Saat Maskanah Menyambut Kekasihnya

Fena Basafiana

3 min read

Hari ini telah tiba. Hari di mana Maskanah kembali kepada Kekasihnya. Setelah hampir dua minggu hanya mampu berkegiatan di atas ranjang kasur: makan, minum, buang air kecil, dan buang air besar. Bukan karena ia mengidap suatu penyakit, tapi tubuhnya sudah sangat renta. Tulangnya yang rapuh tak lagi mampu menopang tubuhnya yang telah senja, hampir sembilan puluh tahun, untuk bergerak seperti biasa.

Pada suatu subuh, napas Maskanah terpenggal-penggal dan tak sadarkan diri. Di sekitarnya telah berkumpul anak-anak, cucu-cucu, dan beberapa tetangganya. Semua melafalkan kalimat tauhid dan syahadat sambil menangis. Mendoakan yang terbaik bagi Maskanah.

Namun sebenarnya, di tempat yang tidak diketahui oleh mereka, Maskanah sedang mencari jalan untuk bertemu Kekasihnya. Ada sesuatu yang ingin Maskanah minta. Di antara kegelapan, Maskanah berjalan meraba mengikuti setitik cahaya yang terbang menjauh. Namun di tengah perjalanan, dua sosok gagah menjegat langkahnya.

“Aku ingin bertemu Kekasihku! Aku ingin meminta sesuatu sebelum benar-benar kembali kepadanya.” tegas Maskanah.

“Kalau kau bertemu Kekasihmu berarti kau tidak bisa bertemu keluargamu lagi.” Jawab salah satu sosok gagah yang menjegatnya.

“Tapi aku masih ada satu permintaan lagi.” Maskanah kecewa.

“Memang apa permintaanmu? Jika permintaanmu bagus, kami bisa mengabulkannya. Kami adalah asisten Kekasihmu. Artinya kami sedikit-banyak bisa berbuat sesuatu atas kehendak Kekasihmu.”

Wajah Maskanah seketika berubah semringah. Ia dengan mata menyala menjelaskan permintaannya. “Aku sangat bersyukur atas kehidupan yang diberikan selama ini. Keluargaku selalu menjaga dan menyayangiku. Hatiku telah dipenuhi keberkahan. Aku merasa sudah siap bertemu Kekasihku. Tapi tiba-tiba aku punya satu permintaan terakhir. Aku teringat salah satu cucu perempuanku yang suka berkhayal. Aku menginginkan suatu tanda kebaikan di hari kepulanganku nanti. Sepertinya, ia bisa membaca maksudku.”

Tak lama kemudian, kedua sosok gagah itu mengangkat kedua tangannya. Seperti melafalkan mantra, pikiran mereka masuk ke pikiran Maskanah untuk menelusuri permintaannya.

***

Maskanah berasal dari generasi terdahulu yang hidup di masa setelah penjajahan dan berada di kelas bawah. Jika dibandingkan dengan kemajuan zaman sekarang, banyak hal yang tidak ia ketahui dan kuasai, salah satunya memotong kuku menggunakan pemotong kuku. Sebelumnya, Maskanah terbiasa memotong kukunya menggunakan silet.

Ia sering meminta cucu perempuannya untuk mengguntingkan kuku tangan dan kakinya. Di sela itu, cucu perempuannya suka bertanya banyak hal tentang masa mudanya yang susah. Maskanah adalah satu-satunya anak yang tidak disekolahkan. Ia harus membantu orang tuanya berjualan supaya adik-adiknya bisa bersekolah, tidak seperti dirinya.

“Kamu kan sekolah sampai tinggi, kasih tahu Nenek, kalau nanti meninggal dunia dan dikuburkan, kita bakal ditanya apa saja sama malaikat?”

Cucu perempuannya yang sedang mengguntingkan kukunya langsung terkejut. Untung saja pemotong kuku tersebut tidak mengenai daging di bawah kuku neneknya. “Nek, di alam kubur nanti, kita akan didatangi Malaikat Munkar dan Nakir. Mereka akan menanyakan enam hal: Siapa Tuhan kita, siapa Nabi kita, apa agama kita, apa kitab suci yang kita baca, ke mana kiblat salat kita, dan siapa saudara-saudara kita. Hebatnya, yang menjawab pertanyaan itu nanti bukan lisan kita, melainkan iman dan amal ibadah kita selama hidup di dunia. Aku yakin, Nenek pasti tenang di alam kubur karena selama ini Nenek rajin salat, mengaji, berbuat baik ke banyak orang termasuk mengurus aku sewaktu kecil.”

Jawaban itu membuat Maskanah tenang. Ternyata tidak harus sekolah untuk bisa masuk surga. Tidak pula harus menyiapkan jawaban paling bagus agar dipersilakan masuk ke dalamnya. Jawaban tersebut meyakinkan Maskanah untuk semakin siap bertemu Kekasihnya. Momen tersebut membuat Maskanah menginginkan permintaan terakhir.

Maskanah menginginkan proses kematiannya berjalan tenang. Ia ingin membagikan sebuah keyakinan kepada keluarganya bahwa kematian adalah bagian dari kebaikan, bukan sesuatu yang menakutkan.

***

Saat Maskanah masih tak sadarkan diri, orang-orang sekelilingnya terus melafalkan kalimat tauhid dan syahadat. Salah seorang cucu perempuannya yang suka berkhayal itu turut melafalkan tauhid sambil terus memegangi kaki, tangan, dan kepala neneknya untuk memeriksa suhu tubuh neneknya. Ia pernah mendengar bahwa saat seseorang menjelang ajal, suhu tubuhnya akan mendingin mulai dari ujung kaki hingga merambat ke kepala. Sementara putri Maskanah yang berusia 61 tahun mulai membacakan Surat Ar-Ra’d.

Lantunan Surat Ar-Ra’d diyakini dapat membantu melembutkan proses perpisahan ruh dari jasad, membawa ketenangan bagi siapa pun yang berada di ambang kematian. Orang-orang di sekeliling Maskanah berharap, meskipun Maskanah tak sadarkan diri, indra pendengarannya tetap menangkap dan terpaut pada nama Sang Kekasih.

Tak lama kemudian, cucu perempuannya mulai merasa hampir seluruh tubuh nenekya dingin dan kaku. Hembusan napasnya yang terpenggal tak lagi terdengar. Sebuah pertanda bahwa waktunya telah usai. Cucu perempuannya menyaksikan dengan jelas detik-detik terakhir itu: dengan tenang Maskanah mengernyitkan dahi di antara lipatan kulit wajahnya yang kisut, lalu perlahan menggerakkan bibirnya seperti sedang menelan.

“Nenek menelan kefanaannya untuk mencapai keabadiannya.” Gumam cucu perempuannya. Berakhirlah dunia Maskanah.

Semua berkabung. Tangisan halus saling bersahutan memenuhi ruangan. Namun bagi keluarga inti, mereka hampir tidak sempat menangis berlama-lama karena harus mengurus jenazah Maskanah mulai dari memanggil ustaz dan amil untuk memandikan, mengafani dan menyalati, mengabari kerabat jauh, menyiapkan liang lahat, hingga menyalami para pelayat.

Anehnya, di sela kesibukan itu, seekor kucing putih mendadak masuk ke rumah. Beberapa orang sudah mencoba mengusir atau membawanya keluar, tetapi kucing itu terus kembali. Ia bahkan menggulungkan tubuhnya di samping jenazah Maskanah, seolah ingin mengajak orang-orang di sana bermain. Kehadiran kucing itu mendadak membuat cucu perempuannya yang suka berkhayal teringat masa lalu—saat Maskanah pernah membuang kucing kesayangannya.

Dulu, cucu perempuannya pernah memelihara seekor kucing liar. Baginya, kucing itu adalah hiburan saat hatinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, kebiasaan kucing itu yang sering buang air sembarangan dan menyebarkan bulu di berbagai tempat membuat Maskanah geram. Akhirnya, Maskanah menyuruh seorang tetangga untuk membuang kucing tersebut dengan memberinya upah.

Selang beberapa hari, cucu perempuannya mulai heran karena kucing itu tak kunjung pulang. Padahal biasanya, kucing itu selalu meminta makan kepadanya setiap hari. Seminggu kemudian, tetangganya mengaku kalau ia membuang kucing kesayangannya atas perintah Maskanah. Tentu saja cucu perempuannya marah dan merajuk. Sebagai bentuk kekecewaan, ia tidak pernah menyahut setiap kali Maskanah memanggilnya.

Kenangan tersebut membuat fokus cucu perempuannya buyar. Tubuhnya bergetar. Ia merasa bahwa kucing di hadapannya adalah sosok utusan. Cucu perempuannya berpikir, barangkali kehadiran kucing putih saat neneknya berpulang adalah pertanda bahwa neneknya telah pergi dengan tenang. Kucing itu tampak begitu riang—menggulungkan tubuhnya, menggesekkan bulunya ke kaki orang-orang, lalu melompat lincah di tengah ruangan yang sedang diselimuti duka.

Kehadiran kucing putih tersebut terus menghangatkan suasana di rumah yang ditinggalkan Maskanah sampai hari ketujuh. Setiap malam tahlilan, kucing itu terus bertingkah lincah—yang mungkin bagi sebagian orang terasa cukup mengganggu. Namun bagi cucu perempuannya kondisi itu sangat menenangkan. Ia tak habis pikir, neneknya bisa begitu pandai menyampaikan permintaan kepada Kekasihnya: menghadirkan seekor kucing putih di tengah suasana duka.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fena Basafiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email