cerpen
Pagi kembali datang. Sekali pun ruangan ini gelap, ada seberkas cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah kayu di jendela. Aku...
Sebuah lukisan tergantung di dinding rumah Jabrik, seorang buruh tambang pasir yang doyan mengundi nasib di gelanggang sabung ayam untuk mencoba...
Semua orang selalu menertawakan Mbak Yayuk. Ia adalah orang gila yang senang sekali duduk di cakruk depan rumahku. Ia sering menari-nari...
Bus berguncang. Aku terbangun dari tidurku. Cahaya matahari dari arah timur menembus kaca jendela dan jatuh di dalam bus. Silau, aku...
Namaku bukan Susan, seperti yang tertera di profil akun ChatMe-ku. Setahuku, di berbagai konvensi sosial, ‘nama’ adalah sesuatu yang sangat personal...
Terik membuncah, matahari menancap keras di atas kota Jakarta Pusat dan keempat satelitnya—distrik-distrik besar yang menjadi nadi ekonomi negeri ini—tiba-tiba tersentak...
Setiap dua kali dalam sebulan, kalian memutuskan bertemu. Kau tak pernah menduga akan begitu berkomitmen pada apa yang entah namanya ini:...
Aku membayar hidupku untuk perkawinan ini. Di sepanjang langkahku, aku berpikir bahwa tujuan hidupku adalah memakai kebaya putih dengan siger Sunda,...
Kilat mengubah warna langit yang abu-abu jadi bercahaya. Dua petir adu cepat mencari mangsa. Petir pertama menghantam sebuah pesawat hingga terbelah...
Sejak diprediksi hidupku tak lama lagi, aku memutuskan berhenti minum obat. “Akan kusambut kematian dengan gagah berani,” begitu kataku pada diriku...