Bulan Juni nanti mungkin akan menjadi bulan yang tidak dapat dilupakan oleh para penggemar musik Jazz di Indonesia. Bagaimana tidak, pada bulan Juni tahun ini, BNI Java Jazz festival akan kembali digelar. Tidak terbayang kemeriahan ajang musik jazz ‘terbesar’ di tanah air itu.
BNI Java Jazz Festival tahun ini rencananya akan membawa tema “Let Music Lead Your Memories”. Setidaknya ada 25 penampil lokal dan mancanegara yang sudah pasti akan meramaikan perhelatan ini. Apalagi bulan Juni biasanya bukan lagi musim hujan di Indonesia. Dengan begitu, penonton akan menikmati alunan music jazz dengan nyaman tanpa perlu ketakutan kehujanan apalagi kebanjiran.
Ya, di Indonesia biasanya bulan Juni bukan merupakan musim hujan. Tapi itu dulu, sebelum krisis iklim terjadi. Kini pembagian musim hujan dan kemarau tidak bisa dipastikan datangnya berdasarkan hitungan bulan.
Tahun 2022 lalu misalnya, hujan masih terjadi pada bulan Juni. Menurut penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), adanya penguatan intensitas La Nina pada tahun itu menyebabkan hujan di Indonesia masih terjadi pada bulan Juni.
Baca juga:
Krisis iklim telah mangacaukan cuaca. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di berbagai penjuru dunia. Perhelatan BNI Java Jazz digelar di tengah krisis iklim tersebut. Bukan tidak mungkin acara musik jazz tersebut akan sedikit terganggu dengan kekacauan cuaca akibat krisis iklim ini.
Di luar ancaman kekacauan acara BNI Java Jazz, krisis iklim telah menimbulkan korban yang begitu besar di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 3.531 kali bencana sepanjang tahun 2022. Statistik kejadian bencana tersebut didominasi bencana hidrometeorologi yang disebabkan krisis iklim. Pada tahun 2022, total kejadian banjir sebanyak 1.524 kejadian, selanjutnya cuaca ekstrem sebanyak 1.061, dan tanah longsor 634 kejadian.
Berbagai bencana itu tentu menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Menurut catatan Kementerian Keuangan, Indonesia berpotensi menderita kerugian ekonomi mencapai 112,2 triliun atau 0,5% dari PDB pada tahun 2023 akibat krisis iklim.
Lantas, apa kaitan antara BNI Java Jazz dengan krisis iklim? Bukankah acara BNI Java Jazz hanyalah perhelatan musik Jazz, sementara krisis iklim adalah persoalan lingkungan hidup?
Sebelumnya menjawabnya, ada baiknya kita mengutip pernyataan Legenda Jazz Herbie Hancock. Ia memandang penting peran musik dalam menyampaikan pesan, salah satunya pesan terkait krisis iklim. Menurutnya, alam bukanlah musuh, manusia sendiri yang membuat bencananya. Terkait dengan itulah ia menyerukan: setiap kita, termasuk musisi jazz tentunya, harus peduli terhadap kelestarian alam.
Perhelatan BNI Java Jazz adalah salah satu perhelatan musik terbesar. Tentu kita berharap perhelatan itu tidak menjadi ajang hura-hura di tengah krisis iklim yang mengancam umat manusia. Festival musik jazz bisa menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan krisis iklim. Pertanyaannya adalah, apa hal itu mungkin terjadi bila salah satu sponsor perhelatan musik jazz itu adalah bank yang masih mendanai batu bara penyebab krisis iklim?
BNI berulang kali mengeklaim sebagai pelopor green banking. Bila membaca Sustainability Report BNI di 2020, bank BUMN tersebut secara tegas menyatakan berkomitmen mengimplementasikan keuangan berkelanjutan, yang salah satunya bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Namun, BNI ternyata menjadi salah satu bank di Indonesia yang masih memberikan pinjaman ke perusahaan batu bara.
Baca juga:
Laporan Global Coal Exit List 2020 menempatkan BNI sebagai penyokong terbesar kedua (setelah Bank Mandiri) industri batu bara selama periode 2018-2020. Selama periode itu, BNI menyalurkan 2,09 miliar dolar AS atau setara Rp30,02 triliun, baik sebagai pemberi pinjaman maupun underwriter. Bayangkan kerusakan alam, baik di tingkat lokal maupun global, akibat emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim yang ditimbulkan dari pinjaman BNI ke energi batu bara tersebut.
Anak-anak muda yang sebagian merupakan nasabah BNI sudah sering menyuarakan agar bank tersebut berhenti mendanai batu bara dan mengalihkan pendanaannya ke energi terbarukan. Namun, suara-suara nasabah muda tersebut seperti membentur meja-meja direksi bank milik negara itu.
Akankah musisi-musisi yang nanti tampil di BNI Jazz Fesitval 2023 menyuarakan pesan krisis iklim ke sponsor utamanya itu agar menghentikan pendanaan ke batu bara? Jika musisi-musisi tersebut berani menyampaikan pesan krisis iklim kepada BNI di ajang festival musik jazz itu, tentu festival tersebut akan berbeda dan dikenang sepanjang masa. Namun, bila musisi-musisi tersebut enggan menyampaikan pesan krisis iklim, festival musik itu hanya akan menjadi ritual yang tercerabut dari akar persoalan masyarakat.
Editor: Prihandini N
