Rupa yang Membuatmu Belajar Duka

Fauziannisa Pradana Putri

2 min read

Di kehidupan selanjutnya, Ria ingin menjadi manusia yang bisa menerima cinta dengan mudah, tanpa tangis, tanpa tragis. Tapi, ibunya berkata, itu tidak mungkin. Ibu selalu bilang bahwa luka adalah bagian perjalanan.

“Kau harus tahu garam untuk mengenal asin, kau harus kenal sakit untuk mengenal bahagia,” tutur Ibu Ria selalu.

Itulah pegangan yang Ria kenang sejak kecil sampai saat ini ia menginjak kepala tiga. Tak seperti namanya, Ria tak benar-benar ceria sejak dulu. Bahkan, ia sering tertukar raut wajah gembira dan duka yang tergambar di wajahnya. Yang ia tahu, dengan wajah datarnya ia tetap bisa hidup. Walaupun, ujung-ujungnya ia perlu minum sertraline agar ia tetap merasa menjadi manusia. 

***

Seperti biasa kala itu di hari Senin, Ria akan mengenakan seragam kantornya. Seragam yang menjadi kebanggan keluarganya karena ia berhasil menjadi aparatur sipil negara, meski dalam lingkup kecamatan. Walaupun begitu, Ibu selalu bangga dengan jejak langkah Ria yang tak pernah mudah.

Menamatkan sarjana akuntansi tepat waktu hanya berbekal tenaga cuci dari Sang Ibu, seringkali Ria perlu membuka les tambahan untuk menambah uang jajan kuliah. Hanya saja, tak pernah Ibu tahu, bahwa Ria sudah berulang kali kelimpungan dengan tugas-tugasnya. 

Ria seringkali terganggu dengan ingatan yang membuatnya kesulitan untuk bekerja. Salah hitung anggaran dan keteledoran dalam mengevaluasi program kegiatan menjadi batu yang menghujam Ria. Bahkan, kali ini, ia segera meninggalkan meja kerjanya meski suara Ketua Tim terus memanggil-manggilnya dari belakang. 

Ia tak bisa menghadapi pekerjaan jika tangannya terus bergetar, pandangannya berair, dan pikirannya penuh dengan kesalahan. Ia tak bisa menahannya lagi setelah Ibu mengirimkan pesan padanya tentang Bapak yang meninggal. Tapi anehnya, Ria tak tahu perasaan apa yang ia alami, yang ia tahu ada beribu-ribu kerikil panas di dalam dadanya.

Berkali-kali ia hanya menekan tombol flush toilet. Mengingat terakhir kali Bapak memeluknya adalah setelah ia salah mengisi soal latihan Matematika. Semenjak itu, di usianya yang genap sepuluh tahun, Bapak tak menemaninya lagi mengerjakan PR sekolah, bahkan tak memeluknya di saat ia membutuhkan lengan yang hangat. 

***

Ria melangkah seperti kehilangan darah menuju pangkalan angkot terdekat. Tak peduli suara klakson di jalan pulang yang berseliweran seperti lalat, mata Ria hanya menatap angkot biru di ujung pandangannya, yang rasanya ia tak sampai-sampai di pangkalan.

Di saat orang sibuk untuk mengamankan kursi angkot, Ria hanya terduduk menikmati barisan penumpang. Begitu sesak di dalam tetapi masih saja ada yang ingin terus masuk. Ria mengembuskan napas panjangnya yang berat. Sekitar pukul sembilan malam, barulah Ria menaiki angkot menuju rumah. 

Ria sampai dengan melihat pemandangan Ibu di meja makan, menunggunya pulang. Makanan itu tampak mewah karena berisi, nasi kuning, ayam serundeng, orek tempe, dan tak terlupa sambal. Tampak lezat meski lidahnya sudah kelu dan perutnya sudah tak ingin mencerna apapun.

“Ayo Ria, kita makan, sudah dingin makannya. Ibu masak istimewa hari ini. Besok kita melayat Bapak ya,” ajak Ibu.

Ria mematung di ambang pintu dan berteman dengan benang-benang kusut di kepalanya. Ia melihat tak ada tanda kesedihan pula di mata Ibu terkait Bapak. Justru, Ibu seolah merayakan kematian Bapak dengan suka cita.

“Ibu, harusnya aku gak perlu tahu apa-apa lagi tentang Bapak,” ujar Ria datar 

“Kenapa, Nak? Itu pun Bapak kamu. Seenggaknya dia memberi kabar tentang kematiannya,” jawab Ibu seraya mengambilkan nasi di piring Ria.

“Seenggaknya dia gak ninggalin kita dari awal!” akhirnya letupan di diri Ria melonjak. 

Ia pergi meninggalkan Ibu di pinggir meja makan dan membanting pintu kamarnya. Itulah kali pertama Ria merasakan dadanya panas, mukanya serupa bara, dan meledak di hadapan Ibunya sendiri. Ia tak pernah mengerti bagaimana Ibu terlalu bersifat tak acuh terhadap semua yang menimpanya. 

Ibu mengetuk pintu kamarnya, tetapi tak ada sahutan dari dalam. Hidangan di meja makan itu dingin sampai pagi. 

***

Nisan berwarna kecokelatan seolah menyuarakan perpisahan paling dalam dan keheningan. Ria dan Ibu duduk di samping kuburan, tanpa suara. Hingga isak tangis Ibu terdengar pecah, mengalahkan suara burung di pohon kamboja. Barulah Ria menyadari bahwa Ibu pun bisa menangis. 

“Ria, kita terlalu lupa seperti apa tangis. Maaf Ibu sudah membuatmu melupakan perasaanmu sendiri ya,” ungkap Ibu yang masih bergetar, berusaha menguatkan diri.

Di lubuk hati Ria ia selalu merasa jika Bapak sering menemuinya dibanding istri keduanya, mungkin ia akan tahu seperti apa rasa cinta yang yang mengudara. Mungkin, ia akan tahu seperti apa rasanya mendapatkan sayang tanpa pamrih. Akan tetapi, wajah yang ingin ia temui selama ini justru membuatnya terluka terlalu lama sehingga saraf-saraf perasaannya memilih untuk berhenti bekerja. 

Tak Ria sadar, bulir matanya sudah jatuh perlahan. Deras dan menembus lapisan tanah di kuburan. Ia percaya, dengan cara itulah ia bisa tahu rasanya memaafkan.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fauziannisa Pradana Putri

Mati Bahagia

Rafael Yanuar Rafael Yanuar
5 min read

Hidup Selamanya

Rafael Yanuar Rafael Yanuar
8 min read

Anak-anak Para Dewi

Frans Jari Frans Jari
5 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email