Absurditas Hidup ala Camus dalam We Are All Trying Here

Nadia H

3 min read

Bayangkan menjalani hidup sebagai sutradara selama 20 tahun, tetapi tidak menghasilkan film satupun. Melalui karakter Hwang Dong Man dalam We Are All Trying Here, Park Hae Yung menghadirkan sosok manusia yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kegagalan. Demi menutupi kecemasannya, Dong Man menjelma menjadi pribadi yang menyebalkan. Ia selalu mengkritik film teman-temannya dengan komentar tajam yang menyakitkan. Walaupun ternyata di balik semua kritik pedas itu, sebenarnya ada ketakutan yang terus berteriak di dalam kepalanya, bahwa dirinya adalah manusia yang akan selalu gagal.

Namun serial ini menjadi istimewa karena tidak hanya menjadikan cerita kesuksesan sebagai tujuan akhirnya. Park Hae Yung justru menghadirkan karakter-karakter yang terus berjuang meski hidup tidak selalu memberikan jawaban atau kemenangan yang mereka harapkan. Dalam 12 episode, We Are All Trying Here tidak hanya bercerita tentang karier seorang sutradara yang mandek, tetapi juga tentang berbagai bentuk kehampaan yang diam-diam dipikul oleh orang-orang dewasa.

Ada Byeon Eun Ah, seorang produser muda yang terlihat tegas dan kompeten. Namun di balik sosok yang tampak kuat itu, tersimpan trauma dan luka yang membuatnya terbiasa menghadapi segalanya seorang diri. Pertemuannya dengan Dong Man menjadi penting bukan karena mereka saling menyelamatkan, melainkan karena untuk pertama kalinya mereka menemukan seseorang yang mampu melihat luka yang selama ini mereka sembunyikan.

Baca juga:

Lalu ada Hwang Jin Man, kakak Dong Man, yang menghadirkan bentuk kesedihan yang berbeda. Jika Dong Man berteriak dan melawan kegagalannya, Jin Man memilih tenggelam di dalamnya. Seorang penulis puisi ternama yang kehilangan arah setelah terpisah dari anaknya sehingga tidak lagi menemukan alasan untuk bertahan hidup. Hwang Jin Man bukan sekadar karakter yang sedih, melainkan potret seseorang yang telah kehilangan harapan, tetapi entah bagaimana masih terus bangun dan menjalani hari-harinya.

Pada titik ini, We Are All Trying Here terasa lebih seperti potret kehidupan daripada sebuah drama. Karakter-karakternya terus menjalani kehidupan dan bertahan, meskipun tidak benar-benar tahu apa makna hidup yang mereka cari. Mereka hidup dalam rutinitas yang berulang, menanggung luka yang tidak sepenuhnya sembuh, dan terus melangkah tanpa kepastian bahwa semuanya akan berakhir baik.

Di sinilah serial ini terasa begitu dekat dengan pemikiran Albert Camus tentang absurditas. Dalam esainya The Myth of Sisyphus, Camus menceritakan Sisyphus, seorang tokoh yang dihukum untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding turun setiap kali hampir sampai. Hukuman itu berlangsung selamanya, tanpa akhir dan tanpa tujuan yang jelas. Bagi Camus, absurditas lahir ketika manusia terus mencari makna, sementara dunia tidak pernah memberikan jawaban yang pasti.

Perasaan itulah yang terasa di sepanjang serial ini. Dong Man terus mengejar mimpi yang tak kunjung terwujud. Eun Ah terus memikul luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sementara Jin Man menjalani hari-harinya setelah kehilangan hal yang memberinya alasan untuk hidup. Mereka semua seperti Sisyphus yang sedang mendorong batunya masing masing setiap hari tanpa kepastian bahwa itu akan membawa mereka pada kebahagiaan ataupun pada makna kehidupan yang mereka cari.

Di antara semua karakter, Hwang Jin Man mungkin adalah sosok yang paling dekat dengan pemikiran Camus. Setelah kehilangan anaknya dan dua kali berada di ambang bunuh diri, ia hidup dalam kondisi di mana dia sudah menyerah sepenuhnya. Ia tidak lagi memiliki ambisi besar, tidak pula berusaha membuktikan apa pun kepada dunia. Namun yang membuat karakternya begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa ia tetap hidup. Ia tetap bangun setiap pagi, menjalani hari-harinya, dan memikul kesedihan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Camus pernah menulis bahwa persoalan filsafat yang paling serius adalah apakah hidup layak untuk dijalani. Jawaban yang ia tawarkan bukanlah harapan akan masa depan yang lebih baik, melainkan keberanian untuk tetap hidup meskipun dunia tidak memberikan alasan yang jelas untuk melakukannya. Dalam konteks ini, Hwang Jin Man menjadi representasi paling nyata dari absurditas itu. Ia tidak mengalahkan kesedihannya, tidak menyembuhkan seluruh lukanya, dan tidak menemukan kembali makna hidupnya secara ajaib. Ia hanya terus berjalan.

Baca juga:

Ada satu adegan yang sangat membekas ketika Hwang Jin Man bertanya kepada Hwang Dong Man tentang tujuan hidupnya. Alih-alih menjawab kesuksesan, kekayaan, atau kebahagiaan, Dong Man justru menjawab bahwa tujuan hidupnya adalah komedi. Ia hanya ingin hidupnya mengalir seperti film komedi yang ringan, hangat, dan mampu membuat orang tertawa.

Mendengar jawabannya, Hwang Jin Man mengatakan bahwa tujuan hidup Dong Man sudah benar. Di tengah dunia yang terus menuntut pencapaian dan keberhasilan, Dong Man tidak lagi berbicara tentang menjadi sutradara hebat atau membuktikan dirinya kepada orang lain. Ia hanya ingin menjalani hidup yang bisa dinikmati.

Momen ini terasa begitu dekat dengan pemikiran Albert Camus. Bagi Camus, manusia tidak harus menemukan makna besar untuk membuat hidup layak dijalani. Dunia tidak selalu memberikan jawaban, keadilan, atau akhir yang bahagia. Namun di tengah absurditas itu, manusia tetap bisa memilih cara untuk menjalani hidupnya. Dalam konteks ini, komedi bukan sekadar genre film yang disukai Dong Man, melainkan caranya berdamai dengan hidup. Ia tidak lagi berusaha menaklukkan dunia atau mencari makna yang sempurna. Ia hanya ingin tetap bisa tertawa, bahkan ketika hidup berkali-kali mengecewakannya.

Mungkin karena itulah We Are All Trying Here terasa begitu menyentuh. Serial ini tidak menawarkan mimpi bahwa semua luka akan sembuh atau semua kegagalan akan berakhir dengan kemenangan. Ia hanya memperlihatkan manusia-manusia yang terus berusaha bertahan meski hidup berkali-kali mengecewakan mereka. Dan dalam dunia yang terus menuntut keberhasilan, mungkin tindakan paling berani bukanlah menjadi pemenang, melainkan tetap bangun esok pagi dan menjalani hidup sekali lagi. Mereka tidak sedang mencoba menjadi hebat, sukses, atau bahagia. Mereka hanya sedang mencoba untuk tetap hidup. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Nadia H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email