Ada sesuatu yang menarik ketika nilai rupiah melemah: yang goyah sebenarnya bukan cuma angka di layar Bloomberg atau kurs di money changer bandara. Yang ikut goyah adalah psikologi kolektif. Orang mulai panik membeli dolar. Orang mulai merasa tabungan mereka mengecil meskipun jumlah nominalnya tetap. Orang mulai berpikir bahwa masa depan terlalu mahal untuk direncanakan.
Di titik tertentu, uang berhenti menjadi alat tukar. Ia berubah menjadi sumber kecemasan.
Dan mungkin di situlah pertanyaan yang lebih radikal mulai relevan: bagaimana jika masalah kita bukan sekadar lemahnya rupiah, melainkan cara kita memahami uang itu sendiri?
Selama ini kita diajarkan bahwa uang adalah sesuatu yang netral. Bahwa nilai uang muncul secara alamiah dari pasar. Bahwa bank sentral, suku bunga, cadangan devisa, dan grafik pertumbuhan ekonomi adalah sistem yang “normal.” Padahal sejarah menunjukkan bahwa sistem moneter modern sangat politis. Nilai mata uang tidak hanya ditentukan oleh produktivitas ekonomi, tetapi juga oleh persepsi, spekulasi, kekuatan geopolitik, bahkan perang narasi.
Baca juga:
Dolar Amerika kuat bukan hanya karena ekonomi Amerika besar, tetapi karena dunia dipaksa percaya bahwa ia kuat. Ada militer, ada Wall Street, ada IMF, ada dominasi teknologi, ada hegemoni budaya. Mata uang modern hidup dari kepercayaan kolektif.
Dan ketika kepercayaan itu retak, masyarakat mulai mencari alternatif.
Di Jerman, misalnya, ada sebuah eksperimen kecil bernama Chiemgauer. Ia bukan cryptocurrency. Ia bukan proyek Silicon Valley. Ia bahkan tidak terdengar futuristik. Chiemgauer adalah mata uang lokal yang digunakan di wilayah Bavaria sejak awal 2000-an. Nilainya dipatok terhadap euro, tetapi memiliki satu karakter unik: uang ini “membusuk” jika terlalu lama disimpan.
Konsepnya sederhana sekaligus revolusioner. Orang didorong untuk terus memutar uang di ekonomi lokal daripada menimbunnya. Setiap beberapa bulan, pemilik Chiemgauer harus membayar semacam biaya kecil agar uang itu tetap berlaku. Akibatnya, uang bergerak lebih cepat. Toko lokal hidup. Konsumsi lokal meningkat. Ekonomi menjadi lebih sirkular dan lebih manusiawi.
Kedengarannya aneh bagi masyarakat modern yang dibesarkan dengan obsesi menabung dan akumulasi aset. Tetapi justru di situlah kritiknya: sistem ekonomi global hari ini terlalu memuja penumpukan. Terlalu mengagungkan pertumbuhan tanpa batas. Terlalu percaya bahwa uang harus selalu menghasilkan lebih banyak uang. Padahal di dunia nyata, tidak semua hal harus tumbuh tanpa akhir.
Hutan tidak tumbuh sampai menembus atmosfer. Tubuh manusia juga berhenti bertambah tinggi pada titik tertentu. Tetapi kapitalisme finansial modern hidup dari logika pertumbuhan permanen. Jika pertumbuhan melambat sedikit saja, pasar panik. Investor marah. Mata uang negara berkembang dihukum. Termasuk rupiah.
Indonesia sebenarnya berada dalam posisi yang unik sekaligus rapuh. Negara ini kaya sumber daya, pasar besar, bonus demografi besar, tetapi mata uangnya tetap sangat rentan terhadap sentimen eksternal. Sedikit gejolak geopolitik, rupiah melemah. Sedikit investor asing keluar, rupiah terguncang. Sedikit pidato pejabat yang kontradiktif dan tidak memberi kepastian, pasar langsung gelisah.
Karena pada akhirnya mata uang bukan cuma soal ekonomi. Ia juga soal kepercayaan terhadap arah sebuah negara.
Masalahnya, banyak negara berkembang terlalu lama membangun ekonomi yang bergantung pada validasi eksternal. Kita bangga kalau investor asing datang. Kita bangga kalau rating internasional naik. Kita bangga kalau dipuji lembaga keuangan global. Tetapi kita jarang bertanya: apakah sistem ini benar-benar membuat masyarakat lebih resilien? Atau justru membuat kita terus bergantung?
Di tengah situasi seperti itu, konsep-konsep alternate money system mulai terasa menarik. Bukan karena mereka akan menggantikan rupiah atau menghancurkan bank sentral, tetapi karena mereka menawarkan cara berpikir baru tentang nilai.
Contoh lain adalah Plastic Bank. Sistem ini memungkinkan sampah plastik diperlakukan seperti mata uang. Di beberapa negara berkembang, masyarakat bisa mengumpulkan plastik dan menukarnya dengan kebutuhan pokok, akses internet, atau layanan tertentu. Sampah berubah menjadi aset sosial.
Ini menarik karena Plastic Bank pada dasarnya sedang mendefinisikan ulang apa itu “nilai.” Dalam sistem ekonomi konvensional, plastik bekas dianggap limbah. Tidak bernilai. Tetapi dalam sistem alternatif, limbah itu menjadi alat tukar yang memiliki fungsi sosial dan ekologis.
Ada sesuatu yang sangat filosofis di sini: nilai ternyata bukan sifat bawaan sebuah benda. Nilai adalah kesepakatan sosial.
Dan jika nilai hanyalah kesepakatan sosial, maka sebenarnya masyarakat punya ruang untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri.
Bayangkan jika di Indonesia muncul sistem-sistem ekonomi lokal berbasis komunitas. Bukan untuk menggantikan rupiah, tetapi untuk memperkuat ekonomi akar rumput. Bayangkan koperasi digital yang punya token lokal sendiri untuk mendorong transaksi antaranggota. Bayangkan desa-desa wisata yang menggunakan mata uang komunitas untuk mendukung UMKM lokal. Bayangkan sistem poin berbasis kontribusi sosial: menanam pohon, mengajar anak-anak, atau mendaur ulang sampah menghasilkan kredit ekonomi tertentu.
Kedengarannya utopis. Tetapi banyak hal yang sekarang dianggap normal dulunya juga terdengar absurd. Termasuk uang kertas itu sendiri.
Masalah terbesar sistem ekonomi modern bukan cuma ketimpangan. Masalah terbesarnya adalah alienasi. Orang bekerja semakin keras tetapi merasa semakin tidak aman. Kota-kota penuh aktivitas ekonomi tetapi warganya semakin kesepian. Produktivitas meningkat tetapi kualitas hidup mental justru menurun.
Kita hidup di era ketika uang berputar sangat cepat di pasar finansial, tetapi terlalu sedikit berputar di kehidupan nyata masyarakat kecil.
Dan ironi terbesar mungkin ada di sini: semakin digital ekonomi global, semakin banyak manusia merasa tidak punya kontrol atas hidup ekonominya sendiri. Karena uang hari ini terlalu jauh dari manusia.
Ia bergerak lewat algoritma, hedge fund, derivatif, spekulasi frekuensi tinggi, dan keputusan geopolitik negara adidaya. Nilai mata uang negara berkembang bisa jatuh bukan karena petani gagal panen, tetapi karena komentar pejabat bank sentral Amerika. Ada sesuatu yang absurd ketika kehidupan jutaan orang bisa dipengaruhi oleh kalimat pendek dalam konferensi pers di Washington.
Baca juga:
Mungkin karena itu, banyak generasi muda mulai tertarik pada ide ekonomi alternatif. Sebagian masuk ke cryptocurrency karena frustrasi terhadap sistem perbankan tradisional. Sebagian tertarik pada local currencies karena ingin ekonomi yang lebih dekat dengan komunitas. Sebagian tertarik pada circular economy karena sadar bumi tidak mampu menopang logika konsumsi tanpa akhir.
Tentu saja tidak semua eksperimen berhasil. Banyak proyek mata uang alternatif gagal karena kurangnya kepercayaan, regulasi buruk, atau sekadar terlalu idealistis. Cryptocurrency sendiri penuh paradoks: awalnya lahir sebagai kritik terhadap sistem finansial terpusat, tetapi sebagian akhirnya berubah menjadi kasino spekulatif baru.
Namun kegagalan eksperimen tidak otomatis membuat pertanyaannya menjadi tidak relevan. Karena yang sebenarnya sedang dicari masyarakat bukan sekadar teknologi baru. Yang dicari adalah rasa memiliki kontrol kembali atas hidup ekonomi mereka. Dan mungkin itu yang paling hilang dari percakapan ekonomi Indonesia hari ini.
Diskusi publik kita terlalu sering berhenti di angka pertumbuhan, nilai tukar, atau jargon hilirisasi. Jarang ada pembicaraan serius tentang bagaimana sistem ekonomi memengaruhi kesehatan mental masyarakat, solidaritas sosial, atau kualitas relasi manusia. Padahal ekonomi seharusnya bukan cuma tentang menghasilkan uang. Ekonomi seharusnya tentang bagaimana manusia bisa hidup lebih layak bersama-sama.
Rupiah yang melemah sebenarnya hanyalah gejala. Ia seperti demam pada tubuh yang kelelahan. Yang lebih penting adalah melihat penyakit struktural di baliknya: ketergantungan berlebihan pada pasar global, ekonomi ekstraktif, minimnya industrialisasi berbasis teknologi domestik, dan negara yang terlalu sibuk membangun citra dibanding membangun kepercayaan jangka panjang. Dan kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan slogan. Ia dibangun lewat konsistensi, institusi yang sehat, kepastian hukum, transparansi, dan masyarakat yang merasa dilibatkan dalam masa depan ekonomi negaranya. Karena pada akhirnya uang hanyalah cerita yang dipercaya bersama.
Dolar kuat karena orang percaya. Rupiah lemah ketika masyarakat mulai ragu. Chiemgauer bekerja karena komunitas lokal percaya satu sama lain. Plastic Bank berhasil di beberapa tempat karena masyarakat percaya bahwa sampah bisa memiliki nilai baru.
Semua sistem moneter, se-modern apa pun, pada dasarnya berdiri di atas fondasi psikologis yang sama: kepercayaan kolektif.
Dan mungkin di masa depan, pertanyaan ekonomi terbesar bukan lagi “mata uang mana paling kuat,” melainkan: sistem mana yang paling mampu membuat manusia merasa aman, bermartabat, dan terhubung dengan komunitasnya sendiri. Karena jika uang terus menjadi sumber kecemasan permanen, masyarakat cepat atau lambat akan mencari bentuk uang yang lain. Bukan yang paling canggih, tetapi yang paling manusiawi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
