Ekonomi Platform dan Bahaya Konstruksi Baru Kapitalisme

Ahmad Yinfa Cendikia

2 min read

Konstruksi baru kapitalisme abad ke-21 tidak lagi hanya menghasilkan buruh yang ditindas. Kapitalisme hari ini menghasilkan perbudakan modern yang membuat korbannya menindas dirinya sendiri.

Dahulu, filsuf Jerman terkemuka, Karl Marx (1818-1883) mengkritik kapitalisme karena menghasilkan hubungan kelas antara buruh dan pemilik modal. Hari ini, kapitalisme justru telah memodifikasi hubungan itu menjadi hubungan yang lebih kejam, layaknya budak dan tuannya. Hubungan eksploitatif baru ini menemukan momentumnya seiring dengan digitalisasi ekonomi.

Ini terlihat jelas dalam fenomena ketika pengemudi ojek daring harus bekerja enam belas jam per hari, tapi alih-alih mengeluh tentang beban jam kerja, ia akan mengeluh tentang kualitas kinerjanya. Begitu pula ketika pekerja lepas membalas pesan kliennya pada sepertiga malam, tanpa pernah merasa dirinya sedang dieksploitasi.

Baca juga:

Eksploitasi hari ini telah mengalami transformasi: dari pabrik ke ilusi pola pikir dan dari mandor ke aplikasi. Kapitalisme yang paling sukses adalah kapitalisme yang membuat korbannya merasa bersyukur, tanpa menyadari bahwa mereka sedang dieksploitasi. Bahayanya, generasi yang saat ini mengisi pasar kerja di Indonesia adalah generasi yang tumbuh dalam logika ini.

Ekonomi Berbasis Jaringan

Pemanfaatan teknologi digital yang masif tentu berbanding lurus dengan ekspansi perusahaan berbasis platform di berbagai sektor. Pada gilirannya, fenomena ini mempengaruhi tatanan kehidupan, acapkali disebut disrupsi, sebagai komando atas masifnya ekonomi berbasis platform digital.

Secara global, keadaan ini dipengaruhi oleh kekuatan big five atau lima perusahaan raksasa dunia berbasis platform, yaitu Alphabet-Google, Meta-Facebook, Apple, Amazon, dan Microsoft. Imbasnya, pasar Indonesia kini dibanjiri oleh beragam platform e-commerce, fintech, dan layanan berbasis aplikasi lainnya.

Dampak ekspansi industri berbasis platform ini telah mengubah kondisi, struktur, dan hubungan sosial yang menjadi fokus platformisasi. Bentuk mutakhirnya, revolusi ini memungkinkan praktik kapitalisme berbasis jaringan, yang kemudian dirumuskan dalam kerangka gig economy. Dalam perspektif ini, gig economy dapat dimaknai sebagai hasil transformasi ekonomi di mana fitur utamanya adalah hadirnya pekerjaan yang bersifat fleksibel, temporer, tidak stabil, dan hanya berbasis permintaan.

Ketika dulu pekerja selalu diawasi oleh mandor-mandor yang berkeliling di antara mesin-mesin dan majikan yang dapat dibenci bersama, sekarang merekalah yang balik diawasi dan dikoreksi oleh mesin-mesin dengan pelengkapan algoritmanya. Maka ketika mereka tidak punya alamat yang jelas untuk meluapkan masalahnya, mereka tidak bisa berkutik. Bahkan ketika gagal, ia tidak akan menyalahkan sistem, melainkan menyalahkan  dirinya sendiri.

Tipu Daya Ekonomi Platform

Dalam bekerja, yang menjadi persoalan bukanlah beban kerjanya. Beban kerja buruh sebelum-sebelumnya malah jauh lebih berat daripada yang terjadi sekarang dalam aspek fisik. Namun, yang membedakannya adalah keculasan tipu daya struktur psikologisnya.

Selain itu, buruh yang bekerja di pabrik akan mengetahui siapa musuhnya: atasan, mandor, peraturan. Sehingga, kemarahan mendapat alamat yang jelas. Kolektifitas jelas. Lain halnya dengan ekonomi platform ini yang tidak pernah memberikan alamat yang jelas. Seolah-olah, kesalahan adalah musabab dari perbuatan dan kesalahannya sendiri.

Selanjutnya, kapitalisme berbasis ekonomi platform juga memperkenalkan permainan bahasa yang licik. Istilah-istilah yang digunakan menetapkan mana yang bisa dan tidak bisa kita perjuangkan. Ia menggunakan konsep “kemitraan”. Tentu, mitra dalam konteks ini tidaklah sama dengan buruh. Konsep ini membuat pekerja lepas memiliki relasi yang setara.

Walaupun menggunakan konsep kemitraan, pekerja tidak pernah dilibatkan dalam menentukan keputusan dan aturan mainnya. Istilah yang digunakan ini bukanlah suatu yang kebetulan. Ini semua merupakan strategi yang sangat culas.

Strategi ini sengaja bertujuan mengaburkan hak-hak buruh yang sejak dahulu diperjuangkan oleh kaum kiri dengan penjara “mitra”. Mitra tidak akan pernah mendapat perlakuan yang sama dengan buruh. Ia kehilangan basis kolektif, jaminan, bahkan perlindungan.

Jumlah mitra dalam gig economy ini juga tidak pernah dibatasi. Sebab, semakin banyak mitra, maka akan semakin menguntungkan pihak eksploitator. Artinya, semakin banyak cadangan pekerja, maka akan semakin memungkinkan pihak eksploitator memberikan upah seminimal mungkin.

Baca juga:

Keadaan ini juga diperparah dengan lemahnya suara mitra itu sendiri. Maka, secara umum, hal tersebut telah memunculkan kontradiksi dengan klaim-klaim kapitalisme ekonomi platform yang katanya mampu menjamin fleksibilitas dan kemerdekaan bagi pekerjanya.

Pada akhirnya, proses memperjuangkan kelayakan dan keadilan bagi korban bukanlah beban yang harus dipikul oleh korban itu sendiri. Perlu kesadaran solidaritas pekerja lain, konsumen, akademisi, dan masyarakat secara luas untuk bisa terlibat dalam aksi perjuangan tersebut.

Namun, perlu dipahami, gerakan perjuangan buruh abad ke-21 tidaklah sama dengan abad 20. Ruang-ruang pertemuan bukan lagi nyata, melainkan maya. Demikian pula bahasa, dalam konteks ekonomi platform, “kelas” rasanya sudah kadaluwarsa untuk digunakan kembali. Sebab, saat ini pekerja tidak lagi diakui sebagai pekerja, melainkan “mitra”. Maka dari itu, tugas pertama kaum intelektual adalah menemukan bahasa yang tepat untuk menerjemahkan kesemena-menaan tersebut.

 

 

Editor: Prihandini

Ahmad Yinfa Cendikia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email