Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

Kompleksitas Acara Kondangan yang Melampaui Adam Smith dan Karl Marx

Faiz Al Ghiffary

3 min read

Janur kuning yang melengkung di ujung gang itu sering kali terlihat seperti bendera tanda perang bagi isi dompet. Bagi kita yang saldo ATM-nya sudah mulai sekarat dan hanya menyisakan angka minimalis di akhir bulan, melihat hiasan daun kelapa itu bukan lagi simbol janji suci sepasang kekasih. Bukan. Itu adalah surat panggilan dari kantor pajak sosial yang jauh lebih horor ketimbang suara token listrik kontrakan.

Begitu sepucuk undangan mendarat di meja ruang tamu, lengkap dengan cetakan emas dan foto pre-wedding yang estetiknya selangit, saat itu juga kedaulatan ekonomi kita berada dalam fase “siaga satu”. Kita ini memang bangsa yang ajaib. Di media sosial, kita bisa teriak anti-asing atau alergi setengah mati sama segala macam “isme” dari Barat. Tapi coba lihat kelakuan kita di bawah tenda biru yang menutup separuh jalan aspal itu. Kita semua mendadak jadi penganut ideologi militan tanpa perlu ikut kaderisasi partai.

Coba, perhatikan ibu-ibu kita kalau sudah pulang kondangan. Bukannya langsung selonjoran, kacamata baca langsung nangkring di hidung dengan posisi sangat serius. Bukan buat baca kitab suci, tapi buat melakukan audit investigatif pada sebuah buku tulis lecek yang disimpan lebih rapi ketimbang sertifikat tanah. Di sinilah sebenarnya Adam Smith si Bapak Kapitalisme harus sungkem.

Buku lecek itu adalah Database Piutang paling presisi sedunia. Isinya bukan doa agar pengantin cepat dapat momongan, tapi angka-angka kaku yang sangat kapitalistik: “Pak RT nyumbang 50 ribu,” “Budhe Sum nyumbang beras satu karung,” atau yang paling ngenes, “Si Anu cuma nyumbang sabun mandi.”

Baca juga:

Jujur saja, saya sering curiga kalau kondangan itu cuma kedok buat peluncuran “Emiten” baru di bursa saham keluarga. Kita menyebar saham berupa amplop sekarang, dengan harapan suatu saat nanti—entah sepuluh tahun lagi—si kawan itu bakal membalikkan modal kita plus inflasi yang sudah dihitung di luar kepala. Kalau dulu kita nyumbang seratus ribu saat harga bensin masih murah, lalu pas kita punya hajat dia cuma membalas dengan nominal yang sama, itu namanya penghinaan ekonomi. Nilai tukar persaudaraan kita mendadak fluktuatif kayak harga kripto di tangan Elon Musk. Semuanya terukur, tercatat, dan tidak ada ampun bagi mereka yang gagal bayar.

Namun, kalau Adam Smith berkuasa di meja penerima tamu yang penuh senyum palsu itu, maka Karl Marx adalah “Imam Besar” yang bertahta di bagian dapur belakang. Inilah wilayah di mana manifesto komunisme rasa lokal dipraktikkan secara paripurna tanpa perlu diskusi teori kelas yang njelimet.

Coba bayangkan, di dapur rewang yang penuh uap dandang dan aroma bumbu yang menusuk hidung itu, nggak ada yang namanya hak asasi manusia buat sekadar rebahan. Kamu adalah buruh tanpa kontrak yang diikat kuat-kuat oleh satu tali bernama: rasa sungkan. Marx mungkin bakal pusing tujuh keliling melihat bagaimana sistem Ewuh-Pakewuh bekerja lebih efektif ketimbang instruksi partai komunis mana pun di dunia.

Anda tidak akan dibuang ke penjara kalau nggak ikut mengupas bawang merah sampai mata perih, tapi Anda bakal kena hukuman sosial berupa rasan-rasan tetangga yang pedasnya melebihi sambal korek. Inilah kediktatoran tetangga yang menghapuskan hak istirahat individu demi satu tujuan kolektif: memastikan piring terbang tidak pernah berhenti meluncur ke meja tamu. Di dapur ini, semua orang bekerja sesuai paksaan adat dan makan dari satu panci yang sama. Utopia sosialis yang nyata, tanpa perlu revolusi berdarah.

Ketajaman “isme-isme” ini makin terasa mak jreg saat kita masuk ke arena utama: meja prasmanan. Di sanalah teori “alienasi” milik Marx terlihat begitu vulgar. Kita sering merasa terasing dari uang yang kita sumbangkan sendiri. Bayangkan, sudah setor amplop merah demi martabat keluarga, tapi pas mau makan, kita harus berjuang layaknya pejuang proletar hanya demi sepotong daging kambing guling yang antreannya sepanjang penderitaan rakyat kecil.

Baca juga:

Saya pernah punya pengalaman pahit, datang telat sedikit saja karena urusan parkir semrawut, dan apa yang tersisa? Cuma lemak yang sudah njedindil mendingin dan kerupuk udang yang sudah lemas kehilangan renyahnya. Di depan meja katering, kasta itu nyata, Dab. Tamu VIP yang pakai mobil kinclong dapat kursi empuk di area ber-AC dengan menu yang masih hangat. Sementara kita, serdadu amplop tipis yang datang naik motor dan kehujanan, sering kali cuma dapat sisa-sisa perjuangan yang menyedihkan.

Pada akhirnya, kondangan adalah cermin dari wajah kita yang penuh kontradiksi. Kita ini kapitalis yang rajin mencatat piutang di buku lecek, tapi juga sekaligus sosialis yang tunduk tanpa syarat pada tekanan dapur rewang. Kita mengeluh biaya hidup mahal, tapi nggak pernah ragu nyetor “pajak sosial” ini demi nama baik yang sebenarnya fana.

Mungkin karena kita sadar, di negara yang sering kali absen melindungi warganya ini, cuma jaring-jaring “hutang rasa” inilah yang bisa menyelamatkan kita suatu saat nanti. Kondangan adalah asuransi sosial paling primitif sekaligus paling tangguh yang kita punya. Kita saling menyumbang karena kita tahu, suatu saat kita bakal jatuh, dan saat itulah kita berharap orang lain bakal membalas amplop kita untuk sekadar menutupi biaya hidup yang makin nggak masuk akal ini.

Jadi, kalau nanti pulang kondangan dengan perut kenyang tapi dompet nangis pelan-pelan di pojok saku, ya sudahlah. Terima saja. Namanya juga hidup di Indonesia: butuh stok sabar yang nggak terbatas dan keahlian menjilat bibir amplop dengan penuh bakti. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Faiz Al Ghiffary
Faiz Al Ghiffary Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email