Siapa yang Sebenarnya Merasakan Pertumbuhan Ekonomi?

sajad khawarismi maulana musthofa

2 min read

Ada yang aneh dari cara kita membicarakan Indonesia akhir-akhir ini. Di satu sisi, kita terus mendengar kata “tumbuh”. Tumbuh ekonomi, tumbuh investasi, tumbuh pembangunan, tumbuh optimisme. Kata itu terdengar meyakinkan, seperti pintu yang dibuka lebar ke masa depan. Tetapi di sisi lain, banyak orang justru hidup dengan napas yang makin pendek. Bukan karena malas berjuang, melainkan karena hari-hari mereka memang makin berat untuk dijalani.

Pertanyaan sederhana lalu muncul: kalau negeri ini benar sedang tumbuh, mengapa begitu banyak warganya justru sibuk bertahan hidup?

Punya Pekerjaan, tapi Tetap Hidup dalam Kecemasan

Bertahan hidup hari ini bukan perkara kecil. Ini bukan cuma soal punya pekerjaan atau tidak, bukan juga sebatas apakah gaji cukup sampai akhir bulan. Bertahan hidup adalah persoalan jangka panjang, tentang apakah orang tua masih sanggup membayar biaya sekolah anaknya, apakah mahasiswa dari keluarga biasa masih bisa berharap lulus tanpa menanggung utang yang mencekik. Bertahan hidup juga soal apakah pekerja muda masih punya ruang untuk bermimpi, atau justru dipaksa menerima kenyataan bahwa kerja keras belum tentu berbuah layak.

Baca juga:

Kita hidup pada masa ketika kerja tidak selalu berarti aman, dan penghasilan tidak selalu berarti cukup. Banyak orang punya pekerjaan, tetapi tetap hidup dalam kecemasan. Banyak yang dianggap “produktif”, tetapi sebenarnya hanya sedang memindahkan beban dari satu bulan ke bulan berikutnya.

Di titik inilah kita harus jujur bahwa pertumbuhan tidak otomatis berarti kesejahteraan. Angka-angka makro memang penting, tetapi angka tidak pernah makan bersama rakyat. Angka tidak pernah membayar listrik. Angka tidak pernah menenangkan orang tua yang bingung memenuhi biaya hidup. Angka juga tidak pernah menjelaskan mengapa banyak anak muda merasa masa depannya semakin kabur, meski mereka sudah menempuh pendidikan yang panjang dan diminta untuk “bersabar” lebih lama lagi.

Masalahnya bukan semata pada ekonomi yang naik atau turun. Masalah yang lebih dalam adalah distribusi rasa aman. Siapa yang benar-benar merasakan manfaat dari pertumbuhan? Siapa yang justru hanya diminta ikut bangga saat negeri dinyatakan membaik, padahal kehidupan sehari-harinya tetap penuh perhitungan? Di sinilah jarak antara narasi negara dan pengalaman warga mulai terasa menyakitkan.

Statistik vs Realita

Negara sering berbicara dengan bahasa statistik, sementara rakyat hidup dengan bahasa kebutuhan. Pemerintah bicara target, rakyat bicara dapur. Pemerintah bicara indeks, rakyat bicara sisa uang di dompet. Pemerintah bicara momentum, rakyat bicara cicilan, biaya transportasi, harga beras, dan harapan yang perlahan menipis. Tidak heran bila banyak orang merasa ada sesuatu yang tidak selesai dari seluruh perayaan kemajuan itu.

Kita juga perlu melihat bagaimana beban hidup hari ini tidak datang sendirian. Ia datang berlapis. Seorang pekerja muda tidak hanya memikirkan pekerjaan, tetapi juga biaya kos, transportasi, kesehatan, dan kebutuhan dasar lain yang semuanya bergerak naik.

Seorang mahasiswa tidak hanya memikirkan tugas kuliah, tetapi juga biaya hidup yang diam-diam menyuruhnya dewasa lebih cepat. Seorang ibu tidak hanya memikirkan menu harian, tetapi juga strategi bertahan dari satu harga ke harga lain. Hidup menjadi semacam latihan terus-menerus untuk tidak tumbang.

Baca juga:

Dan di tengah semua itu, kita malah sering disuruh untuk tetap optimistis. Seolah-olah optimisme adalah obat tunggal bagi semua luka sosial. Padahal, optimisme tanpa perbaikan nyata hanya akan berubah menjadi slogan yang indah dibaca, tetapi kosong dirasakan. Rakyat tentu tidak menolak harapan. Yang mereka tolak adalah harapan palsu yang terus diulang tanpa ada keberpihakan yang sungguh-sungguh.

Mungkin karena itulah banyak orang kini lebih mudah percaya pada keluhan daripada pidato. Mereka lebih percaya pada cerita warung, obrolan di kos, percakapan di angkot, dan keluh kesah di media sosial ketimbang kalimat-kalimat resmi yang terlalu mulus, sebab kehidupan sehari-hari jauh lebih jujur daripada konferensi pers. Di sana, tidak ada ruang untuk memoles kenyataan.

Pertumbuhan yang Tak Dirasakan Warga

Kalau negeri ini benar ingin tumbuh, pertumbuhan itu harus terasa di meja makan rakyat. Harus terasa di kantong pekerja. Harus terasa di ruang kelas. Harus terasa di pasar. Harus terasa di rumah-rumah yang selama ini hanya diminta bersabar. Pertumbuhan yang tidak bisa dirasakan oleh banyak orang pada akhirnya hanya akan menjadi angka yang dipuja, bukan kenyataan yang membaik.

Kita tidak kekurangan kata-kata tentang kemajuan, tetapi kekurangan keberanian untuk memastikan bahwa kemajuan itu tidak berhenti pada segelintir orang.  Negeri yang benar-benar tumbuh bukan negeri yang paling lantang mengumumkan keberhasilan, melainkan yang membuat warganya bisa hidup dengan layak, tenang, dan punya harapan yang masuk akal.

Sampai di sini, pertanyaan awal itu tetap menggantung: di negeri yang katanya tumbuh, mengapa banyak yang susah bertahan hidup? Barangkali jawabannya sederhana, meski pahit: yang tumbuh bukanlah kesejahteraan yang merata dan keadilan. Dan selama keadilan masih tertinggal jauh dari meja kehidupan sehari-hari, banyak orang akan terus dipaksa bertahan, bukan sungguh-sungguh hidup.

 

 

Editor: Prihandini N

sajad khawarismi maulana musthofa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email