cerpen
“Satu bab selesai malam ini,” begitu kataku tetiba malam kepada Nisa, kawan akrabku sekelas Ilmu Sejarah. Selama ini, ia jua paling...
Suryo menyerahkan beberapa gepok uang yang telah ia kumpulkan susah payah. Hampir tiga tahun Suryo kerja tak kenal waktu demi melunasi...
Mbok Kliwon yang menyeramkan itu, tinggal di belakang rumahku. Tapi rumah kami saling membelakangi, jadi kami tidak pernah bertemu. Kata Marni...
Pagi kembali datang. Sekali pun ruangan ini gelap, ada seberkas cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah kayu di jendela. Aku...
Sebuah lukisan tergantung di dinding rumah Jabrik, seorang buruh tambang pasir yang doyan mengundi nasib di gelanggang sabung ayam untuk mencoba...
Semua orang selalu menertawakan Mbak Yayuk. Ia adalah orang gila yang senang sekali duduk di cakruk depan rumahku. Ia sering menari-nari...
Bus berguncang. Aku terbangun dari tidurku. Cahaya matahari dari arah timur menembus kaca jendela dan jatuh di dalam bus. Silau, aku...
Namaku bukan Susan, seperti yang tertera di profil akun ChatMe-ku. Setahuku, di berbagai konvensi sosial, ‘nama’ adalah sesuatu yang sangat personal...
Terik membuncah, matahari menancap keras di atas kota Jakarta Pusat dan keempat satelitnya—distrik-distrik besar yang menjadi nadi ekonomi negeri ini—tiba-tiba tersentak...
Setiap dua kali dalam sebulan, kalian memutuskan bertemu. Kau tak pernah menduga akan begitu berkomitmen pada apa yang entah namanya ini:...