Ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari jerawat yang meradang atau stretch mark yang menggaris di paha, itu adalah komentar yang datang setelahnya.
“Kok mukanya jadi kayak gitu?”, “Perempuan kok iteman?”, “Belum nikah aja udah banyak stretch mark, apalagi kalau punya anak.”
Kalimat-kalimat itu terdengar ringan namun terceploskan begitu saja, bahkan sering disamarkan sebagai candaan atau dipoles seperti kepedulian. Tetapi ia bekerja perlahan, mengikis rasa aman seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Awalnya hanya kondisi biologis berubah menjadi sumber malu, yang awalnya bagian alami dari pertumbuhan tubuh berubah menjadi alasan untuk merasa gagal.
Saya teringat seorang remaja perempuan yang rutin datang ke klinik kecantikan, bukan karena ia ingin tampil lebih cantik, tapi karena ia kerap dihujat. Jerawat di wajahnya menjadi bahan ejekan teman-teman sekolah. Ia disebut jorok, tidak bisa merawat diri, bahkan ada yang berani berbisik, “pantes nggak ada yang suka”. Lama-kelamaan hal itu tertanam dalam benaknya. Ia percaya, bahwa wajahnya adalah masalah. Bahwa tubuhnya adalah kesalahan. Bahwa ia harus membayar untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya bukan dosanya.
Sejak kapan kondisi biologis menjadi kegagalan moral?
Baca juga:
- Menyingkap Ilusi Putih: Standar Kecantikan dan Komodifikasi Tubuh Perempuan
- Fast Beauty: Racun Perlombaan Produk Kecantikan
Tubuh Perempuan dan Standar yang Diproduksi
Tubuh perempuan tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu menjadi ruang tafsir sosial. Naomi Wolf dalam The Beauty Myth menjelaskan bahwa standar kecantikan bukan sekadar preferensi estetika, melainkan instrumen kontrol. Ketika perempuan semakin hadir di ruang publik seperti pendidikan, pekerjaan, bahkan wacana keagamaan maka tekanan yang muncul untuk tetap “sempurna” justru semakin kuat. Tubuh menjadi medan baru untuk mengawasi dan mengendalikan.
Standar itu tidak lahir secara alami. Ia diproduksi, direproduksi, lalu dinormalisasi. Media sosial dipenuhi wajah mulus dengan filter halus. Iklan produk pemutih menjanjikan masa depan lebih cerah melalui warna kulit lebih terang. Klinik kecantikan menawarkan paket perawatan untuk “mengatasi kekurangan.” Pesan yang dikirimkan sama: ada yang salah dengan tubuhmu, dan kami punya solusinya.
Bahkan jarang kita sadari, industri ini tidak hanya menjual produk. Ia menjual rasa tidak cukup. Ia menanamkan kegelisahan, lalu menawarkan pereda. Dalam logika kapitalisme, insecurity adalah komoditas. Semakin banyak perempuan merasa kurang, semakin besar pasar yang tercipta. Akhirnya tubuh perempuan berubah menjadi proyek tanpa akhir. Selalu ada yang harus diperbaiki, diputihkan, dikencangkan, dihilangkan. Seolah-olah nilai manusia bisa ditingkatkan lewat krim dan laser.
Self-Hate yang Tidak Lahir dari Ruang Kosong
Justru rasa insecure malah dianggap sebagai persoalan personal layaknya kurang percaya diri, kurang bersyukur, kurang iman, dan apalah itu semua. Padahal, kebencian pada diri sendiri sering kali merupakan hasil dari tekanan sosial yang terus-menerus. Sosiolog Erving Goffman menyebut konsep stigma sebagai label negatif yang dilekatkan pada individu karena ia tidak sesuai norma dominan. Dalam masyarakat yang mengultuskan wajah mulus dan kulit cerah, jerawat dan warna kulit gelap berubah menjadi tanda “ketidaklayakan”.
Label itu tidak berhenti sebagai ejekan. Ia meresap ke dalam kesadaran. Michel Foucault menyebut proses ini sebagai disiplin tubuh yakni ketika kontrol tidak lagi datang dari luar, tetapi dari dalam diri. Seseorang mulai mengawasi dirinya sendiri, menghakimi dirinya sendiri, bahkan menghukum dirinya sendiri karena tidak sesuai standar.
Pada kasus remaja yang terus diejek, tidak perlu dipaksa untuk merasa rendah diri. Ia akan sampai pada titik itu dengan sendirinya. Ia akan bercermin dan melihat kekurangannya terus menerus, bukan sekedar wajahnya saja. Ia akan percaya bahwa dirinya memang kurang.
Self-hate tidak muncul tiba-tiba. Ia dibentuk, dipelihara, dan diwariskan lewat percakapan sehari-hari yang dianggap biasa. Di sinilah letak kekerasan simbolik itu hadir, seperti kata Pierre Bourdieu, bagaimana kekuasaan bekerja secara halus tanpa harus memukul atau menyentuh. Sederhana, candaan tentang tubuh, komentar tentang warna kulit, atau nasihat “perempuan harus menjaga penampilan” adalah bentuk kontrol yang tampak lembut tetapi berdampak panjang.
Tubuh, Moralitas, dan Perspektif Keagamaan
Persoalan ini semakin berat saat tubuh perempuan tidak hanya dinilai secara estetika, tetapi juga secara moral. Perempuan yang dianggap “tidak menarik” sering dilekatkan pada asumsi negatif: malas, tidak disiplin, dan tidak merawat diri. Tubuh menjadi bukti yang selalu diaudit. Seolah-olah penampilan fisik mencerminkan kualitas akhlak.
Perempuan juga sering diposisikan sebagai simbol kehormatan, seperti tubuhnya harus rapi, bersih, dan enak dipandang. Jika tidak, ia dianggap gagal memenuhi ekspektasi sosial. Padahal standar itu tidak pernah ditetapkan sebagai ukuran moral dalam ajaran agama.
Dalam kitab suci umat Islam pun menyebut manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (ahsani taqwim), yang berarti kemuliaan tidak bergantung pada warna kulit, tekstur wajah, atau bentuk tubuh. Ajaran Islam yang menekankan keadilan dan tanggung jawab timbal balik, nilai moral tidak dibebankan hanya kepada satu pihak, jika perempuan dituntut menjaga diri, laki-laki pun dituntut menjaga pandangan dan lisannya. Jika laki-laki tidak diukur kehormatannya dari standar estetika, mengapa perempuan harus?
Islam juga mengajarkan adab menjaga lisan dan pandangan. Artinya, tanggung jawab moral pertama bukan pada tubuh yang dilihat, melainkan pada cara kita memandang dan berbicara. Namun dalam praktik sosial, beban justru sering dipindahkan kepada perempuan: mereka yang harus memperbaiki diri agar tidak dikomentari.
Mengembalikan Tubuh kepada Pemiliknya
Mungkin kita perlu berhenti melihat body shaming sebagai persoalan sepele. Ejekan tentang jerawat di sekolah bukan sekadar candaan. Ia bisa menjadi awal dari kecemasan sosial, gangguan makan, hingga ketergantungan pada perawatan mahal yang sebenarnya tidak dibutuhkan secara medis. Solusinya tidak cukup berhenti pada kampanye “Love Yourself”. Pesan itu penting, tetapi ia sering terjebak pada tanggung jawab individual. Seolah-olah jika seseorang masih merasa insecure, itu karena ia belum cukup kuat. Padahal yang perlu dibongkar adalah sistem yang membuat perempuan merasa salah sejak awal.
Baca juga:
Saya di sini tidak akan mendefinisikan strech mark seperti apa, jerawat yang bagaimana, melainkan cara pandang bahwa stretch mark adalah respons alami tubuh. Jerawat adalah proses biologis. Kulit gelap adalah variasi ciptaan. Tidak satu pun dari itu adalah dosa. Hal yang lebih bermasalah adalah sistem sosial yang membuat perempuan merasa bersalah atas sesuatu yang tidak pernah mereka pilih. Revolusi paling sederhana yang bisa kita mulai hari ini adalah berhenti mengomentari tubuh orang lain. Tidak ikut tertawa ketika ada yang dijadikan bahan ejekan. Tidak menjadikan standar kecantikan sebagai ukuran nilai manusia.
Karena setiap kali kita memilih untuk diam atau menertawakan, kita ikut menentukan apakah tubuh perempuan akan terus menjadi proyek publik, atau diakui sebagai ruang utuh yang tak bisa dihakimi, tak bisa ditawar, dan tak membutuhkan izin siapa pun untuk dihormati. Tubuh itu miliknya sendiri. (*)
Editor: Kukuh Basuki
