cerpen
Dapur restoran terasa seperti medan perang malam itu. Panci mendidih di atas kompor, pisau berkilat memotong sayuran dengan cepat, dan aroma...
Ardian terpekur di sepanjang prosesi pemakaman Dinda. Matanya nanar memandang gundukan tanah yang bertabur bunga-bunga kematian. Sudah lima puluh satu menit...
“Meongggggg.” “Meongggggggggg.” “Meongggggggggggggg.” “Meonggggggggggggggggg.” “Gomprang, gomprang.” “Kalau mau berantem jangan di depan rumah,” teriakku setelah melempar panci. “Apa ada lagi yang...
Hari itu hujan rintik-rintik, notifikasi di ponselku terus berdenting. Grup alumni SMA mendadak ramai. Ada satu foto yang terus di-forward—foto dia...
Masih pagi, Laila melamun ditatap lalat. Ia balas melotot, hendak bertanya, tapi lalat langsung raib terbang dan hilang. Meninggalkan laut teduh...
Saya lagi-lagi melihat perempuan itu menangis. Bulir demi bulir air yang mengalir dari kesejukan matanya membuat saya bertanya-tanya. Kenapa perempuan itu...
Di halaman belakang rumah Mastur, seekor kakatua jambul kuning bersarang di dalam kerangkeng besi. Sejak dibawa dari Papua dua bulan lalu,...
Ketua Asosiasi Perempuan mendengarkan lantunan musik dari gramofon tuanya. Dia berdansa sendirian seperti tidak butuh siapa pun dalam hidupnya. Suami Nyonya...
Di menit pertama, sunyi terasa begitu berat—bukan sunyi yang hening dan menenangkan, tapi sunyi yang mencekik, seperti udara yang mendadak hilang....
Kokok ayam sudah terdengar dari desa di utara, tetapi pertempuran yang berlangsung sejak dini hari tadi belum juga selesai. Dia masih...