Ketika nilai rupiah melemah hingga menembus angka sekitar Rp. 17.600 per dolar AS, Presiden Prabowo berbicara di hadapan media. Dengan gaya khas bicaranya yang lugas dan spontan, ia mengatakan “rakyat di desa tidak pakai dolar kok”.
Ungkapan itu langsung mengundang banyak perhatian. Ada yang meresponsnya biasa saja, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ada juga yang marah, karena khawatir akan berdampak pada perekonomian dalam negeri.
Masalahnya tentu tidak berhenti pada khawatir atau tidak khawatir akan ucapan itu. Justru dari pernyataan itu, kita bisa melihat bagaimana cara seorang pemimpin telah melihat rakyatnya, serta bagaimana cara ia memahami kenyataan ekonomi yang dihadapi oleh bangsanya.
Baca juga:
Apakah benar orang-orang di desa tidak menggunakan dolar? Tentu saja. Para petani di lereng-lereng gunung tidak pergi ke warung dengan membawa mata uang Amerika Serikat. Nelayan di pantai-pantai juga Indonesia tidak membeli solar dengan dolar. Tukang sayur di pasar tradisional pun tidak menghitung cabai dengan menggunakan kurs Federal Reserve. Mereka semua menggunakan rupiah. Mereka hidup dalam bahasa keseharian yang jauh dari istilah-istilah ekonomi seperti “yield obligasi”, “capital outflow”, atau “depresiasi mata uang”.
Namun dari situlah ironi ungkapan Prabowo itu bekerja. Meski orang desa tidak menggunakan dolar, tetapi dolar telah memegang hidup mereka. Dolar menggenggam secara diam-diam pada harga pupuk yang terus meningkat. Pada solar yang semakin mahal. Pada harga kedelai impor yang membuat bentuk tempe semakin mengecil. Pada pakan ternak, obat pertanian, suku cadang mesin, dan ongkos distribusi.
Dolar tidak hadir dalam bentuk lembar uang di tangan orang-orang desa, tetapi ia membayangi dalam setiap tindakan ekonomi mereka.
Apa yang diputuskan oleh bank sentral Amerika, tentu dapat berdampak sampai ke warung-warung kopi yang ada di kampung. Giddens menyebut itu sebagai runaway world—dunia yang berlari begitu cepat, sehingga kehidupan lokal mengikuti gerak kekuatan global yang jauh dari jangkauan rakyat biasa.
Maka ketika dolar naik, justru yang paling merasakan dari semua itu adalah mereka yang paling sedikit mendapatkan perlindungan ekonomi: petani, buruh, nelayan, dan rakyat miskin yang hidup dari penghasilan harian. Bukan hanya para importir dan orang-orang kaya saja.
Orang-orang desa mungkin tidak paham bagaimana kurs valuta asing itu bekerja. Namun mereka bisa memahami bagaimana harga minyak goreng hari ini tiba-tiba naik, harga pupuk sulit dibeli, dan harga beras yang semakin hari semakin mahal. Inilah letak persoalannya.
Apa yang kita dengar dari ucapan Prabowo lebih terdengar seperti usaha kekuasaan untuk memisahkan rakyat kecil dari gejolak ekonomi global. Seolah, desa dilihatnya sebagai ruang yang terpisah dan kebal dari masalah ekonomi dunia. Padahal desa saat ini sudah terseret oleh arus kapitalisme global: melalui pangan impor, energi impor, bahkan hutang negara yang dibayar dengan menggunakan mekanisme internasional.
Dalam pemikiran ekonomi kontemporer, Susan Strange, seorang pemikir ekonomi internasional asal Inggris, pernah mengingatkan bahwa kekuasaan negara modern sering kali kalah kuat dibanding kekuasaan pasar. Meskipun saat ini negara masih memiliki bendera dan pidato-pidato patriotik, tetapi untuk harga-harga kebutuhan pokok, masalah itu selalu tunduk pada arus yang terjaring dalam ekonomi global yang tidak lagi mengenal batas negara.
Mungkin ucapan “rakyat di desa tidak menggunakan dolar” memiliki maksud untuk menenangkan warganya. Tetapi upaya untuk menenangkan rakyat dengan cara menyederhanakan realitas adalah sebuah tindakan yang naif. Karena, rakyat saat ini lebih membutuhkan kejujuran dalam memahami mengapa hidup mereka semakin hari semakin berat, daripada pidato yang seolah terdengar menenangkan.
Jika memang maksud Prabowo itu adalah baik, sebuah ucapan pimpinan negara, setelah ia terdengar ke publik, tentu tidak lagi tunduk pada niat orang yang mengatakannya, ia sudah menjadi milik tafsir publik yang mendengarnya. Dan melalui tafsir itu, publik telah menangkap satu hal penting, bahwa pemimpin negaranya terlihat sangat jauh dari pengalaman konkret rakyat kecil di desa-desa.
Baca juga:
Padahal dalam jerat ekonomi global, orang-orang desa adalah kelompok masyarakat yang berada di lapisan paling rentan atas kerja sistem ekonomi global. Mereka adalah masyarakat yang terpaksa menerima atas dampak sistem ekonomi global itu sendiri, tanpa pernah ikut menentukan aturannya.
Dalam The German Ideology (1845-1846), Karl Marx pernah menulis, bahwa ideologi sering bekerja dengan cara membuat kenyataan tampak lebih sederhana daripada yang sebenarnya. Ideologi telah membius masyarakat kelas bawah untuk dibuat percaya bahwa penderitaan yang mereka alami adalah sesuatu yang bersifat alamiah. Padahal, penderitaan masyarakat sering terjadi akibat dari dampak kebijakan struktural.
Itulah bahaya dari ucapan “rakyat di desa tidak menggunakan dolar”. Ia membuat persoalan ekonomi terasa jauh dari pengalaman kehidupan rakyat. Padahal sesungguhnya persoalan itu sedang mengetuk pintu rumah mereka setiap hari. Dan rakyat di desa tahu tentang hal itu.
Pada akhirnya, meskipun orang-orang di desa tidak menggunakan dolar sebagai alat tukar ekonominya, di balik dampak kenaikannya, selalu ada bayangan yang menghantui dapur-dapur mereka. (*)
Editor: Kukuh Basuki
