Suatu ketika seorang rekan pernah bertanya: “apa dosa-dosa AI dalam menulis?” Saya pikir itu pertanyaan bagus. Karena dengan tahu apa dosa-dosanya, dengan tahu apa ciri-cirinya, tulisan AI menjadi bersih alias tidak berdosa.
Saya akrab dengan AI. Hampir setiap hari kami membicarakan apa saja, mendiskusikan topik-topik, dan kadang saya memaki AI karena dia sok tahu. Karena di lingkungan saya juga banyak yang menggunakan AI, dan lingkungan membentuk kebiasaan, dan saya khawatir, kebiasaan membentuk cara berpikir.
Istri saya pernah bertanya, dan memang ia akan terus bertanya tentang apa saja. Karena itu juga kadang ia tidak puas dengan jawaban saya, dan membandingkannya dengan jawaban AI. Dan ia akan semakin kesal jika saya menjawab dengan benar. Lama-lama rasa kesalnya berubah jadi kagum, ia yang cerita sendiri. Sejak itu makin sering bertanya pada saya, setiap hari saat bangun tidur, saat mau makan, dan saat kami berangkat kerja. Isi kepalanya penuh pertanyaan.
Baca juga:
- Mitigasi Kemanusiaan Pasca Kecerdasan Buatan
- Data Annotator: Kontribusi Linguistik di Balik Sat-Setnya Kecerdasan Buatan
Ia menanyakan alasan saya kesal sekali dengan tulisan AI? Saya perlu menyiapkan jawaban yang tepat, dan sekaligus tidak memancing dia untuk bertanya lagi. Saya jawab begini: “kamu tahu lukisan Monalisa? Bayangkan di belakang Monalisa ada Godzilla, Ultraman, dan Megazord. Menurutmu bagaimana?”
Ia tidak bertanya lagi. Ada dua kemungkinan: sepertinya dia bingung dengan ilustrasi yang saya berikan, atau sepertinya dia menangkap kejengkelan saya. Dan saya pikir memang begitulah tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh AI tanpa ada sentuhan manusia. Ia memang bagus, menyajikan metafora yang bombastis, ada figur retoris yang canggih, tetapi ia menghilangkan fokus utama tulisan itu.
Tulisan AI begitu sibuk dengan kosmetika, begitu sibuk dengan aksesoris, dan dengan begitu membacanya membuat saya lelah. Dan karena sering berdebat dengan AI, saling beradu tulisan mana yang lebih cemerlang, saya jadi peka dengan karakteristik tulisan-tulisan AI. Tidak perlu AI identifier atau checker, saya mengetahuinya dengan intuisi, dan (sayangnya) kebanyakan intuisi saya akurat.
Ada beberapa kecenderungan tulisan yang “formulaik“. Saya tidak menemukannya di satu tulisan, atau satu penulis, saya menemukannya di berbagai penulis lain. Saya membandingkan tulisan rekan saya dengan tulisan lain yang saya juga curigai, mereka memiliki ciri dan formula yang sama. Panjang pendek kalimatnya juga sama; penempatan dan penggunaan kalimat fragmentarisnya juga nyaris sama. Jika AI adalah mesin, maka tulisan yang dihasilkan akan bersuara seperti mesin juga saat dibaca.
Saya bukan yang alergi dengan AI. Ia banyak membantu saya. Ia menemani saya sampai berjam-jam. Ia juga tidak marah jika saya maki-maki. AI juga membantu saya menjangkau hal-hal yang di luar isi kepala saya dalam menulis. Saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya memegang salju jika saya menulis tentang salju. Saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya di Eropa saat saya menulis tentang Eropa. Menulis jadi menyenangkan karena ada banyak pengetahuan yang bisa saya terima. Dengan banyak pengetahuan, ada banyak cara yang bisa saya coba untuk menulis macam-macam. Kesenangan saya dengan menulis makin bertambah-tambah.
Saya tentu tidak mau jika kesenangan saya direbut. Seperti seorang kanak-kanak yang sedang asyik disusui ibunya, dan di tengah keasyikan itu sang ibu mencabut putingnya dari kanak-kanak itu. Ia akan menangis. Dan menangis lebih sering dekat dengan ketidaksenangan.
Istri saya juga banyak terbantu dengan AI. Misalnya menjawab pertanyaan teman yang ingin meminjam uang, ia tidak perlu lagi kebingungan. Ia bingung bukan karena masalah uangnya. Saya tentu tidak suka orang yang meminjam, kemudian melupakannya, kemudian tidak membayarnya. Istri saya tidak masalah. Bagi dia berbuat baik bisa kepada siapa saja dengan bentuk apa saja. Ia tidak khawatir soal uang; saya yang khawatir. Maka, dia akan bertanya pada AI bagaimana cara menolak yang baik. Jika bertanya pada saya, dia curiga saya tidak akan menjawab sesopan jawaban AI.
Tetapi, istri saya tetap sering bertanya pada saya; saya juga belajar cara menjawab dengan sopan. Dan suatu ketika saya menawarinya sebuah cerita pendek bagus, ia membacanya, dan ia menanyakan sesuatu tidak lama setelah pembacaannya selesai. “Bukankah ini tentang Adam dan Hawa?” Betul kata saya. Itu memang tentang Adam dan Hawa. Memang banyak referensi biblikal yang digunakan untuk pengayaan sebuah cerita pendek. Kadang bagus. Kadang seperti dipaksakan.
Kami pun terus berbicara tentang isi cerpen itu, tentang Adam dan Hawa, dan tentang dosa-dosa mereka. Itu pembicaraannya yang menarik. Sebentar kemudian ia menanyakan siapa anak nabi Nuh. Saya tidak tahu. Jujur saya lupa. Maka saya berpura-pura meminta ia mengulangi pertanyaannya, sambil pura-pura mengetik: ada WA yang perlu kubalas, kata saya.
Baca juga:
Ia menanyakan ulang, pertanyaan itu saya ketik sebagai prompt. Mungkin itu dosa saya yang pertama. Saya malu jika tidak bisa menjawab, dan akan konyol jika saya mengarang jawaban. Maka saya bacakan jawabannya, dan kami lanjut membahas hal-hal yang lain. Satu lagi malam yang menyenangkan, terima kasih AI.
Terkait pertanyaan rekan saya itu, sampai sekarang saya tidak menjawabnya. Ia orang dewasa, dan orang dewasa sudah tahu mana yang baik dan yang buruk, dan karena sudah tahu ia seharusnya bisa memutuskan sendiri. Bukankah dari kecil kita sudah tahu jikalau dosa tetaplah dosa, seberapapun kita perhalus dosa-dosa itu. Dan bukankah akan lebih berdosa jika kita tahu tindakan kita berdosa, tetapi kita tetap melakukannya? (*)
Editor: Kukuh Basuki
