Baca tulisan saya lainnya di akun Medium: tantridp

Yang Tak Diceritakan Pak Tua

Tantri DP

6 min read

Pak Tua sudah lupa apa cerita terakhir yang ia sampaikan kepada anaknya di meja makan. Mungkin cerita tentang kura-kura yang selalu berjalan lambat, tapi sampai ke tujuan dengan selamat. Atau cerita tentang seekor kancil yang suka mencuri timun di ladang pak tani. Pak Tua selalu berkata kepada istrinya, masa depan anak kita tumbuh dari meja makan. Dari cerita-cerita yang membawanya menjelajahi dunia. 

Namun, akhir-akhir ini Pak Tua tidak bisa bercerita. Sepanjang hari ia hanya diam. Sarapan – berangkat kerja – pulang. Istrinya bertanya-tanya mengapa ia jarang bicara. Pak Tua tidak menyahut. Bahkan saat sebelum tidur sang anak merajuk minta didongengkan, Pak Tua hanya meninggalkan kecupan di kening.

Rupa-rupanya, Pak Tua sedang dilanda kebingungan. Ia baru saja dirumahkan. Katanya, Pak Tua yang sudah uzur kurang gesit. Banyak anak-anak muda yang jauh lebih baik dan jago mengoperasikan komputer. Pak Tua sudah memohon kepada kepala sekolah, tapi ia berkata kalau saat ini sedang efisiensi. Negara sedang rugi besar-besaran. Jadi, hal ini juga berimbas pada sekolah tempat kerja Pak Tua.

Pak Tua menerima amplop terakhir, yang katanya pesangon, dari hasil patungan kawan-kawan kerjanya. Saat menyalami Pak Tua, semua orang menangis. Entah karena sedih atau takut. Takut kalau nanti mereka juga bernasib sama seperti Pak Tua.

***

Sudah satu bulan Pak Tua absen bercerita. Setiap pagi, rutinitasnya masih sama. Sarapan – berangkat (mencari) kerja – pulang. Istrinya tidak tahu kalau suaminya sudah tidak punya pekerjaan. Yang ia tahu, setiap hari Pak Tua masih memberikan jatah harian untuk memasak meski semakin hari jatah itu semakin berkurang. Namun, sang istri tidak mau bertanya.

Pak Tua rutin mendatangi tempat-tempat yang bisa memberikannya pekerjaan. Apapun ia kerjakan asalkan pulang membawa uang. Namun, usahanya hanya bertahan untuk hidup dari hari ke hari. Ia lupa kalau anaknya tahun ini lulus SD dan butuh biaya untuk mendaftar ke SMP. 

“Sandra butuh uang untuk karya wisata, Pak. Perpisahan dengan teman-temannya.”

Sore itu istrinya membawa kabar berita yang kian mencekik dompet Pak Tua. 

“Berapa?”

“Tiga ratus ribu, bisa dicicil enam kali.”

“Kapan acaranya?”

“Dua bulan lagi.”

“Nanti aku cari.”

Percakapan itu seolah-olah tidak menemukan akhir. Pak Tua memutar otaknya. Apa pekerjaan yang bisa ia dapatkan dalam waktu dekat. Mungkin ia bisa melamar ke sekolah lain untuk menjadi tukang kebun atau OB. Tapi, setiap kali ia mendatangi sekolah yang lain, alasannya sama. Efisiensi. Bahkan mereka berniat untuk mengurangi beberapa pegawai jika memungkinkan.

***

Di tengah kalut, Pak Tua menemukan satu tempat yang menjadi penyelamatnya. Ia membaca berulang kali spanduk di depan pasar.

Pinjam Mudah, Cair Cepat Tanpa Banyak Syarat.

Pak Tua mencari peruntungan. Setidaknya, ia bisa mendapatkan uang untuk saat ini. Ia melangkahkan kaki memasuki ruangan yang tidak terlalu luas. Terlihat dua orang perempuan yang terlihat tidak bersemangat. Seorang sedang sibuk memainkan ponselnya, seorang lagi sedang menguap lebar-lebar. Melihat Pak Tua yang mendekat, mereka langsung membetulkan posisi duduknya dan tersenyum dengan ramah. Meski dipaksakan.

Transaksi berjalan begitu cepat. Dalam waktu singkat, Pak Tua mengantongi uang dua juta rupiah. Ia pulang dengan bersiul-siul. Dompetnya kembali tebal, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana nanti cara mengembalikannya.

Sepanjang jalan, Pak Tua membeli banyak bahan makanan untuk dibawa ke rumah. Di dekat pasar, Pak Tua bertemu dengan seekor kucing belang yang bergelayut manja di kakinya. 

“Kamu lapar?” Pak Tua berjongkok dan mengelus kucing kurus tersebut.

“Meoooong….” kucing itu menyahut manja.

“Baiklah, karena aku punya rezeki hari ini, akan kuberi makanan.” Pak Tua tersenyum dan mengambil sepotong ikan yang tadi telah dibelinya.

Kucing belang itu berputar-putar dan mengeong tak sabar. Melihat ikan di depannya, kucing belang tersebut melahap tanpa memerhatikan sekitar. Pak Tua tersenyum dan meninggalkan kucing belang yang sedang menyantap makan siangnya.

Pak Tua kembali bercerita di meja makan. Anaknya girang mendengar cerita tentang kucing belang yang ditemukan ayahnya di pasar. Istrinya terlihat lega melihat suaminya sudah kembali seperti biasanya.  Hari itu, Pak Tua tidur dengan nyenyak.

***

Kini, Pak Tua memiliki jalan pintas. Setiap kali mentok, Pak Tua memilih berbelok untuk meminjam uang. Meski sudah diingatkan bahwa bunganya tinggi, Pak Tua memilih mengabaikan. Ia berjanji setelah ini pasti akan dapat kerja. 

Namun, lagi-lagi Pak Tua tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Bulan-bulan berikutnya, hidup Pak Tua menjadi tak tenang. Diam-diam Pak Tua mengais barang-barang berharga yang ada di rumah. Gelang dan cincin istrinya ia gadaikan. Demi menutupi utang.

Sayangnya, lubang yang Pak Tua gali sudah terlalu dalam. Dari satu lubang menjadi dua, tiga, empat, lima, dan entah sudah berapa banyak lubang. Pak Tua kebingungan. Sementara ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan. 

Sehari-hari, Pak Tua berdiam diri di pasar menjadi kuli panggul. Mencoba peruntungan dari orang-orang yang mau menggunakan jasanya. Belum lagi ia harus bersaing dengan kuli panggul yang lebih senior. Pak Tua juga menawarkan jasa cabut rumput, membetulkan genteng bocor, atau sekedar antar jemput dengan motor bututnya untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Bayarannya tak seberapa.

Istrinya mulai bertanya-tanya mengapa sang suami bekerja begitu keras. Pak Tua hanya berkata ia ingin menambah tabungan. Kebutuhan makin banyak, harga bahan pokok semakin tinggi, namun gaji segitu-segitu saja. Sang istri mafhum.

***

“Mengapa sekarang Ayah lebih banyak diam?” Sandra, anak Pak Tua bertanya ketika makan malam.

“Ah… sedang ada yang Ayah pikirkan.”

“Apakah hal itu harus dipikirkan saat kita makan, Yah?”

Pak Tua menggeleng sembari tersenyum.

“Aku ingin mendengar cerita Ayah.” Anaknya merajuk.

“Ayah sedang tidak punya cerita. Lebih banyak cerita tentang kesedihan akhir-akhir ini.”

“Ceritakan saja.”

Pak Tua menghela napas dalam.

“Lain kali Ayah ceritakan. Sekarang, kita selesaikan makan dan istirahat.”

Begitulah Pak Tua menghabiskan hari. Ia memilih menelan kesedihannya seorang diri. Tak perlu menambah beban pikiran anak dan istrinya, pikir Pak Tua. Sementara istrinya menjadi khawatir. Sebelum tidur, sang istri bertanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Namun, Pak Tua hanya memeluk istrinya erat. Seerat kenangan yang telah tercipta selama ini.

***

Bulan berikutnya, beberapa orang menyambangi rumah Pak Tua. Mereka menagih utang. Istrinya terkejut dan bingung menghadapi ancaman dari orang-orang tersebut. Sang istri menangis ketakutan dan memohon waktu untuk melunasi semua utang suaminya.

Pak Tua melihat hal itu dari balik bangunan tua yang berseberangan dengan rumahnya. Ia merasa begitu malu dan memilih tidak pulang ke rumah. Meninggalkan istri beserta anaknya. Ia berjanji akan pulang ke rumah ketika sudah mendapatkan pekerjaan dan mencicil untuk membayar utang-utangnya.

Istrinya menangis histeris. Pak Tua hilang entah ke mana. Setiap hari, ia menunggu Pak Tua pulang. Anaknya yang kini sudah masuk SMP, begitu terpukul karena kehilangan ayahnya. Belakangan istrinya tahu kalau Pak Tua sudah tidak bekerja sejak beberapa bulan yang lalu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang suami rela berutang. Terjawab sudah semua pertanyaan dalam benak sang istri, mengapa Pak Tua berubah.

Sang istri tidak bisa hanya berdiam diri. Demi menyambung hidup, ia kini berjualan sarapan di depan rumah dan menjual kue-kue basah yang dititipkan di kantin sekolah anaknya.

***

Pak Tua hidup terkatung-katung. Setiap hari, ia menyusuri jalanan demi mendapatkan uang. Kemejanya sudah lusuh dan sobek di beberapa bagian. Sepatunya mulai berlubang. Ia tidur di mana saja. Di pelataran toko, di masjid, atau di pasar. 

Saat sedang kelaparan, Pak Tua bertemu lagi dengan kucing belang. Ia teringat saat itu, kucing belang tersebut menyantap ikan yang ia berikan dengan lahap. Ah, bahkan hidupnya kini jauh lebih mengenaskan dibanding kucing belang ini. Kucing belang yang lucu, masih bisa mendapatkan makan hanya dengan bermanja-manja kepada orang yang lewat.

Kucing belang itu mendekat kepada Pak Tua yang duduk di pelataran toko.

“Aku tidak punya makanan. Aku pun sedang menahan lapar,” ujarnya sembari mengelus kucing belang.

Kucing itu hanya terus mengeong dan bergelayut manja kepada Pak Tua. Melihat tingkah kucing belang, kesepian yang Pak Tua rasakan sedikit terobati. Ke mana pun Pak Tua pergi, kucing belang itu mengikuti.

“Rupa-rupanya kau juga kesepian.”

Pak Tua tersenyum sembari menggendong kucing belang dalam dekapannya. Apakah kucing belang ini ditinggalkan induknya? Sudah berapa lama ia terpisah dari keluarganya?

Seketika Pak Tua teringat anak dan istrinya. Sedang apa mereka? Apakah mereka baik-baik saja? Namun, setiap kali rasa rindu membuncah, Pak Tua teringat utang-utangnya yang menggunung. Ia begitu pecundang. Sesak memenuhi dada Pak Tua. 

Saat kerinduan memenuhi hatinya, ia hanya bisa bercerita kepada kucing belang. Meski kucing belang itu sibuk menggaruk kuping, atau malah tertidur saat Pak Tua asyik bercerita.

***

Semakin hari, Pak Tua semakin hilang arah. Beberapa kali Pak Tua sengaja melintas di depan rumahnya, dan melihat sang istri sibuk berjualan di depan rumah. Jika beruntung, ia melihat anaknya yang menggunakan seragam putih biru membantu ibunya. Saat itu juga rasanya Pak Tua ingin menghambur, tapi perasaan bersalah menahan langkahnya.

“Mungkin sebaiknya aku pergi dari dunia ini saja,” ujarnya kepada kucing belang yang sedang menyantap sisa makanan dari tong sampah. “Sudah tidak ada yang membutuhkanku, hidupku juga sia-sia.”

Pak Tua ingin marah. Namun, ia tidak tahu harus marah kepada siapa. Terlalu banyak hal yang berjalan tidak sebagaimana mestinya, dan ia sudah terlalu lelah.

Dadanya bergemuruh hebat. Kemarahan dan penyesalan bercampur menjadi satu. Pak Tua menatap langit yang begitu cerah. Seandainya ia pergi ke sana, apakah Tuhan akan menerimanya? Kucing belang kini menjilat-jilat jemarinya.

Dengan putus asa, Pak Tua berjalan meninggalkan kucing belang. Tekadnya sudah bulat. Ia akan menyudahi semuanya sekarang.

***

Hari berganti malam. Jalanan sedikit ramai. Beberapa kendaraan tak sabar melintas. Bunyi klakson menyerang. Pak Tua berjalan lunglai menuju flyover tempat anak-anak muda menikmati pemandangan kota. Beruntung hari itu flyover sepi. Ada ada beberapa pedagang yang membereskan gerobaknya.

Pak Tua menatap lampu kota. Berkerlap-kerlip indah. Ia teringat anak perempuannya yang sangat ingin ke planetarium melihat bintang. Hingga saat ini bahkan ia tak bisa mewujudkannya. Ia juga teringat istrinya yang begitu senang menikmati udara malam. Berbincang di teras rumah sembari menatap bulan.

Kenangan-kenangan itu melintas begitu cepat. Pak Tua mengusap air matanya yang tumpah. Sesak di dadanya membuncah. Hidupnya hancur sudah. Dalam hitungan detik, ia siap melompat dari flyover menuju keabadian.

Sebentar lagi Pak Tua akan melebur dengan aspal jalanan. Pak Tua mengangkat satu kakinya. Angin malam menerpa wajahnya. Di bawah sana, terlihat lalu lalang kendaraan melintas cepat. Pak Tua memejamkan mata. Ia menggumamkan kalimat pengampunan kepada Tuhan. Kepada istrinya, yang begitu ia sayangi. Kepada anaknya, yang merupakan anugerah terindah dalam hidupnya.

Seketika bayangan istri dan anaknya muncul. Saat mereka tertawa di meja makan. Saat mereka menghabiskan hari-hari dengan sederhana. 

Satu langkah lagi, Pak Tua hampir mengakhiri cerita. Namun, ia mendengar suara nyalang yang seolah-olah sedang memarahinya.

“Meongg …”

“Meongg ….”

“Meongg ….”

Kesadarannya kembali. Pak Tua membuka mata. Ia terduduk di trotoar jalan. Tubuhnya lemah. Suara klakson masih bersahutan. Kendaraan tetap riuh. Lampu jalan masih menyala. Bintang dan bulan menyaksikan. 

Kucing belang itu menatapnya. Seolah ia memprotes. Entah menuntut makanan atau cerita. 

Seketika Pak Tua merasa berhak hidup satu hari lagi.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Tantri DP
Tantri DP Baca tulisan saya lainnya di akun Medium: tantridp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email