Generasi siswa hari ini—yang sebagian besar berasal dari Gen Z dan Gen Alpha—lahir dan tumbuh dalam era internet dan media sosial. Di atas kertas, ini seharusnya menjadi keuntungan: mereka lebih mudah mengakses informasi, lebih terbuka terhadap pengetahuan baru, dan punya banyak jalur belajar di luar kelas. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu seperti itu.
Untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, siswa saat ini tidak lagi sepenuhnya mengandalkan penjelasan dari guru dan dari buku pelajaran di sekolah. Karena adanya akses internet, siswa dapat dengan mudah mendapatkan informasi dan pengetahuan yang mereka butuhkan.
Namun, justru di sinilah letak paradoksnya. Akses yang tanpa batas terhadap informasi tidak serta-merta menjadikan siswa lebih bijak dalam memilah mana yang benar dan mana yang salah. Mereka tumbuh dalam lanskap digital yang riuh oleh banjir opini, hoaks, dan narasi yang kerap tidak diverifikasi.
Dalam banyak kasus, keterbukaan informasi itu tidak membentuk warga muda—dalam konteks ini berarti siswa—yang kritis. Keterbukaan informasi justru menciptakan kebingungan di mana semua suara di internet dan media sosial terdengar setara, dan otoritas pengetahuan menjadi kabur.
Posisi Guru yang Menjadi Aneh
Di banyak ruang kelas hari ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Keberadaan internet dan akal imitasi (AI) membuat setiap pernyataan guru bisa langsung diperiksa, ditantang, atau bahkan didebat—cukup lewat pencarian Google atau bertanya ke ChatGPT.
Sekilas, ini seperti kemenangan demokratisasi pengetahuan. Semua orang bisa mengakses informasi, semua orang bisa menjadi tahu. Namun, ada yang luput, yaitu semua orang tahu apa yang sebenarnya mereka tahu.
Baca juga:
Alih-alih skeptis, banyak siswa justru cenderung mengiyakan informasi yang datang dari mana pun—termasuk dari guru mereka. Bukan karena mereka setuju, tapi karena mereka sendiri belum tahu harus bertanya dari mana, atau apa yang patut dipertanyakan. Dalam praktiknya, informasi dari guru tetap dipercaya, bukan karena otoritasnya, melainkan karena kebingungan siswa itu sendiri.
Fenomena ini membuat posisi guru menjadi tampak aneh. Mereka bukan lagi sumber kebenaran mutlak, tapi juga belum sepenuhnya tergantikan. Sementara itu, di luar kelas, siswa dijejali oleh video TikTok edukasi bergaya “infotainment“, thread panjang di X, hingga akun-akun Instagram yang menyajikan pengetahuan dalam bentuk infografik estetik dan minimalis—sesuai dengan selera Gen Z dan Gen Alpha saat ini.
Ada yang bilang ini adalah kemajuan. Namun, apakah benar bahwa siswa hari ini lebih kritis? Atau jangan-jangan, mereka hanya lebih terbiasa menerima informasi dari banyak sumber tanpa merasa perlu mengerti asal-usul atau validitasnya?
Tom Nichols, dalam bukunya yang berjudul Matinya Kepakaran, menyatakan bahwa masalah yang paling jelas adalah orang bebas mengunggah apa pun di internet, sehingga ruang publik dibanjiri informasi tidak penting dan pemikiran setengah matang. Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, tetapi sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok.
Kita tidak sedang hidup di era anti-guru. Kita hidup di masa ketika guru harus bersaing dengan algoritma internet dan media sosial. Era ketika pengetahuan harus tampil menarik agar dianggap layak dipercaya, dan ketika skeptisisme yang sehat tidak lagi dibentuk lewat diskusi, melainkan lewat “engagement”.
Ketika guru tidak lagi dianggap sebagai “otoritas pengetahuan” yang utama, muncul pertanyaan baru: apakah siswa cukup siap memegang kendali atas pengetahuan mereka sendiri di era information overload seperti sekarang ini?
Siswa Melek Teknologi, tapi Malas Berpikir
Kita hidup di era ketika semua orang bisa tampak tahu segalanya. Internet dan media sosial telah membongkar tembok otoritas pengetahuan. Hari ini, tidak sulit menemukan remaja yang bisa menjelaskan konflik geopolitik atau sejarah peradaban hanya dengan mengutip video TikTok berdurasi satu menit. Namun, di balik kesan “melek informasi” itu, tersimpan masalah yang lebih serius yaitu hilangnya kemampuan berpikir kritis dan keengganan untuk memahami secara mendalam.
Siswa hari ini—termasuk saya, sangat akrab dengan teknologi. Siswa hari ini bisa dengan cepat mencari informasi, menggunakan AI untuk menjawab soal, bahkan belajar dari berbagai kanal edukasi nonformal. Namun, kemampuan teknis ini tidak selalu sejalan dengan kapasitas intelektual. Siswa hari ini bisa tahu banyak hal, tapi tidak selalu paham betul apa yang diketahuinya.
Asal Mengerjakan Tugas
Sebagai siswa SMA, saya tentu sangat senang dengan keberadaan mesin pencari seperti Google dan AI seperti ChatGPT yang mempermudah pengerjaan tugas sekolah saya. Walaupun begitu, saya tidak menerima informasi yang didapatkan secara mentah-mentah. Untuk memverifikasi kebenarannya, saya biasanya mencari sumber dari situs lain yang sekiranya sama informasinya.
Namun, verifikasi kebenaran yang saya lakukan itu jarang dilakukan oleh teman-teman saya yang lain sesama siswa. Ketika mencari jawaban melalui mesin pencari atau AI, mereka cenderung menerima mentah-mentah informasi yang diterima. Bahkan ada beberapa dari mereka yang hanya copy-paste jawaban baik dari mesin pencari maupun AI tanpa dipahami, alias mereka tidak tahu apa jawaban yang sebenarnya mereka gunakan untuk menjawab soal.
Baca juga:
Fenomena ini tidak hanya menunjukkan rendahnya kemampuan verifikasi informasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana motivasi belajar bergeser. Tugas-tugas sekolah tidak lagi dipandang sebagai proses belajar, melainkan sekadar beban administratif yang harus diselesaikan. Yang penting adalah mendapatkan nilai, bukan mendapatkan pengetahuan.
Oleh karena itu, tidak heran jika banyak siswa mengerjakan tugas bukan untuk belajar, melainkan agar tidak dimarahi guru atau agar bisa segera bermain ponsel kembali. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini akan sangat merugikan bagi siswa, karena melemahkan daya nalar dan minat belajar itu sendiri.
Saatnya Siswa Mengambil Peran dalam Belajarnya Sendiri
Fenomena “matinya kepakaran” bukan hanya soal bagaimana guru kehilangan otoritasnya di hadapan Google dan ChatGPT. Lebih dari itu, ia juga tentang bagaimana siswa kehilangan semangat untuk menggali pengetahuan secara mandiri dan mendalam.
Melek teknologi tanpa disertai nalar kritis hanya akan membuat siswa tersesat di tengah banjir informasi. Siswa di sini harus mengambil sikap, yakni “membangun otoritas” pengetahuannya sendiri—dengan bertanya, menggugat, memverifikasi, dan terus berpikir.
Belajar bukan hanya urusan nilai atau tugas yang harus selesai. Ia adalah upaya membentuk diri agar tidak mudah dibodohi, tidak gampang percaya, dan tidak silau pada segala hal yang viral. Jika siswa tidak mulai menyadari itu, siswa akan kehilangan otoritas atas pikirannya sendiri.
Editor: Prihandini N
