Seperti bara dalam sekam, perlawanan kaum tertindas tak pernah benar-benar padam. Dalam gelap represi, suara tetap bergema, merayap dalam lorong-lorong sunyi, mengetuk dinding-dinding kesadaran.
Wiji Thukul adalah nyala kecil yang membakar. Suaranya adalah genderang yang menggetarkan hati buruh, petani, dan kaum miskin kota. Ia bukan hanya penyair, melainkan pemandu yang menunjukkan jalan bagi mereka yang terus tertunduk oleh beban kapitalisme dan represi negara. Dengan bait-bait tajam dan aksinya yang lantang, ia membuktikan bahwa kata-kata bisa menjelma peluru yang mengguncang tatanan.
Sejarah telah menunjukkan bahwa perjuangan tak sekadar lahir dari sekumpulan kehendak yang tercerai-berai. Dalam bukunya Aksi Massa, Tan Malaka menegaskan bahwa revolusi bukanlah badai yang datang tiba-tiba, melainkan arus yang dibangun dari disiplin, organisasi, dan kesadaran kelas.
Sebagaimana buruh PT Sritex yang dipimpin oleh Wiji Thukul, mereka bukan sekadar sekelompok pekerja yang mogok karena upah rendah. Mereka adalah potret rakyat yang bangkit, mengerti bahwa rantai yang membelenggu mereka harus diputus dengan tangan sendiri. Mereka menolak menjadi roda dalam mesin yang hanya bergerak untuk memperkaya tuan-tuan modal.
Dalam setiap perlawanan, pendidikan menjadi napas yang menghidupi gerakan. Paulo Freire, dalam Pendidikan Kaum Tertindas, mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah sekadar pengisian kepala dengan doktrin-doktrin kosong, melainkan percikan kesadaran yang mengajarkan kaum tertindas untuk memahami dan melawan sistem yang menindas mereka. Wiji Thukul memahami ini. Puisi-puisinya bukan hanya untaian kata, tetapi sebuah sekolah di bawah langit terbuka. Tempat buruh belajar membaca dunia dengan mata mereka sendiri, tempat mereka belajar bahwa mereka bukan sekadar angka dalam laporan produksi.
Namun, penguasa selalu gentar pada mereka yang berani berpikir dan bergerak. Seperti yang dipaparkan Tan Malaka, negara yang berpihak pada kapital selalu memiliki alat represi untuk menjaga status quo. Wiji Thukul, yang suaranya semakin nyaring, menjadi ancaman bagi Orde Baru yang paranoid terhadap perlawanan rakyat.
Hilangnya Wiji Thukul pada 1998 bukan sekadar kisah seorang aktivis yang diculik dan tak pernah kembali, tetapi cerminan bagaimana negara berusaha membungkam kebenaran dengan kekerasan. Tetapi mereka lupa satu hal: suara yang telah terbangun tidak bisa dihancurkan begitu saja. “Hanya ada satu kata: Lawan!” pekik Wiji Thukul yang terus menggema dalam tiap perlawanan buruh hingga hari ini.
Baca juga:
Wiji Thukul telah berkali-kali merasakan teror dari tangan-tangan negara. Pada tahun 1996, saat terjadi demonstrasi besar di Solo, ia menjadi buruan aparat. Dalam salah satu insiden, ia dipukuli begitu keras hingga hampir kehilangan penglihatannya. Matanya bengkak, tubuhnya lebam, tetapi semangatnya tidak padam. Ia terpaksa berpindah-pindah tempat persembunyian, hidup dalam bayang-bayang ketakutan, namun tetap menulis dan berbicara. Luka-luka fisik hanyalah bagian kecil dari harga yang harus dibayarnya untuk memperjuangkan suara kaum tertindas.
Tindakan represif terhadap Wiji Thukul bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah perjuangan rakyat. Kita bisa melihat pola yang sama dalam berbagai perlawanan kelas pekerja di seluruh dunia. Setiap kali ada suara yang menyadarkan, ada tangan besi yang siap membungkam. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa represi hanya memperkuat semangat perlawanan. Seperti halnya Tan Malaka yang dibuang dan diasingkan berkali-kali, atau Freire yang pemikirannya berusaha dikekang, Wiji Thukul adalah bagian dari rantai panjang pejuang yang memahami bahwa ketidakadilan tidak akan runtuh hanya dengan diam dan tunduk.
Pembangkangan sipil bukanlah tindakan tanpa makna. Seperti yang diajarkan oleh Thoreau, Gandhi, dan Martin Luther King Jr., pembangkangan sipil adalah strategi perlawanan yang lahir dari kesadaran politik, dilakukan secara kolektif, dan bertujuan untuk mengguncang sistem yang timpang.
Baca juga:
Buruh yang mogok bukan hanya sekadar menuntut hak, tetapi sedang menyusun sebuah narasi baru: bahwa mereka bukan sekadar roda dalam sistem, tetapi kekuatan yang bisa meruntuhkan mesin itu sendiri. Ini adalah perlawanan yang tidak hanya menggetarkan pabrik-pabrik, tetapi juga menampar wajah penguasa yang selama ini abai.
Mogok kerja, unjuk rasa, dan gerakan kolektif lainnya tidak bisa dipandang sebagai tindakan tanpa tujuan. Justru dalam setiap langkah perlawanan, ada kesadaran yang tumbuh, ada keberanian yang diciptakan. Wiji Thukul mengajarkan bahwa puisi tidak boleh hanya menjadi kata-kata indah tanpa makna. Kata-kata harus bertaring, harus menghantam, harus menggerakkan. “Puisi bukan sekadar deretan kata,” begitu kira-kira yang ia tanamkan, “puisi adalah suara mereka yang tak didengar, adalah jeritan mereka yang tertindas“.
Dari Tan Malaka hingga Wiji Thukul, dari Aksi Massa hingga Pendidikan Kaum Tertindas, satu benang merah menyatukan mereka: bahwa perlawanan bukanlah sekadar impian kosong, tetapi harus dibangun dengan kesadaran, pendidikan, dan aksi kolektif yang terorganisir. Sejarah telah menunjukkan bahwa rezim boleh membungkam suara, boleh menculik tubuh, tetapi ide dan perjuangan akan selalu menemukan caranya sendiri untuk hidup dan berlipat ganda.
Kita tidak hanya mengenang Wiji Thukul, tetapi melanjutkan apa yang telah ia mulai. Suara yang pernah ia titipkan kepada rakyat, kini menjadi nyanyian perlawanan yang tak akan pernah bisa dibungkam. Setiap kali buruh menuntut haknya, setiap kali rakyat bangkit melawan ketidakadilan, maka di sanalah Wiji Thukul hidup—di tengah-tengah mereka yang tak gentar, di antara mereka yang percaya bahwa dunia yang adil bisa diperjuangkan. Karena bagi mereka yang berani melawan, puisi tidak akan pernah mati, dan revolusi selalu punya kata-kata terakhir.
Editor: Kukuh Basuki
