Setiap agenda peringatan Hari Kartini, kata “perempuan” tidak pernah absen sebagai tema kunci. Seakan-akan tidak sah memperingati Hari Kartini jika tema agendanya tak memuat kata “perempuan”. Kebiasaan ini sebetulnya menghasilkan eksklusivitas perjuangan R. A. Kartini yang patut diwariskan oleh kelompok perempuan saja. Bukti paling mudahnya, kelompok laki-laki pada akhirnya harus berfikir dua kali untuk terlibat dalam agenda peringatan tersebut, sebab tema “perempuan” terkadang berjarak bagi laki-laki.
Penulis berasumsi bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor historis kekerasan yang kerap menjadikan kelompok perempuan sebagai korban, sementara laki-laki sebagai pelaku. Misalnya, dari 31 ribu lebih kasus kekerasan di Indonesia pada 2024, 27 ribu lebih korbannya adalah perempuan. Dalam banyak sejarah dunia pun, perempuan sering kali menjadi kelompok yang rentan dipinggirkan. Misalnya, dalam buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, Pramoedya menunjukkan banyaknya perempuan pribumi, yang ditipu menjadi budak seks tentara Jepang, terpaksa menetap di pulau Buru karena Jepang tak bertanggung jawab setelah kekahalannya.
Baca juga:
Alasan kedua yakni pembacaan kita pada pandangan Kartini yang tidak utuh. Sehingga, dalam menanggapi masalah (ketidaksetaraan) gender kita berputar dalam tema-tema perempuan saja. Penulis tak mengatakan semua, tapi rata-rata seperti itulah realitasnya. Padahal, semangat perjuangan Kartini, sebagai pahlawan nasional, bukan berbicara soal laki-laki yang merugikan perempuan saja, melainkan juga sistem patriarki yang terus menopang ketidaksetaraan.
Lebih dari itu, sebetulnya terdapat laki-laki yang mendukung dan ikut terlibat dalam perjuangan Kartini.
Laki-laki penopang semangat Kartini
Dalam surat-surat Kartini, berkali-kali ia mencurahkan isi hatinya terkait betapa perempuan menjadi kelompok yang dirugikan, sementara laki-laki selalu diuntungkan. Namun, alih-alih mengutuk laki-laki sebagai pelaku, Kartini lebih banyak berbicara tentang harapannya akan terciptanya dunia baru, yakni dunia yang tidak lagi membuat perempuan menjadi bisu dan terbelenggu. Bahkan, Kartini berpandangan bahwa semangat ini harus diserukan juga oleh kelompok laki-laki, bukan perempuan saja.
Hal ini begitu terasa dalam surat Kartini pada Nyonya Ovink-Soer, istri mantan assistant resident Jepara yang oleh Kartini dipanggilnya ibu;
“…Kami hendak mencari perhubungan dengan laki-laki kaum kami yang terpelajar, dan berhaluan kemajuan, hendak mencoba bersahabat dengan dia, lagi pula akan mencoba bantuannya. Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawani, melainkan pendapatan kolot dan usang, yang tiada gunanya bagi tanah Jawa kami di masa akan datang, ialah masa Jawa baru yang beberapa orang lain serta dengan kami jadi penebas jalannya…”
Surat tersebut menunjukkan bahwa Kartini percaya jika ingin menciptakan dunia baru yang lebih adil, maka semangat perjuangannya tidak boleh didengungkan oleh perempuan saja, melainkan harus pula keluar dari suara laki-laki. Sebab, yang menjadi problem dalam fenomena ini adalah sistem, bukan individu atau perorangan.
Benih semangat dalam hati Kartini sebetulnya juga tidak serta merta tumbuh begitu saja. Ada peran laki-laki yang turut menyirami semangat Kartini, sehingga pemikirannya tetap subur di tengah sistem kehidupan patriarki pada masanya.
Pertama, ayahnya, seorang bupati Jepara yang beberapa kali tertuang dalam surat-surat Kartini. Kata Kartini, ayahnya adalah sosok yang memahami keresahan di dalam hatinya. Bahkan, Kartini menceritakan dalam salah satu suratnya betapa ia sangat bahagia ketika ia diperbolehkan untuk bersekolah guru oleh ayahnya.
Kedua, R. M. Sosrokartono, kakak Kartini yang berhasil bersekolah ke Belanda, adalah sosok yang menyediakan bacaan untuk Kartini ketika Kartini dipingit. Lalu, Raden Adipati Joyodiningrat, suami Kartini, juga suami yang mendukung cita-cita istrinya. Ia memperbolehkan Kartini untuk mendirikan sekolah bagi perempuan.
Terakhir, Van Deventer, salah satu tokoh politik etis zaman kolonial, merupakan orang Belanda yang juga berusaha menghidupkan semangat Kartini. Setelah Kartini meninggal, ia bersama istrinya membangun Yayasan Kartini dengan maksud mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan di Hindia Belanda.
Lahir sebagai Laki-laki Baru
Dalam surat yang sama, yang dikirim pada Nyonya Ovink-Soer, Kartini menceritakan kendalanya untuk bersahabat dengan laki-laki yang berkemajuan. Ia mengatakan bahwa pada masa itu tak sepatutnya seorang perempuan yang belum bersuami bersahabat dengan laki-laki. Perbuatan demikian adalah hal yang salah, keliru, dan melanggar adat kebiasaan.
Kini, setelah 120 tahun Kartini tutup usia, tentu situasinya sudah lebih baik. Perempuan sudah boleh, tidak hanya bersahabat, tetapi juga berperan di ranah publik bersama laki-laki. Meskipun demikian, situasi ini bukan berarti bahwa perjuangannya sudah usai. Cita-cita Kartini belum sepenuhnya kita capai.
Keterlibatan laki-laki dan perempuan di ranah publik masih menunjukkan ketidaksetaraan. Dalam ranah politik misalnya, keterwakilan perempuan di DPR RI saat ini masih 21,9%, yakni hanya 127 dari 580 anggota. Lalu dalam aspek ekonomi, rata-rata upah pekerja perempuan jauh lebih rendah daripada laki-laki. Padahal, pendidikan perempuan rata-rata sudah lebih tinggi daripada laki-laki.
Kasus kekerasan yang banyak menjadikan perempuan sebagai korban juga mengindikasikan bahwa perjuangan Kartini masih belum selesai. Semangat kesetaraan masih perlu didengungkan, tidak hanya oleh perempuan, tetapi juga laki-laki. Perempuan tak bisa berjuang sendiri melawan sistem patriarki. Laki-laki pun, kata Kartini, hanyalah sekelompok orang yang berpikiran kolot dan usang jika terus menopangnya.
Maka dari itu, laki-laki yang hidup di zaman baru ini harus pula lahir sebagai laki-laki baru. Laki-laki yang mau melangkah di jalan yang telah dibukakan oleh Kartini, yakni jalan kesetaraan.
Baca juga:
Orang-orang dekat Kartini, begitu juga Van Deventer, dapat menjadi contoh keterlibatan laki-laki dalam perjuangan Kartini. Mereka menjadi laki-laki yang memahami privilese dalam dirinya, tetapi tidak digunakannya untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya, mereka menggunakan privilese tersebut agar bermanfaat untuk sesama manusia.
Inilah bukti bahwa perjuangan Kartini bukan semata semangat yang hanya diwariskan untuk perempuan, apalagi untuk menyaingi laki-laki. Semua manusia harus mewarisi semangat perjuangan Kartini. Sebab semangat perjuangan Kartini sebetulnya adalah semangat kemanusiaan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
