Fiksi & Puisi
Kafein Ibu: Kafein yang membuatku terjaga pada hari-hari temaram menonton perangkuhan teman-teman mendengar petisi orang-orang pada nasib lancung hanya padaku mujur...
Peron 4 Stasiun Tokyo siang itu terlihat berbeda. Kepingan besi dan pecahan kaca berserakan. Beberapa kursi tunggu tampak terbalik. Poster-poster iklan...
Ingin Jadi Penyair di toko itu ia memesan seperangkat kemiskinan – Meredup saat waktu memadamkanku kau menjelma laut yang memeluk dengan...
dingin perapian masihkah kita harus berjalan menyusuri jalan setapak ini dari ketiadaan dan ketidakpastian cuaca? pada jalan yang kau tempuh, dari...
Tiada Revolusi di Atas Ranjang rokok masih menempel di mulutnya yang mungil satu gesekan korek isap tembakau kretek lepas tangan, satu...
Delicium, Quo Vadis? Semua orang memiliki Golgotanya, tapi sudikah kita berbagi Golgota itu? Berbagi jalan di bukit itu, seperti tubuh-Nya yang...
Sesuatu yang Menyemai Hidup Pagi meluncur dalam derap mabuk angin-angin, menyusuri daratan basah, daun-daun, dan batang yang rapuh meremah merupa butir...
Kau pasti menganggap kematianku sebagai aksi bunuh diri. Aku berani bertaruh 99,99% dugaanku itu tak akan meleset. Sedangkan 0,01% sisanya boleh...
Malaikat salju menyelimuti kota dengan sayap putihnya. Beberapa helainya berguguran di genting dan kabel listrik. Sisanya memutihkan seluruh panorama dan membasahi...
Mata Ibu ruang tunggu di depan kamar operasi terasa begitu kaku seperti kaki keram kesemutan pandangan kelabu bau obat dan darah...