Perempuan pecinta nasi padang.

Pekerja Informal: Dicita-citakan Gen Alpha, Tidak Dilindungi Negara

Surya Rahmah Labetubun

3 min read

Generasi alpha lahir di tengah dunia yang sudah serba digital, serba cepat, dan kadang malah serba absurd. Mereka tak kenal dunia tanpa WiFi, mainnya pakai tablet, belajarnya lewat video, dan cita-citanya? Bukan lagi sebatas dokter, polisi, atau insinyur.

Ada yang pengin jadi pro player, konten creator, hingga techpreneur. Tapi bukan berarti mereka cuma ikut-ikutan tren. Zaman emang sudah berubah. Bahkan, bisa jadi, pekerjaan mereka nanti belum ada hari ini. Mereka bakal kerja di dunia portofolio: satu orang bisa punya banyak peran sekaligus—sedikit coding, sedikit ngonten, sedikit sosial, semua dijahit bareng.

Beberapa waktu lalu, muncul satu video viral seorang anak yang bilang cita-citanya ingin jadi kuli. Banyak yang heboh, nyinyir, atau malah khawatir. Tapi coba kita tarik napas dan pikir lagi: bisa jadi si anak itu tak sedang asal ngomong. Bisa jadi dia lihat kuli sebagai pekerjaan nyata—yang jelas kerjaannya, terlihat hasilnya, dan jujur prosesnya. Mungkin juga dia belum dicekoki narasi lama bahwa “kuli” itu kasta paling bawah di dunia kerja.

Kalau kita pakai kacamata Anthony Giddens, justru ini menarik. Giddens bilang, di era modern, orang—termasuk anak-anak generasi alpha—mulai hidup secara refleksif. Artinya, mereka mempertanyakan identitasnya, nilai-nilai hidup, dan apa arti “sukses” menurut mereka sendiri.

Mereka tak langsung menerima pakem lama serupa “kerja bagus itu harus di kantor ber-AC” atau “hidup sukses itu jadi PNS”. Mereka lebih memikirkan: “Aku siapa?”, “Apa yang aku anggap penting?”, dan “Kerja kayak gimana yang cocok buat aku?” Dan kalau jawaban jujurnya adalah “jadi kuli”—ya kenapa tidak?

Baca juga:

Justru ini nunjukkin satu hal penting: bahwa cita-cita anak zaman sekarang bukan sekadar ikut arus, tapi hasil dari perenungan—meskipun sederhana. Bisa jadi si anak ngelihat ayahnya atau pamannya kerja di proyek bangunan, pulang dengan peluh, tapi juga rasa bangga. Dia lihat kerja keras, lihat hasil konkret. Mungkin itu yang bikin dia memutuskan, “Aku juga mau seperti ayahku.”

Jadi, daripada buru-buru mengubah cita-cita anak itu, mungkin kita yang perlu tanya: apakah sistem kita sudah siap bikin kerja kasar seperti kuli jadi kerja yang bermartabat? Sudahkah ada jaminan sosial buat mereka? Sertifikasi keterampilan? Pengupahan yang manusiawi? Kalau belum, maka masalahnya bukan di anak yang bercita-cita jadi kuli—tapi di negara dan masyarakat yang belum siap mewujudkan cita-cita itu sebagai pilihan hidup yang layak.

Dan, ini bukan cuma soal satu anak atau satu pekerjaan, tapi sistem yang lebih luas—yang juga dirasakan jutaan pekerja informal hari ini. Karena pada akhirnya, cita-cita, sekecil atau seterpinggir apa pun terdengar, tetap valid kalau datang dari proses reflektif. Dan anak-anak zaman sekarang, percayalah, jauh lebih peka soal itu.

Keringat yang Masih Diabaikan

Di negeri ini, kerja keras sering dipuji, tapi perlindungannya minim. Kita ini bangsa yang katanya cinta kerja keras, tapi anehnya—giliran membicarakan soal pekerja kasar macam kuli, semuanya mendadak canggung.

Kuli, tukang bangunan, buruh proyek—mereka yang kerja di bawah panas matahari, angkat semen, dan jadi tulang punggung pembangunan kota—justru jadi kelompok yang paling sering dilupakan negara. Padahal, kalau tak ada mereka, coba bayangkan: bagaimana infrastruktur kota dibentuk serta potensi roda ekonomi macet.

Masalahnya, sebagian besar dari mereka berstatus pekerja informal tak punya kontrak kerja tetap, absen dilindungi oleh sistem upah minimum yang jelas, dan tentu saja banyak dari mereka tak punya asuransi kalau kecelakaan kerja.

Padahal, Undang-Undang Ketenagakerjaan dan bahkan UU Cipta Kerja sebenarnya sudah menyebut bahwa setiap pekerja berhak atas upah layak dan perlindungan kerja. Tapi, dalam praktiknya, hukum sering kali mandul saat menyentuh sektor informal.

Soal pelatihan juga bikin miris. Banyak yang berasumsi kerja kuli itu cuma soal otot, padahal pekerjaan ini punya risiko tinggi—dan seharusnya butuh keterampilan teknis, apalagi soal keselamatan kerja. Tapi coba cari berapa banyak dari mereka yang punya sertifikat resmi? Menurut data Kemnaker 2023, cuma 1,3 juta orang yang tersertifikasi. Bandingkan dengan puluhan juta pekerja informal yang kerja setiap hari—angka itu bahkan belum secuil.

Maka dari itu, jangan heran kalau banyak yang berasumsi jadi kuli itu jalan buntu. Tapi…, hmm, apa iya? Bagaimana kalau kita balik cara pandangnya? Bagaimana kalau ada anak kecil hari ini yang bilang, “Aku mau jadi kuli,” bukan karena terpaksa, tapi karena dia melihat kuli sebagai simbol kerja jujur, kerja nyata, dan kerja yang berdampak? Masalahnya bukan di cita-cita anak itu, tapi di sistem kita: apakah sudah siap bikin pekerjaan kasar jadi profesi yang bermartabat? Atau malah terus-menerus dibiarkan tanpa perlindungan dan pengakuan?

Baca juga:

Kalau nasib kuli di lapangan saja belum jelas, bagaimana nasib para pekerja baru yang lahir dari zaman digital?

Dunia Kerja Tidak Lagi Soal Seragam

Kalau kita lihat lebih luas, pergeseran dunia kerja sekarang makin nyata. Generasi muda, terutama generasi Z dan generasi alpha, sudah mulai meninggalkan bayangan kerja formal yang kaku. Mereka tak lagi menginginkan kerja kantoran yang pakai ID card dan presensi pagi. Mereka lebih berhasrat kerja yang fleksibel—yang bisa dari rumah, bisa dari kafe, atau bahkan dari tempat healing di pegunungan. Intinya, kerja yang tetap cuan, tapi juga sesuai gaya hidup.

Tren ini tentu tidak datang tiba-tiba. Menurut laporan World Economic Forum dan survei Populix 2023, 70% generasi Z Indonesia lebih tertarik jadi freelancer atau bangun usaha sendiri dari pada jadi pegawai tetap. Nilai-nilai kerja juga bergeser: dulu kerja itu soal stabilitas dan jabatan, sekarang lebih ke soal makna, kebebasan, dan kendali atas hidup sendiri.

Nah, Anthony Giddens sudah lama baca sinyal ini lewat teorinya tentang refleksivitas modern. Anthony menuturkan bahwa manusia modern hidup dalam era yang serba reflektif—di mana identitas, pilihan hidup, bahkan profesi pun bukan warisan, tapi hasil negosiasi diri. Dan generasi Z serta alpha adalah generasi yang hidup penuh di zaman ini. Mereka sudah tak mau sekadar “ikut jalur”, mereka ingin “bikin jalur sendiri”.

Tapi masalahnya: meski kerja makin fleksibel, sistem negara belum fleksibel juga. Para kuli digital—entah itu ojek online, content creator, editor freelance, atau dropshipper—masih jalan sendiri tanpa jaminan. Penghasilan tak pasti, nir-asuransi, dan kalau tiba-tiba platform tempat mereka kerja colaps dan tutup? Ya, selesai. Mirip banget dengan nasib kuli fisik yang dari dulu kerja keras, tapi tetap rentan.

Akhirnya, muncul satu benang merah: baik angkat semen di proyek, maupun edit video di kamar kos, semua pekerja tetap butuh perlindungan. Dan, negara harusnya hadir. Kalau tidak, kita sedang menciptakan generasi pekerja baru yang semangat, kreatif, dan mandiri—tapi rapuh, karena tak ditopang sistem yang adil.

Jadi, kalau sekarang ada anak yang bilang berkeinginan jadi kuli, atau bercita-cita jadi kreator konten, jangan buru-buru menilainya dengan sebelah mata. Bisa jadi mereka sedang menunjuk arah baru tentang kerja—bukan soal seragam atau kantor, tapi soal kerja yang mereka rasa berarti. Sekarang tinggal sistemnya: mau ikut berubah, atau terus tertinggal?

 

 

Editor: Prihandini N

Surya Rahmah Labetubun
Surya Rahmah Labetubun Perempuan pecinta nasi padang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email