“Kamu pasti akan segera melupakanku.”
“Enggak mungkin.”
“Biar itu jadi urusanmu. Urusanku menebak apa yang akan terjadi padamu di sana.”
Setelah ucapan itu, kamu mengakhirinya dengan anggukan. Mengulum senyum, menghela napas. Membicarakan asmara, kamu tidak pernah benar-benar berani lagi untuk membelainya. Ada batas di antara garis yang ambigu sebab cinta tidak pernah bisa dikalkulasi. Kamu mengetahuinya, ibumu mengamalkannya, ayahmu meramalkannya.
Lelaki di depanmu juga menyetujuinya. Sebab ibunya agak sedikit gila, ayahnya agak sedikit nestapa. Ia membenarkan kacamata, pembahasan soal masa lalu agak sedikit membuat pening di kepala. Pekerjaannya tentang estimasi, juga cinta yang tidak bisa dikalkulasi itu membuatnya membicarakan nasib. Emang anjing yang namanya cinta, terutama cinta yang telah membuatnya ada.
Kalian bertemu belum lama, sama-sama dari kekaburan yang sama. Mungkin itu yang namanya getaway car dari Taylor Swift yang persis dengan lirik ironis. Namanya saja mobil kaburan, pasti arahnya juga terjun dan mati mengenaskan tenggelam di lautan. Untukmu yang trauma setengah mati setelah tahun lalu mencoba bunuh diri, ini namanya percobaan bunuh diri versi zero point two alis kepengin mati lagi.
Kamu bersumpah mati dengan nama tuhanmu untuk tidak membiarkan hatimu terbuka kembali, tapi kamu malah membiarkannya. Biarkan saja lelaki ini bercerita soal keluarganya, biarkan saja kalian berfoto berdua dan berjalan bersama di tengah pesing Malioboro yang asing.
Screw that, bahkan biarkan saja soal penjual bunga yang memaksanya memberimu bunga dan mengatasnamakanmu sebagai pacarnya, sembari dihadiahi tawa kalian berdua. Biarkan saja semua itu terjadi. Toh, kamu bersumpah mati untuk tidak membiarkan dirimu larut dalam cinta lagi.
“Malioboro tempat yang klise, tapi selalu berhasil membuatku bisa menulis lagi,” katamu pada suatu ketika. Orang-orang berbicara dengan orang lain, orang-orang menciptakan kelindan garis dengan yang lain. Sebab kamu adalah penulis maka kamu selalu mengamati. Sebab kamu perasa, maka kamu selalu sedih dengan yang hal-hal kecil yang terlintas di depan mata.
“Good for you, toh tulisanmu selalu bagus.”
Dan dia sudah mengatakannya seribu kali, berharap untuk dapat membuat bercakan merah di pipimu lagi dan lagi. Bagai anggur yang terciprat, darah merambah naik ke pipi seiring pujian itu keluar dari mulutnya yang liar. Itu tidak berlaku lagi, begitu ucapmu, padahal kamu selalu suka dengan orang yang memuji tulisanmu. Pujian yang klise bagi pengarang, pujian yang membuat mabuk kepayang berapa kali pun ia terlontarkan.
Kalian duduk bersama, mengobrolkan pasal kehidupan lagi. Tentang isu dari mama yang membuat kalian sepertinya tak percaya akan cinta yang abadi, sebab semua hal datang dengan tanggal kedaluwarsa yang menempel di boks masing-masing. Katamu, mamamu jahat sekali. Kenapa ia tega menorehkan luka yang tidak akan pernah hilang di hidungmu? Lalu kamu menggebu-gebu mengatakan bahwa kamu serius membenci ibunya. Kamu mengatakan bahwa orang tua teman-temanmu juga tolol luar biasa, dan sepertinya menjadi orang tua tak pernah ada di benak mereka sejak mereka menikah dengan pasangan yang akan mereka sesali.
Kalian mengobrol soal cinta-cinta yang tidak seharusnya ada. Ia mengatakan tentang ayahnya yang berkebalikan dengan ayahmu sebab kamu bilang betapa ayahmu sangat memikirkanmu tanpa pernah menyatakan cinta. Kamu bilang, mungkin itulah kenapa aku tumbuh dengan mengharap ucapan cinta dari banyak orang. Kamu mengusahakan banyak hal agar dicintai oleh teman-temanmu, makanya Mbak Suci menamai kontakmu di ponselnya dengan titel people pleaser. Kamu mengharapkan mendapat pujian atas cinta yang kamu berikan kepada mereka maka kamu akan melakukan apa saja untuk mereka. Mungkin sebab ayahmu, orang yang paling tidak dekat denganmu, takkan pernah rela pada fakta bahwa kamu perempuan yang membangkang darinya. Kontras dengan yang ia mau, tetapi ia tetap ingin kamu menjadi perempuan baja yang tak tersentuh siapa pun. Ironis, katamu, kamu dapat menyentuhku sekarang. Ayahku pasti muntah luar biasa jika tahu anak perempuannya mencari rasa terbakar dari laki-laki.
Kamu mengatakan isu mama darinya juga mungkin tentang itu. Tentang ibu yang tidak pernah berlaku seperti ibu. Mungkin juga adikmu mulai nakal kepada ibumu sebab ibumu juga berlaku jahat padanya, begitu katamu, sembari menatap desing peluru yang terlewat pada bohlam di matanya yang menggaris apik. Kamu membelai rambutnya, seperti yang ibumu sering lakukan padamu saat kamu kecil. Belaian yang penuh kasih sayang, berharap dapat membuatnya terlelap barang sejenak. Kamu katakan padanya, kamu harusnya cari istri yang keibuan, untuk mengobati rasa kasih sayang dari ibu yang tidak pernah kamu dapatkan. Lalu kamu lanjutkan lagi, seenggaknya begitu isu dari orang bernama Freud. Dia juga sepertinya punya isu mama, atau mungkin hanya orang gila yang suka bicara sendiri.
“Selera perempuanmu seperti apa?”
“Kamu menanyakannya untuk apa?”
“Menebak isu mama seperti apa yang kamu punya.”
Kemudian ketika hari sudah mulai menampakkan kesendiriannya, kamu merasa separation anxiety-mu kembali kambuh. Inilah kotoran dari cinta, kamu jijik dengan perasaan ingin bergantung kepada orang lain sebab orang tuamu tidak pernah mengajarkannya. Kamu bercerita kepada dia bahwa tahun lalu, selain nyaris mati, kamu bersumpah mati untuk tidak mencintai lagi. Ia mengerti, ia membaca tulisanmu, dan ia tidak terlalu peduli. Ia tetap menciummu, juga mendekapmu. Kamu memperbolehkannya sebab kamu merasa cinta tidak akan pernah datang lagi. Toh, kamu sudah benar-benar dibuat muak oleh dirimu sendiri.
Mungkin sebab kamu tumbuh dengan mencintai teman-temanmu, kamu tumbuh menjadi pribadi yang baik kepada siapa pun, maka kamu jadi menanti waktu bersama dia lagi. Kamu mengingat percintaanmu dengan mantan kekasihmu satu-satunya, dia mengataimu “perempuan tidak tahu boundaries” sebab kamu selalu memaksanya untuk mengatakan cinta. Padahal cinta tidak bisa dikatakan begitu saja, kamu tahu itu. Kamu korban dari orang yang mengatakan cinta padamu, padahal ia tak pernah benar-benar mencintaimu. Kamu mengambil banyak waktu untuk mengurung diri, mempelajari batasan, dan tidak peduli pada apa pun yang kamu rasakan lagi. Jangan bicara pada perasaanmu, biarkan saja. Apa pentingnya perasaan cintamu kepada orang lain? Mereka tak akan menghargainya, tidak tiga tahun lalu, tidak tahun lalu, mungkin tidak pula yang sekarang.
Permainan “kabur-kaburan” dengan lelaki ini pun lucu sekali, persis seperti anak sekolah yang sedang kasmaran. Namun, kamu sebenarnya merasakannya, perasaan bahwa ia menyukaimu sejak ia mengatakan “menyukai senyummu”. Perasaan tidak tahu hendak menjawab apa, sejak ia mengatakan “menyukai waktu bersamamu”. Kamu tahu itu tanda cinta yang mulai tumbuh dan kamu mulai sedikit takut pada perasaanmu sendiri. Kamu takut dengan cinta yang tidak seharusnya datang, cinta yang akan memerangkap dan memenjarakan, jadi kalian hanya berjalan di atas tali kekang. Berharap untuk sama-sama merasakan senangnya saja, begitu katamu, padahal kamu tahu sendiri kamu bukan orang yang begitu. Kamu menerima kesedihan semua temanmu, kamu menerima kesedihan dia. Kamu jelas akan menerima cerita menyedihkannya tentang ibunya yang gila dan ayahnya yang nestapa itu, dan itu memberimu waktu untuk ingin memberinya satu dunia jika perlu.
Lalu ia mulai bercerita kembali, ibuku pernah memukulku, ibuku pernah menendangku. Aku tumbuh dengan perasaan sendiri sebab orang tua teman-temanku jarang yang seperti ini. Bagaimana jika di dunia ini hanya orang tuaku yang agaknya buta dan tuli pada anak-anaknya sendiri? Bagaimana jika ternyata aku tidak bisa bercerita kepada orang lain sebab mereka tak pernah merasa berada pada sepatuku? Oh, ibuku yang susah kucintai lagi, aku ingin menghormatinya lagi sebagai orang yang pernah mengandungku.
Kamu terdiam, menepis lara dalam hati. Kamu menjawab juga pada akhirnya, yang terjadi padamu tidak pernah sekalipun jadi salahmu. Mungkin selama ini temanmu tak pernah membaca buku, atau tak pernah sebaik diriku. Tapi, sayangku, kamu tentu berhak membenci ibu dan ayahmu. Sebab mereka patut dibenci oleh anak yang telah mereka beri lika liku hidup yang seharusnya sederhana. Kamu hanya anak kecil, yang punya adik-adik kecil. Seharusnya tak mereka bebankan luka dan bekasnya pada wajahmu yang masih menyiratkan baiknya kanak-kanak itu, maka tidak apa jika hendak membenci. Kamu bisa bercerita padaku. Aku bisa membangun tenda kecil dari selimut, lalu kita hidupkan lampu senter untuk jadi satu-satunya penerang. Ceritakan mengapa ibumu gila, ceritakan mengapa ayahmu seperti tak pernah ada. Aku akan mendengarkan dan mengelus kepalamu, lalu berucap seribu sayang.
“Aku akan segera ke Jakarta.”
“Maka kamu akan segera menemukan uang dan cinta.”
“Tidak setuju dengan poin kedua.”
“Aku yakin kamu tetap akan menemukannya.”
“Bagaimana tentang kamu dan Jogja?”
“Tinggalkan saja, sebab aku tidak pernah bisa mengakhiri. Semua orang pernah pergi, tapi aku tidak pernah. Kamu tidak perlu khawatir, kamu saja yang pergi. Sebab memang selalu seperti itu.”
“Aku akan datang ke Jogja, kamu bisa datang ke Jakarta.”
“Lalu kamu bisa berlari di GBK, aku bisa membaca di Perpusnas.”
“Aku akan merindukanmu.”
“Aku juga akan merindukanmu.”
Dan kalian sering membicarakan soal buku dan lari seperti halnya kalian bernapas. Kalian sama-sama saling membenci kekalahan dan meyakini kompetisi, lalu mengejar satu sama lain di bawah cahaya rembulan hanya untuk berlari. Berlari. Berlari. Kakimu terkilir, tapi kamu terus berlari. Umurmu dua puluh tiga, umurnya dua puluh empat, dan kalian terus berlari. Ibumu gila, ibuku juga. Ayahmu nestapa, ayahku juga. Orang tuamu tak pernah berucap sayang, orang tuaku tak pernah bilang cinta. Maka kalian terus berlari. Aku ingin hidup bersamamu nantinya, tapi tanpa anjing, begitu katanya, dan kamu merasa akan sulit nantinya tanpa golden retriever yang kamu cinta. Maka kalian terus berlari. Mungkin tulisan ini akan mengendap hingga bertahun-tahun lagi. Mungkin akan berpindah ke kertas pada buku di rak Gramedia Yogyakarta, saat dia bahkan sudah tak pernah memikirkanmu lagi.
Namun, sebab kamu penulis, kamu mengabadikan semuanya. Termasuk cinta yang pernah berlabuh, atau yang tak pernah berlayar. Cinta yang pernah diterima, ataupun cinta yang terlalu dewasa sampai kamu tak akan pernah menyetujuinya untuk berawal. Sebab kamu yakin kamu tak akan berhak mendapat cinta lagi, ia tak akan datang padamu lagi.
Tapi, di sini, kamu menanti dirinya lagi. Kamu membiarkan ia mengacak jadwal dan semburat di pipi, maka kamu takut akan kekalahan lagi.
Ia hendak pergi, jadi kamu seharusnya bisa sedikit tenang.
Lagi pula, kamu sudah terbiasa ditinggalkan.
Kamu berucap padanya, semoga Jakarta selalu baik kepadamu. Semoga ia memberimu waktu yang hangat di tengah-tengah hiruk pikuknya. Semoga ia tak pernah memberimu lesu yang terlampau penat. Semoga ia senantiasa memberimu cinta sembari mempermudah usaha-usahamu untuk naik kelas. Untuk nantinya menikah dengan istri yang cantik dan baik, yang tidak seperti ibumu. Untuk memiliki rutinitas bersama yang baik, di dalam rumah yang memberimu nyaman yang abadi.
Semoga Jakarta menerimamu dengan baik. Meski aku tak ada di sampingmu untuk menantangmu lomba lari lagi.
*****
Editor: Moch Aldy MA
