Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Hidup Selamanya

Rafael Yanuar

8 min read

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saya meninggalkan desa Kalayangan. Tetapi masih jelas dalam ingatan, hari-hari bersahaja yang saya alami di sana. Barangkali karena saya rajin menyimpannya di catatan harian. Dulu, setiap kali libur panjang, seperti Idulfitri, Natal, Tahun Baru, dan kenaikan kelas, Ibu Lestari, guru bahasa Indonesia di SD Malam Kudus, menugaskan kami menulis diary. Tapi, bahkan setelah masuk pun, saya menjadikannya rutinitas yang saya tekuni hingga sekarang—terkadang dengan menambahkan tanggal, terkadang tidak.

Pada mulanya, saya hanya menulis laporan, apa yang saya makan, minum, kerjakan, atau pikirkan. Namun, perlahan-lahan, saya mulai menambahkan gambar. Semakin sering saya menggambar, semakin baik pula hasilnya, sekalipun hanya gambar Goku dengan berbagai transformasinya yang saya bisa. Di kemudian hari, catatan-catatan itu menjadi harta berharga yang selalu saya bawa ke mana-mana. Apalagi semenjak saya lulus SMP, saya selalu berpindah-pindah tempat tinggal.

Kamar saya di desa Kalayangan terletak di lantai dua. Jendelanya menghadap permakaman yang saat malam menjelang, suhunya jatuh di angka belasan derajat celsius. Bahkan, sejak terang hari pun sudah terlihat sayup-sayup embun yang tumbuh menjelma halimun berekor panjang, yang lantas bertambah besar seolah sanggup memamahbiak batu-batu. Saya suka memandang pertumbuhan halimun lama-lama, dengan kursi bakso yang saya ambil dari dapur, dan tidak pernah saya kembalikan. Di kamar, tidak ada kipas atau AC, tetapi saya tidak membutuhkannya, bahkan pada musim panas. Saya hanya perlu membuka jendela, dan udara sejuk pun menyesaki ruang.

Saya juga menyukai kegelapan, jadi sebisa mungkin, saat terang masih ada, saya mengerjakan apa pun yang dapat dikerjakan, agar saat malam menjelang, saya dapat segera mematikan lampu dan berpura-pura menjadi manusia purba pemburu-peramu ketika unggun tinggal lelatu. Jika teman-teman menghabiskan waktu dengan menonton Kera Sakti dan Gerhana—yang keesokan paginya menjadi obrolan seru di meja kelas—saya lebih suka memandang langit yang mulai ramai didatangi bintang. Di daerah rumah kami tidak ada lampu jalan, sehingga tidak ada polusi cahaya yang menghalangi jalan bintang-bintang untuk mencapai mata saya.

Pada mulanya, saya takut kepada permakaman, “tetangga” kami itu, apalagi teman-teman di sekolah mewanti saya untuk berhati-hati, sebab di sana banyak hantunya—”Ada pocongnya! Hi!” yang kemudian, setelah berpengetahuan sedikit lebih, saya heran kenapa memercayainya, sebab itu adalah kuburan Cina.

Setiap pusara dibangun seperti pondokan, hanya tidak berdinding. Lantainya marmer yang dingin dan tebal—atau sekurang-kurangnya keramik, antara ukuran 30×30 sentimeter, atau 40×40 sentimeter. Ada pula yang benar-benar menyerupai pondok dilengkapi dinding, tetapi selalu dikunci. Rasa takut saya berkurang dan akhirnya tidak tersisa ketika saya memberanikan diri memasukinya. Akan sangat tidak nyaman jika saya selalu takut kepada “tetangga hantu” kami, padahal tinggal berkenalan pun cukup. Jika memang seperti yang digosipkan—jahat—setidak-tidaknya saya mengetahuinya sendiri, bukan berdasarkan kabar burung yang tidak jelas juntrungannya.

Dalam kuburan itu, ada kedamaian (barangkali kedamaian orang mati, tapi tetap saja kedamaian). Saya mencoba berbaring di salah satu pusara yang saya anggap paling enak. Mata saya menghadap pohon trembesi yang salah satu dahan terpendeknya menyasar masuk di langit-langit pondok. Ada lukisan naga dan hujan di sana, tetapi jangan bayangkan berwarna tajam. Justru sebaliknya, ronanya sedikit pucat dan hampir-hampir monokrom, dengan sisi-sisi berkabut seolah tidak selesai. Belakangan, barulah saya tahu itu gaya melukis Zen.

Setelah dewasa, saya sadar betapa sukarnya menggambar hujan. Paling banter hanya “mengesankan” basah. Engkau tidak akan tahu apakah hujan dalam gambar tersebut masih merinai. Engkau pun dapat melukis garis-garis vertikal, tetapi itu sama sekali tidak terlihat seperti hujan. Lalu, bagaimana saya tahu bahwa gambar naga di langit pusara dimaksudkan sebagai hujan? Saya ingin memastikannya, tetapi sudah lama sekali saya tidak pulang apalagi melihatnya.

Saya biasa menghabiskan siang dengan berbaring di salah satu pusara marmer milik seseorang bermarga Tan. Saya lupa siapa nama lengkapnya. Mungkin Tan An, atau Tan Tiong Hwa, entahlah. Peti matinya tidak dikubur, tetapi diletakkan begitu saja di semacam altar—dan bagian bawahnya dicor, sepertinya seseorang yang penting. Ia lahir di tahun 1800-an, bukan di akhir, sekitar 1860-an kalau tidak salah. Saya sangat menyesal tidak mencatatnya di catatan harian. Ada kaca yang membuat saya dapat melihat jasad di dalamnya, tetapi sayangnya—atau untungnya—sudah tidak jernih lagi, penuh selubung. Ada satu kuburan yang membuat saya terenyuh setiap kali memandangnya, yakni yang bentuknya sedan berwarna merah. Tidak ada pusara yang menunjukkan tanggal, hanya sebuah nama, Andrew Tan.

Saya menyukai kuburan bukan karena kemuraman yang ditawarkannya, atau apa pun yang mengingatkan saya pada kematian, melainkan karena keheningannya. Di kuburan ini, kuburan Cina yang usianya sudah sangat tua, saya seperti terisap ke masa lalu. Suasananya tenang, mendekati hening, hanya sesekali burung berciap-ciap di dahan ketapang, trembesi, dan kamboja, terkadang pula tetirah di susuran pusara. Ada pohon cabai yang buahnya lebat dan menjadi semak-semak, tetapi sepertinya tidak pernah dipetik. Pohon-pohon cabai itu tumbuh bersama bunga-bunga telang, cipukan, dan asoka, sehingga menawarkan warna-warni yang enak dipandang. Di belakang permakaman, dekat dengan dinding yang tingginya mustahil dipanjat, ada pohon mangga, matoa, rambutan, dan kersen, yang buah-buahnya berjatuhan di lantai. Saya sering mengumpulkan buah kersen untuk saya santap di pusara Pak Tan. Saya juga sering memetiki bunga-bunga liar untuk saya sematkan di sedan merah Andrew Tan. Padahal jarak kuburan pun tidak jauh dari jalan, tetapi seperti ada selubung yang menghalangi suara-suara dari luar.

Jika musim ujian, Ibu tidak mengizinkan saya pergi ke pekuburan itu. Padahal nilai saya tidak ada yang kurang, malahan selalu bagus. Ada di kepala tujuh atau delapan; sembilan dan sepuluh jika itu berhubungan dengan bahasa. Bahasa apa pun. Inggris, Mandarin, Sunda, tetapi terutama bahasa Indonesia. Ayah lulusan Sastra Indonesia. Saya jadi tertantang. Lagipula, sebagai teman belajar, ada banyak buku sastra—baik yang akademik maupun roman—di lemari. Ayah juga selalu sungguh-sungguh mendengar jika saya bercerita mengenai “para arwah” tetangga kami itu. Ayah hampir menangis ketika saya membicarkan Andrew Tan dan sedan merahnya.

Bahkan setelah menjadi seorang pedagang kelontong, Ayah masih rutin menulis setiap hari, tepatnya setelah menutup toko pada pukul sembilan malam. Kata Ibu, Ayah juga menulis pagi-pagi benar, sebelum Langit terjaga, pada pukul tiga subuh. Tetapi saya masih tidur. Pada akhir Desember, Ayah mengumpulkan apa pun yang ditulisnya sepanjang tahun, fiksi, esai, cerpen, bahkan novel, kemudian mencetak dan menjilidnya, lantas menandainya dengan tahun. 1992, 1993, 1994, dan seterusnya. Di bawah tanggal, ada nama novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi yang berhasil dikoleksinya.

Karena diketik dengan huruf kecil-kecil dan marjin yang tipis, jumlah halamannya tidak banyak. Kalau dengan ukuran normal, sepertinya bisa mencapai 500-an halaman. Dalam masa-masa produktif, saya yakin dapat pula lebih. Tetapi makin lama makin tipis manuskrip-manuskripnya, apalagi setelah berhasil menjadikan tulisannya produk. Ayah tidak perlu lagi menjilid buku-buku itu. Ia sepenuhnya mengandalkan penerbit.

Saat SMP, saya mengalami sesuatu yang merupakan kebalikan klaustrofobia. Saya menyukai sudut, tempat-tempat sempit, dan kerap membayangkan diri berbaring di peti mati; menjadi bagian dari ketenangan Bumi. Tetapi pikiran itu saya simpan sendiri. Saya tahu itu sedikit menyimpang. Saya, terutama, suka sembunyi di ruang kecil di antara kulkas dan dinding, dan dapat duduk seranggung selama berjam-jam di sana, menikmati hangatnya dinding dan dengung kulkas yang statis. Ibu salah mengira bahwa saya menyukai dapur. Tetapi lama-lama badan saya tambah bongsor—disertai suara yang dalam, bahkan lebih dalam daripada suara Ayah.

Selama masa ujian, saya belajar di rumah, tidak ditemani Pak Tan atau Dik Andrew. Ibu ingin melihat saya bertekun dengan buku-buku. Ia teliti betul soal apa yang diujikan, bahkan membantu saya menulis rangkuman. Saya masih menyimpan hasil rangkumannya dalam kontainer, tersimpan rapi di kamar gudang. Ibu juga membawa secangkir Milo dan sepiring Nopia sebagai teman belajar. Ia meletakkannya di samping meja, di atas nampan keramik bergambar burung berekor panjang—seperti ayam, hanya lebih bergaya.

Sampai sekarang, mungkin karena pengaruh Ibu, saya selalu menyetok Nopia banyak-banyak di lemari, yang saya buka sewaktu-waktu jika ingin fokus mengerjakan sesuatu. Tetapi, karena setelah dewasa saya alergi laktosa, Milo-nya saya ganti dengan Kapal Api. Selain Nopia, tidak ada jajanan yang sungguh-sungguh saya sukai.

Sekalipun belajar di rumah sama tenangnya dengan kuburan, dan jika saya membuka jendela yang menghadap pusara, burung-burung pun sampai pula kicaunya, tetap saja saya rindu menghabiskan hari di pondok Pak Tan, menikmati senyap trembesi dan memandangi kupu-kupu yang berterbangan di lukisan naga.

Seminggu jadi terasa lama betul.

Lalu, sebuah ide datang menyapa.

Sebelum tidur, saya menyetel alarm yang bentuknya menyerupai penguin dengan sayap berwarna ungu untuk berdering pada pukul 00.00. Syukurlah, karena sudah tua—Ibu membelikan beker ini saat saya kelas 2 SD, dan sekarang saya sudah kelas 1 SMP—suaranya pun sumbang, hampir tidak terdengar. Namun, mungkin karena saya terbiasa tidur cepat—pukul 19.00, tepat setelah gelap—tanpa beker pun saya kerap terjaga pada pukul 00.00. Tak terkecuali malam ini. Ibu sudah tidur, sementara Ayah masih berjaga di meja tulisnya, suntuk mencatat dengan komputer, yang tak tuk kibornya menggema syahdu sekali. Saya diam-diam menuruni tangga untuk membuka pintu di samping dapur.

Saya bersahabat dengan dini hari, tapi baru kali itu saya benar-benar mengalaminya. Biasanya saya hanya duduk di kegelapan kamar—tanpa berpikir, tanpa waktu. Tetapi malam itu saya membuka pintu. Biji-biji pinus berserakan di jalan. Kabut sayup-sayup mengalir dari hidung dan mulut saya. Saya mengenakan jaket merah, dan berjalan perlahan menuju kuburan yang letaknya hanya selemparan batu dari rumah. Ada dua ekor kunang-kunang (saya ingat betul) yang terbang mendahului, dan ada sebuah lampu jalan yang jaraknya hanya dapat dijangkau oleh mata.

Sesampainya di kuburan, Ko Ahong selaku juri kunci menyambut saya. Usianya sudah setua yang mungkin dicapai manusia, tetapi masih lincah. Ia memanggil saya “Den Bagus”, padahal nama saya bukan Bagus. Ia pelanggan kelontong Ibu—suka membeli sekotak Dancow dan dua bungkus nasi yang Ibu jual saban pagi—isinya nasi, orek, dan dadar. Ko Ahong menyantapnya satu saat sarapan, dan satu lagi saat menjelang siang.

Ia tinggal di pondok kecil di sudut kuburan. Hanya ada sedikit benda di dalamnya—dan dari yang sedikit itu, sebagian besar berupa buku. Ia menyebutnya “Kanon Pali”—belakangan barulah saya tahu maksudnya Tripitaka. Ia punya ceret berisi teh yang entah bagaimana selalu panas dan rasanya benar-benar enak. Meski tanpa tambahan gula, saya bisa mengenali sedikit rasa manis di setiap sesapannya. Saat saya menelusuri punggung-punggung buku, Ko Ahong berkata, “Den Bagus mau membaca?” Kemudian menyerahkan buku berjudul Dhammapada. Ketika saya menggeleng, ia meminjamkan saya sebatang lilin, lengkap dengan wadahnya, sehingga saya bisa membawanya seperti membawa gelas. Tetapi saya berkata tidak apa, tidak perlu, dan terima kasih. Lagipula, tidak terlalu gelap—dan justru gelap yang saya cari. Tetap saja, Ko Ahong khawatir dan menemani saya. Ada beberapa ekor kunang-kunang beterbangan di antara pohon yang tidak lagi saya kenali kecuali baunya—yang ini bau ketapang, sedikit busuk tetapi menenangkan.

“Dulu lebih banyak,” kata Ko Ahong. “Kunang-kunang, dulu lebih banyak.”

Saya mengangguk. Jarang sekali Ko Ahong menyesali sesuatu. Biasanya, ia selalu positif. Tepatnya bukan positif, melainkan— apa, ya—pasrah, menerima seapa-adanya, bahwa yang ada-lah yang ada, tidak perlu memikirkan yang tak ada.

“Tetapi sekarang pun sudah banyak. Di tempat lain mana ada kunang-kunang, toh.”

Ia juga jarang membandingkan sesuatu. Benar-benar malam yang aneh.

“Kata Ibu, kunang-kunang adalah kuku orang mati.”

“Bukan—bukan, sama sekali bukan.” Ko Ahong terkekeh.

“Lantas apa?”

“Kunang-kunang ya kunang-kunang. Ia indah tanpa perlu diperbandingkan dengan apa pun. Ia indah, karena ia adalah kunang-kunang. Itu saja. Kamu mengerti, Den?”

Saya mengerti—akhirnya. Tetapi saat itu saya hanya mengangguk, tanpa bicara sepatah pun. Sesampainya di pondok Pak Tan, saya menawari Ko Ahong kue yang saya bawa dari toko. Kue-kue itu sudah hampir kedaluwarsa, bahkan mungkin sudah, mengingat sekarang sudah besok. Ibu menyisihkan kue-kue yang telanjur rawan di dapur—boleh dimakan siapa pun. Biasanya jadi camilan Ayah saat menulis. Tetapi Ko Ahong menolak. Katanya ia puasa hingga menjelang pagi. Setelah pukul 12.00, ia tidak boleh menyantap apa pun, kecuali air putih. “Puasa Biksu,” katanya.

“Apakah Ko Ahong biksu?”

“Bukan, bukan.” Ia terkekeh.

Ko Ahong hanya menemani saya sebentar, kemudian memasuki pondokannya dan tidak terlihat lagi, tetapi saya dapat melihat kaos lampu berwarna oranye menyala-nyala dari jendelanya. Saya duduk menghadap peti mati Pak Tan. Ia terlihat lebih hidup daripada saya—atau apa pun yang saya anggap hidup. Bahkan pepohonan benar-benar terasa seperti makhluk hidup, bukan sekadar benda hidup. Entah apa yang saya ingin lakukan di sini. Entah sudah berapa lama saya berdiam. Tapi berkumpul bersama orang-orang mati, entah bagaimana, menenangkan saya.

Saya berharap ada hantu yang berkenan menemani saya, bukan hanya kunang-kunang yang tidak lagi saya anggap kuku orang mati. Saya ingin percaya bahwa kehidupan yang saya jalani bukanlah satu-satunya—bahwa, setelah mati, saya masih ada. Tetapi saya juga tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup yang tidak ada akhirnya. Bahkan kegembiraan pun akan jadi neraka jika berlangsung selamanya, bukan? Saya suka pizza, tapi kalau harus setiap hari menyantapnya, apa istimewanya? Lama-lama membayangkannya pun enggan. Sesuatu berharga karena kesementaraannya. Namun, membayangkan kesementaraan pun menakutkan. Pikiran saya tidak bisa menjangkau yang sementara ataupun yang kekal. Jadi, saya hanya diam, memandang peti mati Pak Tan, lantas berbaring menghadap naga yang dipenuhi kunang-kunang. Batas-batas samarnya jadi lebih redup, tapi itu justru menciptakan ilusi tiga dimensi, seolah-olah naga itu dapat lepas kapan saja.

Indah sekali.

Saat yang tersisa tinggal sayup-sayup embun, ribuan “bagaimana-jika” menyesaki benak.

Bagaimana jika kematian bukan berarti berhentinya kesadaran?

Bagaimana jika setelah engkau dikuburkan, engkau masih merasakan perputaran Bumi dan seisinya — tetapi tidak lagi berkuasa, bahkan atas tubuh sendiri? Bagaimana jika sepanjang keabadian, kesadaran itu tetap bertahan.

Bagaimana jika engkau bisa merasakan sakitnya taring-taring ulat memamah seluruh tubuhmu?

Bagaimana jika kau tak mampu mengatasi kesepian dan kerinduan saat tiada yang menziarahi makammu?

Bagaimana jika engkau mendambakan sepatah obrolan—merindukan musik.

Bagaimana jika engkau ingin menggerakkan jemari, bernyanyi, melakukan segala yang kauremehkan sepanjang hidup, tetapi karena kau sudah mati, kau tidak sanggup melakukan apa pun?

Kau sungguh ingin berteriak—mengutarakan atau menyampaikan isi hatimu.

Atau barangkali, kematian sama ringannya dengan tertidur. Kau tidak lagi sadar, tidak menunggu-nunggu waktu terjaga, bahkan tidak tahu kapan kau tertidur. Kau tidur, hanya begitulah hidup berlalu.

Surga adalah mimpi indah dan neraka mimpi buruk, yang panjang.

Saya teringat perkataan Ko Ahong mengenai reinkarnasi.

“Tumimbal lahir, tepatnya, sebab tidak melibatkan jiwa, hanya arus kesadaran. Surga atau neraka tetap ada, tetapi tidak kekal, hanya sepanjang karma. Tujuan sejati kita justru terbebas dari kelahiran dan kematian—lalu mencapai nirwana.”

“Apa itu?”

“Kepadaman. Sesuatu yang berada di antara Bumi dan Langit.”

“Saya tidak mengerti.”

“Sama, Den.”

Lalu terdengar kentongan memecah lamunan, disusul teriakan nyaring—”UWING!”—yang berasal dari tukang sate. Denting tiang dipukul dua kali menyusul kemudian.

Tang!

Tang!

Berarti sudah pukul dua.

Tapi Siapa yang mengizinkan suara-suara memasuki pekuburan ini? Mungkinkah itu panggilan pulang?

(Minggu, 24 Mei 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rafael Yanuar
Rafael Yanuar Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email