kadang penulis, kadang jurnalis, kadang asam lambung naik. terima kasih

Api Ibrahim

Regent Aprianto

5 min read

Ibrahim

Rasanya seperti menelan neraka. O bukan, justru saat ini nerakalah yang akan menelan saya. Saya tak begitu ingat bagaimana mulanya, mata Mun yang terpejam, aroma tubuhnya, suara dobrakan di pintu kandang, dan tahu-tahu tubuh saya telah terseret di atas hamparan kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalanan kampung, beberapa saat sebelum azan subuh berdengung. Seseorang menendang punggung saya hingga terjungkal. Lalu satu kata diserukannya, satu kata yang seperti tak asing, dari satu suara yang seolah pernah saya dengar bertahun-tahun silam: bakar!

Saya menggelepar. Seperti ikan yang menolak daratan. Kepala saya menggeleng cepat. Saya belum ingin mati, atau setidaknya saya enggan mati seperti ini.

Seseorang terus mengguyur tubuh saya dengan cairan dingin berbau tajam. Saya tidak mengenalnya. Penglihatan saya memburam sejak sebuah benda keras mendarat mulus di pelipis. Belas kasih yang saya harapkan rupanya nihil. Mereka, warga kampung itu, masih terdengar riuh bersorak. Seperti sedang saweran orkes dangdut, atau menonton tarkam. Apapun, suara-suara itu lebih terdengar seperti perayaan.

Amarah mereka mungkin mereda. Tubuh saya berhenti dihujami. Saya cuma meringkuk kaku di sebuah tempat sempit. Sebentar lagi, setelah cairan dingin itu terbalur sempurna, mereka akan membakar saya seperti sampah.

***

Wak Banudi

Warga kampung memanggilnya Ibe. Sementara Ane tetap teguh memanggilnya dengan nama pemberian Ane sendiri: Ibrahim. Bertahun-tahun lalu, Ana menemukan Ibrahim sebagai bocah enam tahun yang menangis di antara puing-puing dan jelaga. Pemandangan yang mau tak mau mengingatkan Ane pada kisah Nabi Ibrahim.

Saat perang pecah, Ayah Ibrahim, Jon Tumbelaka, seseorang dari kelompok merah. Kami lebih mengenal Jon sebagai komandan Kelelawar Hitam, pasukan biadab berdarah dingin. Membantai para santri di Sintuwulemba, mencemari para gadis, menumpuk mayat-mayat pucat di satu liang sumur, membumihanguskan langgar dan bangunan pesantren. Sejak itu, yang Ane tahu; kepala Jon seharga Surga.

Di hari penyerbuan, sesaat setelah kepala Jon menggelinding di atas tanah hitam bekas pembakaran, pesan singkat “Pak Nasir berobat ke Tentena” tiba. Isyarat bahwa orang-orang di pemukiman itu sudah mengungsi ke lembah di perbatasan Sulawesi Selatan. Ane menduga Ibu Ibrahim ada di gerombolan itu. Sejak hari itu juga, Ibrahim resmi tak berbapak-ibu.

Ane bawa Ibrahim pulang ke kampung ini, jadi anak asuh. Dia belajar berdoa seperti kami. Meskipun semakin dewasa, doa Ibrahim semakin tak berbunyi. Hidup Ibrahim juga mulai aneh sejak Mun, anak perempuan Ane dari kota kembali ke kampung ini.

***

Mun Halimun

Mun kembali dan senang sekali mendapati Abang masih tetap Abang, selalu bersedia direpotkan dengan rupa-rupa permintaan, dari yang biasa-biasa saja sampai yang terlalu aneh untuk dikabulkan, misal menggendong tubuh Mun yang tak lagi seringan dulu ini berkeliling pekarangan belakang saat pikiran suntuk sebab kebanyakan mama-mama di kampung ini suka piara banyak anak, sekaligus abai asupan gizi mereka.

Tentu Abang sering iyakan permintaan aneh Mun itu, setelah yakin Babah benar-benar lagi keluar. Babah selalu mengomel kalau Mun dekat-dekat Abang, padahal kan kerja Abang sudah selesai semua. Babah tidak suka lihat Mun akrab dengan Abang. Katanya kami bukan muhrim. Babah memang tidak asyik.

Satu sore, saat Babah pergi ke rumah Pak Kades untuk urusan yang entah apa, Mun jumpa Abang di tempat kesukaannya: pekarangan belakang rumah di sebelah gubuk bekas kandang kambing. Lelaki itu dari dulu memang cenderung pemalu. Dia terbuka bercerita hanya dengan Mun saja. Jadinya Mun sempat tidak enak saat pergi kuliah di kota. Enam tahun itu, Mun jarang pulang. Kalaupun pulang, tak ada waktu duduk meladeni cerita-ceritanya. Bukan mau besar kepala, tapi kepulangan kali ini sepertinya kabar gembira untuknya.

Abang lihat apa, tanya Mun sebelum ikut mendongak juga, mengarahkan pandangan ke atas pohon mangga. Rupanya pohon itu tengah berbuah lebat. Mun jadi ingat masa kecil, selalu manja ingin diambilkan mangga. Seperti biasa, Abang selalu manut meski dia tahu Babah akan marah sebab mangga isap—begitu kami menyebut mangga yang cara makannya cukup digigit dan dikuliti pakai mulut, lalu serat-serat kuningnya dikulum persis cara menikmati tebu—akan buat baju kami bernoda.

Mau mangga? Tanya Abang tanpa mengalihkan pandangan dari buah oval yang menggantung di dahan-dahannya itu. Dengan senang hati Mun mengangguk. Tanpa hitungan Abang menggulung celana panjangnya, bersiap memanjat.

Beberapa jenak, Abang turun dari pohon bertelanjang dada, kaos bonus pestisidanya sudah jadi kantong kain penuh mangga isap. Di dalam saja, ajak Abang ke dalam gubuk bekas kandang kambing.

Dua ekor penghuni gubuk itu, tiga bulan lalu sudah dikasih Babah cuma-cuma kepada saudaranya. Babah kasihan, sudah seminggu lebih sepupunya itu terluntang-lantung mencari kambing murah untuk akikah anak lelakinya.

Tapi sejak sore itu, kandang kambing Babah punya dua penghuni baru yang rutin berkunjung diam-diam dan melakukan banyak hal di sana.

***

Wak Banudi

Ane tiba dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi rotan ini sekitar sepuluh menit yang lalu. Tapi orang-orang ini hanya diam. Beberapa dari mereka cuma terus mengisap rokok, mengembuskan asap, dan terus mengulangi aktivitas itu dengan raut wajah cemas.

“Minum, Wak?” Mbuqi, istri muda Pak Kades, menawari minum. Puasa, kata Ane sambil senyum tipis.

“Bagaimana Bapu Kadi, bisa?” Pak Kades membuka.

“Usir atau tangkap, terserah. Asal kampung ini aman,” lanjutnya, kali ini dengan raut lebih serius.

“Bakar.” Bapu Kadi, seorang tamotota, menanggapi pertanyaan Pak Kades diselingi embusan asap tipis dari sela bibir legamnya. “Tak ada cara lain. Kalau penjara, percuma,” tukasnya setelah menempelkan ujung rokok di permukaan asbak keramik.

“Istigfar antum! Syirik!” Padahal baru beberapa saat kami berbincang, seruan Ane kembali menahan semua suara. Tidak peduli seruan itu menyinggung Bapu Kadi atau tidak. Jalan yang dibicarakan Pak Kades sudah keterlaluan. Berharap kepada selain Allah itu syirik akbar, dosa paling mustahil terampuni.

Memang belakangan ini, kampung kami gempar, para wanita was-was diteror makhluk yang sepakat kami sebut Gondrong. Bukan karena sosok itu berambut panjang, tapi menurut para saksi dia beraksi telanjang, dan hal paling bisa diingat hanya bulu kemaluannya yang awur-awuran dan tentu saja menjijikan.

Entah ajian iblis apa yang digunakan Gondrong, sampai semua korban mengaku sulit bergeming ketika melihatnya. Tubuh kaku dan suara seakan terkunci. Mereka digerayangi hingga pingsan, dan siuman tanpa pakaian.

Sepekan lalu, seorang korban, gadis kelas 3 SMK anak kuli sumur bor, lebih memilih mati menggantung di dahan pohon jambu biji. Dugaan kami, gadis itu tak kuat menahan malu dan trauma.

Pak Kades kewalahan dan mengaku kehabisan cara. Segala bentuk usaha sudah dicoba, mulai ronda malam yang kembali aktif sampai laporan ke Polsek dan kantor camat. Sayangnya, semua ampas di hadapan Gondrong yang kian hari bak belut di kubangan lumpur.

***

Ibrahim

Saya pernah mendengar hal ini dari ceramah seorang ustaz kondang di takziah tujuh hari kematian imam masjid kampung. Katanya, saat ruh dicabut malaikat maut, kita akan menonton beberapa cuplikan tayangan semasa hidup. Awalnya saya pikir bagaimana bisa, tapi percaya juga setelah melihat sendiri.

Sekelebat ingatan sebelum saya meringkuk di selokan ini adalah wajah Wak Banudi yang merah padam, usai memergoki saya dan Mun sedang bertindihan di gubuk bekas kandang kambing, di bawah pijar kuning bohlam murahan. Wajar saja, dia memang tidak tahu, atau tepatnya belum tahu kalau kami sudah mengikat janji sebelum malam nahas ini menimpa. Kami begitu paham dan maklum, restu Wak Banudi itu barang mustahil. Jadi kami pilih mencuri waktu untuk saling bertukar cerita, dekapan, bahkan berahi. Saya benar-benar mencintai Mun, dan saya yakin begitu pula sebaliknya.

Tayangannya melompat! Wak Banudi menjerit-jerit, setelah saya diseretnya ke pekarangan rumah. Ini dia! Ini dia! Begitu teriaknya sebelum beberapa warga datang dan seketika menyodorkan pukulan, tendangan, juga hantaman benda-benda tumpul.

Saya tak melawan. Saya tak bisa melawan. Bahkan saya hilang kesadaran. Saya bangun saat mereka mengarak saya layaknya tawanan perang. Tangan saya terpilin tambang. Mulut saya tersumpal celana dalam. Saya sulit mengelak dari tuduhan Wak Banudi. Sebab mulut saya cuma mengeluarkan darah. Bukan suara.

Tayangannya terhenti! Inikah wajah kematian? Anehnya kesadaran saya tetiba kembali. Di dalam selokan, dari balik api yang mulai cemerlang, saya mendengar seorang wanita memanggil. Masih dengan sapaannya yang khas. Ingin sekali saya melihatnya. Tetapi gambar wanita itu samar-samar. Apa dia sedih? Marah? Ah, sulit sekali melihat wajahnya dari sini. Kepulan asap dari tubuh yang terbakar ini, menghalangi pandangan saya sendiri. Lucu sekali.

***

Penyulut Api

Malang betul Ibrahim, lelaki yang tengah kuguyuri bensin dan disoraki warga kampung ini. Mulanya, aku hanya spontan berlari ke arah sumber suara, yang ternyata berasal dari halaman rumah Wak Banudi.

Sebenarnya pun aku memang hendak datang ke rumahnya malam ini. Tapi alih-alih bertamu, aku malah datang untuk membagikan beberapa kepalan ke arah wajah Ibrahim yang saat itu sudah bertelanjang bulat.

Ini dia! Begitu jerit Wak Banudi yang diulanginya berkali-kali. Lalu beberapa warga juga datang dengan berlari sambil meneriakkan satu kata yang terdengar seperti sebuah julukan: Gondrong!

Ibrahim sempat pingsan, dan selagi dia tak melawan, Wak Banudi memintaku mencari seutas tali. Dia bilang di kandang belakang rumahnya ada tali bekas pengikat kambing, jadi aku setengah berlari pergi ke pekarangan belakang rumah Wak Banudi, lalu mendapati seorang wanita muda tengah tak sadarkan diri di atas dipan lebar beralas sarung kotak-kotak merah hati. Bak durian runtuh, wanita itu Mun Halimun! Bidan desa sekaligus wanita paling cantik di kampung ini, yang tentu sudah kuincar sejak lama.

Apa pun yang dilakukan Ibrahim sampai-sampai dia akan dibakar sedini hari begini, aku mestinya berterima kasih kepadanya. Dengan sukarela dia sudah menggantikan peranku sebagai buronan warga meski hanya semalam, dan menghantarkanku kepada buruan empuk: Mun Halimun!

*****

Editor: Moch Aldy MA

Regent Aprianto
Regent Aprianto kadang penulis, kadang jurnalis, kadang asam lambung naik. terima kasih

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

One Reply to “Api Ibrahim”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email