Dapur depan menghadap jalan. Jendelanya selalu terbuka, menangkap suara becak dan tawar-menawar pedagang sayur setiap pagi. Di dinding dekat pintunya tergantung foto pernikahan orang tua Wulan, hitam-putih, berdampingan dengan foto Wulan kecil memakai seragam SD. Satu galeri panjang yang tak pernah menyisakan tempat untuk wajah lain. Foto pernikahan Bimo dan Wulan sendiri baru dipasang belakangan, agak menyudut, seolah ditambahkan di luar rencana.
Dapur belakang, disekat dari gudang, hanya punya satu lubang angin sebesar telapak tangan, cukup untuk mengintip langit sepotong-sepotong. Di sana tak ada foto siapa-siapa.
Bimo menghitung dari lubang itu berapa lama hujan akan reda, sebelum akhirnya menyerah dan kembali menghitung yang lain. Uang di dompetnya.
Anak mereka, Nara, empat tahun, tidur dengan napas yang berbunyi seperti sesuatu yang menggesek permukaan kasar. Sudah seminggu. Wulan mengompres, memberi obat yang tersisa setengah botol, lalu ikut terjaga sampai larut, menghitung sesuatu yang sama dengan suaminya tanpa mereka bicarakan.
Malam itu, ketika suhu Nara tak juga turun, Bu Marni muncul di pintu kamar Wulan dan Bimo. Ia tidak bertanya apa-apa. Tangannya mengulur sekepal uang yang lipatannya sudah lecek, seperti sudah disiapkan sejak sore.
“Buat cucu saya,” katanya dalam bahasa Jawa, singkat, sambil menyerahkannya pada Wulan.
Bukan anak kalian. Bukan juga menyebut nama si bocah. Tapi cucu saya. Bimo tak yakin apakah itu cuma kebiasaan bicara orang tua Jawa yang tidak suka berterus terang, atau sesuatu yang lain. Tapi ia mendengarnya, dan tak pernah bisa melupakannya lagi setelah itu.
Kasih sayang kadang berbentuk tajam. Tanpa disadari, ia telah melukai.
Kalimat itu muncul di kepala Bimo entah dari mana. Mungkin dari novel yang pernah dibeli Wulan bertahun lalu, mungkin dari sesuatu yang ia karang sendiri malam itu. Ia tak lagi bisa membedakannya.
Di klinik dua puluh empat jam, lampu neon terlalu putih untuk pukul sebelas malam. Bimo duduk memandangi ubin retak di sudut ruangan, menghitung ulang, kali ini bukan uang, tapi berapa kali dalam setahun terakhir ia berdiri di ruangan seperti ini tanpa uang di kantongnya.
Di formulir pendaftaran, petugas menanyakan alamat. Wulan yang menjawab, refleks, menyebut nama jalan rumah orang tuanya, seperti alamat itu sudah menjadi bagian dari tubuhnya sendiri. Bimo tak pernah hafal betul nomor rumah itu, meski sudah dua tahun ia tinggal di sana. Setiap kali ditanya alamat oleh orang baru, ia selalu perlu jeda sepersekian detik sebelum menjawab, seperti sedang mengingat rumah orang lain.
Wulan duduk di samping Bimo, Nara tertidur di pangkuan ibunya, napasnya sudah lebih tenang. Tak ada yang bicara. Di luar, hujan mulai lagi, kecil-kecil, berkilauan, seperti ribuan jarum halus jatuh dari langit.
Beberapa hari kemudian, dapur depan menyala seperti biasa. Bu Marni menggoreng sesuatu, baunya menyusup ke seluruh rumah, termasuk ke dapur belakang tempat Bimo duduk memutar-mutar korek api. Kompor portabelnya kehabisan gas sejak dua hari lalu.
“Mas, sini bentar,” terdengar dari depan.
Bimo berjalan ke sana, berdiri di ambang, di titik yang selalu ia pilih. Cukup dekat untuk dipanggil, cukup jauh untuk mengurus usuran masing masing. Pak Marno, mertuanya, dulu pernah bercanda di depan tetangga, “Yo ngene iki nek duwe mantu lanang, melu bojone, dudu bojone melu dekne,” lelucon yang disambut tawa semua orang kecuali Bimo. Saat itu juga Bimo sadar, ia gagal sebagai laki laki.
“Bu, maaf, masih selalu merepotkan,” kata Bimo, pelan, tanpa direncanakan.
Bu Marni tidak menjawab. Ia mematikan api, mengambil dua piring beling dari rak. Rak yang sama yang menyimpan piring-piring lama, pemberian kerabat saat ia menikah dulu, puluhan tahun lalu, sebelum Wulan lahir. Lalu ia mengisi keduanya dengan tempe goreng, sama banyak. Satu ia sisihkan untuk dirinya. Satu lagi disodorkan ke tangan Bimo, tanpa kata.
Bimo menerima piring itu. Ia menunggu kalimat yang biasanya menyusul. Sesuatu yang diam diam tajam. Tidak ada. Bu Marni sudah berjalan ke ruang makan, membawa piringnya sendiri, meninggalkan uap panas yang perlahan naik dari tempe di tangan Bimo, mengembun di kacamatanya, mengaburkan pandangan sebentar.
Bimo berdiri di ambang pintu cukup lama, antara dapur depan yang terang dan dapur belakang yang menunggu di belakang punggungnya, piring hangat di kedua tangan, tanpa tahu ke mana sebaiknya ia harus melangkah.
Nara sembuh dalam seminggu. Ia kembali berlarian di antara dua dapur itu. Tak ada sekat pembatas bagi si bocah. Baginya hanya ada satu rumah, satu keluarga. Ia memanggil Bu Marni “Mbah Uti!” dengan mudah, tanpa pernah harus memikirkan dari sisi mana neneknya berasal.
Bimo tak pernah membicarakan lagi malam di klinik itu, atau piring tempe yang diberikan tanpa kata, atau kalimat cucu saya yang masih terngiang sesekali di kepalanya, tanpa ia pahami sepenuhnya kenapa. Ia menyimpannya begitu saja.
Malam itu, sebelum tidur, Bimo berdiri sebentar di pintu penyekat kedua dapur, mendengarkan suara jangkrik dari dapur belakang dan detak jam dinding dari dapur depan. Dua bunyi yang tak pernah benar-benar bertemu, meski jaraknya hanya satu helaan napas panjang.
(Bandar Lampung, 12 Agustus 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
