Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Catatan Hati Seorang Perempuan Pekerja

Kukuh Basuki

3 min read

Ketidaksetaraan gender di dunia kerja masih menjadi permasalahan yang pelik di Jepang hingga kini. Selain mendapatkan kesempatan yang lebih sedikit untuk diterima di tempat kerja, perempuan juga harus siap mengalami diskriminasi dari rekan kerja dan atasan yang mayoritas adalah laki-laki.

Melalui novel Diary of a Void, Emi Yagi menelanjangi budaya toksik di dunia kerja ini dengan cara unik, mengejutkan, dan sulit ditebak. Tokoh utama dalam novel terbitan Bentang Pustaka ini, Shibata, adalah perempuan berusia 34 tahun yang bekerja di sebuah pabrik tabung kertas. Ia baru saja pindah dari kantor penyaluran tenaga kerja.

Di kantornya yang lama, ia mendapati beberapa kekerasan dari klien dan merasa tidak mendapatkan perlindungan yang cukup dari instansi tempatnya bekerja. Selain bergaji rendah, kenaikan pangkat pun ternyata tidak menaikkan kesejahteraannya. Dengan kepindahannya ke kantor yang baru, ia berharap akan mendapatkan lingkungan kerja yang aman, lebih santai, dan tentunya tetap digaji dengan layak. Namun, apa yang diinginkannya tidak sepenuhnya sesuai harapan.

Baca juga:

Shibata ternyata satu-satunya perempuan di kantor barunya itu. Ia lantas dibebani kerja-kerja domestik seperti menyiapkan minuman, membersihkan meja rapat, dan membereskan berkas-berkas kerja, plus tetap harus menyelesaikan pekerjaan formalnya. Alih-alih membantu, karyawan laki-laki justru sering memerintah dengan seenaknya seperti pesan minuman di warung.

Akhirnya, Shibata mendapatkan ide untuk berpura-pura hamil. Ia ingin mencari jalan keluar dari rasa frustrasi yang tidak mungkin diungkapkan kepada siapapun dengan mengubah statusnya menjadi seorang ibu yang mengandung bayi.

Plot Segar

Dalam novel ini, Emi Yagi dengan cerdas memainkan plot cerita yang membingungkan sekaligus membuat penasaran pembaca. Dari awal cerita, pembaca tidak diberikan keterangan yang jelas apakah kehamilan itu asli atau palsu. Namun, setelah tokoh utama mengakui bahwa ia berpura-pura hamil di tengah cerita, penulis kembali mengejutkan pembaca ketika hasil USG dari dokter kehamilan mengatakan bahwa memang ada bayi sungguhan di perut Shibata saat ia hamil tua.

Penulis seperti mengajak pembaca memperkirakan dan mempertanyakan apa pun yang dilakukan Shibata dalam tiap minggu kehamilannya. Mengelabui publik dalam waktu yang lama bukanlah hal yang mudah. Apalagi, sandiwara kehamilan jelas sesuatu yang tidak bisa dikarang dengan mudah. Dari minggu ke minggu, ia harus menambah lapisan sumpalannya, mengubah gerak-gerik fisiknya, dan menyesuaikan baju yang dipakainya agar kelihatan natural. Untuk itu, Shibata mengikuti aplikasi mingguan media penyedia informasi perkembangan kandungan sehingga bisa memperkirakan besar janin dengan lebih akurat.

Imajinasi antara kehamilan yang fiktif ataupun nyata yang sepertinya memang sengaja tidak diberi garis batas yang jelas itu justru dengan efektif menguak budaya toksik di dunia kerja dan juga ketidaksetaraan gender yang hingga kini masih terjadi di Jepang. Melalui dialognya dengan sesama ibu-ibu hamil di sanggar senam aerobik, Shibata jadi mengetahui bahwa suami dari ibu-ibu hamil itu juga tidak terlalu peduli dengan perubahan kebutuhan istri mereka. Sementara itu, perilaku rekan kerja di kantor terbelah. Ada yang cuek dan seolah tidak terjadi apa-apa, menggunjingkan alih-alih memberi selamat kepada Shibata karena ia belum menikah, juga terlalu peduli sehingga malah membuat Shibata tidak nyaman.

Keringanan bisa pulang dua sampai tiga jam lebih awal dan terhindar dari kerja lembur dimanfaatkan Shibata dengan berbelanja sayuran dan bahan makanan segar untuk dimasak di rumah. Ia juga mempunyai waktu yang cukup untuk merawat diri dengan berendam dan menggunakan sabun khusus untuk kecantikan. Inilah kemewahan yang sulit didapatkannya ketika bekerja dalam jadwal normal.

Refleksi Kesepian

Memalsukan kehamilan adalah sebuah ironi yang dipilih Emi Yagi untuk menunjukkan betapa sulitnya perempuan hidup bahagia di dunia kerja yang masih didominasi budaya patriarkis. Rutinitas sehari-hari dijalani dengan hampa, membosankan, dan sering kali membuat batin tertekan. Sering kali Shibata merasa terkucilkan dan merasa kesepian yang mendalam.

“…Tapi, selama ini aku merasa benar-benar sendiri. Padahal, semestinya aku mengerti bahwa semua orang pun sendiri sejak lahir, tapi aku belum terbiasa. Pada fakta bahwa kita pun akan kembali seorang diri.” (Hal. 164)

Shibata tidak pernah mendapatkan suasana hangat dan nyaman di tempat kerjanya yang baru. Alih-alih mendapatkan dukungan moral dan teman ngobrol yang setara, rekan kerja dan atasannya malah suka bertanya tentang hubungan percintaannya dan kapan ia akan menikah. Pertanyaan-pertanyaan basa-basi nirempati yang terselip tendensi merundung di belakangnya.

Lahan basah ini ternyata rawa-rawa. Airnya tidak dalam, tapi sepanjang tahun menguarkan gas berbau aneh.” (Hal. 48) 

Begitulah kesan Shibata terhadap lingkungan tempat kerjanya yang baru. Sebuah lingkungan yang akan merusak orang yang ada di dalamnya perlahan-lahan seolah menghirup gas beracun setiap hari.

Dengan memalsukan kehamilan, Shibata ingin merasakan perubahan suasana kerja ke arah yang lebih baik, lebih hangat, penuh empati, dan tentunya lebih sehat. Sebuah pilihan yang penuh resiko untuk mendapatkan kesejahteraan yang seharusnya bisa diraih dengan mudah karena itu adalah hak semua pekerja tanpa melihat apa gendernya.

Baca juga:

Novel Diary of A Void ini hadir dengan membawa konsep dan ide cerita yang segar.  Mengeksplorasi dunia batin perempuan di dunia kerja yang toksik, Emi Yagi seolah turut menjadi bagian gelombang penulis pembaharu Jepang seperti Sayaka Murata, Hiroko Oyamada, dan Mieko Kawakami yang semakin gencar menyuarakan feminisme. Hal ini memberikan warna yang semakin semarak pada sastra Jepang yang sejak dahulu didominasi penulis laki-laki.

Sebagai novel perdana, Diary of A Void cukup fenomenal dan berhasil mendapatkan perhatian internasional. Novel peraih penghargaan Osamu Dazai 2020 sebagai karya pendatang baru terbaik ini sudah beredar di 22 negara dan diulas oleh media massa terkemuka dunia seperti The New York Times. Capaian itu mestinya cukup menjadi jaminan mutu bahwa buku ini memang layak kita baca untuk memahami persoalan diskriminasi dan ketidaksetaraan gender yang tak kunjung usai.

 

Editor: Emma Amelia

Kukuh Basuki
Kukuh Basuki Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email