Ia memegang anggur di tangannya. Menyeruputnya secara perlahan sambil melihat toples di depan wajahnya. Menarik senyum di bibirnya. Kemudian menyeruput anggur murah dalam gelasnya pelan-pelan. Menyalakan televisi. Mendengar warta berita, menggulirkan ponselnya dengan malas. Ia pernah dengar sebuah cerita bagaimana caranya membuat para Dewi turun ke bumi dan mengisi bumi dengan anak-anak mereka. Anak-anak itu akan bercahaya seperti kunang-kunang. Tidak akan padam. Dari luar terdengar pintu kamarnya diketuk berulang kali tidak sabaran. Mereka datang dengan seragam coklat-coklat.
Namanya Randi, laki-laki, akhir 30-an. Kehidupannya berjalan biasa-biasa saja di sebuah kosan kecil, sejak setahun belakang. Suatu hari ia pernah mendengar cerita cara membuat para Dewi turun ke Bumi. Katanya mereka bisa mengisi bumi dengan anak yang bercahaya warna warni di dilahirkan dari dalam toples-toples kaca, dari kumpulan tubuh perempuan.
Ada seorang perempuan yang menarik perhatiannya dalam sebuah iklan yang kadung lewat sebelum ditolak. Perempuan dengan wajah putih berseri, gigi yang rapi, senyum yang manis, alis matanya tebal dan bulu mata yang lentik. Dalam potret, Perempuan itu mengenakan terusan berwarna putih tulang. Ia penasaran. Maka sepulang kerja ia mengunduh aplikasi berwarna hijau yang ia temui waktu menggulir-gulir lini masa Instagram Randi memasang foto profil yang gemoy, tak lupa dengan baju biru muda yang baru ia beli beberapa hari yang lalu, menyisir rambutnya ke kanan, dan mengenakan kacamata hitam. Ia menggulir aplikasi kencan itu, ada yang membara dalam dada. Rasa penasarannya.
Setiap melihat banyak perempuan ia melihat sebuah mata, yang mengingatkannya pada seorang perempuan, yang pertama kali mengenalkan dunia padanya melalui rahim tempat pertama yang ia kenal. Perempuan itu suka memakai baju terusan dengan rumbai-rumbai berwarna putih tulang, alisnya tebal, lentik bulu matanya, bola matanya kecoklatan serta bibir yang penuh dengan lipstik warna merah maroon kesukaannya. Randi mengklik salah satu foto yang yang cocok. Ia menandai satu persatu yang membuatnya tertarik, dan paling tidak, memiliki mata yang enak dipandang.
Randi akhirnya cocok dengan seorang perempuan. Pertemuan pertama diadakan ketika mereka telah aktif bertukar pesan selama tiga hari. Randi dan Perempuan itu janjian di tempat biasa Randi mampir setelah pulang kerja. Perempuan itu memakai terusan putih tulang, alisnya tebal, bulu matanya lentik dan lipstik warna merah marun memolesi bibirnya yang ranum. Ia menuruti Randi. Sedang Randi, memakai baju yang sama dengan foto profilnya, bedanya ia tidak memakai kacamata hitam. Ia membawa tas punggung besar. Perempuan itu datang terlebih dahulu, melambaikan tangan dan tersenyum. Mereka mengobrol, menghabiskan kopi, dan memilih melipir keliling kota, melihat bintang-bintang gemerlap, dan mampir ke sebuah jembatan di dekat kos Perempuan itu. Mereka menepi, dan ngobrol lagi sampai larut malam, padahal besok harus masuk pagi. Pada pukul dua pagi, Randi pamit pulang.
Sampai di rumah, ia keluarkan toples dan sebotol anggur merah murah yang baru ia beli tadi sore. Ia mengisi air di dalam toples, kosong. Sambil menyesap anggur merah itu Ia bayangkan ikan yang ia tangkap akan dimasukan ke dalam toples dan berenang ke sana ke mari, akan lahir anak-anaknya yang bercahaya seperti kunang-kunang. Randi tersenyum. Meletakan toples itu dalam lemari kaca di dekat meja makan. Baru satu toples, yang ada di balik meja makan. Ia masuk kamar, mengambil pengisi daya ponsel dan mengisi daya, sebelum ia jatuh tertidur di lantai.
Ia bangun kesiangan, mandi dan berangkat kerja dengan terburu-buru. Ia bekerja di sebuah taman penitipan anak. Jangan tanya kenapa ia berakhir di tempat itu, semua surat lamaran telah ia tebar ke banyak tempat, berharap akan ada panggilan yang masuk tetapi apa mau dikata tak ada satupun hasil yang ia tuai. Dari media sosial ia temukan daycare ini. Di tempat ini hanya ada lima anak, dengan rentang umur yang tidak terlalu jauh, yah kira-kira tiga sampai lima tahunan.
Menjaga anak-anak membuatnya terlatih untuk lebih sabar menghadapi manusia yang rewel. Teriakan-teriakan, bagai kematian datang menjemput, jadi hal biasa baginya. Ia telah kebal dan nyaris mati rasa. Melihat anak-anak Randi jadi ingat dengan Ibu, ibu senang memakai gaun dengan rumbai-rumbai yang indah di dekat kaki. Matanya kecoklatan enak dipandang, bibirnya selalu berwarna merah, padahal ibu sering merokok. Ibu yang meninggalkannya di sebuah panti saat umurnya lima tahun.
Anak-anak berlarian. Kadang saling menjambak rambut. Suara tangisan terdengar, membuat darahnya bergejolak ingin ikut juga menjambak rambut anak-anak kecil itu dan membuat mereka menangis. Atau menusuk pipi mereka yang tembem itu biar bocor. Randi senang mendengar anak-anak menangis sebab ia sudah lama sekali tidak nangis. Tapi laki-laki tidak boleh menangis kan? Sedang akhir-akhir ini, ia sangat gembira hanya cukup dengan membayangkan anak-anaknya yang lucu. Anaknya bersama para Dewi. Yang bercahaya seperti kunang-kunang, ia tertawa besar-besar, orang menoleh padanya dengan bingung.
Pulang dari tempat kerja, ia akan menemui perempuan yang waktu itu. Tapi ia mampir sebentar membeli toples terlebih dahulu, memasukkannya ke dalam tas seperti biasa. Dalam pertemuan yang kedua ini, Mereka ngobrol lagi di bawah jembatan dekat kos Ratna, nama perempuan itu. Mereka berciuman pertama kali, rasanya manis, seperti rasa permen lolipop warna-warni yang dijual di toko oleh-oleh. Perempuan itu menarik diri, ada yang lepas dari dirinya. Randi ingin menarik perempuan itu kembali, memagut bibirnya, dan kalau memang bisa ia akan memberikan sepotong senja, mungkin bisa ia curi dari Sukab, mempersembahkannya pada Sang Dewi. Ia jatuh cinta, ia telah menemukan Sang Dewi. Randi mengeluarkan anggur merah murah yang ia beli dan sebuah gelas kecil dari dalam tasnya, menuangkannya dan memberikannya pada Perempuan itu. Ratna meminumnya. Mereka tersenyum dan berciuman lagi, Sang Dewi jatuh tertidur dalam pelukan anak manusia.
Setelah melihat sekitar, ia mengambil batu-bata dari dalam tasnya. Sebuah batu-bata sebesar genggaman tangan. Ia memukul kepala Sang Dewi tiga kali. Perempuan itu bangun sesaat sebelum Randi menusukkan pisau ke jantungnya berkali-kali. Tubuhnya banjir darah, ia mematahkan dua tangan sang Dewi, kemudian mengganti baju dan mengeluarkan karung goni yang telah ia persiapkan, memasukkan Sang Dewi ke dalamnya. Ia menyeret karung goni ke motor, mengikat dengan erat dan membawanya pulang ke rumah.
Kamar Randi hanya sepetak. Di dekat meja makan ada lemari kaca yang telah terisi beberapa toples yang telah berisi ikan-ikan hasil tangkapannya sebulan belakangan ini, ikan itu tidak bergerak sama sekali. Warnanya putih dan ekornya menjuntai. Cahaya keluar dari sana. Aroma baru dari toples membuatnya bersemangat. Aroma yang membuat darahnya mengalir lebih deras, aroma yang membuat tubuhnya jadi lebih ringan. Sebab ia jatuh cinta, Sang Dewi telah tertidur di dalam toples, cerita akan jadi nyata. Ia akan punya banyak anak yang bercahaya seperti kunang-kunang. Pemerintah tidak jadi repot, menyuruh perempuan punya satu anak.
Ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk. Ia mengambil ponsel. Mengecek berapa pesan. mengambil baju dalam lemari, baju kotak-kotak berwarna merah hitam. Senyum kecil tersungging di wajahnya. Dan ia mengganti foto profilnya. Ia tambahkan status “Pekerja keras, siap blusukan ke hatimu”. Kemudian ia kirim. Setelah merasa puas ia masuk ke dalam kamar melihat karung goni yang ada di bawah tempat tidurnya. Mengintip sebentar, dan putuskan untuk mengeluarkan isinya. Mengambil parang dari dapur dan mencincang tubuh perempuan itu. Aroma sang Dewi selalu jadi kesukaannya. Setelah selesai ia memasukan tubuh-tubuh itu ke dalam karung goni dan meletakkannya di bagian bawah kasur. Ia tersenyum dan segera tidur agar bisa bangun dan berangkat kerja.
Anak-anak di taman penitipan anak telah tidur, setelah makan siang. Maka Randi beristirahat sejenak, sambil membuka ponselnya, menggulirkan ponselnya dengan malas. Melihat-lihat gambar-gambar dalam aplikasi hijau itu, satu persatu. Dan mengirimkan suka banyak-banyak pada seorang perempuan dengan rambut bergelombang, baju terusannya yang rumbai-rumbai dan bibir merah yang berwarna merah marun. Mereka berhasil berteman. Iklan-iklan berita-berita berseliweran, beberapa Perempuan dua puluhan awal telah hilang beberapa bulan belakangan. Dengan ciri-ciri terakhir dilihat menggunakan baju putih terusan panjang, dengan rumbai-rumbai di bagian bawah kaki.
Kedua orang itu akhirnya bertemu di kamar kos Randi. Saat pertama kali masuk perempuan itu bersuara.
“Ini apa. Emm bau apa ini?” sambil menunjuk pada toples-toples yang berjejer rapi.
“Ah itu, Ikan. Lihat mereka menyapamu, ayo balas menyapa.”
Perempuan itu meneliti toples-toples itu, mengeluarkan ponsel dan memotretnya, mengunggahnya di media sosial. Namun Randi segera menyambar bibirnya dan mereka bercinta begitu dahsyat dengan perasaan yang meletup-letup. Kali ini Randi telah melakukan persiapan yang lebih matang dari sebelumnya. Ini sudah jadi sebuah ritual sehari-hari, yang biasa ia lakukan, ia mencekik perempuan itu sampai kehabisan nafas, mengambil karung goni, mematahkan tangannya dan memasukkannya ke bawah tempat tidur. Bergabung dengan beberapa karung lainnya. Jumlah toples-toples kaca itu bertambah. Lemari kaca itu jadi ramai. Warna-warni. Ia melihat anak-anaknya akan keluar dari toples-toples itu, menetas seperti telur, menggeliat dan memandangnya. Dengan dua bola matanya yang kecil, mereka bercahaya seperti kunang-kunang. Ia mengadakan sebuah perjamuan dengan anak-anaknya yang memiliki cahaya seperti kunang-kunang.
Para Dewi telah turun ke bumi. Randi menyesap anggurnya, dari luar angin menerbangkan daun-daun kering, suara televisi terdengar, bahwa para perempuan harus waspada, jika keluar wajib memakai pakaian yang tertutup sesuai dengan peraturan pemerintah yang baru saja dikeluarkan. Warta berita mengabarkan, mengenai hilangnya perempuan-perempuan belakangan ini, penemuan-penemuan mayat, dan sebuah potret aneh yang beredar di internet. Dengan toples-toples yang dipajang di sebuah lemari kaca. Maka untuk menjaga stabilitas negara, pemerintah mendorong perempuan melahirkan satu anak perempuan.
Pintu kamarnya diketuk oleh seorang perempuan, dengan baju tidur terusan warna putih tulang. Randi membuka pintu menatap matanya dan bertanya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf mas, tolong kalo malam-malam jangan motong daging dan sepertinya di kamar masnya ada bangkai tikus deh, baunya ke mana-mana. Jaga kebersihan ya mas.”
Randi mengangguk, perempuan itu berbalik dan masuk kamar.
*****
Editor: Moch Aldy MA
