“Semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat.” – Antonio Gramsci
Dalam realita hari ini, kritik Gramsci tertuju pada berjaraknya para intelektual dari masyarakat. Para intelektual belum memberikan kontribusi peran yang berarti dalam masyarakat. Saat ini kontribusi mahasiswa, sebagai intelektual masa depan, kerap dilakukan lewat progam pengabdian masyarakat, Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan bakti sosial. Namun, program tersebut justru membuat kontribusi para mahasiswa sebagai penyambung suara masyarakat hanya terkesan sebatas seremonial. Program tersebut seakan menjadi penggugur tugas belaka.
Berkaitan dengan peran intelek dalam masyarakat, mengingatkan kita pada Neneng Rosdiyana dengan konsep “Nenengisme” yang viral di media sosial belakangan ini. Konten Neneng Rosdiyana yang dikonsumsi publik sangatlah menampar para intelek. Lantas, mengapa Nenengisme bisa menjadi salah satu fenomena untuk mengkritik para intelek?
Baca juga:
Nenengisme Lebih Marxis-Praksis
Secara singkat, Neneng Rosdiyana, seorang ibu rumah tangga sekaligus anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mentari di Lampung, aktif berbagi kegiatan sehari-harinya bersama ibu-ibu kelompok tani. Ia terlibat dalam berbagai aktivitas pertanian, seperti membuka lahan, menanam sayuran, membersihkan gulma dan hama, hingga memanen dan menjual hasil pertanian. Semua kegiatan ini ia lakukan dengan melibatkan dan memberdayakan ibu-ibu di lingkungan sekitarnya.
Yang menarik dari keviralan sosok Neneng Rosdiyana adalah munculnya istilah Nenengisme, yang lahir dari ketikan para netizen saat melihat aktivitas sosial dan gagasan Neneng Rosdiyana yang ia bagikan di Facebook. Nenengisme sendiri merujuk pada gagasan intelektual Neneng yang langsung ia diwujudkan melalui tindakan konkret dan berkelanjutan lewat aktivitas bertani. Jika seorang intelektual sering kali terjebak dalam retorika dan agenda formal yang sifatnya seremonial, Nenengisme justru menghadirkannya dalam bentuk praksis yang lebih nyata dan membumi.
Yang menarik, Neneng mengkritik para intelek yang hanya berkutat dalam teori tetapi nihil dalam aksi. Di akun Facebook-nya Neneng melontarkan, “Semakin panjang teori, semakin jauh dari kenyataan. Sementara kalian sibuk berdebat soal penindasan kapitalis di coffee shop mahal, kami para petani sedang memastikan kalian tetap punya makanan di meja, meski kami sendiri nggak tahu besok bisa makan apa.”
Baca juga:
Dari celotehan tersebut Neneng menantang intelektual untuk melihat kembali peran mereka dalam masyarakat. Jika seorang ibu rumah tangga mampu memobilisasi komunitasnya dan menciptakan perubahan nyata, intelektual yang selama ini mengklaim diri sebagai “agen perubahan” seharusnya dapat melakukan lebih dari sekadar diskusi atau seminar ilmiah. Fenomena ini membuktikan bahwa aksi nyata dalam masyarakat lebih berdampak dibanding sekadar narasi tanpa implementasi.
Nenengisme dan Refleksi Para Intelek
Dalam perspektif Gramscian, Nenengisme adalah bentuk intelektualitas organik, di mana pemimpin lahir dari realitas sosial dan berjuang bersama masyarakat, bukan sekadar berbicara atas nama mereka. Ini menjadi kritik tajam bagi para intelektual yang hanya berkutat pada teori tanpa praksis yang nyata. Dengan demikian, Nenengisme menjadi model keberpihakan yang lebih konkret dan transformatif dibandingkan intelektualisme yang hanya berorientasi pada akademik.
Akhirnya, pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah para intelektual dan mahasiswa akan terus bertahan dalam ilusi formalitas, ataukah mereka akan mengambil inspirasi dari Nenengisme dan mulai bergerak lebih praksis untuk mengabdi kepada masyarakat?
Editor: Prihandini N
