Pagi itu merupakan pagi sial bagiku, pagi yang akan merusak hari-hariku berikutnya. Pagi ketika aku menemukan dompet di pinggir jalan. Seperti kebiasaanku akhir-akhir ini, aku rutin berolahraga sebelum berangkat kerja pukul delapan pagi. Aku bekerja di sebuah mall di Makassar sebagai petugas loket parkir.
Saat ikut pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar di situ, dokter bilang aku menderita gejala obesitas. Aku diimbau mengurangi makan dan rajin berolahraga. Dokter memperingatkan jika obesitas bisa meningkatkan risiko diabetes, stroke, hipertensi, sampai jantung koroner. Sejak saat itu aku khawatir dan mulai memperhatikan pola makan serta rutin latihan aerobik seperti berjalan kaki.
Dompet kulit sintetis berwarna coklat itu aku temukan saat berjalan pulang. Teronggok di sisa jalan cor beton. Awalnya aku kira dompet itu kosong dan sengaja dibuang pemiliknya karena usang, sehingga aku berlalu begitu saja. Namun saat melirik ke belakang, ada sesuatu menyembul dari slot kartunya. Aku ragu sejenak, melihat sekeliling. Tampak sepi.
Di sepanjang jalan cor beton itu terdapat deretan rumah subsidi dan petak sawah yang tak lama lagi menjadi rumah hunian. Sesekali kendaraan yang mengangkut jualan melintas menuju pasar di kampung sebelah. Takut mencuri perhatian, aku lekas mengambil dompet itu dan memeriksa isinya. Ada kartu identitas, surat kendaraan, dan beberapa kartu yang tak sempat aku cek.
Dari identitasnya, aku tahu pemilik dompet itu seorang gadis berumur dua puluh lima tahun. Tiga tahun lebih muda dariku. Gadis itu bernama Ita Nur Endang, berasal dari kota sebelah. Saat itu juga aku dilanda pikiran dilematis, mengambil dompet itu lalu mencari pemiliknya atau menaruh kembali dompet itu dan melupakannya.
Namun, belum tuntas dengan pikiran itu, tiba-tiba timbul pikiran aneh di benakku—bagaimana jika pemilik dompet ini merupakan korban perampokan atau pembunuhan dan setelah pelaku mengambil semua yang bernilai, ia membuangnya begitu saja. Polisi bisa menjadikannya barang bukti dan jika diperiksa secara forensik maka sidik jariku ada di situ. Aku bisa diduga terlibat.
Pikiran semacam ini bukan tanpa alasan, akhir-akhir ini di kota kami tingkat kriminalitas yang didominasi aksi begal kerap terjadi. Bahkan statusnya sudah darurat. Setiap hari media-media lokal mewartakan aksi pembegalan yang tak jarang merenggut korban nyawa. Polisi dibuat sibuk. Hampir setiap malam sirine polisi dan ambulans terdengar dari kamarku. Aku lantas menaruh kembali dompet itu.
Namun, bukan berarti urusan dengan dompet itu beres. Sepanjang hari kepalaku dibayang-bayangi perasaan khawatir. Membayangkan bagaimana jika dugaanku benar. Aku dihantui rasa penyesalan telah menyentuh dompet itu. Aku berusaha mereda pikiran buruk itu dengan mencari informasi di internet. Mungkin ada berita yang menyinggung identitas si pemilik. Namun hasilnya sia-sia. Tidak ada informasi kehilangan ataupun kasus kriminalitas menyangkut dirinya.
Sepanjang perjalanan ke tempat kerja pikiran tentang dompet itu tak pernah tanggal, sampai-sampai bosku meledak-ledak karena aku datang telat. Dia perempuan awal empat puluh tahun yang belum menikah dan bersikap temperamental. Sedikit kesalahan bisa membuatnya naik pitam. Dari waktu ke waktu, pikiran dompet itu terus menggangguku, bahkan beberapa kali aku keliru menghitung kembalian uang parkir.
Aku berencana menceritakan ini kepada rekan kerjaku tapi kuurungkan niatku. Aku khawatir mereka akan menganggap sikapku berlebihan. Seperti menyaksikan bangkai kucing di jalan atau saat kamu mengenakan kaos kaki terbalik. Mereka tak akan peduli dengan hal sepele semacam itu.
Setelah pulang dari tempat kerja, aku memutuskan mengecek dompet itu. Aku berharap dompet itu sudah ditemukan pemiliknya atau paling tidak orang lain mengambilnya sehingga aku tak perlu khawatir. Langit semerah darah saat matahari mulai tenggelam, aku tiba di sana dan dompet itu masih teronggok di sisi jalan. Aku mengamankan dompet itu dan membawa pulang.
Saat di kamar, kupandangi dompet itu sambil menimbang-nimbang rencana selanjutnya. Kulit sintesisnya mulai terkelupas di sana sini. Kuperiksa satu persatu isinya tak ada yang kurang sejak terakhir kali kutinggalkan. Kupandangi foto pada identitas itu, wajah wanita itu seolah menyentuh ceruk hatiku. Ekspresinya datar namun ada sebuah daya tarik di situ.
Terlintas di benakku untuk mengunggah foto identitasnya dan membagikan di grup informasi kota ini. Itu mungkin cara paling mudah menemukan pemilik dompet. Maka tanpa berlama-lama kuraih ponsel dan memotret identitasnya. Kemudian kuunggah di grup dengan menambahkan keterangan kehilangan dan meminta pemilik menghubungiku melalui pesan langsung.
Namun, tak lama setelah ku unggah, berkelebat di benakku nasihat kawanku saat menceritakan pengalamannya. “Di zaman sekarang menolong orang mesti pilih-pilih.” Perkataan itu ada betulnya. beberapa pekan lalu, seorang pemuda jadi tersangka karena mengejar begal yang berusaha meloloskan diri setelah merampas kalung emas wanita lansia. Nasib sial menimpa begal itu, saat motor yang dikendarainya oleng dan menyeruduk tiang listrik. Ia tewas di tempat dan keluarganya menuduh si pengejar sebagai biang keladi.
Hal serupa itu bisa menimpa diriku saat menyebarkan informasi kehilangan ini di media sosial. Jika memang ini adalah aksi pencurian atau pembunuhan aku bisa saja diduga terlibat. Meskipun pun bisa lolos dari tuduhan itu, paling tidak waktuku akan terbuang karena harus bolak balik ke kantor polisi untuk kasih keterangan. Aku lantas menghapus unggahan dan untungnya belum ada yang menanggapi postingan itu.
Sebenarnya aku bisa saja singkirkan dompet beserta isi-isinya lalu melupakan semuanya. Namun aku prihatin kepada pemiliknya. Bagaimana jika isi dompet ini begitu penting baginya. Mungkin di luar sana pemiliknya sedang kesulitan mencari atau bahkan menyalahkan diri karena ceroboh. Selain itu, ada semacam ketertarikan asing saat melihat foto identitas itu. Aku dibuat bimbang apakah itu semacam ketertarikan imajinatif atau sebatas dorongan kemanusiaan.
Sepanjang malam itu kuhabiskan waktu memikirkan dompet itu. Keesokan paginya aku putuskan mengembalikan dompet itu ke tempatnya semula. Mungkin pemiliknya akan mengerucutkan pencariannya ke sana.
Kondisi pagi itu sepi seperti biasanya. Kusimpan dompet itu di pinggir jalan cor. Kupilih di sela rumput liar yang tumbuh tak terkendali agar hanya orang yang betul-betul niat mencari barang tercecer yang bisa menemukannya, bukan orang sekadar lewat.
Namun, sepanjang hari itu aku dilanda kekhawatiran jika dompet itu diambil oleh orang keliru. Tentu tak ada yang bisa memastikan pemiliknya akan lebih dulu menemukan dompet itu ketimbang orang lain. Aku sempat menyalahkan diri karena keputusanku itu.
Setelah berpikir matang, aku putuskan untuk mengambil dompet yang aku tinggalkan dan mencari langsung pemiliknya. Memikirkan dompet itu beberapa hari belakangan ini membuatku sering membuat kesalahan di tempat kerja. Hingga puncaknya membuatku dipecat.
Giliran piketku sudah hampir usai, sementara aku belum melihat batang hidung penggantiku. Aku ingin lekas pulang untuk memastikan dompet itu masih ada di tempat terakhir kali kutinggalkan. Aku tidak sabar menunggu rekanku hingga aku kecolongan lupa memeriksa surat kepemilikan kendaraan pengunjung.
Malamnya ketika aku di kamar memandangi seksama foto di kartu identitas itu, bosku menghubungiku jika salah satu pengunjung kehilangan sepeda motornya saat jam piketku. Esoknya aku diminta ke kantor untuk mempertanggungjawabkan itu.
Aku bersyukur karena aku tak perlu ganti rugi kehilangan, namun aku harus melepaskan pekerjaanku tanpa pesangon. Aku pulang dengan kesal, bosku tidak mempertimbangkan keterlambatan rekan pengganti piketku dan malah sepenuhnya menyalahkanku.
Di perjalanan, aku memikirkan masa depan dan menata hidupku selanjutnya. Mencari pekerjaan cocok tidaklah mudah. Aku khawatir masih bisa mendapatkan pekerjaan menjanjikan. Namun mengeluh hanya akan menyia-nyiakan waktu. Sebelum bergelut dengan kerepotan soal pekerjaan, saat itu juga aku putuskan untuk mencari pemilik dompet itu. Aku memacu kendaraan ke kota sebelah dengan menempuh waktu kurang lebih sejam.
Berbekal alamat di kartu tanda pengenal aku mengecek satu persatu lokasi yang aku lewati dari petunjuk peta digital. Sesekali aku menanyai orang di sekitar situ untuk mendapatkan lokasi tepat. Namun, tak ada seorangpun yang kenal dengan nama Ita Nur Endang. Saat aku ingin menunjukkan foto identitas kepada seorang pemuda. Tiba-tiba dompet itu hilang dari saku ranselku. Aku duga dompet itu jatuh sebab resleting ranselku tak tertutup sempurna.
Aku lantas menimbang-nimbang letak jatuhnya dompet itu. Aku kembali menelusuri sepanjang jalan. Namun tak kunjung ketemu. Tubuhku dibanjiri keringat, aku istirahat sejenak sebelum melanjutkan pencarian. Di sekitarku hamparan sawah membentang. Satu dua rumah berdiri jarang-jarang. Mobil dan sepeda motor sesekali berlalu.
Aku tak mungkin kembali dan melupakan semua begitu saja. Aku datang ke kota ini mencari pemiliknya lalu pulang dengan tenang. Pikirku. Kehilangan dompet ini semakin membuatku risau.
Aku hendak beranjak melanjutkan pencarian ketika seorang lelaki berusia sekitar enam puluhan menghampiriku. Ia sepertinya memerhatikanku sejak tadi.
“Apa kau kehilangan sesuatu. Dari tadi kau mondar mandir,” kata lelaki itu kemudian menurunkan cangkul dari pundaknya.
“Yah, aku kehilangan dompet, Daeng.”
Aku tak ingin mengakui jika dompet itu bukan milikku. Aku lelah jika harus meladeni sederet pertanyaannya.
“Seperti apa dompetnya, barangkali ada orang yang lebih dulu menemukannya. Aku tiap hari lewat sini jika ke ladang dan berpapasan banyak orang, mungkin aku bisa menanyakannya,” lelaki itu menawarkan.
“Warnanya coklat, Daeng,” balasku.
Lelaki itu mengangguk-ngangguk paham. Sebelum lelaki itu pergi, terlintas di kepalaku menanyakan nama di dalam identitas itu.
“Kalo boleh tahu, apa Daeng kenal dengan seseorang bernama Ita Nur Endang di sekitar sini?” Lelaki itu mengernyitkan kening seolah berusaha memeriksa jejak ingatannya.
“Ita Nur Endang Yah, tunggu dulu, sepertinya nama itu tak asing.”
Mendengar itu dadaku dipenuhi gemuruh kebahagiaan. Apakah kebahagiaan karena akhirnya urusanku dengan dompet ini akan selesai atau karena sebentar lagi aku bertemu dengan pemiliknya. Aku tak tahu pasti. Namun sebelum aku benar-benar menikmatinya lelaki tua itu melanjutkan.
“Ya aku kenal dia. Orang di kampung sini lebih mengenalnya dengan nama Daeng Kebo.”
Aku menduga itu sebabnya tak ada seorang pun yang tahu saat aku menyebut Ita Nur Endang.
“Aku bekas wali kelasnya waktu di sekolah menengah pertama dulu,” lelaki tua itu berhenti seolah merenungkan sesuatu, lalu melanjutkan “Sayangnya, dia meninggal sepuluh tahun lalu.”
Tiba-tiba aku merasakan perasaan ganjil. Kebahagiaanku tiba-tiba berubah menjadi sebuah keprihatinan atau kekecewaan atau keduanya.
“Apa penyebabnya?” Tanyaku penasaran.
“Entahlah, tidak ada yang tahu pasti, namun hari itu orang berdesas desus,” aku berusaha mencerna informasi itu sedikit-demi sedikit.
“Kamu kenalan Kebo?” Tanya lelaki itu meneliti.
Aku menggeleng. Namun karena takut menimbulkan kecurigaan aku mempertegas. “Maksudku dia satu sekolah denganku. Kami tidak akrab, hanya sebatas kenal.”
Lelaki tua itu memasang raut curiga. Aku memasang senyum berusaha menghindar. Lelaki itu mengangguk kemudian menunjukkan arah rumah Kebo sebelum akhirnya berlalu pergi ke arah kaki senja.
Aku memerhatikan tubuhnya yang disirami matahari semerah api perlahan hilang dari pandanganku, sementara itu perasaan ganjil terus bergemuruh di dalam dadaku. Seluruh kenyataan yang kuperoleh terasa berat untuk kutelan. Namun, dari semua kenyataan itu, hal paling membebani dadaku adalah aku tak akan pernah bertemu Ita Nur Endang.
*****
Editor: Moch Aldy MA
