Ruang bersenang-senang.

Imaji Dawir

Puteri Soraya Mansur

6 min read

Sudah sejak tiga tahun lalu, Dawir tak pernah sekali pun menginjakkan kaki di rumah sepupunya, Mirna. Namun, sore itu kakinya melangkah mendekati rumah yang setengah jadi dan belum bercat itu. Sepupunya pun keheranan meskipun tetap mempersilakan masuk.

“Assalamu’alaikum,” salam Dawir pada pemilik rumah.

“Wa’alaikumsalam. Ada apa, Wir? Tumben ke sini? Sudah lama kamu tidak ke sini,” tanya Mirna.

“Aku diutus Nabi Khidir ke sini, Mir,” jawab Dawir penuh keyakinan.

“Siapa? Nabi siapa? Jangan ngawur lah kamu?”

“Nabi Khidir. Siapa juga yang ngawur. Aku serius. Demi Allah, Rasulullah.”

“Ya sudah, masuk dulu. Jangan di depan pintu begitu.”

Mirna menyuguhkan makanan dan minuman buat sepupu dari adik ayahnya itu. Ia adalah anak pertama dari lima bersaudara yang sangat diandalkan keluarga Mirna saat mereka membutuhkan pertolongan. Saudara Mirna tidak tinggal di satu kota yang sama bahkan ada yang tinggal di luar pulau. Suatu kali, kedua orang tuanya sakit di waktu yang bersamaan. Mereka dirawat dalam ruang yang sama dan Dawir yang menungguinya. Saudara-saudara Mirna sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga sulit untuk merawat kedua orang tuanya. Alih-alih merawat, mereka lebih memilih membayar Dawir beberapa ratus ribu untuk menunggui kedua orangtuanya. Hal itu biasa dilakukan keluarga Mirna, bahkan sejak nenek Mirna sakit-sakitan sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir di depan Dawir. Bukan di depan Ayah, Ibu, Mirna, terlebih saudara-saudaranya.

“Kamu tahu anak yang dibunuh Nabi Khidir karena durhaka?” tanya Dawir pada Mirna.

“Iya, tahu,” jawab Mirna sekenanya.

“Aku yang memberi tahu Nabi Khidir keberadaan anak itu. Aku ini orang kepercayaan Nabi Khidir dan beliau dapat informasi dariku. Aku ini informan kepercayaannya. Sebenarnya anak itu baik, tetapi karena salah pergaulan, ketika dewasa melakukan banyak sekali kesalahan. Suka mabok, maling, madon, madat, main, molimo dilakukan semua. Pada suatu hari, ada seorang berkepala botak dan berjenggot putih yang memengaruhinya untuk berhenti dari kebiasaan itu dan berhasil. Tapi anak itu malah diajak aliran sesat yang tidak memperbolehkan menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Pokoknya menjadi sesat lagi menyesatkan. Anak itu diwajibkan mengajak kedua orang tuanya untuk mengikuti keyakinannya itu. Pada awalnya dilakukan secara halus, namun keimanan kedua orang tuanya sangat kuat sehingga anak itu tidak sabar dan mengancam akan membunuh kedua orang tuanya dengan mengubur mereka hidup-hidup. Nabi Khidir bisa menerawang masa depan anak itu dengan satu usapan di kepalanya. Sayangnya, saat hendak dibunuh, anak itu kabur. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri gambaran-gambaran masa depan anak itu, sehingga beliau memerintahkanku untuk mengejarnya,” kisah Dawir nyaris tanpa jeda.

Meskipun dengan setengah hati, Mirna mendengarkan kisah sepupunya itu sembari menunggui anaknya makan. Ia memerhatikan tubuh sepupunya yang makin hari makin kurus. Wajahnya terlihat tirus sehingga rahang yang menyangga giginya terlihat sangat jelas dan membuat deretan mahkota gigi paling depan terlihat maju. Tiga tahun yang lalu, postur sepupunya masih gagah. Tingginya seratus tujuh puluh, kulitnya putih bersih, rambutnya lurus, alisnya tebal, matanya besar bak artis India, bibirnya merah merona karena rokok tak pernah mampir di mulutnya.

“Aku mengejar anak itu jauh sekali, sampai ke Laut Merah. Kamu tahu Laut Merah kan, Mirna?”

“Laut di jazirah Arab sana?”

“Bukan. Laut Merah itu terletak di antara benua Arab dan Afrika, yang warna airnya ada dua macam, yang satu bening dan satunya lagi cokelat susu. Itu salah satu bukti adanya Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi kita sebagai manusia yang beriman jangan sampai menyekutukan Allah. Jangan jadi seperti kaum Quraish yang mengingkari keberadaan Allah, Dzat yang Maha Segala-galanya. Kamu mendengarkanku kan, Mirna?”

“Iya, dari tadi aku mendengarkanmu. Lanjutkan saja kisahmu. Sudah lama kamu tidak berkisah padaku.”

“Baiklah. Rupanya kamu sangat merindukan kisah-kisahku. Pantas saja Nabi Khidir mengutusku ke sini. Rupanya inilah tujuan beliau yang tidak aku ketahui. Di mana suamimu? Mungkin dia ingin mendengarkan kisahku juga.”

“Dia sedang sibuk. Nanti aku yang akan mengisahkan ulang padanya.”

“Lebih baik suruh dia mendengarkannya secara langsung. Aku khawatir kamu akan mengubah sesuai versimu, sehingga ada bagian yang tidak pas. Aku tak ingin membuat kesalahan.”

“Jangan khawatir, sudah aku rekam kisahmu itu, jadi tak akan ada kesalahan atau berubah sesuai versiku. Lihat ini,” Mirna menunjukkan rekaman hapenya yang baru saja ditekan kepada Dawir.

“Terima kasih sudah merekamnya. Aku merasa lega karena Nabi Khidir tidak akan menyalahkanku ketika ada bukti. Aku harus patuh pada beliau supaya beliau percaya kepadaku karena pengkhianatan akan berakibat sangat fatal. Ada banyak yang mengincar posisiku saat ini karena tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Menjadi informan kepercayaan Nabi Khidir adalah karomah yang sulit didapat oleh seorang manusia biasa dan aku mendapatkan kehormatan itu jadi jangan sampai aku menyiakannya.”

“Sambil dimakan keripiknya, Wir.”

“Tidak ada makanan selain keripik ubi yang ada merah-merahnya ini? Aku berpantang dengan warna merah karena itu perlambangan neraka. Nanti karomahku bisa menghilang.”

“Kuping gajah mau?”

“Nah, itu makanan yang cocok buat informan sepertiku. Bentuk kuping gajah itu melambangkan bahwa seorang informan harus memiliki pendengaran yang lebar supaya memperoleh informasi sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya, setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya, selebar-lebarnya.”

Mirna mengambil panganan kuping gajah dengan perpaduan warna cokelat dan putih. Ia membuka plastik wadahnya dan menuangkan panganan itu ke toples plastik bening. Di sela-sela itu, ia mengunggah story media sosial dengan video sosok sepupunya yang sedang asyik berkisah. Caption-nya berbunyi: “Tiga tahun baru ke rumah.” Tulisan itu disertai emotikon tertawa dengan air mata berderai. Betapa menggelikan hal tersebut buat Mirna.

“Anak itu larinya sangat cepat, sehingga aku tidak bisa mengejarnya. Aku ketinggalan perahu. Syukurlah di tepi laut itu ada Nabi Musa, sehingga beliau membantuku membelah Laut Merah itu supaya aku bisa berjalan menyeberang tanpa harus bersusah payah menggunakan perahu. Aku datang lebih dahulu di seberang dibandingkan anak itu. Sayangnya, saat aku hendak menangkapnya, ia berlindung di belakang seorang Bani Israil. Kamu tahu kan sifat Bani Israil yang keras kepala dan menyekutukan Allah itu? Ia tidak percaya kalau aku diutus oleh Nabi Khidir untuk menangkap anak itu. Wajar saja Nabi Musa kewalahan menghadapi mereka dan melaknatnya menjadi orang buangan. Mereka terbuang dari negerinya karena tidak percaya dengan peringatan Nabi Musa. Anak itu berhasil lolos.”

“Aku mau memandikan anakku dulu, Wir. Kamu tunggu ya. Atau kamu mau makan? Aku siapkan dulu sebelum memandikan anakku?”

“Boleh.”

Mirna menghidangkan nasi, sayur bening, dan ikan pindang ke hadapan Dawir. Kemudian berlalu memandikan anaknya. Tak lupa ia mengunggah video Dawir ke story Whatsapp dengan caption: “Jadi informan Nabi Khidir dan mendapat karomah.” tentu saja disertai dengan emotikon serupa seperti story sebelumnya. Selagi Mirna memandikan anaknya, Dawir menikmati sepiring nasi penuh beserta lauk-pauknya. Habis tak bersisa.

“Masakanmu selalu enak, Mir.”

“Lalu kenapa selama tiga tahun kamu tak pernah ke sini?”

“Tiga tahun? Selama itukah? Aku banyak mencari informasi untuk Nabi Khidir jadi tidak sempat ke sini. Makanya aku juga heran saat Nabi Khidir mengutus ke sini, pasti ada maksud di baliknya dan ternyata benar. Kamu masih ingin mendengarkan kisahku tentang anak itu kan?”

Mirna tidak mengindahkan omongan Dawir dan merapikan sisa masakannya ke dapur.

“Sampai mana tadi kisahku, Mir?”

“Anak itu lolos dari tangkapanmu karena seorang Bani Israil.”

“Oh iya, betul. Sebentar, aku perlu kopi dulu setelah makan. Kalau perokok bilang ni’mat ngudud ba’da mangan, kalau aku cukup ni’mat ngopi ba’da mangan. Jadi, tolong buatkan aku kopi.”

“Hahaha…. Ada-ada saja. Sebentar, aku masak air dulu.”

“Kopi dan gulanya masing-masing satu sendok. Perpaduan yang sangat pas untuk penikmat kopi sepertiku.”

Mirna menjerang air, lalu menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir berbibir lebar. Setelah air mendidih, segera ia menumpahkannya ke cangkir, sehingga membentuk air hitam pekat dengan uap tipis di atasnya. Mirna mengaduknya perlahan lalu menyajikannya ke Dawir.

“Terima kasih, Mir. Hari ini kamu baik sekali.”

“Jarang-jarang kamu ke sini jadi nikmatilah kopi itu selagi masih panas.”

“Kamu memang sepupu yang paling baik di dunia. Tidak ada yang mengerti aku dengan baik selain kamu.”

Slurppp. Dawir menyeruput kopi panas itu. Ia paling suka menikmati kopi panas-panas. Lidahnya tidak terasa terbakar, malah sensasi nikmatnya sangat terasa. Sensasinya menembus sampai ke otak, hidup terasa lebih hidup, begitu penggambaran yang sering dikatakannya kepada Mirna saat ia menyeruput kopi panas.

“Aku lanjutkan ya. Setelah anak itu lolos, aku tentu saja kebingungan. Sempat tak berbuat apa-apa selama dua hari dua malam. Sampai Asar tiba, aku duduk di dekat penjual buah. Ia bercerita bahwa kesal kepada seorang temannya yang meminta bantuan untuk menyembunyikan anak. Ia kesal karena anak itu banyak menghabiskan makanan di rumah selama dua hari bersamanya. Aku pun menanyakan ciri-ciri anak itu dan sesuai dengan ciri-ciri anak durhaka yang menghilang dari jangkauanku selama dua hari. Aku mengatakan kepada penjual itu bahwa aku adalah suruhan dari orang tua anak itu untuk mencarinya. Anak itu kabur dari rumah dan kedua orang tuanya tak sanggup mencari, sehingga menyuruhku. Penjual buah itu pun terlihat sumringah mendengar ceritaku, seperti terlepas dari beban berat yang sudah lama ditanggungnya. Ia mengajakku ke rumah tapi aku menolaknya. Aku mengatakan untuk menunggu barang satu hari lagi karena jika menemui anak itu bersamanya saja, kemungkinan besar anak itu akan kabur lagi.”

Slurppp… slurppp… slurppp…. Dawir menyeruput kopi sampai tiga kali.

“Aku langsung menghubungi Nabi Khidir dengan kode tertentu.”

“Apa kodenya? Bukannya telpon? Kan sekarang ada hp?”

“Ah kamu, Mir. Aku kan berkisah di zaman dahulu kala. Mana ada hp. Jangan mengada-ada kamu. Aku tak bisa mengatakan soal kode itu karena rahasia. Hanya aku dan Nabi Khidir saja yang tahu.”

“Hahaha…. Ya sudah, lanjutkan saja kalau begitu.”

“Setelah aku beri kode, Nabi Khidir datang dan aku menceritakan semuanya. Beliau masih akan mengerjakan satu tugas lagi, jadi aku disuruh menunggu selama satu hari untuk mengawasi penjual buah dan anak itu. Aku pun menuruti perintah beliau. Saat beliau kembali. Kami pun ke rumah penjual buah tersebut. Anak itu sedang makan. Rakus sekali ternyata, wajar saja penjual buah itu murka, bukan kesal lagi. Nabi Khidir lalu menangkap anak itu dan membunuhnya. Kami terkesima karena tak menyangka pembunuhan bakal terjadi. Aku juga berpikir bahwa beliau hanya akan menangkap lalu menghukumnya. Rupanya kematian itu adalah hukumannya. Aku dan penjual buah itu pun mengubur jenazah anak itu, lalu segera pamit. Sama juga aku mau pamit dulu denganmu, tapi sebelumnya aku habiskan kopi ini. Sayang karena kamu sudah membuatkannya untukku.”

Sluuurppp…. Dawir menghabiskan kopi itu dengan satu seruputan panjang.

“Aku pergi dulu ya, Mir. Terima kasih. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Mirna mengantarkan Dawir sampai ke depan pintu rumahnya. Ia mengulas senyum keheranan melihat perilaku sepupunya itu, lalu kembali ke dalam rumah dan meraih hapenya. Ia melihat Whatsapp yang di sana tertulis pesan dari kakaknya: “Dawir sepertinya sudah benar-benar gila ya? Kasihan dia. Seharusnya Pak Lik membawanya ke RSJ sebelum semakin parah.”

“Iya,” balas Mirna.

“Aku dengar kabar bahwa dia seperti itu setelah bekerja di rumah makan dekat RSUD. Ada lelaki yang menyukainya dan ia disodomi. Setelah itu dituduh oleh orang-orang tetangga desa mengintip perempuan mandi dan digebuki,” kakak Mirna mengetik pesan lagi.

Mirna tak membalas pesan kakaknya dan kepalanya pun bertanya-tanya tentang kabar yang tak pernah mampir di telinganya itu. Perasaan iba pun menyelimuti hatinya. Terlebih saat melihat amplop berisi lima lembar uang dua ribuan lusuh yang bertuliskan: “Ini untuk jajan anakmu.”

*****

Editor: Moch Aldy MA

Puteri Soraya Mansur
Puteri Soraya Mansur Ruang bersenang-senang.

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email