Di halaman belakang rumah Mastur, seekor kakatua jambul kuning bersarang di dalam kerangkeng besi. Sejak dibawa dari Papua dua bulan lalu, burung itu menjadi saksi bisu kehidupan seorang dokter spesialis kelamin yang tersohor. Mastur, dengan reputasinya yang cemerlang dalam menangani berbagai penyakit, sering dikunjungi oleh tamu-tamu terpandang. Pengacara, pejabat tinggi, hingga menteri, kerap datang dan pergi, membawa berbagai urusan duniawi yang mencerminkan kepalsuan dan kemunafikan.
Di antara gemericik tawa dan percakapan serius, Kakatua duduk diam, namun tidak pernah luput menyaksikan pelbagai tingkah laku, suara, dan kemunafikan. Setiap hari, dari kerangkeng besinya, dia mendengar diskusi tentang kekuasaan, uang, dan penindasan. Ada pengacara yang berbicara tentang keadilan yang bisa dibeli, jaksa yang merencanakan strategi untuk menjebak lawan politik, dan pejabat yang sombong memamerkan proyek yang hanya akan membawa kehancuran. Dengan kecerdasan alami dan kemampuan menirunya, Kakatua menyerap semua itu, mengingat setiap kata dan intonasi. Dia meniru, seolah menjadi bagian dari percakapan. Namun, yang dia tirukan bukan sekadar kata-kata, melainkan refleksi dari kebusukan yang dilihatnya.
Hari berganti hari, tiga bulan sudah berlalu. Kakatua kini tidak hanya mendengar, tapi mulai memahami. Kecerdasan yang dulu dianggap alami, berubah menjadi beban. Dalam dunianya yang terkurung, dia mulai mengerti bahwa dia bukan sekadar hewan peliharaan; dia adalah saksi dari dosa-dosa yang dilakukan manusia. Setiap kali dia menirukan percakapan yang menyindir moralitas atau membicarakan strategi busuk, dia merasa ikut terseret dalam dosa itu. Apakah seekor burung bisa berdosa? Pertanyaan itu menghantuinya setiap malam.
Suatu malam saat bulan purnama menyinari penangkaran, Kakatua termenung. Ia bertanya-tanya, apakah kecerdasan yang dimilikinya adalah anugerah atau kutukan? Dalam kesadaran barunya, ia mulai merenung, apakah dia turut bersalah dalam kebusukan yang dia tirukan? Setiap kalimat yang diucapkannya hanyalah pengulangan dari kebohongan dan kebodohan yang didengarnya. Jika kebenaran adalah sesuatu yang ia rindukan, di mana letak kebebasannya?
Perenungan itu datang setiap malam, membayang-bayangi kerangkeng besinya. Mastur, sang tuan, tidak pernah menyadari bahwa burungnya kini menjadi cermin dari semua ketakutan dan kebohongan yang ada di sekitarnya. Ketika Kakatua berteriak, “Keadilan adalah ilusi!” atau “Hidup adalah lelucon!”, kata-kata itu tidak lagi sekadar tiruan. Mereka adalah jeritan keputusasaan yang lahir dari kesadaran yang terkungkung.
Kakatua yang semakin pintar kini mengerti satu hal yang menyakitkan: ia tidak berbeda dengan manusia yang datang ke rumah Mastur. Terjebak dalam rutinitas, dalam kebohongan, dalam ilusi kebebasan yang sebenarnya tidak pernah ada. Ia adalah cermin dari jiwa-jiwa yang terkurung, merindukan makna tetapi terus tersesat dalam kebodohan mereka sendiri.
Suatu hari, saat Mastur pulang dari pekerjaannya di rumah sakit, dia mendapati Kakatua tidak lagi bersuara. “Kenapa kau tidak berbicara?” tanya Mastur, heran. Mata Kakatua menatapnya tajam, seolah ingin berkata bahwa kata-kata tidak lagi ada gunanya. Bahwa berbicara tidak akan mengubah apa pun. Hidup itu sendiri adalah dosa yang tak termaafkan, dan Kakatua, sebagai saksi bisu, tak mampu melarikan diri dari kenyataan yang pahit itu.
Di tengah malam yang penuh perayaan, saat para tamu berkumpul di rumah Mastur untuk merayakan kesuksesan mereka, Kakatua akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Hidup adalah komedi yang berakhir tragis!” teriaknya dengan suara yang menggelegar, membuat seluruh tamu terdiam. Mereka seolah tersentak, seperti disadarkan oleh kenyataan yang selama ini mereka hindari. Wajah-wajah yang tadi berseri, kini penuh dengan ketakutan. Kakatua, yang selama ini dianggap tak lebih dari burung peliharaan, telah mengungkapkan kebenaran yang selama ini mereka tutupi.
Mastur, panik dan marah, mencoba menenangkan burungnya. “Diamlah! Kau hanya seekor burung!” serunya dengan nada tajam. Tetapi Kakatua, dengan keberanian yang baru ditemukan, menjawab, “Justru itulah dosaku, menjadi cermin dari yang kau tak berani lihat! Kau dan aku, kita terkurung dalam penjara diri, mengulangi kebohongan demi kebohongan. Apakah kita benar-benar hidup, atau hanya berfungsi?”
Kata-kata itu menggantung di udara, menantang siapapun yang mendengarnya untuk merenungkan makna dari keberadaan mereka. Dalam keheningan yang memekakan, Kakatua menyadari bahwa ia bukan hanya terkurung dalam kerangkeng besinya, tetapi juga terkurung dalam pikiran manusia yang dipenuhi oleh ketakutan dan ilusi.
Kakatua kembali diam, menunggu hari-hari berikutnya yang akan datang. Namun, kini ia mengerti satu hal: kebebasan bukanlah soal keluar dari kerangkeng, melainkan soal memahami realitas. Dalam penjaranya, dia telah menemukan kebebasan dalam pikiran—meski hanya sekilas, dalam bayangan yang samar.
Dan begitulah, Kakatua terus hidup, menyimpan rahasia dosa manusia dalam keheningannya, merindukan kebebasan yang hanya bisa ia temukan dalam imajinasi.
*****
Editor: Moch Aldy MA
