Penulis mengajar di Sekolah Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo. Penjaga blog ruangkosong.web.id.

Diskriminasi di Balik Istilah “Good Looking”

Ahmad Baharuddin Surya

2 min read

Kita sebagai makhluk yang diciptakan, rasanya sangat tidak mungkin kita meminta diciptakan seperti apa. Meminta ukuran kaki, tangan, atau bahkan tingkat kepintaran seberapa. Makanya, jika seorang manusia tidak bisa meminta Tuhannya agar ia diciptakan seperti apa, maka posisi semua manusia sebenarnya sama, karena kita dipilihkan.

Semuanya terserah pada penciptanya. Kalau bisa meminta, mungkin seorang Ale dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tidak akan mengalami depresi hebat, bahkan hampir mau bunuh diri karena ia tidak diterima di lingkungan sosialnya lantaran ia bau badan, jelek, gemuk, dan hitam.

Baca juga:

Ia menjadi benar-benar sendiri tidak punya teman. Orang-orang yang ia harapkan bisa menerimanya, seperti keluarganya sendiri pun nyatanya tidak mau menerima. Dia selalu salah di mata orang tuanya.

Ia hanya bisa berharap pada orang-orang yang tidak punya hubungan langsung dengannya. Itu pun sifatnya transaksional, seperti para penjual makanan yang ia beli makanannya setiap pagi, para OB di kantor yang selalu ia beri uang tambahan saat ia menyuruhnya membeli makanan.

Mereka membenci Ale karena asumsinya sendiri soal penampilan. Meski Ale sudah berusaha mengubahnya, tetapi para temannya tetap saja mendiskriminasi dirinya di lingkaran mereka. Selalu dijauhi dan dianggap remeh.

Kata Sifat Lahir karena Ada Pembanding

Padahal suatu kata bisa hadir karena ada pembandingnya. Kata jelek misalnya, orang bisa menilai jelek karena dia punya pembanding dengan kata bagus. Bodoh juga demikian, kata bodoh bisa ada karena muncul pembanding berupa kata pintar.

Kata sifat yang digunakan untuk menilai, harus punya indikatornya sendiri. Sama seperti ketika guru menilai tugas siswanya, harus punya indikator bagaimana jawaban benar dan salah, sehingga otoritas benar salah ada di tangan guru tersebut.

Masalahnya, indikator yang kita gunakan menilai tidaklah saklek, pasti, dan tidak ada juga yang berwenang membuatnya. Siapa yang berwenang membuat ukuran orang itu baik buruk dan ganteng jelek.

Kita sendiri yang menilai dengan indikator penilaian masing-masing. Hanya saja, penilaian yang bersumber dari presepsi pribadi sering kali dipicu dari penilaian populis, artinya kita menggunakan presepsi mayoritas.

Misalnya orang ganteng itu berpakaian rapi, rambutnya selalu mengkilap, kulitnya putih seperti orang Korea, dan wangi. Sedangkan orang jelek kebalikan dari indikator itu semua. Maka, secara otomatis, kita mengikuti itu. Padahal, ganteng jelek hanya asumsi dan sebenarnya tidak butuh banyak pengakuan.

Tidak cukup sampai di situ. Indikator ganteng, tampan, dan sebagainya, seiring waktu akan mengalami perubahan. Lebih tepatnya ada sekian persen pengaruh dari media sosial yang kita lihat setiap hari.

Mereka yang suka artis Korea, secara tidak langsung mencari pasangan yang sekiranya mirip artis idolanya. Mereka yang suka artis indonesia juga sama, mencari pasangan yang tingkat ketampanan atau kecantikannya sama dengan artis Indonesia.

Baca juga:

Mereka tidak tahu saja, hampir semua artis Korea mempunyai wajah yang memang begitu, karena di sana prioritas utamanya memang dari wajah.

Dunia Industri dan Diskriminasi

Bukan hanya berhubungan dengan mencari pasangan, pada dunia industri juga sama. Di industri, sektor-sektor yang memprioritaskan penampilan akan mengikuti indikator publik. Itu yang membuat indikatornya selau berkembang.

Sekarang istilahnya bukan ganteng, cantik, atau tampan, tetapi good looking. Istilah good looking hadir sebagai penyamaran untuk kata-kata sifat itu.

Istilah good-looking pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada awal abad ke-18. Menurut Online Etymology Dictionary, penggunaan awal kata sifat ini tercatat pada tahun 1742.

Sementara itu, frasa good looks sebagai kata benda yang merujuk pada penampilan menarik telah digunakan lebih awal, yaitu sejak tahun 1591, seperti yang tercatat dalam Oxford English Dictionary. Kemudian diadopsi pada konteks-konteks tertentu, terutama di bidang industri.

Dunia industri agak malu jika langsung menyebut kata tampan dan cantik, karena orang yang merasa jelek sudah pasti langsung minder. Mereka lebih memilih good-looking karena orang yang merasa tidak masuk dalam indikator penilaian publik soal tampan dan cantik, bisa ikut di sana, asal penampilannya enak dilihat.

Dalam konteks bahasa Inggris modern juga mengatakan hal serupa, good-looking digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara fisik menarik atau memiliki penampilan yang menyenangkan, tidak berhubungan langsung dengan tampan atau cantik.

Istilah ini setara juga dengan kata-kata seperti handsome untuk pria dan beautiful untuk wanita, meskipun good-looking bersifat netral gender dan dapat digunakan untuk siapa saja.

Namanya penyamaran tentu ada kondisi yang kurang baik. Dengan adanya istilah good looking, tidak menjamin orang-orang yang merasa tidak masuk dalam indikator penilaian publik soal tampan dan cantik itu tidak khawatir. Mereka tetap khawatir tidak punya tempat.

Melalui SE Menaker terbaru nomor M/6/HK.04/V/2025 soal poin penampilan dalam proses rekrutmen tenaga kerja sudah dihapus. Penilaian good looking yang berhubungan dengan justifikasi sudah termasuk diskriminasi. Ada pembeda, penilaian, dan mungkin merembet pada penghinaan.

Istilah good looking telah menjadi bagian dari budaya populer di Indonesia, mencerminkan perubahan dalam cara masyarakat menilai dan menghargai penampilan fisik. Meskipun dapat memberikan keuntungan bagi sebagian individu, penting untuk menyadari dampak negatif dari standar kecantikan yang sempit dan berupaya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil bagi semua. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ahmad Baharuddin Surya
Ahmad Baharuddin Surya Penulis mengajar di Sekolah Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo. Penjaga blog ruangkosong.web.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email