Orb: Menatap Langit di Antara Logika dan Dogma

Muhammad Zahrudin Afnan

4 min read

Ada sebuah adegan dalam Orb: On the Movements of the Earth yang membekas di kepala. Langit malam yang tenang, dan seorang anak muda bernama Rafal menatapnya dengan gelisah. Langit bukan sekadar objek di sana. Ia adalah pertanyaan. Ia adalah tanda tanya besar yang selama ini ditutupi oleh kalimat-kalimat yang sudah dihafal sejak kecil. Dan dalam tatapan itu, Rafal tidak sekadar memandang bintang. Ia sedang mencoba menjadi manusia.

Orb: On the Movements of the Earth (Japanese: チ。―地球の運動について―, Hepburn: Chi: Chikyū no Undō ni Tsuite) adalah serial manga Jepang karya Uoto yang diserialkan dalam majalah manga seinen Weekly Big Comic Spirits milik Shogakukan dari September 2020 hingga April 2022. Manga ini mengisahkan perjalanan berbahaya para ilmuwan di Eropa abad ke-15 yang mempertaruhkan nyawa demi meneliti teori heliosentris yang terlarang. Versi animenya diproduksi oleh studio Madhouse dengan total 25 episode, tayang dari Oktober 2024 hingga Maret 2025. Hingga Februari 2025, manga ini telah beredar lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia. Dengan genre drama, historical, dan seinen, Orb bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi intelektual yang menggugah.

Orb bukan anime biasa. Ia adalah filsafat dalam bentuk gambar bergerak. Ia bercerita tentang benturan antara pencarian akan kebenaran dan sistem kepercayaan yang sudah mapan. Tentang bagaimana sains yang lahir dari rasa ingin tahu bisa menjadi ancaman bagi kekuasaan yang tumbuh dari ketakutan. Tapi Orb juga lebih dari itu. Ia adalah refleksi tentang bagaimana kita sebagai manusia selalu hidup di antara iman dan logika dua kekuatan yang sering kali saling menolak, padahal bisa saling merengkuh.

Ketika Langit Menjadi Pertanyaan, Bukan Jawaban

Jean-Paul Sartre pernah menulis, “Freedom is what you do with what’s been done to you.” Rafal adalah anak dari zaman yang ingin membentuknya menjadi penurut. Tapi ia memilih untuk mengubah apa yang diberikan padanya menjadi sesuatu yang baru kebebasan untuk berpikir, untuk menolak, untuk bertanya. Ia menolak menjadi “seseorang yang ditentukan”, dan mulai menjadi “seseorang yang menentukan”. Langit yang ia lihat bukanlah langit yang sama seperti yang diajarkan oleh gereja, oleh sistem, oleh teks-teks lama. Dalam pandangannya, langit adalah sistem dinamis, bukan simbol dogma.

Baca juga:

Dalam dunia Rafal dan juga dunia kita, logika sering dianggap subversif. Pertanyaan dianggap sebagai bentuk pemberontakan. Tapi Simone de Beauvoir dalam The Second Sex menyebut bahwa “one is not born, but rather becomes a human.” Menjadi manusia bukan sesuatu yang otomatis. Ia adalah proses. Ia adalah perjuangan. Dan dalam konteks Orb, perjuangan itu adalah perjuangan berpikir ketika lingkungan menuntut kita diam.

Namun, tak semua kegelisahan tentang iman dan ilmu bisa dijawab dengan filsafat Barat. Di titik ini, Rumi memberi suara yang berbeda. Ia berkata, “Don’t you know yet? It is your light that lights the world.” Rafal, dengan semua ketakutannya, adalah cahaya itu. Ia bukan anti-agama. Ia bukan musuh Tuhan. Ia hanya ingin tahu, dan dalam keinginannya itu, ia menjadi bagian dari semesta yang mencari cahaya.

Kita hidup dalam lanskap sosial yang sering membenturkan agama dengan ilmu pengetahuan. Namun, banyak pemikir sufi seperti Rumi dan Ibn Arabi justru melihat pencarian pengetahuan sebagai bagian dari perjalanan spiritual. Mereka memandang ilmu sebagai jalan menuju Tuhan, bukan sebagai ancaman bagi-Nya. Rafal, dalam konteks ini, adalah peziarah. Bukan sekadar ilmuwan, tapi seorang yang sedang mencari makna ilahiah dalam semesta yang rasional.

Iman yang Tidak Takut pada Keraguan

Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis yang religius, pernah mengatakan bahwa iman sejati lahir bukan dari kepastian, tapi dari lompatan the leap of faith. Artinya, iman bukan kebalikan dari keraguan. Iman justru membutuhkan ruang bagi keraguan agar bisa hidup dengan utuh. Iman yang matang tidak takut pada pertanyaan, sebab ia tahu bahwa keyakinan yang lahir dari tekanan bukanlah iman, tapi ketundukan.

Dalam konteks ini, Orb seakan memberi pelajaran bahwa iman yang kuat tidak takut pada pertanyaan, dan logika yang jujur tidak butuh menafikan makna spiritual. Mungkin, seperti kata Kierkegaard, manusia modern harus belajar untuk berani melompat melampaui kepastian palsu dan memeluk ketidakpastian sebagai bagian dari pencarian sejati.

Kesunyian sebagai Ruang Etis

Kita sering dipaksa memilih: berpikir atau percaya. Tapi Orb mengajarkan bahwa dua-duanya bisa menjadi jalan untuk pulang asal kita tidak menjadikannya alat kekuasaan. Kita bisa bertanya sambil percaya. Kita bisa yakin sambil mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya.

Kita hidup di masa ketika kebenaran sering ditentukan oleh jumlah suara atau banyaknya pengikut. Di tengah kebisingan ini, Rafal mengingatkan kita bahwa menjadi manusia adalah keberanian untuk menjadi sepi dan dalam kesepian itu, mendengar suara langit dengan cara yang baru.

Menjadi manusia, seperti Rafal, berarti siap dibenci karena memilih berpikir. Tapi juga siap mencintai dunia, bahkan ketika dunia menolak kita. Simone Weil menyebut kesunyian sebagai kondisi etis. Dalam sunyi, kita mendengarkan lebih dalam. Dan mungkin, di sanalah iman yang sejati mulai tumbuh: bukan dari sorak sorai massa, tapi dari keheningan seorang anak yang menatap bintang dan bertanya.

Orb sebagai Alegori Abadi

Orb adalah kisah tentang sains, ya. Tapi lebih dari itu, ia adalah kisah tentang kebebasan. Tentang keberanian untuk berpikir. Tentang hak untuk ragu. Tentang iman yang tidak membelenggu, tapi membebaskan. Ia adalah alegori yang relevan sepanjang zaman, terutama di dunia yang semakin menuntut kepatuhan atas nama stabilitas dan keamanan.

Jika kita belajar sesuatu dari Rafal, maka itu adalah bahwa berpikir adalah tindakan radikal. Dan dalam dunia yang ingin kita diam, berpikir adalah bentuk tertinggi dari keberanian.

Antara Algoritma dan Kekosongan

Kita hidup di era yang sangat berbeda dari masa Rafal. Tapi keresahan itu tetap sama hanya bentuknya yang berubah. Di zaman ini, dogma tidak lagi hanya datang dari institusi agama atau negara, tapi juga dari algoritma media sosial, statistik popularitas, dan tekanan budaya instan. Kita tidak lagi dihukum di tiang pancang, tapi di kolom komentar. Tidak lagi dibungkam dengan kekerasan, tapi dengan keheningan yang viral.

Baca juga:

Manusia modern dituntut untuk cepat, pasti, dan populer. Tidak ada ruang untuk ragu, apalagi bertanya. Di tengah banjir informasi dan opini, pertanyaan filosofis dianggap sebagai gangguan. Padahal, seperti yang ditulis Kierkegaard, “Anxiety is the dizziness of freedom.” Kegelisahan yang kita rasakan hari ini bukanlah penyakit, tapi tanda bahwa kita masih hidup, masih berpikir.

Filsafat dalam Orb menjadi penting karena ia mengingatkan bahwa keberanian berpikir adalah akar dari martabat manusia. Ketika hidup kita ditentukan oleh swipe dan like, ketika makna dipadatkan menjadi hashtag, maka menatap langit seperti Rafal dan bertanya “mengapa” menjadi tindakan yang paling manusiawi.

Langit Masih Bergerak, dan Kita Masih Bertanya

Kita hidup dalam dunia di mana banyak hal telah diputuskan sebelum kita sempat bertanya. Tapi Orb adalah pengingat bahwa langit belum berhenti bergerak. Bahwa kebenaran tidak pernah final. Bahwa menjadi manusia berarti terus bertanya, bahkan ketika jawaban tak kunjung tiba. Mungkin, satu-satunya cara untuk benar-benar hidup adalah dengan berani berpikir, dengan cinta, dengan cahaya. Seperti Rafal, kita tidak harus memilih antara iman dan logika. Kita hanya perlu jujur bahwa keduanya bisa berjalan berdampingan, jika kita punya keberanian untuk bertanya dan kesabaran untuk mendengarkan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Muhammad Zahrudin Afnan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email