Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Mati Bahagia

Rafael Yanuar

5 min read

Ketika saya membuka mata dari tidur dangkal yang gelisah, saya mendapati pemandangan di luar jendela sudah menjauh dari gedung-gedung dan rumah-rumah. Sejauh mata memandang hanya bulir-bulir padi yang terlihat. Beberapa di antaranya sudah menguning, beberapa lagi malah memasuki masa panen. Petani-petani dengan punggung legam mengilap tengah merunduk membelakangi Matahari.

Setelah sawah terakhir menghilang ditelan jarak, bus sampai di pinggiran kota yang trotoarnya dipenuhi terpal. Di atas terpal yang semuanya berwarna biru ada banyak sekali padi.

Saya sama sekali tidak tahu di mana saya berada.

Di sebelah saya bangku kosong.

Di seberang kanan, ada ibu dan anaknya yang sedang bermain boneka gajah. Ingin rasanya saya bertanya kepada sopir, atau siapa pun yang duduk di kursinya masing-masing dengan urusannya sendiri-sendiri, tetapi kemudian saya ingat kalau ada yang namanya ponsel—Anda mungkin terkejut, tapi adakalanya saya lupa.

Dan dengan ponsel yang sudah berusia lebih dari satu dekade itu—yang aplikasi Youtube-nya tidak lagi bisa digunakan sebab sudah terlalu kuno, saya mencari tahu lokasi tempat saya berada. Saya mengetik di kolom pencarian. Hei, Google, di mana saya? Ternyata masih di daerah Gubuk, masih jauh dari desa Kalayangan, malahan baru jalan satu jam-an sejak berangkat dari stasiun kota. Harusnya pun saya sudah sadar sedari awal, soalnya Matahari masih bertengger anteng di langit, padahal estimasi tiba bisa menjelang tengah malam, kecuali bus ini entah bagaimana memasuki portal antardimensi. Ditambah pula, Gubug bukannya jarang saya lewati. Malahan, hampir setiap minggu saya mengunjunginya, saat harus menawarkan keramik ke toko-toko yang tersebar hingga daerah Jati dan Maya. Karena bukan hari libur, hanya sedikit penumpang yang ada di dalam bus, tetapi tidak kopong juga. Kebetulan saya mendapat kursi kosong. Beruntung.

Saya harus sering-sering mencatat keberuntungan, soalnya saya sering sial. Sering banget, malah.

Ini kepulangan pertama saya sejak membumikan orang tua saya di permakaman setempat, di desa Kalayangan, karena Covid 19. Dulu itu—tiga tahun lalu, belum dulu-dulu amat—sulit juga untuk pulang, kudu dicucuk hidung, siapa tahu saya terdampak. Tapi syukurlah hasilnya negatif. Aman sentosa. Masih jelas dalam ingatan, pagi yang nahas, pada pukul empat subuh, telepon berdering. Tidak ada pertanda, sasmita, atau apa pun, tahu-tahu saya mendapat kabar kalau saya sudah jadi yatim piatu. Bik Mirah yang menelpon—atau siapa? Saya lupa. Saya yang belum benar-benar sanggup mengolah informasi itu hanya berkata ya, ya, ya oke, oh begitu ya. Lalu telepon pun saya matikan. Saya tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Saya bahkan tidak menangis. Oh, jadi Ibu sudah enggak ada, ya. Begitu saja. Lalu saya berbaring, saya sepertinya tidur, tapi tidak yakin juga. Saya seperti wadah kosong yang kehilangan jiwa—atau sesuatu yang saya anggap jiwa. Ibu dan Ayah hidup seolah-olah hidup selamanya, tidak pernah saya temukan dalam keadaan sakit. Tapi toh mati juga. Saya buru-buru meminta izin kepada bos tempat saya bekerja, dan ia langsung mengizinkan, lagipula sudah beberapa waktu toko sepi. Saya Work from Home—atau WFH—dari telpon ke telpon. Semenjak itu, rumah di desa tidak ada yang menghuni. Bik Mirah pun sudah dibebastugaskan. Entah seperti apa keadaannya sekarang. Saya pun tidak berencana bermalam di rumah. Terlalu banyak kenang-kenangan yang menyesaki benak, apalagi saya sudah bisa disebut orang gagal. Pulang ke rumah itu seperti mengakui kekalahan. Buat apa juga? Toh tidak ada yang tersisa di sana.

Lantas untuk apa pula saya pulang?

Saya pun entah, tidak bisa menjawabnya. Ini hanya keputusan impulsif. Semenjak permakaman itu, hidup saya jadi lebih impulsif daripada biasanya, tidak ada pertimbangan yang berarti, tidak harus bernas bahkan. Memangnya, setelah orang tua mangkat, masih ada yang boleh saya katakan punya arti? Saya kehilangan tujuan, kehilangan jalan, kehilangan apa pun. Bahkan, saya pun kehilangan kehilangan itu sendiri. Orang yang tidak punya tujuan ya bisa disebut orang gagal. No Longer Human, kata Osamu Dazai.

Bagian yang berisi padi-padian sudah lenyap, digantikan pemandangan membosankan yang isinya rumah-rumah kumuh. Bus ini tidak lewat jalan kota, jadi pemandangannya ya begini-begini saja. Saya pun menutup tirai, agar tidak terlalu silau, berharap bisa tidur lagi. Berharap saat saya bangun, saya sudah sampai di stasiun Kalayangan. Tetapi mata saya tidak mau memejam. Jadi, saya mengambil buku dari dalam tas—saya membawa beberapa buah buku, kalau-kalau saya butuh bacaan. Ada Kejahatan dan Hukuman karya Fyodor, tetapi yang versi abriged, diterbitkan Obor. Sempat jadi barang langka, tetapi saya mendapatkannya seharga sepuluh ribu saja.

Di dalam buku ada selipan nota, ditulis tangan. Mulanya saya kira semacam nota kelontong, tetapi ketika saya membaca tulisan di atasnya, saya mendapati judul buku yang sekarang saya baca. Di mana kiranya pemilik lama membelinya? Tentu bukan di toko buku konvensional sepeti Gramedia atau Gunung Agung—yang saat ini pun sudah almarhum. Toko-toko itu menggunakan nota cetak dengan tinta matahari. Sementara di nota yang saya pegang ditulis dengan pulpen, tidak ada keterangan lain, selain tanggal pembelian, judul buku, dan harganya. Beginilah yang tertulis di selembar kertas itu:

1 Kejahatan dan Hukuman (Fyodor Dostovesky)                39000

Pada bagian atas nota, ada tanggal. 11/07/2007. Angka 20, yang digunakan sebagai penanda tahun, dicetak di kertas faktur, tetapi angka 07-nya ditulis dengan tangan. Di bawah harga, ada garis lurus yang jatuh ke kolom total—jumlahnya tentu sama, 39000,-. Kemudian ada semacam paraf di sebelah kiri total, menyerupai huruf A besar, dengan garis horizontal melampaui bagian segitiga. Yang membuat saya tertarik adalah si pemilik toko mencantumkan nama penulis, bukan hanya judul. Judulnya pun tidak disingkat.

Pemilik lama juga menjadikan karton rokok Jisamsu yang sudah dipotong seukuran bookmark untuk menandai halaman. Karton rokok itu ada di halaman 400. Entah apakah ia baru membacanya hingga halaman tersebut, kemudian memutuskan menjual atau menyimpannya, atau ia hanya menyelipkannya secara acak-asal sehabis mencapai kata TAMAT. Tapi rasanya sayang juga kalau dia berhenti di halaman 400—tinggal 48 halaman lagi novel ini selesai.

Ah, rupanya ada satu artefak lagi, yakni semacam kartu nama, tetapi kecil saja. Sebuah toko buku. Resist Book, namanya. Apakah ia membelinya di sini atau di tempat lain? Pertanyaan itu mengawang-awang dalam kepala saya sehingga sulit sekali rasanya untuk fokus pada cerita, padahal bahasanya pun tidak berat-berat amat—bagaimanapun, ini hanya versi abridged. Sopir bus dan keneknya menyetel lagu-lagu lama yang meskipun nadanya mellow, tetap saja membuat telinga saya berdengung. Saya menyumpal telinga dengan pelantang suara, tetapi tidak memutar apa pun.

Syukurlah, tidak lama kemudian, tepatnya saat menjelang magrib, televisi meredup dan yang tersisa tinggal derum mesin yang terpendam. Bus berhenti di sebuah restoran pinggir sawah. Namanya Sudi Singgah Anjasmara. Saya tidak tahu maksud kata Anjasmara di belakang nama restoran itu. Saya teringat kenalan saya, Anton. Ia juga tinggal di kota ini. Saya menghubunginya lewat WhatsApp. Tidak lama setelah saya mengirimkan sepatah pesan, dia langsung membalasnya, dan menawarkan untuk berjumpa. Ia baru saja berhasil menjadikan coretan-coretannya sebagai produk. Sebuah kumpulan puisi. Judulnya Di Pelabuhan Kecil, persis judul puisi Chairil Anwar. Katanya ia ingin mengantarkannya langsung kepada saya. Ia sudah ingin mengirimkannya, tetapi karena masih miskin, menanggung biaya cetak dan ongkos kirim ia tidak sanggup. Saya menjawab tidak perlu, lagipula semua puisinya bisa saya baca di blognya yang sudah diasuhnya selama sepuluh tahun lebih, tetapi pembacanya tidak berkembang dari tahun ke tahun. Ia mengeluh, “Untuk jadi penulis di negeri prihatin ini, kudu pandai-pandai promosi, kudu pinter pamer. Pokoknya kudu segala, kecuali nulis yang baik!”

Saya iyakan saja kata-katanya. Sekurang-kurangnya lima belas menit kemudian, ia memasuki bagian depan rumah makan, mengendarai motor yang usianya sudah setua waktu, tidak mengenakan helm, tidak berdandan juga. Saya bergegas turun. Kami tidak bersalaman dan langsung saja ia menyerahkan buku puisinya yang dibungkus keresek hitam.

“Ada tandatangannya, Bung?”

“Halah, kek artis aja!”

Saya membayarnya dengan sebesek tahu sumedang yang dia terima dengan semingrah, “Kesuwun, Bos!” Ia minta tambah lontong.

Saat bus bergerak, jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Saya makan tiga potong lontong dan sepuluh tahu goreng. Saya mengambil buku Di Pelabuhan Kecil. Penulisnya Yudha Asmara. Penampilannya boleh urakan seperti preman di lampu merah, tetapi busana bahasa yang dikenakannya sopan dan lembut sekali, seperti ditulis dengan berpenerangan lilin mawar di balik jendela kamar lantai dua, yang kalau hujan terasa seribu kali lebih romantis.

Adinda, jika puisi tiada

bolehkah kupinjam kata-kata

yang kausimpan dalam dada?

Semacam itu.

Kalau diingat-ingat, sudah lama sekali saya tidak merasakan nikmatnya mengelupas segel plastik buku baru. Sejak masa pandemi, saya lebih sering membeli buku-buku bekas, lewat marketplace seperti Tokopedia dan Shopee.

Udara di luar jendela gelap sempurna. Jalan berkelok-kelok. Lampu depan bus menjadi satu-satunya penerang, lampu jalan jarang-jarang. Rembulan bersembunyi di belakang mendung—terasa kabut pun akan jadi hujan. Saya mengecek jam di pergelangan tangan, sudah lewat pukul 21.00. Saya lupa membawa jaket, padahal suhu di desa Kalayangan bisa jatuh di angka belasan. Saya tidak tahu berapa lama lagi saya harus duduk di bus ini. Tetapi jika jadwalnya sesuai, tidak jauh lagi saya akan tiba di terminal. Dari terminal, saya harus menaiki metro, tapi saya tidak terburu-buru. Kalau tidak salah, ada penginapan sales di dekat perhentian bus yang harga per malamnya murah, dan ada pijat kelilingnya juga. Dengan metro, masih butuh satu setengah jam untuk sampai di Kalayangan. Saya bisa berangkat esok paginya—mungkin agak siang.

Saya selipkan buku Di Pelabuhan Kecil di kantung belakang bangku. Saya menyumpal telinga dan mendengar sebuah lagu. Saya memutuskan menaruh kembali botol air tanpa meminumnya.

Forever is a flame that lights a fleeting time

Sweet illusion to die happily.

(Selasa, 19 Mei 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rafael Yanuar
Rafael Yanuar Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email