkan dalam dunia seni peran.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adik perempuanku mewarisi bakat dari ibu, ia menjadi seniman yang terlibat dalam banyak cabang seni bukan hanya seni peran di atas panggung teater atau layar lebar. Adik laki-lakiku seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Ia menuruti keinginan ayah, nyemplung dalam dunia politik dengan membawa sebongkah idealisme tapi kemudian idealisme itu runtuh lantaran tak kuat dihantam badai. Sekarang adikku terombang-ambing, layaknya kapal yang patah layar. Ke mana angin bertiup ke sana dia akan pergi. Apabila hari ini ia menjadi kucing, besok ia bisa menjadi tikus.
Ayah juga mendorongku untuk menjadi politikus seperti dirinya. Mula-mula aku menurutinya. Mendapat jabatan sebagai ketua dalam sebuah partai yang baru-baru saja lahir. Aku gagap politik, jadi tak tahu apa yang harus aku lakukan. Peranku tak lain hanya sekadar muncul dalam tangkapan kamera wartawan. Tak perlu banyak bicara, aku hanya perlu tersenyum dan menembakkan satu dua patah kata bernada lucu yang sulit dipahami. Sebab merasa hanya sebagai pajangan tak berguna seperti orang tolol, aku melarikan diri.
Dan di sinilah aku, di tepi sebuah pantai bersama seekor kucing yang tidak kuberi nama dan mobil wagon yang kubeli dari seorang laki-laki tua di sebuah kota kecil. Sebenarnya aku adalah buronan keluarga saat ini. Ayah mencariku untuk disidang atas pengkhianatan padanya. Aku berupaya lolos darinya, berpindah-pindah tempat tinggal seperti kepiting pertapa yang selalu mencari cangkang baru.
Pagi di pantai, bukan hal yang buruk, kendatipun udara dingin. Aku menyelubungi seluruh tubuh dengan selimut tebal, dan menyeduh secangkir kopi. Dalam perjalananku, aku menemukan cinta. Pertama-tama cinta kepada kopi. Mendadak saja suatu hari dalam pelarian aroma kopi merasuki hidungku dan memberikan suasana baru yang segar, seolah-olah aku langsung ditarik keluar dari pengalaman muram sebagai anak seorang politisi dan aktris yang selalu disorot kamera. Aku mendapat ruang pribadi yang mahal saat menikmati secangkir kopi. Aku mulai membeli perangkat pembuat kopi untuk kubawa ke mana-mana dan bisa menyeduhnya kapan saja ketika aku ingin, seperti pagi ini di pantai.
Cinta keduaku jatuh kepada seekor kucing hitam yang pendiam. Sejak pertama dia kutemukan, belum pernah aku mendengar kucing itu bicara dalam bahasanya. Sampai saat ini, aku menganggapnya kucing bisu. Kucing itu suka tidur mendengkur di kakiku, menggosok kepalanya ke wajahku, dan menjadi—kukira seperti pispot—untuk membuang semua kotoran di kepalaku. Tentu saja, kepadanya aku tidak perlu khawatir rahasiaku akan terbongkar, gagasanku akan dikritik, atau keputusanku tidak diacuhkan.
Kucing tidak punya kepentingan dalam urusan politik manusia. Dia hanya butuh makan, tidur, bermalas-malasan, dan bermain. Paling repot jika telah tiba masa kawin, dia akan pergi mencari betinanya dan sedikit mengabaikanku. Dan itu tidak menyakitkan, dibanding eksistensimu diabaikan oleh ayahmu sendiri.
Kuseruput kopi, sementara kucing hitam kuberi makanan kaleng untuk sarapan paginya.
“Aku tidak akan pulang, sekalipun aku akan menjadi gembel di jalanan,” kataku pada kucing hitam. Dia hanya mengangkat kepala dan mengedipkan mata, kemudian lanjut menjilati makanannya.
Kupadangi laut yang tenang, aku menggumam lagi, “Aku memang belum tahu apa mauku, tapi aku tak mau, jika mau orang lain harus berlaku padaku.”
Kalimat itu adalah apa yang telah kukatakan pada ayahku, ketika kami bertengkar dan aku mencabut diriku dari rumpun keluarga, dengan kata lain, aku memilih menjadi rumput liar di jalan. Saat itu, ayah mengatakan sesuatu yang rasa-rasanya ia seperti telah meludahi wajahku.
“Mau jadi apa? Orang sepertimu bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Bokongmu harus ditendang supaya kakimu bergerak maju, lehermu harus diikat supaya kau tidak kesasar seperti anjing liar di jalan.”
Otakku mendidih. Aku tersinggung karena di balik kata-katanya ia telah mencemooh masa laluku, perkara aku yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan S1, bukan karena dikeluarkan dari universitas, tetapi menjadi loyo karena selalu merasa tidak cocok dengan jurusan yang kupilih. Aku pernah kuliah jurusan Teknologi Kimia, lalu pindah ke Arsitektur, lalu melompat lagi ke jurusan Pertanian dan aku tidak selesai. Sehingga ayah harus memilih jurusan untukku, Ilmu Politik, dan aku diawasinya sampai selesai. Jangan kira aku menguasai semua yang sudah diajarkan, terus terang saja otakku kosong dari ilmu itu. Aku menjalaninya sebagai sebuah keharusan tanpa ingin memahaminya sama sekali.
Demikianlah aku minggat dengan kemarahan yang menyulut perang mulut antara ayah dan ibuku. Mereka berdua ikut adu urat leher tentang masa depanku.
Sejujurnya, aku memikirkan ucapan ayahku. Sebenarnya aku tak tahu ingin jadi apa, dan akan ke mana. Yang aku tuntut padanya waktu itu adalah, membiarkan aku mencari sendiri tanpa perlu didesak harus segera menemukan. Biarkan aku bermain-main sejenak dengan waktu, bukan berlari dalam lintasan untuk beradu cepat dengan orang lain.
Aku menarik napas dalam-dalam, kopiku telah tandas. Si Kucing Hitam telah lama selesai makan. Dia duduk di sampingku, menggosok-gosokkan kepalanya, mengendus dan suara napasnya mendengkur.
“Ayo. Kita teruskan perjalanan,” ujarku. Kucing itu segera berdiri, menggoyangkan tubuhnya untuk merontokkan butir-butir pasir yang menempel, lalu mengekor dari belakang. Dia duduk di kursi depan.
Aku menyetel radio setelah menyalakan mesin mobil. Wagon perak, kucing hitam, dan aku melaju, mencari apa yang bisa ditemukan untuk dicintai, bersama laporan prakiraan cuaca hari ini dari siaran radio.
Dalam perjalanan, tiba-tiba saja aku berpikir, mencurigai diriku, bahwa mungkin benar aku tak bisa apa-apa, aku tidak lebih dari seorang penjiplak, peniru. Benarkah begitu? Aku terkejut sendiri. Lihat saja mobil wagon perak dan seekor kucing juga diriku yang mirip dengan karakter dalam sebuah novel Jepang. Lantas terbit perasaan malu, malu pada diriku.
Makassar, Desember 2024.
*****
Editor: Moch Aldy MA
