cerpen
Langit mendung menggantung rendah di atas alun-alun kota. Hujan yang baru saja reda meninggalkan genangan-genangan air yang memantulkan cahaya dari obor-obor...
Saat mengunjungi Curug Watu Kelam di Alas Pati, tetiba muncul keterikatan yang kuat di hati Wira pada tempat tersebut. Tak lama...
Kepergiannya begitu menyakitkan. Tanpa perlu penghakiman lebih, akupun menyadari ada kesahalanku di sana. Perpisahan ini begitu mendadak. Dengan skenario terburuk yang...
Malam itu hutan membisu dengan suasana hening yang melankolis. Sekelompok orang dengan cahaya senter seadanya menembus kedalaman hutan untuk lari dari...
Di kamar yang lindap dan pengap, hiduplah sebuah bantal tua yang sudah mulai kehilangan bentuk aslinya. Bantal ini ajaib: ia bisa...
Dapur restoran terasa seperti medan perang malam itu. Panci mendidih di atas kompor, pisau berkilat memotong sayuran dengan cepat, dan aroma...
Ardian terpekur di sepanjang prosesi pemakaman Dinda. Matanya nanar memandang gundukan tanah yang bertabur bunga-bunga kematian. Sudah lima puluh satu menit...
“Meongggggg.” “Meongggggggggg.” “Meongggggggggggggg.” “Meonggggggggggggggggg.” “Gomprang, gomprang.” “Kalau mau berantem jangan di depan rumah,” teriakku setelah melempar panci. “Apa ada lagi yang...
Hari itu hujan rintik-rintik, notifikasi di ponselku terus berdenting. Grup alumni SMA mendadak ramai. Ada satu foto yang terus di-forward—foto dia...
Masih pagi, Laila melamun ditatap lalat. Ia balas melotot, hendak bertanya, tapi lalat langsung raib terbang dan hilang. Meninggalkan laut teduh...